Rabu, 06 Februari 2013

PENGARUH PENGGUNAAN DAUN SIRIH (Piperbetle linn ) TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA PERINEUM IBU NIFAS


BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang Masalah
Persalinan dan kelahiran merupakan kejadian fisiologis. Seringkali persalinan menyebabkan perlukaan jalan lahir sehingga harus dirawat dengan baik dan benar (Prawirohardjo, 2002). Perlukaan jalan lahir dapat mengakibatkan infeksi pada daerah antara lubang vagina dan anus, bagian luar alat kelamin, vagina serta mulut rahim dan biasanya akan timbul gejala seperti: rasa nyeri serta panas pada tempat terinfeksi, kadang-kadang rasa perih muncul bila buang air kecil karena sudah merambat pada saluran kandung kencing dan sering juga disertai demam (Purwadi Rahardjo, 2006). Menurut WHO, pada tahun 2005 tercatat lebih dari 585.000 terjadi kematian ibu saat hamil atau bersalin. Sebanyak 11%  kematian ibu disebabkan karena infeksi dimana 25-55 % dari kasus infeksi ini disebabkan karena infeksi perlukaan pada jalan lahir (Rustam Mochtar, 2000).
Infeksi perlukaan jalan lahir ini bisa terjadi karena ibu tidak memperhatikan personal hygiene yang baik, belum mengerti cara perawatan luka perineum yang benar, belum mengerti manfaat dan tujuan dari perawatan luka perineum, serta kurang telaten dalam melakukan perawatan pasca persalinan (Prawirohardjo, 2002). Kasus infeksi ini disebabkan juga karena infeksi yang terlokalisir di jalan lahir dan penyebab terbanyak dan lebih dari 50% adalah kuman Streptococcus anaerob yang sebenarnya tidak patogen dan merupakan penghuni jalan lahir namun karena adanya luka memungkinkan kuman ini untuk menyebabkan infeksi (Rustam Mochtar, 2000).
Perawatan luka perineum merupakan salah satu cara untuk mencegah terjadinya infeksi perlukaan jalan lahir. Perawatan perineum terdiri dari 3 teknik, yaitu teknik dengan memakai antiseptik, tanpa antiseptik dan cara tradisional. Namun perawatan luka perineum yang dilakukan oleh masyarakat masih banyak yang menggunakan cara tradisional, salah satunya menggunakan air rebusan daun sirih tersebut untuk cebok supaya luka perineum cepat sembuh dan bau darah yang keluar tidak amis. Daun sirih mengandung minyak atsiri yang terdiri dari bethephenol, chavicol, seskulterpen, hidriksivaikal, cavibetol, estrogen, eugenol, dan karvarool dimana zat biokomia dalam daun sirih (Piperbetle linn.) memiliki daya membunuh kuman dan jamur, juga merupakan antioksidan yang mampercepat proses penyembuhan luka. Pengobatan menggunakan daun sirih merupaan pengobatan tradisional dengan menggunakan ramuan tumbuh-tumbuhan tertentu dan masih alami sehingga tidak ada efek samping yang ditimbulkan seperti yang sering terjadi pada pengobatan kimiawi (Agromedia, 2007).
Pengobatan antibiotik untuk perawatan luka perineum saat ini cenderung dihindari. Hal ini dapat diartikan, selama ibu tidak memiliki resiko infeksi, maka bidan tidak memberikan antibiotik untuk menyembuhkan luka perineum. Bahkan menurut buku Farmakologi dan Terapi (2007), beberapa antibiotik harus dihindari selama masa laktasi, karena jumlahnya sangat signifikan dan beresiko. Hal inilah yang menjadi alasan bidan yang menyarankan ibu nifas untuk menggunakan daun sirih sebagai obat yang mempercepat penyembuhan luka perineum.
Hasil studi pendahuluan secara interview pada bidan di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto, pada bulan Februari 2010, menyebutkan bahwa dari 9 ibu nifas, 7 orang menggunakan daun sirih (77, 78%), dan 2 orang tidak menggunakan daun sirih (22,22%). Dari 9 orang tersebut, 4 orang menerima tindakan episiotomi (45%) dan 5 orang mengalami robekan spontan (55%). 6 ibu nifas (67%) sembuh dalam 7 hari, dan sisanya lebih dari 7 hari. Penulis juga melakukan survey di Desa Ngrimbi dan Desa Banjaragung, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, yang hasilnya mengungkapkan bahwa 90% ibu nifas juga menggunakan daun sirih sebagai obat untuk mengatasi gatal pada daerah kewanitaan dan mempercepat penyembuhan luka perineum.
Mengingat rendahnya pengetahuan kandungan senyawa berbagai tanaman obat terkadang membuat pengobatan tradisional terasa m meragukan. Memang, hingga saat ini belum semua tanaman penghasil obat sudah diteliti secara farmakologis khasiat dan kandungannya. Pada akhirnya, resep-resep tradisional tersebut juga harus dapat dipertanggungjawabkan secara medis dan ilmiah. Begitu pula dengan daun sirih, yang meskipun populer namun belum pernah ada penelitian yang menganalisis pengaruhnya pada penyembuhan luka perineum.
Berdasarkan fenomena-fenomena di atas, maka penulis merasa tertarik untuk melakukan eksperimen tentang ”Pengaruh Penggunaan Daun Sirih Terhadap Percepatan Luka Perineum Ibu Nifas di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang, Tahun 2010”. Penelitian ini menggali informasi tentang pengaruh daun sirih terhadap penyembuhan luka perineum dan memformulasikannya, agar dapat  dimanfaatkan dalam kebijakan yang mendukung upaya peningkatan mutu pengobatan tradisional sekaligus menurunkan angka kematian dan kesakitan ibu karena infeksi nifas.

