Jumat, 08 Februari 2013

TINGKAT PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG TANDA BAHAYA PADA NEONATAL


BAB I
PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang
Periode neonatal yang berlangsung sejak bayi lahir sampai usianya 28 hari, merupakan waktu berlangsungnya perubahan fisik yang dramatis pada bayi baru lahir. Bayi baru lahir harus memenuhi sejumlah tugas perkembangan untuk memperoleh dan mempertahankan eksitensi fisik secara terpisah dari ibunya. Perubahan biologis besar yang terjadi pada saat bayi lahir memungkinkan transisi lingkungan intrauterin ke ekstrauterin. Perubahan ini menjadi dasar pertumbuhan dan perkembangan di kemudian hari (Bobak : 2005).
Penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 50% kematian bayi terjadi dalam periode neonatal yaitu dalam bulan pertama kehidupan. Kurang baiknya penanganan bayi baru lahir yang sehat akan menyebabkan kelainan- kelainan yang menyebabkan cacat seumur hidup, bahkan kematian (Sarwono Prawirohardjo : 2006).
Setiap tahun di perkirakan 4 juta bayi meninggal pada bulan pertama kehidupannya, dan dua pertiganya meninggal pada minggu pertama. Penyebab utama kematian pada minggu pertama kehidupan adalah komplikasi kehamilan berat lahir rendah. Kurang lebih 98% kematian ini dapat di cegah dengan pengenalan dini pada pengobatan (DepKes RI : 2003).
Pengetahuan, kemampuan, dan kepercayaan diri ibu dalam melakukan perawatan yang adekuat bagi bayinya, meliputi: menyusui atau pemberian makanan melalui botol, perawatan tali pusat, kulit, dan gentalia bayi, kemampuan untuk mengenali tanda-tanda penyakit dan masalah bayi yang  umum, khususnya ikterus, keamanan bayi (Varney : 2008).
Menurut WHO setiap tahun kira-kira 3% dari 20 juta bayi baru lahir (3,6 juta) mengalami asfiksia dan hampir 1 juta yang akan meninggal. Di Indonesia dari seluruh kematian terdapat sebanyak 47%  meninggal pada masa neonatal (usia 1 bulan). Setiap 5 menit terdapat neonatus yang  meninggal. Penyebab kematian neonatus di Indonesia BBLR 29%, asfiksia 27%, trauma lahir, tetanus neonatorum, infeksi lainnya dan kelainan konginetal (www.puskesmasbwn1.world terss.com/2009).
Sepanjang 2009, Angka Kematian Bayi (AKB) di Jatim menurun sebesar 2,2%. Data Dinas Kesehatan Jatim mencatat pada 2009 hanya 246.000 bayi meninggal atau 32,8% dari 1000 bayi meninggal pertahun. Padahal 2007 di Jatim 854 ribu bayi meninggal atau sekitar 35% (Surabaya, Post:25-02-2010).
Angka kematian bayi baru lahir di Jombang terus mengalami peningkatan kasus. Bila pada tahun 2006 diketahui ada 140 bayi yang meninggal dunia, ternyata pada 2007 bertambah menjadi 200 bayi. Bahkan, selama tahun 2008 kemarin, angka kematian bertambah mencapai 225 bayi (Jawa Pos, Minggu, 11 Januari 2009).
Menurut data yang diambil pada tanggal 19 maret 2010 dari RSAB Muslimat Jombang bahwa angka kematian bayi pada tahun 2008 terdapat 30 bayi meninggal, dan pada tahun 2009 angka kematian bayi sebesar 43 dari 1784 kelahiran bayi.
Salah satu faktor yang mempengaruhi kematian ibu ataupun bayi ialah kemampuan dan keterampilan penolong persalinan. Tahun 2008, cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan di Indonesia mencapai 80,86%. Masih ada pertolongan persalinan yang di lakukan dukun bayi dengan menggunakan cara- cara tradisional. Fakor lain adalah kurangnya pegetahuan dan perilaku masyarakat yang tidak mengenali tanda bahaya sehingga terlambat membawa ibu, bayi, dan anak balita ke fasilitas kesehatan. Kematian bayi pada penduduk tidak berpendidikan tiga kali lipat lebih besar di bandingkan dengan yang berpedidikan tinggi (Kompas, 03-01-2010).
Berdasarkan uraian di atas, peneliti merasa perlu mengetahui tentang gambaran pengetahuan ibu post partum tentang tanda bahaya pada neonatal agar bisa mengetahui secara dini dan bisa mengambil tindakan selanjutnya.

1.2     Rumusan Masalah
Bagaimana gambaran pengetahuan ibu nifas tentang tanda bahaya neonatal di RSAB Muslimat Jombang?



1.3     Tujuan Penelitian
Mengetahui gambaran pengetahuan ibu nifas tentang tanda bahaya neonatal di RSAB Muslimat Jombang.

1.4     Manfaat Penelitian
Dengan penelitian ini di harapkan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang terkait antara lain :
1.4.1      Bagi Peneliti
Diharapkanan dapat menambah pemahaman wawasan penelitian dan mengetahui Mengetahui gambaran pengetahuan ibu nifas tentang tanda bahaya neonatal di RSAB Muslimat Jombang.
1.4.2      Bagi Institusi Pendidikan
Dapat digunakan sebagai informasi dan masukan bagi pendidikan sebagai informasi penelitian berikutnya.
1.4.3      Bagi Masyarakat
Menambah pengetahuan ibu nifas tentang tanda bahaya neonatal khususnya di RSAB Muslimat Jombang.
1.4.4        Bagi Dunia Kebidanan atau Profesi
Hasil penelitian ini digunakan sebagai data dasar untuk penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan pengetahuan ibu nifas tentang tanda bahaya di RSAB Muslimat Jombang.


1.5     Sistematika Penulisan
BAB I      : Pendahuluan
Latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, mamfaat penelitian, sistematika penulisan.  
BAB II    : Tinjauan pustaka
Konsep pengetahuan, konsep nifas, konsep  neonatal, konsep tanda bahaya neonatal.
BAB III   : Metode penelitian
Desain penelitian, populasi, sampel dan sampling (sapling desain), kriteria sampel, identifikasi variabel, definisi operasional, lokasi dan waktu penelitian, pengumpulan data, alat ukur yang digunakan, etika penulisan, keterbatasan.
Bab IV     : Hasil Penelitian  dan Pembahasan
Hasil penelitian, Pembahasan mengenai KTI
Bab V      : Penutup
Kesimpulan dan Saran
DAFTAR ISI
LAMPIRAN





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1     Konsep Dasar Pengetahuan
2.1.1        Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu obyek tertentu. Pengideraan ini melalui panca indra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, besar pengetahuan manusia  di peroleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo,2007:139).
Pengetahuan (knowledge) adalah hasil tahu dari manusia. Yang sekedar menjawab pertanyaan “what”, misalnya apa air, apa manusia, apa alam, dan sebagainya (Notoatmojo, 2005:3).
2.1.2        Tingkat Pengetahuan
Tingkat pengetahuan menurut Notoatmodjo (2007:144) adalah sebagai berikut :
1.     Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap sesuatu yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Tahu adalah tingkat pengetahuan paling rendah.

2.     Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui,dan dapat menginterpretasikan materi tesebut secara benar.
3.     Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menggunakan materi atau obyek kedalam komponen-komponen tetapi masih dalam satu stuktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.
4.     Analisis (Analysis)
Analisis  diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjabarkan suatu materi atau suatu obyek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu stuktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.
5.     Sintesis (Syntesis)
Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian ke dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
6.     Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk meletakkan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau penilaian-penilaian.itu berdasarkan suatu kriteria-kriteria yang ada.