1.2    Rumusan Masalah
1.2.1        Rumusan Masalah
Apakah ada pengaruh penggunaan daun sirih terhadap penyembuhan luka perineum pada ibu nifas di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto, Jombang, 2010?

1.3    Tujuan Penelitian
1.3.1        Tujuan Umum
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh daun sirih terhadap penyembuhan luka perineum di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang tahun 2010.
1.3.2        Tujuan Khusus
1.3.2.1  Mengidentifikasi penggunaan daun sirih di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto, Jombang, 2010.
1.3.2.2  Mengidentifikasi penyembuhan luka perineum di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto, Jombang, 2010.
1.3.2.3  Menganalisis pengaruh penggunaan daun sirih terhadap penyembuhan luka perineum

1.4    Manfaat Penelitian
1.4.1        Bagi Peneliti
Menambah pengetahuan penulis tentang pengaruh daun sirih terhadap penyembuhan luka perineum.
1.4.2        Bagi Lahan Penelitian
Sebagai masukan bagi tenaga kesehatan untuk menggunakan daun sirih sebagai penyembuh luka perineum dalam pengembangan pengobatan tradisional
1.4.3        Bagi Institusi
Sebagai masukan dan sumber informasi bagi mahasiswa lain tentang pemakaian daun sirih untuk penyembuhan luka perineum.

1.5    Sistematika Penelitian
BAB I                  PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang Masalah
1.2  Rumusan Masalah
1.3  Tujuan Penelitian
1.4  Manfaat Penelitian
1.5  Sistematika Penulisan
BAB II    KAJIAN TEORI
2.1  Konsep Daun Sirih
2.2  Konsep Luka Perineum
2.3  Konsep Penyembuhan Luka
2.4  Prinsip Perawatan Luka Perineum
2.5  Manfaat Daun Sirih terhadap Penyembuhan Luka Perineum
2.6  Kerangka Konsep
2.7  Hipotesis
BAB III   METODE PENELITIAN
3.1  Rancangan penelitian
3.2  Lokasi dan waktu penelitian
3.3  Populasi, sampling, dan sample
3.4  Kriteria penelitian
3.5  Identifikasi variabel
3.6  Definisi Operasional
3.7  Instrumen, Alat dan Bahan Penelitian
3.8  Prosedur Pelaksanaan Penelitian
3.9  Pengumpulan data
3.10          Pengolahan Data
3.11          Analisis data
3.12          Etika penelitian
3.13          Keterbatasan

BAB IV   HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian, Pembahasan mengenai KTI
BAB V                 PENUTUP
Kesimpulan dan Saran

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN


BAB II
KAJIAN TEORI

2.1    Konsep Daun Sirih
2.1.1        Pengertian Herbalisme
Herbalisme dapat didefinisikan sebagai penggunaan berbagai produk yang terbuat dari bahan dasar tanaman yang belum diolah untuk mengatasi, mencegah, atau mengobati penyakit. Mereka yang menggunakannya mengkarakteristikan terapi herbal sebagai metode yang berorientasi pada kesehatan, bukan penyakit, dan mereka cenderung mempertimbangkan herbal lebih selaras dengan irama alami tubuh. Tanaman cenderung digunakan secara keseluruhan bukan mengisolasi unsur-unsur aktifnya guna mengurangi efek samping dan potensinya serta memungkinkan berbagai kandungan dalam tanaman tertentu bekerja secara sinergis. Ahli herbal (herbalis) mengesampingkan hal-hal yang mengangkut standarisasi, mengingat bahwa setiap individu bahkan memberi respons yang berbeda-beda terhadap obat-obatan yang terstandarisasi seperti insulin dan digoxin (Coctance Sinclair, 2009).
2.1.2        Perbandingan Antara Penggunaan Obat Herbal dan Obat Sintesis
Tabel 2.1   Perbedaan Antara Penggunaan Obat Herbal Dan Obat Sintesis

Obat Herbal
Obat sintesis
Sistem kerjanya lokal
Sistem kerjanya sistemik
Efek samping sedikit bahkan tidak ada
Dapat menimbulkan efek samping, misalnya : eritema, hipersensitivitas, dan nausea, emesis, dll.
Efek dalam tubuh lambat
Efek dalam tubuh cepat
(Departemen Farmakologi dan Terapeutik FK UI , 2007)
2.1.3        Pengertian Daun Sirih




Gambar 2.1. Daun Sirih Piperbetle linn

Nama latin           : Piperbetie Linn
Divisi                   : Spermatophyta
Anak Divisi         : Angiospermae
Kelas                    : Dicotyledoneae
Anak kelas           : Monochlamydae
Bangsa                 : Piperales
Suku                    : Piperaceae
Nama simplesia    : Piperis Folium
Nama daerah       :
Sirih; Suruh (Jawa), seureuh (Sunda); base (Bali); leko, kowak, malo, malu (Nusa Tenggara); dontile, parigi, gamnjeng (Sulawesi); gies, bido (Maluku); sirih, ranub, sereh, sirieh (Melayu) (Moeljanto, 2003).
Deskripsi tanaman :
Perdu, merambat, batang berkayu, berbuku-buku, bersalur, berwarna hijau keabu-abuan. Daun tunggal, bulat panjang, berwarna kuning kehijauan sampai hijau tua, yang sudah bisa dipetik biasanya sudah selebar 10 cm, panjang 15 cm. Buah buni, bulat, berwarna hijau keabu-abuan. Pertumbuhannya tergantung pada kesuburan media tanam dan rendahnya media untuk merambat. Batang berwarna coklat kehijauan, berbentuk bulat, berkerut, dan beruas yang merupakan tempat keluarnya akar. Daun berbentuk jantung, berujung runcing, tumbuh berselang-seling, bertangkai, teksturnya agak kasar jika diraba, dan mengeluarkan bau yang sedap (aromatis) jika diremas (Moeljanto, 2003).
Bagian tanaman yang digunakan : Daun
Kandungan Kimia :

  1. Minyak Atsiri 1-4,2%
  2. Hidroksikavicol 7,2-16,7%
  3. Cavicol 7,2 – 16,7%
  4. Cavibetol 2,7 – 6,2%
  5. Allylpykatekol 0 – 9,6%
  6. Carvakol 2,2 - 5,6%
  7. Eugenol 26,8 – 42,5%
  8. Eugenolmethyl ether 4,2 – 15,8%
  9. P-cymene 1,2 – 2,5%
  10. Cyneole 2,4 – 4,8%
  11. Alkohol
  12. Caryophyllene 3 – 9,8%
  13. Cadinene 2,4 – 15,8%
  14. Caryophyllene
  15. Estragol
  16. Terpennena
  17. Eskuiterpena
  18. Fenil propana
  19. Tanin
  20. Diastese 0,8 – 1,8%
  21. Gula
  22. Pati

(Arief Hariana, 2009)

Efek Farmakologis :
Dalam farmakologi Cina disebutkan bahwa tanaman ini memiliki sifat rasa hangat dan pedas dan digunakan sebagai peluruh kentut, menghentikan batuk, mengurangi peradangan, menghilangkan gatal (Arief Hariana, 2009).
Efek zat aktif : 
1.      Acreoline (seluruh tanaman); merangsang syaraf pusat, merangsang daya pikir, meningkatkan gerakan peristaltik, merangsang kejang, meredakan sifat mendengkur.
2.      Eugenol (daun) mencegah ejakulasi prematur,mematikan jamur Candida albicans, anti kejang, analgesik, anestetik, pereda kejang pada otot polos, penekan pengendali gerak.
3.      Tanin (daun); astringent (mengurangi sekresi pada liang vagina), penekan kekabalan tubuh, pelindung hepar, anti diare, anti mutagenik.
4.      Fenol, sebagai zat antioksidan, yaitu bisa membantu menjaga atau mempertahankan kesehatan sel tubuh. Kandungan fenol dalam sifat antiseptik daun sirih lima kali lebih efektif dibandingkan dengan fenol biasa.
5.      Chavicol, sebagai antiseptik.
(Arief Hariana, 2009)


2.2    Konsep Luka Perineum
2.2.1        Definisi Luka Perineum
Luka adalah belah (pecah, cidera, lecet) pada kulit karena kena barang yang tajam (Depdikbud, 1999).
Perineum adalah daerah yang terletak antara vulva dan anus, panjangnya rata-rata 4 cm. Di dalamnya terdiri atas musculus sircularis dan bagian luarnya atas musculus longitudinalis. Di sebelah luar otot-otot ini tedapat fasia (jaringan ikat) yang akan berkurang elastisitasnya pada wanita lanjut usia (Prawirohardjo, 2006).
Luka/robekan perineum adalah luka pada daerah perineum yang disebabkan oleh tindakan episiotomi. Dapat juga terjadi secara alami karena pada saat proses persalinan, kurang adanya perlindungan terhadap perineum, sehingga kepala bayi dan tekanan meneran ibu dapat merobek jaringan perineum dan sekitarnya (Prawirohardjo, 2006).
2.2.2        Etiologi Luka Perineum
Robekan pada perineum umumnya terjadi pada persalinan, dimana :
1.      Kepala janin terlalu cepat lahir
2.      Persalinan tidak dipimpin sebagaimana mestinya
3.      Sebelumnya pada perineum terdapat banyak jaringan parut
4.      Pada persalinan dengan distosia bahu
(Prawirohardjo, 2005)