2.1.3        Faktor – faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
Faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang yaitu :
1.      Faktor Internal
a.      Pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, keperibadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan.
b.     Minat
Suatu fungsi jiwa untuk dapat mencapai sesuatu, minat merupakan kekuatan dari dalam diri sendiri untuk menambah pengetahuan.
c.      Intelegensi
Pengetahuan yang dipengaruhi Intelegensia adalah pengetahuan intelegen dimana seseorang dapat bertindak secara tepat, cepat dan mudah dalam mengambil keputusan. Seseorang yang mempunyai intelegensia yang rendah akan bertingkah laku lambat dalam pengambilan keputusan.
(Azwar. S, 2007:30-33).
2.      Faktor eksternal
a.      Media massa
Dengan majunya teknologi akan tersedia pula bermacam–macam media massa yang dapat pula mempengaruhi pengetahuan masyarakat tentang inovasi baru.
b.      Pengalaman
Pengalaman dari diri sendiri maupun orang lain yang meninggalkan kesan paling dalam akan menambah pengetahuan seseorang.
c.      Sosial Budaya
Sosial Budaya adalah hal–hal yang komplek yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, moral, hukum, adat–istiadat, kemampuan-kemampuan, serta kebiasaan berevolusi di muka bumi ini sehingga hasil karya, karsa dan cipta dari masyarakat. Masyarakat kurang menyadari bahwa kurang mengetahui beberapa tradisi dan sosial budaya yang bertantangan dari segi kesehatan yang dimana hal ini tentunya berkaitan atau tidak terlepas dari suatu pendidikan.
d.     Lingkungan
Lingkungan dimana kita dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap pengetahuan seseorang.

e.      Penyuluhan
Meningkatkan pengetahuan masyarakat juga dapat melalui metode penyuluhan. Dengan pengetahuan bertambah seseorang akan merubah perilakunya.
f.       Informasi
Informasi merupakan pemberitahuan secara kognitif baru bagi penambahan pengetahuan. Pemberian informasi adalah untuk menggugah kesadaran ibu hamil terhadap suatu motivasi yang berpengaruh terhadap pengetahuan.
(Azwar. S, 2007:30-33).
2.1.4        Kriteria Pengetahuan
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subyek penelitian atau responden ke dalam pengetahuan yang ingin diketahui atau diukur dapat disesuaikan dengan tingkatan tersebut di atas. Sedangkan kualitas pengetahuan pada masing-masing tingkat pengetahuan dapat dilakukan dengan kriteria, yaitu:
1.      Tingkat pengetahuan baik jika jawaban responden dari kuesioner yang benar 76 – 100 %
2.      Tingkat pengetahuan cukup jika jawaban responden dari kuesioner yang benar 56 – 75 %
3.      Tingkat pengetahuan cukup jika jawaban responden dari kuesioner yang benar < 56 %.
(Azwar.S, 2007:30-33).
2.2     Konsep Nifas
2.2.1        Pengertian Nifas
Masa peurperium atau masa nifas mulai setelah partus selesai, dan berakhir kira- kira setelah 6 minggu (Sarwono Prawirohardjo, 2006:237).
Periode pasca partum ialah masa enam minggu sejak bayi lahir sampai organ-organ reproduksi kembali kedalam keadaan normal sebelum hamil (Bobak, 2006:492).
Periode pasca partum adalah masa dari kelahiran plasenta dan selaput janin (menandakan akhir periode intra partum) hingga kembalinya traktus reproduksi wanita pada kondisi tidak hamil (Varney, 2008:958).
2.2.2        Perubahan Fisiologis dan Anatomis Peurperium
Meskipun istilah involusi telah di gunakan untuk menunjukkan perubahan retrogesif yang terjadi di semua organ dan struktur saluran reproduksi. Definisi involusi peurperium di batasi pada uterus dan apa yang terjadi pada organ dan tubuh lain hanya di anggap sebagai perubahan peurperium.
a)         Uterus
Involusi uterus meliputi reorganisasi dan pengeluaran desidua/  endometrium dan eksfoliasi tempat perlekatan plasenta yang di tandai dengan penurunan ukuran dan serta berat perubahan lokasi uterus juga di tandai dengan warna dan jumlah lokia. Uterus, segera setelah pelahiran bayi, plasenta dan selaput janin, beratnya sekitar  1000 g. Berat uterus menurun sekitar 500g pada akhir minggu pertama pasca partum dan kembali pada berat yang biasanya pada saat tidak hamil, yaitu 70g pada minggu kedelapan.
b)        Lokia
Lokia adalah istilah untuk sekret dari uterus yang keluar melalui vagina selama peurperium. Karena perubahan warnanya, nama deskriptif lokia berubah: lokia rubra, serosa, atau alba. Lokia rubra berwarna merah karena mengandung darah.  Ini adalah lokia pertama yang mulai keluar segera setelah pelahiran dan terus berlanjut selama dua hingga tiga hari pertama pasca partum. Lokia serosa mulai terjadi sebagai bentuk yang lebih pucat dari lokia rubra, serosa, dan merah muda. Lokia ini berhenti sekitar tujuh hingga delapan hari. Lokia serosa terutama mengandung cairan serosa, jaringan desidua, leukosit, dan eritrosit. Lokia alba mulai terjadi sekitar hari kesepuluh pasca partum dan hilang sekitar periode dua hingga empat minggu.
c)         Vagina dan peurperium
Segera setelah pelahiran, vagina tetap terbuka lebar, mungkin mengalami bebrapa derajat edema dan memar pada celah introitus. Sekarang vagina berdinding lunak, lebih besar dari biasanya, dan umumnya longgar. Ukurannya menurun dengan  kembalinya rugae vagina sekitar minggu ketiga pasca partum. Latihan pengencangan otot perinium akan mengembalikan tonusnya dan memungkinkan wanita secara perlahan mengencangkan vaginanya.

d)        Payudara
Laktasi di mulai pada semua wanita dengan perubahan hormon saat melahirkan. Wanita yang menyusui berespons terhadap menstimulus bayi yang di susui akan terus melepaskan hormon dan stimulasi alveoli yang memproduksi susu.
(Varney, 2008 : 958-960).

2.3     Konsep Neonatal
2.3.1        Pengertian Neonatal
Neonatus adalah jabang bayi, bayi  baru lahir hingga berumur empat minggu (Kamus kedokteran, 2008:176).
Periode neonatal yang berlangsung sejak bayi baru lahir sampai usia 28 hari, merupakan waktu berlangsungnya perubahan fisik pada bayi baru lahir (Bobak, 2005 : 362-363).
2.3.2        Karakteristitik Umum
1.      Penampilan
Bayi aterm normal memiliki berat badan sekitar 3,5 kg, panjang badan 50 cm. Sebagian besar bayi montok dan memiliki perut yng menonjol. Bayi cenderung berbaring dengan sikap fleksi, dengan jari tangan jika diregangkan mencapai tinggi paha.
Verniks kaseosa merupakan zat pewarna putih yang lengket, yang ada di kulit bayi semenjak lahir. Fungsi verniks adalah sebagai perlindungan ketika di dalam kandungan dan setelah lahir, mengering, lalu menghilang beberapa jam setelah persalinan (mylez, 2009:709).
2.      Kulit
Kulit merupakan organ tubuh yang terbesar yang dimiliki peran penting dalam pengaturan suhu, dan berfungsi sebagai perlindungan terhadap infeksi. Kulit bayi baru lahir yang lahir yang normal tipis, halus, dan mudah sekali mengalami trauma akibat gesekan, tekanan.
Kantung tali pusat memisah melalui proses gangren kering, yang biasanya terjadi 10 hari pertama kehidupan.
Rambut halus, disebut lanugo, menutupi kulit dan banyak terdapat di bahu lengan atas. Milia, dapat tampak pada daerah hidung dan kedua pipi (Mylez, 209:709).
2.3.3        Fisiologi
1.      Sistem Pernapasan
Bayi normal memiliki frkuensi pernapasan 30-60 kali permenit, pernapasan diafragma, dada, dan perut naik dan turun secara bersamaan.
2.      Sistem kardiovaskuler dan Darah
Frekuensi jantung bayi cepat sekitar 120-160 kali permenit, serta berfluktuasi selaras dengan fungsi pernapasan bayi, aktivitas, atau dalam kondisi tidur atau istirahat. Tekanan darah berfluktuasi sesuai dengan aktivitas, berkisar antara 50-55/25-30 mmHg hingga 80/50 mmHg 10 hari pertama kelahiran. Volume sirkulasi total darah pada saat bayi lahir sebanyak 80ml/kg BB (13-20 gr/dl), sekitar 50-59% hemoglobin janin.
3.      Pengaturan Suhu
Pengaturan suhu pada neonatus masih belum baik selama beberapa saat. Suhu inti normal bayi sekitar 36-37 derajat celcius. Bayi aterm, memakai baju dan sehat dapat mempertahankan suhu tubuh dengan baik sehingga dapat memelihara suhu lingkungan antara 18-21 derajat celcius, pemenuhan kebutuhan nutrisi cukup, dan pergerakan tidak terbatas karena pembendongan yang terlalu kencang.
4.      Sistem Ginjal
Urine pertama dikeluarkan sejak, atau dalam 24 jam pertama dan setelahnya dengan frekuensi yang semakin sering  meningkatya asupan cairan. Urine encer, berwarna kuning, dan tidak berbau.
5.      Sistem Pencernaan
Saluran pencernaan bayi baru lahir secara struktur telah lengkap meskipun fungsinya belum sempurna jika dibandingkan saluran pencernaan orang dewasa. Membran mukosa mulut lembab dan berwarna merah muda. Gigi tertahan dalam gusi. Bantalan menghisap pipi memberikan tampilan wajah montok. Refleks menghisap dan menelan terkoordinasi.
Lambung memiliki kapasitas kecil (15-30 ml), yang meningkat cepat pada beberapa minggu pertama kehidupan. Waktu pengosongan lambung normalnya 2-3 jam.
Bising usus  terdengar 1 jam setelah kelahiran. Mekonium, yang telah ada di usus besar sejak usia 16 minggu kehamilan, dikeluarkan dalam 24 jam pertama kehidupan dan dikeluarkan seluruhnya dalam 48-2 jam. Feses pertama ini berwarna hijau kehitaman, lengket serta mengandung empedu, asam lemak dansel epitel. Sejak hari ke-3 hingga ke-5 kelahiran, feses mengalami tahap transisi da menjadi kuning kecoklatan.                                                                         
6.      Adaptasi Imunologis
Neonatus memperlihatkan kerentanan nyata terhadap infeksi, terutama yang masuk mulai mukosa sistem pernapasan dan pencernaan. Bayi memiliki imunoglobulin  pada saat lahir. Ada 3 imunoglobulin utama, IgG, IgA, dan IgM, dan dari ketiga imunoglobulin tersebut, hanya IgG yang cukup menembus sawar plsenta. Pada saat lahir, kadar IgG sama atau sedikit lebih  tinggi dari ibu. Ini memberikan kekebalan pasif  pada beberapa bulan pertama.
7.      Sistem Reproduksi
Pada anak laki-laki, testis turun ke skrotum, yang memiliki banyak rugae; dan meatus uretra bermuara diujung penis dan preposium melekat ke kelenjar. Pada anak perempuan lahir aterm, labia mayora normalnya menutupi labia minora; himen klitoris dapat tampak sangat besar.

8.      Sistem Otot dan Rangka
Otot berbentuk sempurna, pertumbuhan berikutnya terjadi melalui hipertrofi  dari pada hiperplasia. Tulang panjang belum mengalami osifikasi secara sempurna untuk memfasilitasi pertumbuhan di epifisis. Ubun-ubun belakang menutup pada minggu ke 6–8, ubun-ubun besar tetap terbuka sampai bulan ke 18.
(Mylez, 2009:710).
2.3.4        Psikologi dan Persepsi
1.    Indra Khusus
a.    Penglihatan
Bayi peka terhadap warna terang, yang menyebabkan mereka mengerutkan dahi atau berkedip. Bayi menunjukkan kecenderungan terhadap pola hitam dan putih terang, serta bentuk wajah manusia, yang memfokuskan pada jarak sekitar 15-20 cm. Hal itu memberikan bayi kemampuan untuk melakukan kontak mata dengan ibu mereka selama disusui sehingga meningkatkan proses ikatan, mereka dapat melacak objek bergerak dengan cepat dalam 5 hari pertama, dan hingga usia 2 minggu dapat membedakan wajah ibu mereka dari orang asing.
b.    Pendengaran
Ketika mendengar suara tinggi, mereka terlebih dahulu mengedip mata atau terkejut dan bergerak tidak beraturan, dan dapat ditenangkan dengan menggunakan suara yang halus, mereka lebih menyukai suara manusia dibanding suara lain, dan dalam beberapa minggu, pola bicara orang dewasa direspon dengan gerakan reduktif
c.    Penciuman dan Perasa
Bayi lebih menyukai bau susu dibanding bau lainnya dan lebih menyukai Asi. Dalam beberapa hari bayi dapat membedakan air susu ibunya dengan susu wanita lain. Mereka lebih menyukai bayu payudara yang belum di bersihkan dibanding yang sudah dibersihkan. Mereka akan berpaling dari bau yang tidak sedap dan lebih menyukai rasa manis yang ditunjukkan dengan menghisap terus menerus dan kuat, dan respon menyeringai terhadap rasa pahit, asin atau asam
d.   Sentuhan
Bayi sangat peka terhadap sentuhan, menikmati kontak kulit ke kulit, berendam di air, gerakkan pengayuh, dibuai, dan diayun. Refleks menggenggam mempererat hubungan dengan ibu. Tanda bayi merasa nyeri adalah mengenyitkan dahi, mengatupkan kelopak mata, dan membuka mulut untuk menangis
e.    Tidur dan Bangun
Semenjak aktivitas pernapasan pada saat lahir, bayi tetap terjaga dan reaktif terhadap rangsangan untuk jangka waktu sekitar satu jam lalu relaks dan tertidur. Lama tidur pertama bervariasi dari beberapa menit hingga beberapa jam, dan diikuti dengan periode kedua reaktifitas. Pada awalnya, periode terbangun berhubungan dengan rasa lapar, tetapi setelah beberapa minggu, periode terbangun berlangsung lebih lama memenuhi kebutuhan terhadap interaksi sosial.
f.      Menangis
Tangis bayi yang beda-beda menandakan perbedaan kebutuhan, dan merupakan cara mengkomunikasikan ketidak nyamanan dan permintaan batuan.
2.    Tumbuh kembang
Karena keterbatasan fisiknya, bayi bergantung pada ibunya untuk dapat bertahan hidup, tumbuh dan kembang selanjutnya. Kali ini berlangsung optimal jika bayi memiliki fisik dan kondisi nerologi yang normal, berada dalam lingkungan nyang aman, kebutuhan nutrisi terpenuhi, serta pertumbuhan psikologis ditingkatkan melalui stimulasi dan kasih sayang yang tepat.
(Mylez, 2009:712).
2.3.5        Penanganan Bayi Baru Lahir
2.3.5.1  Membersihkan jalan nafas
Bayi normal akan segera menangis spontan segera setelah lahir, apalagi bayi tidak langsung menangis, penolong segera membersihkan jalan nafas dengan cara sebagai berikut:

1.      Letakkan bayi pada posisi terlentang ditempat yang keras dan hangat
2.      Gulung sepotong kain dan letakkan dibawah bahu sehingga leher bayi lurus dan kepala tidak menekuk. Posisi kepala di atas lurus sedikit tengadah kebelakang
3.      Bersihkan hidung, rongga mulut bayi dengan jari tangan yang dibungkus kasa steril
4.      Tepuk kedua telapak kaki bayi sebanyak 2-3kali atau gosok kulit bayi dengan kain kering dan kasar. Dengan rangsangan ini biasanya bayi segera menangis
2.3.5.2  Memotong dan merawat tali pusat
Tali pusat dipotong sebelum atau sesudah plasenta lahir tidak begitu menentukan dan tidak akan mempengaruhi bayi, kecuali pada bayi kurang bulan, apabila bayi tidak menangis, maka tali pusat segera dipotong untuk memudahkan melakukan tindakan resusitasi pada bayi, tali pusat dipotong sem dari dinding perut bayi dengan gunting steril dan diikut dengan pengikat steril. Apabila masih terjadi pendarahan dapat dibuat ikatan baru. Luka tali pusat dibersihkan dan dirawat dengan alkohol 70% atau povidon iodin 10% sera dibalut kasa steril. Pembalut tersebut diganti setiap hari atau setiap tali basah/kotor.
2.3.5.3  Mempertahankan suhu tubuh bayi
Pada waktu baru lahir, bayi belum mengatur tetap suhu badannya, dan membutuhkan pengaturan dari luar untuk membuatnya tetap hangat. Bayi baru lahir harus dibungkus hangat , suhu tubuh bayi merupakan tolak ukur kebutuhan akan tempat tidur yang hangat sampai suhu tubuhnya sudah stabil.
2.3.5.4  Memberi Vit K dan obat tetes / salep mata
Kejadian pendarahan karena defesiensi vitamin K pada bayi baru lahir dilaporkan cukup tinggi, berkisar 0,25-0,5% untuk mencegah terjadinya pendarahan tersebut, semua bayi baru lahir normal dan cukup bulan perlu diberikan vitamin K peroral 1mg/hari selam 3 hari, sedangkan bayi resiko tinggi vitamin K parenteral dengan dosis 0,5-1 kg 1m
Di daerah dimana prevelensi gonorea tinggi, setiap bayi baru lahir perlu diberi salep mata sesudah 5 jam bayi lahir. Pemberian obat mata eritrosin 0,5% atau tetrasiklin 1% dianjurkan untuk pencegahan penyakit mata karena klamidia penyakit manual seksual.
(Sarworo Prawirohardjo, 2006:133)

2.4      Perawatan Bayi Sehari-hari
2.4.1        Mata
Mata bayi harus selalu diperiksa untuk melihat tanda- tanda infeksi. Mata dapat dibersihkan dengan air  steril. Muka  sebaiknya diseka dengan air steril. 
2.4.2        Mulut
Mulut diperiksa untuk melihat kemungkinan infeksi kandida. Bila demikian, hendaknya segara diobati dengan larutan gentian violet 1% atau larutan nystatin yang bisa langsung diteteskan ke mulut  bayi. Dengan demikian bayi dapat dihindarkan dari infeksi yang lebih berat berupa diare, dan infeksi kulit.
2.4.3        Kulit 
Kulit, terutama di lipatan-lipatan (paha, leher, belakang telinga, ketiak), harus selalu dan  kering.
2.4.4        Tali Pusat
Pada ummnya tali pusat akan puput pada waktu bayi berumur  6-7 hari. Bila tali pusat  belum puput maka setiap sesudah mandi harus dibersihkan dan dikeringkan.
2.4.5        Kain Popok
Kain popok harus segera diganti setiap kali basah karena air kencing tinja. Pantat bayi dibersihkan dengan kain bersih kemudian dikeringkan.
(Sarwono, 2006:257).