Luka perineum dapat terjadi secara :
1.      Spontan
Yaitu luka pada perineum yang terjadi karena sebab-sebab tertentu tanpa dilakukan tindakan perobekan atau disengaja. Luka ini terjadi pada saat persalinan dan biasanya tidak teratur.
2.      Insisi
Yaitu luka perineum yang terjadi karena dilakukan pengguntingan atau perobekan pada perineum.
a.       Episiotomi adalah insisi genitalia eksterna
b.      Perineotomi adalah insisi perineum
(Budi, 2008)
2.2.3        Derajat Luka Perineum
Robekan Perineum dibagi menjadi 2, berdasarkan tempatnya, yaitu :
1.        Anterior, meliputi : labia, vagina anterior, uretra atau klitoris.
2.        Posterior, meliputi : dinding posterior vagina, otot-otot perineum, spinkter ani, dan mukosa rectum (Budi, 2008).
Robekan perineum dibagi atas 4 derajat, yaitu :
1.      Tingkat 1 : Robekan hanya terjadi pada selaput lendir vagina dengan atau tanpa mengenai kulit perineum.
2.      Tingkat 2 : Robekan mengenai selaput lendir vagina dan otot perinei transversalis, tapi tidak mengenai otot sfingter ani.
3.      Tingkat 3 : Robekan mengenai perineum sampai dengan otot sfingter ani.
4.      Tingkat 4 : Robekan mengenai perineum sampai dengan otot sfingter ani dan mukosa rektum
Robekan sekitar klitoris dan uretra dapat menimbulkan perdarahan hebat dan mungkin sangat sulit untuk diperbaiki. Penolong harus melakukan penjahitan reparasi dan hemostasis (Prawirohardjo, 2006).
Klasifikasi robekan perineum menurut Sultan, dkk (2007) :
Stadium 1   : Laserasi epitel vagina atau laserasi pada kulita vagina saja.
Stadium 2   : Melibatkan kerusakan pada otot perineum, tetapi tidak melibatkan otot-otot sfinkter ani
Stadium 3   : Kerusakan pada otot sfinkter ani
3a : Robekan < 50% sfinkter ani eksterna
3b : Robekan > 50% sfinkter ani eksterna
3c : Robekan juga meliputi sfinkter ani interna
Stadium 4   : Robekan stadium 3 disertai robekan anus
(Budi, 2008)
Gambar 2.2 Jenis Episiotomi
2.2.4        Diagnosis
1.      Peri Rule, adalah alat standar untuk menilai robekan perineum stadium 2 secara obyektif
2.      Pemeriksaan Vagina
3.      Pemeriksaan Rektum (DRE)
a.       Robekan sfinkter ani akibat persalinan/OASIS (Obstetric Anal Sphinkter Injuries) : mulai dari stadium I-IV
b.      Occult OASIS : tersembunyi, tidak teridentifikasi, salah klasifikasi, kurang perhatian.
4.      Ultrasonografi (USG) Endoanal
(Budi, 2008)
2.2.5        Penanganan Luka Perineum
Pada dasarnya, penanganan luka perineum dibagi menjadi 2, yaitu;
1.      Tidak dijahit
2.      Dijahit
2.2.5.1  Prinsip dasar penjahitan
1.      Robekan sembuh dalam 2 minggu
2.      Jahit segera setelah persalinan
3.      Jahit kuat tapi jangan terlalu kencang
4.      Tutup ruang rugi dengan hemostasis baik
5.      Kateter 24 jam
6.      Periksa dan hitung alat
(Budi, 2008)
2.2.5.2  Bahan Benang
1.      Catgut, Asam poliglikolat (Dexon)
2.      Poliglaktin 910 Standar (Vicryl)
3.      Poliglaktin 910 Baru (Vicryl Rapide)
(Budi, 2008)
2.2.5.3  Penjahitan Robekan Perineum Berdasarkan Stadium
1.      Stadium I
Luka perineum derajat I bisa dibiarkan, atau dijahit. Jahit apabila : perdarahan berlebih, kontinuitas jaringan diragukan, danlaserasi bilateral.
2.      Stadium II
Tabel 2.2 Penanganan Robekan Perineum Stadium 2 (Budi, 2008)

Penjahitan
Teknik Konvensional
Teknik Jahitan Kontinu
Vagina
Kontinu, locking
Kontinu nonlocking
Otot Perineum
Interuptus/jelujur kontinu
Kontinu nonlocking
Kulit
Interuptus transkutan/kontinu subkutan
Jahitan subkutikular

3.      Stadium III dan IV
Prinsip :
a.      Aproksimasi ujung ke ujung (end to end aproximation) baik dengan jahitan interuptus (interupted), maupun jahitan angka delapan (figure of eight).
b.      Apabila dengan inkontinensia alvi, tenik jahitan adalah teknik overlap, saat menjahit sfinkter.
(Budi, 2008)
2.2.5.4  Intervensi untuk Mengurangi Resiko Robekan Perineum
1.           Pembedahan Caesar elektif
2.           Pemijatan perineum antenatal
3.           Latihan fisik selama kehamilan
4.           Persalinan di air (Water Labour)
5.           Persalinan spontan dibantu forceps
6.           Vacum vs Forseps
(Budi, 2008)
Pada dasarnya, perlukaan jalan lahir atau luka perineum akan sembuh dalam 6-7 hari apabila tidak ada infeksi.
1.      Tanda-tanda jahitan jadi :
a.       Luka tidak basah
b.      Tidak nyeri
c.       Tidak kemerahan
d.      Tidak mengeluarkan pus (nanah)
2.      Tanda-tanda infeksi :
a.       Rubor (kemerahan)
Sebuah sayatan yang mendapat merah, atau memiliki garis-garis merah memancar dari ke kulit di sekitarnya mungkin terinfeksi. Kemerahan beberapa normal di tempat sayatan, tetapi harus menurun seiring waktu, bukan menjadi lebih merah sebagai menyembuhkan sayatan.