2.5      Konsep Tanda Bahaya Neonatal
Tanda-tanda bahaya yang harus diwaspadai bayi baru lahir,
1.        Pernapasan   : sulit atau lebih dari 60 kali per menit.
2.        Kehangatan : terlalu panas (> 38oC atau terlalu dingin < 36oC).
3.        Warna kulit   : kuning (terutama pada 24 jam pertama), biru atau pucat, memar.
4.        Pemberian makanan : hisapan lemah, mengantuk berlebihan, banyak muntah.
5.        Tali pusat   :  merah, bengkak, keluar ciran, bau busuk, berdarah.
6.         Infeksi       :  suhu meningkat, merah bengkak, keluar cairan (nanah), bau busuk, pernafasan sulit.
7.        Tinja/kemih   : tidak berkemih dalam 24 jam, tinja lembek, sering, hijau tua, ada lender atau darah pada tinja.
8.        Aktivitas       : menggigil, atau tangis tidak biasa, sangat mudah tersinggung, lemas, terlalu mengantuk, lungkai, kejang, kejang halus, tidak bias tenang, menangis terus-menerus (Sarwono, 2002 : 11-36).
2.5.1        Pernapasan Sulit Atau Lebih Dari 6 Kali Permenit
Frekuensi pernapasan harus berada diantara  40 dan 60 kali permenit, tetapi akan bervariasi sesuai tingkat aktifitas. Bayi baru lahir terutama menggunakan pernapasan hidung sehingga adanya obstruksi di lubang hidung dapat menyebabkan gawat napas dan sianosis. Jika frekuensi pernapasan bayi saat istirahat diatas 60 x/menit, keadaan ini digambarkan sebagai trakipnea. Apnea adalah beehentinya pernapasan selama 20 detik atau lebih. Apnea di hubungkan dengan pucat, bradikardia, sianosis, desaturasi oksigen, atau perubahan tingkat kesadaran (Mylez, 2009 : 780).
2.5.2        Suhu tubuh > 380C atau < 360C
Demam adalah naiknya suhu tubuh dari suhu normal yaitu 36-37,5. Anak demam sebenarnya merupakan antisipasi tubuh anak terhadap benda asing (virus dan bakteri) yang masuk kedalam tubuh bayi. Jika suhu tubuh si kecil secara mendadak meningkat menjadi 380C atau lebih meningkat terus dalam beberapa jam dari kekhawatiran infeksi yang terjadi tergolong berat dan tubuh tidak dapat mengatasinya tanpa bantuan obat-obatan (Mia Siti Aminah, 2009:102).
Suhu tubuh rendah (hipotermia) dapat disebabkan oleh karena terpapar dengan lingkungan yang dingin (suhu lingkungan rendah, permukaan yang dingin, atau basah) atau bayi dalam keadaan basah atau tidak berpakaian yaitu suhu aksiler kurang dari 36,50C (Depkes RI, 2003:37).
2.5.3        Ikterus
Ikterus adalah warna kuning pada kulit, konjungtiva, dan mukosa akibat penumpukan biliburin. Ikterus fsiologik ialah ikterus yang timbul pada hari kedua dan hari ketiga yang tidak mempunyai dasar patologik. Ini biasanya menghilang pada akhir minggu pertama. Ada beberapa keadaan ikterus yang cenderung menjadi patalogik :
1.      Kadar ikterus yang terjadi pada  24 jam pertama setelah lahir.
2.      Peningkatan kadar bilirubin serum sebanyak 5 mg / lebih setiap 24 jam
3.      Ikterus yang disertai :
a.       Berat badan lahir < 2000 gr
b.      Masa gestasi < 36 minggu
c.       Asfiksia, hipoksia, sindrom gawat napas pada neonatus
d.      Infeksi
4.      Ikterus klinis yang menetap setelah bayi berusia > 8 hari (pada NCB) atau 14 hari (pada NKB) (Arief Masjour, 2000:503).
2.5.4        Muntah
Mengeluarkan atau regiurgitasi susu yang telah diminum dalam jumlah kecil, merupakan hal yang biasa pada bayi ; biasanya bersifat sementara dan tidak menganggu pertumbuhan.
Masalah :
1.     Bayi muntah dengan karakteristik sebagai berikut :
a.       Nyemprot ;
b.      Tanpa memandang cara pemberian minum ;
c.       Setiap kali habis minum semua ASI atau minuman dimuntahkan;
d.      Muntahan berwarna hijau atau bercampur darah;
2.     Distensi abdomen (Depkes RI, 2003 : 57).
2.5.5        Infeksi Tali Pusat
Tali pusat biasanya puput  1 minggu setelah lahir dan luka sembuh dalam 15 hari. Sebelum luka sembuh merupakan jalan masuk untuk infeksi, yang dapat dengan cepat menyebabkan sepsis.  Pengenalan dan pengobatan secara dini infeksi tali pusat sangat penting untuk mencegah sepsis. Masalah tali pusat merah dan bengkak, mengeluarkan nanah, atau berbau busuk (terinfeksi) (Depkes RI, 2003 : 88).
2.5.6        Infeksi / Sepsis
Infeksi pada bayi baru lahir lebh sering ditemukan pada BBLR. Sesudah lahir, bayi terpapar dengan kuman yang juga berasa dari orang lain, dalam hal ini bayi tidak mempunyai imunitas. Infeksi pada bayi baru lahr cepat sekali menjalar menjadi infeksi umum. Beberapa gejala perubahan tingkah laku bayi baru lahir tersebut diantaranya adalah malas minum, gelisah atau mungkin tampak letargis, frekuensi pernapasan meningkat, berat badan tiba-tiba turun, muntah dan diare. Selain itu dapat terjadi oedema, sklerema, tubuh dapar meninggi, normal atau dapat pula kurang dari normal (Sarwono, 2006 : 386).
2.5.7        Tinja / Kemih
Urine pertama keluar sejak, atau dalam 24 jam pertama. Urine encer, berwarna kuning, dan tidak berbau (Mylez, 2009 : 710).
Kira-kira 6 % bayi sehat tidak defekasi dalam 24 jam setelah kelahiran. Kegagalan untuk mengeluarkan feses pada 40 jam biasanya menandakan obstruksi usus. Feses sedikit seperti dempul dapat menandakan stenosis usus. Feses hijau dapat menandakan infeksi atau gastroenteritis (Doengoes, 2001 : 586).
2.5.8        Kejang
Kejang bayi baru lahir sering tidak dikenali karena bentuknya berbeda dengan kejang pada anak atau orang dewasa. Hal ini disebabkan ketidakmatangan organisasi konteks pada BBL. Manifestasi kejang pada BBL dapat berupa remor, hiperaktif, kejang-kejang, tiba-tiba menangis melengking, tanus otot hilang disertai atau tidak dengan hilangnya kesadaran tidak menentu, nistagmus atau mata mengedip-ngedip, gerakan seperti mengunyah dan menelan bahkan apnu. Dalam prinsip, setiap gerakan yang tidak biasa pada bayi baru lahir apabila belangsung berulang-ulang dan periodik, harus diperkirakan kemungkinan merupakan manifestasi kejang (Sarwono, 2006 : 391).

2.6      Penatalaksanaan Bahaya Neonatal
2.6.1        Penatalaksanan Akfiksi
Pada neonatus dengan akfiksia, resusitasi diberikan secepat mungkin tanpa menunggu perhitungan skor apgar. Langkah resusitasi meliputi ABC :A, pertahankan jalan napas bebas
B, bangkitkan nafas spontan dengan stimulasi taktil,
C, pertahankan sirkulasi darah jika perlu kompresi dada dan obat-obatan (Arief Masjour, 2000 : 502).
2.6.2        Penatalaksanaan Demam dan Hipotermi
a.       Jika suhu diatas 38oC yang dapat dilakukan ibu :
1.      Pakaikan baju yang tipis, nyaman, dan dapat menyerap keringat
2.      Berikan Asi dan air putih lebih sering untuk mencegah dehidrasi
3.      Jika sikecil nampak mulai tidak nyaman berikan kompres hangat yang dapat menurunkan suhu tubuh dalam waktu 30-45 menit.
4.      Dekap si kecil atau gunakan metode gendong kanguru.
5.      Jika suhu diatas 38oC, berikan obat penurun panas dalam bentuk drops.
6.      Ukur suhu bila perlu setiap 3 jam sekali (Mia Siti Aminah, 2009 : 102).

b.      Jika suhu aksiler 35oC atau lebih
1.      Pastikan bayi dijaga tetap hangat, bungkus bayi dengan kain lunak, kering, selimuti dan pakai topi untuk menghindari kehilangan panas.
2.      Dorong ibu untuk segera menyusui, setelah bayi siap.
3.      Pantau suhu aksiler setiap jam sampai normal.
4.      Bayi dapat diletakkan dalam incubator (Depkes RI, 2003 : M-123).
2.6.3        Penanganan Ikterus
1.      Stimulasi sistem konjugasi bilirubin dengan mempergunakan fenobarbital.
2.      Menambahkan bahan yang kurang dalam proses bilirubin.
3.      Mengurangi enterohepatik dengan pemberian makanan ora dini.
4.      Memberikan terapi sinar.
5.      Mengeluarkan bilirubin secara mekanik melalui tranfusi tukar (Arief Masjour, 2000:504).
2.6.4        Penanganan Muntah
1.      Pasang jalur intrafena beri cairan dosis rumatan
2.      Jangan berikan apapun melalui mulut 12 jam
3.      Jika bayi tidak memiliki tanda lain kecuali muntah setelah periode 12 jam : - pasang pipa lambung dan beri asi peras selama 24 jam;
4.      Jika minuman belum diberikan, mulai lagi menyusui atau berikan Asi peras dengan salah satu alternatif cara pemberian minum.
5.      Lepaskan pipa lambung setelah 2 kali pemberian tidak ada masalah.
6.      Jika muntah berlanjut atau terdapat tanda lain (bercampur darah, muntah kuat, distensi abdominal), coba lagi untuk menentukan penyebab muntah (Depkes RI, 2003 : 58).
2.6.5        Penanganan Infeksi Tali Pusat
1.      Bersikan tali pusat menggunakan larutan anti septic dengan kain kasa yang bersih.
2.      Olesi tali pusat dan daerah sekitarnya dengan larutan anti septic 8 kali sehari sampai tidak ada nanah lagi pada tali pusat.
3.      Jika kemerahan atau bengkak pada tali pusat meluas melebihi area 1 cm, obati seperti sebagai infeksi tali pusat berat atau meluas (Depkes RI, 2003 : 88).
2.6.6        Penanganan Infeksi
1.      Pertahankan tubuh bayi tetap hangat.
2.      Asi tetap diberikan atau diberi air gula.
3.      Diberi injeksi antibiotika berspektrum luas
4.      Perawatan sumber infeksi (Sarwono, 2006 : 383).
2.6.7        BAB dan BAK
Sebenarnya, bayi dikandungan sudah makan dan ususnya sudah bias membentuk yang namanya kotoran. Itu sebab, umumya bayi baru lahir dalam 24 jam sudah BAB dan BAK. Jika dlam 48 jam tidak BAB/BAK, berarti ada yang tidak beres. Kalau tidak BAB, biasa karena jalannya buntu atau ada kotoran yang berbentuk dikandungan begitu keras. Untuk mengeluarkannya, kotoran ini harus distimulasi (Mia Siti Aminah, 2009 : 126).
2.6.8        Penanganan Kejang
Prinsip dasar tindakan mengatasi kejang pada bayi baru lahir sebagai berikut :
1.      Mengatasi kejang dengan memberikan obat anti kejang (misalnya diazepam, fenobarbital, fenitoin/ dilantin).
2.      Menjaga jalan napas tetap bebas.
3.      Mencari faktor kejang. (perhatikan riwayat kehamilan, persalinan dan kelahiran, kelainan fisik yang ditemukan, bentuk kejang, dan hasil laboratorium)
4.      Mengobati penyebab kejang. (mengobati hipogiklemia, hipokalsemia, dll) (Sarwono Prawirohardjo, 2006:393).


2.7      Kerangka Konsep
Kerangka konsep adalah abstraksi dari suatu realita agar dapat dikomunikasikan dan membentuk suatu teori yang menjelaskan keterkaitan antar variabel (baik variabel yang diteliti maupun yang tidak diteliti) (Nursalam, 2008 : 55).
 








 
Gambar 2.1  Kerangka Konsep Gambaran Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Tanda Bahaya Pada Neonatal Di RSAB Muslimat Jombang

Keterangan :
            : Diteliti
            : Tidak diteliti

Bagan Kerangka konsep gambaran pengetahuan ibu nifas tentang tanda bahaya pada neonatal di RSAB Muslimat Jombang. Pengetahuan ibu dipengaruhi oleh baberapa faktor yang meliputi pendidikan, minat, pengalaman, kebudayaan, informasi, dan usia. Ibu dapat mengatasi masalahnya dengan baik jika tingkat pengetahuan ibu tinggi.



BAB III
METODE PENELITIAN

Metode penelitian adalah sebagai suatu cara untuk memperoleh kebenaran ilmu pengetahuan atau pemecahan suatu masalah, pada dasarnya menggunakan metode ilmiah (Notoatmodjo, 2005 : 19).

3.1    Desain Penelitian
Desain penelitian adalah sesuatu yang sangat penting dalam penelitian, yang memungkinkan pemaksimalan kontrol beberapa faktor yang bisa mempengaruhi akurasi suatu hasil (Nursalam, 2003 : 79).
Desain  penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskriptif tentang suatu keadaan secara obyektif .

3.2    Populasi, Sampel, Sampling
3.2.1        Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang diteliti tersebut, variable tersebut berupa orang, kejadian, perilaku, sesuatu lain yang akan dilakukan penelitian (Notoatmojo, 2005 :79).
Pada penelitian ini populasinya adalah seluruh ibu nifas di RSAB Muslimat Jombang pada bulan Februari sebanyak 155 orang.

3.2.2        Sampel
Sampel adalah  sebagian yang diambil dari keseluruahan obyek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmojo, 2005: 79).
Pada penelitian ini sampelnya adalah sebagian ibu nifas di RSAB Muslimat Jombang sebanyak 31 orang.
Menurut (Arikunto, 2006) apabila populasi > 100 orang maka sampel dapat diambil 10 – 15 % atau 20 – 25%. Peneliti ini mengambil sampel 20% dari jumlah populasi sebanyak 155 orang yang ada.
Pada penelitian ini besar sampel yang digunakan dihitung dengan menggunakan rumus :
Keterangan :
   : Besar sampel yang dikehendaki
: Besar Populasi
Diketahui        : = 155
Ditanya               = ….?
Jawab              :
Jadi, sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 31 responden.

3.2.3        Sampling
Sampling adalah proses menyeleksi porsi dari populasi untuk dapat mewakili populasi (Nursalam, 2008 : 93).
Metode sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah non probability sampling dengan jenis quota sampling. Yaitu menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri- ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan.

3.3    Kriteria Sampel
Penentuan kriteria sampel sangat membantu peneliti untuk mengurangi bias hasil penelitian, khususnya jika terdapat variabel-variabel kontrol ternyata mempunyai pengaruh terhadap variabel yang diteliti.  (Nursalam, 2008 : 92).
Kriteria dalam penelitian ini adalah:
1.      Ibu post partum yang mempunyai bayi usia 0-28 hari
2.      Ibu post partum yang bersedia menjadi responden.
3.      Ibu yang bisa membaca dan menulis.
4.      Berada di RSAB Muslimat Jombang.

3.4    Identifikasi Variabel
Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat, atau ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang sesuatu konsep pengertian tertentu, misalnya : umur, jenis kelamin, pendidikan, status perkawinan, pekerjaan, pengetahuan, pendapatan, penyakit, dan sebagainya (Notoatmodjo, 2003 : 70).
Variabel dalam penelitian ini adalah gambaran pengetahuan ibu nifas tentang tanda bahaya neonatal.

3.5    Definisi Operasional
Definisi operasional adalah definisi berdasarkan karakteristik yang diamati dari sesuatu yang didefinisikan tersebut (Notoatmodjo, 2008 : 101).
Tabel  3.1  Definisi Operasional Variabel

Variabel
Definisi opersional
Alat ukur
Skala
Kriteria
Gambaran pengetahuan ibu nifas  tentang tanda bahaya neonatal
Segala sesuatu
yang diketahui
ibu yang
melahirkan
tentang  bayi baru lahir dan tanda
bahaya pada
bayi baru lahir.
Kuesioner
Ordinal
Dengan kriteria:
Baik(76-100%)
Cukup(56-75%)
Kurang(<55 o:p="">

3.6    Lokasi  Dan Waktu Penelitian
3.6.1        Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di RSAB Muslimat Jombang.
3.6.2        Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan MaretMei  2010.


3.7    Pengumpulan Data Dan Analisa Data
3.7.1        Pengumpulan Data
Pengumpulan data adalah proses pendekatan kepada subyek dan proses pengumpulan karakteristik subyek yang diperlukan dalam suatu penelitian (Nursalam, 2008 : 111).
Didalam pengumpulan menggunakan data primer yaitu data diperoleh dengan cara menyebarkan kuesioner yang dibagikan kepada ibu nifas yang ada di RSAB Muslimat Jombang yang memenuhi kriteria dan telah menyetujui menjadi responden dimana kuesioner diisi sendiri oleh responden yang sebelumnya dijelaskan tentang cara pengisiannya oleh peneliti.
3.7.2        Analisa Data
Analisa data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau sumber data lain terkumpul.
Analisa deskriptif adalah suatu prosedur pengolahan data dengan menggambarkan dan meringkas data dengan cara ilmiah dalam bentuk tabel atau grafik (Nursalam, 2008 : 120).
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan dihitung dengan menggunakan tabel distribusi frekwensi dalam bentuk pengetahuan dengan menggunakan rumus :

Keterangan      :
P = Prosentase
F = Jumlah jawaban yang benar
N = Jumlah seluruh pertanyaan
Setelah diketahui prosentasenya maka hasil penelitian akan menggambarkan pengetahuan ibu :
Baik                 : 76-100%
Cukup             : 56-75%
Kurang            : <56 o:p="">
(Nursalam, 2008 : 120).