b.      Kalor (panas)
Sebuah sayatan yang terinfeksi mungkin merasa panas untuk disentuh. Hal ini terjadi sebagai tubuh melawan infeksi mengirimkan sel-sel darah ke lokasi infeksi.
c.       Dolor (Nyeri)
Nyeri Anda harus perlahan dan terus berkurang sementara Anda sembuh. Jika tingkat nyeri Anda di situs meningkatkan operasi tanpa alasan yang jelas, Anda mungkin akan mengembangkan infeksi pada luka. Adalah normal untuk nyeri meningkat jika Anda "berlebihan" dengan kegiatan atau Anda menurunkan obat sakit Anda, tetapi peningkatan signifikan dan diterangkan dalam sakit harus dibicarakan dengan dokter bedah Anda.
d.      Tumor (pembengkakan)
Sebuah sayatan terinfeksi mungkin mulai mengeras sebagai jaringan bawah meradang. Sayatan sendiri mungkin mulai muncul bengkak atau bengkak juga.
e.       Fungsiolaesa (Perubahan fungsi)
(Heisler, 2009)


2.3    Konsep Penyembuhan Luka
Penyembuhan adalah proses, cara, perbuatan menyembuhkan, pemulihan (Depdikbud, 1999).
Luka adalah belah (pecah, cidera, lecet) pada kulit karena kena barang yang tajam (Depdikbud, 1999).
Penyembuhan luka merupakan suatu proses yang kompleks karena berbagai kegiatan bio-seluler, bio-kimia terjadi berkisanambungan. Penggabungan respons vaskuler, aktivitas seluler dan terbentuknya bahan kimia sebagai substansi mediator di daerah luka merupakan komponen yang saling terkait pada proses penyembuhan luka. Besarnya perbedaan mengenai penelitian dasar mekanisme penyembuhan luka dan aplikasi klinik saat ini telah dapat diperkecil dengan pemahaman dan penelitian yang berhubungan dengan proses penyembuhan luka dan pemakaian bahan pengobatan yang telah berhasil memberikan kesembuhan (Baxter, 1990).
2.3.1        Klasifikasi Luka
Luka adalah rusaknya kesatuan/komponen jaringan, dimana secara spesifik terdapat substansi jaringan yang rusak atau hilang. Berdasarkan kedalaman dan luasnya, luka dapat dibagi menjadi :
1.      Luka superfisial; terbatas pada lapisan dermis.
2.      Luka “partial thickness”; hilangnya jaringan kulit pada lapisan epidermis dan lapisan bagian atas dermis.
3.      Luka “full thickness”; jaringan kulit yang hilang pada lapisan epidermis, dermis, dan fasia, tidak mengenai otot.
4.      Luka mengenai otot, tendon dan tulang.
Terminologi luka yang dihubungkan dengan waktu penyembuhan dapat dibagi menjadi:
1.      Luka akut
Luka dengan masa penyembuhan sesuai dengan konsep penyembuhan yang telah disepakati.
2.      Luka kronis
Luka yang mengalami kegagalan dalam proses penyembuhan, dapat karena faktor eksogen atau endogen.
Setiap kejadian luka, mekanisme tubuh akan mengupayakan mengembalikan komponen-komponen jaringan yang rusak tersebut dengan membentuk struktur baru dan fungsional sama dengan keadaan sebelumnya. Proses penyembuhan tidak hanya terbatas pada proses regenerasi yang bersifat lokal, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh faktor endogen (seperti: umur, nutrisi, imunologi, pemakaian obat-obatan, kondisi metabolik).
2.3.2        Fase-Fase Penyembuhan Luka
Fase-fase penyembuhan luka menurut Smeltzer (2002 : 490) adalah sebagai berikut:
2.3.2.1  Fase Inflamasi, berlangsung selama 1 sampai 4 hari.
Merupakan fase Eksudasi; menghentikan perdahan dan mempersiapkan tempat luka menjadi bersih dari benda asing atau kuman sebelum dimulai proses penyembuhan. Dapat diaprtikan juga sebagai respons vaskular dan selular terjadi ketika jaringan teropong atau mengalami cedera. Vasokonstriksi pembuluh terjadi dan bekuan fibrinoplatelet terbentuk dalam upaya untuk mengontrol pendarahan. Reaksi ini berlangsung dari 5 menit sampai 10 menit, dan setelah itu akan terjadi vasodilatasi kapiler stimulasi saraf sensoris (local sensoris nerve ending), local reflex action, dan adanya substansi vasodilator: histamin, serotonin dan sitokins. Histamin kecuali menyebabkan vasodilatasi juga mengakibatkan meningkatnya permeabilitas vena, sehingga cairan plasma darah keluar dari pembuluh darah dan masuk ke daerah luka dan secara klinis terjadi edema jaringan dan keadaan lokal lingkungan tersebut asidosis. Keadaan ini dapat dipakai sebagai pedoman/parameter bahwa fase inflamasi ditandai dengan adanya: eritema, hangat pada kulit, edema dan rasa sakit yang berlangsung sampai hari ke-3 atau hari ke-4.