3.8    Tingkat Pengolahan Data
3.8.1        Pemeriksaan Data (Editing)
 Editing adalah pemeriksaan data yang telah dikumpulkan baik berupa daftar pertanyaan, kartu atau buku register kemudian memeriksa data, menjumlah, dan melakukan koreksi. Dari data yang didapatkan diklasifikasikan dengan kriteria baik, cukup, dan kurang.
3.8.2        Pemberian Kode (Coding)
Untuk memudahkan pengolahan, sebaiknya semua variabel diberi kode terutama data klasifikasi. Pemberian kode dapat dilakukan sebelum atau sesudah pengumpulan data dilaksanakan. Misal responden satu diberi kode R1 dan responden ke-dua diberi kode R2, hal ini dimaksudkan untuk mempermudah dalam tabulasi dan analisa data.
3.8.3        Pemberian Skor (Skoring)
Skoring adalah pemberian skor atau nilai. Jawaban kuesioner yang telah terkumpul, masing-masing pertanyaan mempunyai bobot nilai yaitu skor 1 jawaban benar dan skor 0 jawaban salah.
3.8.4        Pensyusunan Data (Tabulating)
Tabulating merupakan pengorganisasian data sedemikian rupa agar dengan mudah dapat dijumlah, disusun, dan didata untuk  disajikan dan dianalisa.

3.9    Alat Ukur (Instrumen Penelitian)
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner (kuesioner tertutup).
Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui (Arikunto, 2002 : 128).
Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner tertutup yaitu kuesioner yang sudah disediakan jawabannya sehingga responden tinggal memilih.



3.10Etika Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan mendapat persetujuan dari Direktur RSAB Muslimat Jombang. Setelah mendapat persetujuan kemudian kuesioner diberikan kepada responden yang akan diteliti dengan menekankan pada masalah etika sebagai berikut :
3.10.1    Inform Consent
Lembar persetujuan untuk menjadi responden diberikan kepada responden. Jika subyek bersedia maka harus menandatangani lembar persetujuan tersebut. Jika subyek menolak untuk diteliti, maka peneliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati haknya.
3.10.2    Tanpa Nama (Anonymity)
Untuk menjaga kerahasiaan identitas responden diberikan kepada responden. Jika subyek bersedia, maka harus menandatangani lembar persetujuan tersebut. Jika subyek menolak untuk diteliti, maka peneliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati haknya.
3.10.3    Kerahasiaan (Confidentiality)
Kerahasiaan informasi yang diberikan oleh subyek dijamin oleh peneliti.

3.11 Keterbatasan
Keterbatasan merupakan kelemahan dan hambatan dalam penelitian. Keterbatasan yang dihadapi oleh peneliti adalah :

3.11.1    Alat Ukur
Pengumpulan data menggunakan kuesioner memungkinkan responden menjawab pertanyaan dengan tidak jujur atau tidak mengerti pertanyaan yang dimaksud.
3.11.2    Peneliti
Karena penelitian ini adalah yang pertama kali dilakukan dan peneliti belum memiliki pengalaman sehingga banyak sumber-sumber yang belum dimunculkan secara maksimal oleh peneliti dan banyak mengalami hambatan.



BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1    Hasil Penelitian
Pada bab ini akan di uraikan hasil penelitian yang di laksanakan di RSAB Muslimat Jombang pada tanggal 08-16 Mei 2010 dengan 31 responden. Hasil penelitian ini di sajikan dalam 2 bagian yaitu data umum dan data khusus. Data umum memuat karakteristik reponden bedasarkan pendidikan, usia, pekerjaan, dan jumlah anak. Sedangkan data khusus menampilkaan karakteristik responden meliputi gambaran tingkat pengetahuan ibu nifas tentang tanda bahaya pada neonatal.
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (event behavior).
4.1.1        Data Umum
1.      Pendidikan
Tabel 4.1   Distribusi Frekuensi Berdasarkan Tingkat Pendidikan Ibu Nifas di RSAB Muslimat Jombang Pada Bulan Mei 2010

No
Pendidikan
Frekuensi
Prosentase (%)
1
2
3
4
SD
SMP
SMA
Perguruan tinggi
2
7
13
9
6,5%
22,6%
41,9%
29,03%
Jumlah
31
100%
Sumber  : Kuesioner Penelitian di RSAB Muslimat Jombang tahun 2010.

Berdasarkan tabel 4.2 didapatkan bahwa sebagian besar responden berpendidikan SMA yaitu sebanyak 13 responden (41,9%).
2.      Umur
Tabel 4.2   Distribusi Frekuensi Berdasarkan Umur Ibu Nifas di RSAB Muslimat Jombang Pada Bulan Mei 2010

No
Umur
Frekuensi
Prosentase (%)
1
2
3
< 20
20- 30
>30
2
25
4
6,45%
80,6%
12,9%
Jumlah
31
100
Sumber  : Kuesioner Penelitian di RSAB Muslimat Jombang tahun 2010.

Berdasarkan tabel 4.2 di peroleh bahwa sebagian besar responden berumur 20-30 tahun yaitu sebanyak 25 responden (80,6%).
3.      Pekerjaan
Tabel 4.3   Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pekerjaan Ibu Nifas di RSAB Muslimat Jombang Pada Bulan Mei 2010
                                       
No
Jumlah anak
Frekuensi
Prosentase (%)
1
2
3
4
5
Tidak bekerja
Pegawai swasta
PNS
TNI/ Polri
Lain- lain
10
13
6
-
2
32,2%
41,9%
19,4%
0%
6,5%
Jumlah
31
100
Sumber  : Kuesioner Penelitian di RSAB Muslimat Jombang tahun 2010.

Berdasarkan tabel 4.3 di peroleh bahwa sebagian besar bekerja sebagai pegawai swasta yaitu sebanyak 13 responden (41,9%).

4.      Jumlah Anak
Tabel 4.4   Distribusi Frekuensi Berdasarkan Jumlah Anak Ibu Nifas di RSAB Muslimat Jombang Pada Bulan Mei 2010

No
Jumlah anak
Frekuensi
Prosentase (%)
1
2
3
4
1
2
3
>3
19
8
2
2
61,3%
25,8%
6,45%
6,45%
Jumlah
31
100
Sumber  : Kuesioner Penelitian di RSAB Muslimat Jombang tahun 2010.

Berdasarkan tabel 4.4 di peroleh bahwa sebagian besar mempunyai anak 1 yaitu sebanyak 19 responden (61,3%).
4.1.2        Data Khusus
1.      Pengetahuan
Tabel 4.5   Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pengetahuan Ibu Nifas Tentang  Tanda Bahaya Pada Neonatal di RSAB Muslimat Jombang Pada Bulan Mei 2010

No
Pengetahuan
Frekuensi
Prosentase (%)
1
2
3
Baik
Cukup
Kurang
8
13
10
25,8%
41,9%
32,3%
Jumlah
31
100
Sumber  : Kuesioner Penelitian di RSAB Muslimat Jombang tahun 2010.

Berdasarkan tabel di atas didapatkan bahwa sebagian besar pengetahuannya cukup yaitu sebanyak 13 responden (41,9%).


4.2    Pembahasan
Berdasarkan dari tabel 4.5 hasil penelitian di dapatkan sebagian besar gambaran pengetahuan ibu nifas tentang tanda bahaya pada neonatal di RSAB Muslimat Jombang cukup.
Menurut Notoatmdjo (2005) ada dua faktor yang mempengaruhi pengetahuan yaitu internal dan eksternal. Faktor internal meliputi, umur, intelegensi, pengalaman, dan tingkat pendidikan. Sedangkan faktor eksternal meliputi informasi, lingkungan, dan sosial budaya.
Di dalam kenyataan faktor internal dan eksternal sama-sama mempengaruhi terhadap pengetahuan ibu nifas tentang tanda bahaya pada neonatal.
Faktor yang mempengaruhi pengetahuan ibu nifas tentang tanda bahaya pada neonatal:
4.2.1        Pendidikan
Berdasarkan tabel 4.1 dapat di ketahui bahwa dari 31 responden sebagian besar berpedidikan SMA yaitu ada 13 responden (41,9%). Menurut Notoatmodjo (2003) pendidikan merupakan proses pertumbuhan, perkembangan atau perubahan ke arah yang sama, lebih baik dan lebih matang pada diri individu, kelompok atau masyarakat. Menurut Nursalam (2001) semakin rendah pendidikan seseorang semakin rendah pula dalam memperoleh informasi, sehingga semakin sedikit pula pengetahuan yang di milikinya. Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin mudah menerima informasi untuk menambah pengetahuannya, demikian juga dengan tingkat yang terlalu rendah akan sulit mencerna pesan atau informasi yang di sampaikan. Tingkat pendidikan seseorang juga mempunyai peranan yang penting untuk menerima, mengerti dan menghayati suatu pengetahuan yang baru untuk dikemudian hari, sehingga dalam hidup seseorang akan lebih mengarah pada suatu hal yang positif dan lebih bermakna.
4.2.2        Usia
Berdasarkan tabel 4.2 dapat di ketahui bahwa dari 31 responden sebagian besar responden berusia 20-30 tahun yaitu 25 responden  (80,6%). Berdasarkan keterangan di atas dapat di simpulkan bahwa terdapat kesamaan antara hasil penelitian dan teori mengenai usia merupakan salah satu yang berpengaruh dalam tingginya tingkat pengetahuan. Menurut Hurlock (2007) semakin cukup usia tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Pada umur 20-30 seseorang telah memiliki kemampuan mental yang diperlukan untuk mempelajari dan menyesuaikan diri pada situasi baru, misalkan untuk mengingat hal-hal yang pernah dipelajari, penalaran analogis dan berpikir kreatif serta mampu menyelesaikan masalah mereka dengan cukup baik sehingga menjadi stabil dan tenang secara emosional. Menurut Lorry dalam Nursalam dan Pariani (2001) bahwa umur individu terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat berulang tahun, sampai cukup umur. semakin cukup umur, tingkat kematangan seseorang akan lebih matang berpikir dan bekerja sehingga semakin tua seseorang akan semakin kontruksif dalam menggunakan koping terhadap masalah yang dihadapi.
Dalam kematangan usia tersebut daya pikir untuk memperoleh informasi baru lebih cepat dan dapat bertindak tepat, semakin cukup umur, tingkat kematangan sesorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja. Sekarang dilihat dari kepercayaan dan penilaian masyarakat, yaitu yang usia lebih dewasa dan matang akan lebih dipercayai dari pada seseorang yang belum cukup kedewasaannya yang dilihat melalui usia maupun bertindak sehari-harinya. Hal tersebut juga ditunjang dari segi pengalaman, usia lebih tinggi maka pengalamannya akan cenderung lebih banyak dan dapat berpikir luas. Sehingga mempengaruhi tingkat pengetahuan cukup baik.
4.2.3        Pekerjaan
Berdasarkan tabel 4.3 dapat diketahui bahwa dari 31 responden sebagian besar pegawai swasta yaitu 13 responden  (41,9%).
Bekerja umumnya merupakan kegiatan yang menyita waktu bagi seseorang dan mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarganya. Menurut Nursalam (2001) dengan adanya pekerjaan, seseorang akan memerlukan waktu dan tenaga untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dari kondisi tersebut bisa dilihat bahwa meskipun responden bekerja namun faktor kesibukan menjadikan responden tidak memiliki waktu untuk mencari atau memperoleh pengetahuan. Sehingga pengetahuan responden tentang tanda bahaya pada neonatal kurang baik.
4.2.4        Pengalaman
Pengalaman bisa berasal dari diri sendiri maupun orang lain. Berdasarkan data tabel 4.4 dapat diketahui bahwa dari 31 respoden sebagian besar merupakan anak petama yaitu 19 responden (61,3%). Menurut Notoatmodjo (2003) berpendapat bahwa pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap obyek tertentu. Penginderaan ini melalui panca indra manusia, yakni indra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Maka dapat disimpulkan bahwa apabila seseorang sudah pernah memiliki anak sebelumnya dan melahirkan untuk kedua kalinya dan seterusnya umumnya mempunyai pengetahuan yang baik karena telah memperoleh pengalaman dan informasi pada sebelumnya.
Pada prinsipnya sebelum seseorang mampu mengadopsi perilaku baru, maka akan melalui tahapan proses perubahan perilaku antara lain: know (tahu), comprehensip (memahami), application (aplikasi), analisys (analisis), synthesis (sintesis), dan evaluation (evaluasi). Begitu juga pada ibu yang belum mengerti tentang tanda bahaya pada neonatal akan mengalami seperti itu yang akan disadari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap positif. Apabila reponden  dapat mengadopsi perilaku seperti itu, maka ia akan mengetahui tanda bahaya pada neonatal, sehingga dapat menurunkan AKB dan diharapkan derajat kesehatan neonatal di Indonesia semakin meningkat.

BAB V
PENUTUP

5.1    Kesimpulan
Berdasarkan data hasil penelitian dan pembahasan yang telah disajikan dalam bab sebelumnya mengenai pengetahuan didapatkan kesimpulan bahwa gambaran pengetahuan ibu nifas tentang tanda bahaya pada neonatal di RSAB Muslimat Jombang adalah cukup.

5.2    Saran
5.2.1        Bagi Responden
Sehubungan dengan pengetahuan ibu nifas masih cukup diharapkan masyarakat lebih meningkatkan pengetahuan dengan mengikuti penyuluhan-penyuluhan dari tenaga kesehatan, sering menimba ilmu dari media masa seperti televisi, radio, majalah, koran, dan lain- lain.
5.2.2        Bagi Institusi Kesehatan
Sebagai bahan masukan dalam memberikan pelayanan kesehatan yang produktif dengan tidak hanya memberikan pelayanan medis tapi juga lebih dalam dengan memberikan konseling dan penyuluhan tentang tanda bahaya pada neonatal.

5.2.3        Bagi Peneliti Selanjutnya
Sebagai wacana pembelajaran dalam penerapan ilmu dan teori serta mendapat tambahan pengetahuan tentang tanda bahaya pada neonatal. Serta sebagai acuan pengembangan penelitian selanjutnya, hendaknya penelitian ditambahkan untuk mengetahui faktor-faktor  yang menyebabkan terjadinya bahaya pada neonatal.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Friends

Blog List