Eksudasi juga mengakibatkan migrasi sel lekosit (terutama netrofil) ke ekstra vaskuler. Fungsi netrofil adalah melakukan fagositosis benda asing dan bakteri di daerah luka selama 3 hari dan kemudian akan digantikan oleh sel makrofag yang berperan lebih besar jika dibanding dengan netrofil pada proses penyembuhan luka. Fungsi makrofag disamping fagositosis adalah:
1.      Sintesa kolagen
2.      Pembentukan jaringan granulasi bersama-sama dengan fibroblas
3.      Memproduksi growth factor yang berperan pada re-epitelisasi
4.      Pembentukan pembuluh kapiler baru atau angiogenesis
Dengan berhasilnya dicapai luka yang bersih, tidak terdapat infeksi atau kuman serta terbentuknya makrofag dan fibroblas,
2.3.2.2  Fase Proliferatif, berlangsung 5 sampai 20 hari.
Pembentukan jaringan granulasi untuk menutup defek atau cedera pada jaringan yang luka.
Fibroblas memperbanyak diri dan membentuk jaring-jaring untuk sel-sel yang bermigrasi. Sel-sel epitel membentuk kuncup pada pinggiran luka; kuncup ini berkembang menjadi kapiler, yang merupakan sumber nutrisi bagi jaringan granulasi yang baru (Smeltzer, 2002).
Setelah 2 minggu, luka hanya memiliki 3 % sampai 5% dari kekuatan aslinya. Sampai akhir bulan, hanya 35% sampai 59% kekuatan luka tercapai. Tidak akan lebih dari 70% sampai 80% kekuatan dicapai kembali. Banyak vitamin, terutama vitamin C, membantu dalam proses metabolisme yang terlibat dalam penyembuhan luka.
Proses kegiatan seluler yang penting pada fase ini adalah memperbaiki dan menyembuhkan luka dan ditandai dengan proliferasi sel. Peran fibroblas sangat besar pada proses perbaikan, yaitu bertanggung jawab pada persiapan menghasilkan produk struktur protein yang akan digunakan selama proses rekonstruksi jaringan.
Pada jaringan lunak yang normal (tanpa perlukaan), pemaparan sel fibroblas sangat jarang dan biasanya bersembunyi di matriks jaringan penunjang. Sesudah terjaid luka, fibroblas akan aktif bergerak dari jaringan sekitar luka ke dalam daerah luka, kemudian akan berkembang (proliferasi) serta mengeluarkan beberapa substansi (kolagen, elastin, hyaluronic acid, fibronectin dan profeoglycans) yang berperan dalam membangun (rekonstruksi) jaringan baru.
Fungsi kolagen yang lebih spesifik adalah membnetuk cikal bakal jaringan baru (connective tissue matrix) dan dengan dikeluarkannnya subtrat oleh fibroblast, memberikan tanda bahwa makrofag, pembuluh darah baru dan juga fibroblas sebagai satu kesatuan unit dapat memasuki kawasan luka.
Sejumlah sel dan pembuluh darah baru yang tertanam di dalam jaringan baru tersebut disebut sebagai jaringan granulasi, sedangkan proses proliferasi fibroblas dengan aktifitas sintetiknya disebut fibroblasia. Respons yang dilakukan fibroblas terhadap proses fibroplasia adalah:
1.      Proliferasi
2.      Migrasi
3.      Deposit jaringan matriks
4.      Kontraksi luka
Angiogenesis suatu proses pembentukan pembuluh kapiler baru didalam luka, mempunyai arti penting pada tahap proleferaswi proses penyembuhan luka. Kegagalan vaskuler akibat penyakit (diabetes), pengobatan (radiasi) atau obat (preparat steroid) mengakibatkan lambatnya proses sembuh karena terbentuknya ulkus yang kronis. Jaringan vaskuler yang melakukan invasi kedalam luka merupakan suatu respons untuk memberikan oksigen dan nutrisi yang cukup di daerah luka karena biasanya pada daerah luka terdapat keadaan hipoksik dan turunnya tekanan oksigen. Pada fase ini fibroplasia dan angiogenesis merupakan proses terintegrasi dan dipengaruhi oleh substansi yang dikeluarkan oleh platelet dan makrofag (growth factors).
Proses selanjutnya adalah epitelisasi, dimana fibroblas mengeluarkan “keratinocyte growth factor (KGF) yang berperan dalam stimulasi mitosis sel epidermal. Keratinisasi akan dimulai dari pinggir luka dan akhirnya membentuk barrier yang menutupi permukaan luka. Dengan sintesa kolagen oleh fibroblas, pembentukan lapisan dermis ini akan disempurnakan kualitasnya dengan mengatur keseimbangan jaringan granulasi dan dermis. Untuk membantu jaringan baru tersebut menutup luka, fibroblas akan merubah strukturnya menjadi myofibroblast yang mempunyai kapasitas melakukan kontraksi pada jaringan. Fungsi kontraksi akan lebih menonjol pada luka dengan defek luas dibandingkan dengan defek luka minimal.
Fase proliferasi akan berakhir jika epitel dermis dan lapisan kolagen telah terbentuk, terlihat proses kontraksi dan akan dipercepat oleh berbagai growth factor yang dibentuk oleh makrofag dan platelet(Baxter, 1990).
2.3.2.3  Fase Maturasi, berlangsung 21 hari sampai sebulan atau bahkan tahunan.
Sekitar 3 minggu setelah cedera, fibroblast mulai meninggalkan luka. Jaringan parut tampak besar, sampai fibril kolagen menyusun kedalam posisi yang lebih padat. Hal ini, sejalan dengan dehidrasi, mengurangi jaringan parut tetapi meningkatkan kekuatannya. Maturasi jaringan seperti ini terus berlanjut dan mencapai kekuatan maksimum dalam 10 atau 12 minggu, tetapi tidak pernah mencapai kekuatan asalnya dari jaringan sebelum luka (Smeltzer, 2002).
 Fase ini dimulai pada minggu ke-3 setelah perlukaan dan berakhir sampai kurang lebih 12 bulan. . Tujuan dari fase maturasi adalah menyempurnakan terbentuknya jaringan baru menjadi jaringan penyembuhan yang kuat dan bermutu. Fibroblas sudah mulai meninggalkan jaringan garunalasi, warna kemerahan dari jaringan mulai berkurang karena pembuluh mulai regresi dan serat fibrin dari kolagen bertambah banyak untuk memperkuat jaringan parut. Kekuatan dari ajringan parut akan mencapai puncaknya pada minggu ke-10 setelah perlukaan. Sintesa kolagen yang telah dimulai sejak fase proliferasi akan dilanjutkan pada fase maturasi. Kecuali pembentukan kolagen juga akan terjadi pemecahan kolagen oleh enzim kolagenase. Kolagen muda (gelatinous collagen) yang terbentuk pada fase proliferasi akan berubah menjadi kolagen yang lebih matang, yaitu lebih kuat dan struktur yang lebih baik (Baxter, 1990).
Untuk mencapai penyembuhan yang optimal diperlukan keseimbangan antara kolagen yang diproduksi dengan yang dipecahkan. Kolagen yang berlebihan akan terjadi penebalan jaringan parut atau hypertrophic scar, sebaliknya produksi yang berkurang akan menurunkan kekuatan jaringan parut dan luka akan selalu terbuka (Baxter, 1990).
Luka dikatakan sembuh jika terjadi kontinuitas lapisan kulit dan kekuatan jaringan kulit mampu atau tidak mengganggu untuk melakukan aktivitas yang normal. Meskipun proses penyembuhan luka sama bagi setiap penderita, namun outcome atau hasil yang dicapai sangat tergantung dari kondisi biologik masing-masing individu, lokasi serta luasnya luka. Penderita muda dan sehat akan mencapai proses yang cepat dibandingkan dengan kurang gizi, disertai dengan penyakit sistemik (diabetes melitus) (Baxter, 1990).
Sedikit berbeda dengan Penelitian pada luka akut dengan model binatang menunjukkan ada empat fase penyembuhan luka. Sehingga diyakini bahwa luka kronik harus juga melalui fase yang sama. Fase-fase tersebut sama dengan pendapat-pendapat para ahli di atas, namun diawali oleh proses hemostasis, penjelasannya adalah sebagai berikut :
Pada penyembuhan luka kerusakan pembuluh darah harus ditutup. Pada proses penyembuhan luka platelet akan bekerja untuk menutup kerusakan pembuluh darah tersebut. Pembuluh darah sendiri akan konstriksi dalam berespon terhadap injuri tetapi spasme ini biasanya rilek. Platelet mensekresi substansi vasokonstriktif untuk membantu proses tersebut (Go ET_WOC Nurse Indonesia, 2009).
Dibawah pengaruh adenosin diphosphat (ADP) kebocoran dari kerusakan jaringan akan menimbulkan agregasi platelet untuk merekatkan kolagen. ADP juga mensekresi faktor yang berinteraksi dengan dan merangsang pembekuan intrinsik melalui produksi trombin, yang akan membentuk fibrin dari fibrinogen. Hubungan fibrin diperkuat oleh agregasi platelet menjadi hemostatik yang stabil. Akhirnya platelet juga mensekresi sitokin seperti ”platelet-derived growth factor”. Hemostatis terjadi dalam waktu beberapa menit setelah injuri kecuali ada gangguan faktor pembekuan (Go ET_WOC Nurse Indonesia, 2009).
Tabel 2.3 Fase penyembuhan luka

Fase Penyembuhan
Waktu
Sel-sel yang berperan
Analogi membangun rumah
Hemostasis Inflamation
Segera
Platelets Neutrophils
Cooping off conduct
Proliferation Granulosa
Hari 1-4
Macrophages
Lymphocytes
Angocytes
Neurocytes
Supervisor Cell
Specific labores at the
Plumber
Electrician
Contracture
Hari 4-21
Fibroblas
Keratinocytes
Framers
Roofers and siders
Remodelling
Hari 21-2 tahun
Fibrocytes
Remodelers

2.3.3        Bentuk – Bentuk Penyembuhan Luka
Dalam penatalaksanaan bedah penyembuhan luka, luka digambarkan sebagai penyembuhan melalui intensi pertama, kedua, atau ketiga.
Penyembuhan melalui Intensi Pertama (Penyatuan Primer). Luka dibuat secara aseptik, dengan pengrusakan jaringan minimum, dan penutupan dengan baik, seperti dengan suture, sembuh dengan sedikit reaksi jaringan melalui intensi pertama. Ketika luka sembuh melalui instensi pertama, jaringan granulasi tidak tampak dan pembentukan jaringan parut minimal.

Fase-fase dalam penyembuhan Intension primer :
1.      Fase Inisial (3-5 hari)
2.      Sudut insisi merapat, migrasi sel-sel epitel, mulai pertumbuhan sel
3.      Fase granulasi (5 hari – 4 minggu)
Fibroblas bermigrasi ke dalam bagian luka dan mensekresi kolagen. Selama fase granulasi luka berwarna merah muda dan mengandung pembuluh darah. Tampak granula-granula merah. Luka berisiko dehiscence dan resisten terhadap infeksi.
Epitelium permukaan pada tepi luka mulai terlihat. Dalam beberapa hari lapisan epitelium yang tipis bermigrasi menyebrangi permukaan luka. Epitel menebal dan mulai matur dan luka merapat. Pada luka superficial, reepitelisasi terjadi selama 3 – 5 hari.
4.      Fase kontraktur scar ( 7 hari – beberapa bulan )
Serabut-serabut kolagen terbentuk dan terjadi proses remodeling. Pergerakan miofibroblast yang aktif menyebabkan kontraksi area penyembuhan, membentu menutup defek dan membawa ujung kulit tertutup bersama-sama. Skar yang matur selanjutnya terbentuk. Skar yang matur tidak mengandung pembuluh darah dan pucat dan lebih terasa nyeri daripada fase granulasi
Gambar 2.3 Jenis Penyembuhan Luka

2.3.4        Faktor-Faktor Internal yang Mempengaruhi Penyembuhan Luka
2.3.4.1  Usia
Penyembuhan luka lebih cepat terjadi pada usia muda dari pada orang tua. Orang yang sudah lanjut usianya tidak dapat mentolerir stress seperti trauma jaringan atau infeksi.
2.3.4.2  Penanganan jaringan
Penanganan yang kasar menyebabkan cedera dan memperlambat penyembuhan.

2.3.4.3  Hemoragi
Akumulasi darah menciptakan ruang rugi juga sel-sel mati yang harus disingkirkan. Area menjadi pertumbuhan untuk infeksi.
2.3.4.4  Hipovolemia
Volume darah yang tidak mencukupi mengarah pada vasokonstriksi dan penurunan oksigen dan nutrient yang tersedia utuk penyembuhan luka.
2.3.4.5  Faktor lokal edema
Penurunan suplai oksigen melalui gerakan meningkatkan tekanan interstisial pada pembuluh.
2.3.4.6  Defisit nutrisi
Sekresi insulin dapat dihambat, sehingga menyebabkan glukosa darah meningkat. Dapat terjadi penipisan protein-kalori.
2.3.4.7  Personal hygiene
Personal hygiene (kebersihan diri) dapat memperlambat penyembuhan, hal ini dapat menyebabkan adanya benda asing seperti debu dan kuman.
2.3.4.8  Defisit oksigen
1.      Insufisien oksigenasi jaringan :  Oksigen yang tidak memadai dapat diakibatkan tidak adekuatnya fungsi paru dan kardiovaskular juga vasokonstriksi setempat.
2.      Penumpukan drainase  :  Sekresi yang menumpuk menggangu proses penyembuhan.
2.3.4.9  Medikasi
1.      Steroid  :  Dapat menyamarkan adanya infeksi dengan menggangu respon inflamasi normal.
2.      Antikoagulan  :Dapat menyebabkan hemoragi.
3.      Antibiotik spektrum luas / spesifik  :  Efektif bila diberikan segera sebelum pembedahan untuk patolagi spesifik atau kontaminasi bakteri. Jika diberikan setelah luka ditutup, tidak efektif karena koagulasi intrvaskular.
2.3.4.10    Overaktivitas
Menghambat perapatan tepi luka. Mengganggu penyembuhan yang diinginkan (Smelzer, 2002).
2.3.5        Faktor-Faktor Eksternal yang Mempengaruhi Penyembuhan Luka
2.3.5.1  Lingkungan
Dukungan dari lingkungan keluarga, dimana ibu akan selalu merasa mendapatkan perlindungan dan dukungan serta nasihat – nasihat khususnya orang tua dalam merawat kebersihan pasca persalinan.
2.3.5.2  Tradisi
Di Indonesia ramuan peninggalan nenek moyang untuk perawatan pasca persalinan masih banyak digunakan, meskipun oleh kalangan masyarakat modern. Misalnya untuk perawatan kebersihan genital, masyarakat tradisional menggunakan daun sirih yang direbus dengan air kemudian dipakai untuk cebok.

2.3.5.3  Pengetahuan
Pengetahuan ibu tentang perawatan pasca persalinan sangat menentukan lama penyembuhan luka perineum. Apabila pengetahuan ibu kurang telebih masalah kebersihan maka penyembuhan lukapun akan berlangsung lama.
2.3.5.4  Sosial Ekonomi
Pengaruh dari kondisi sosial ekonomi ibu dengan lama penyebuhan perineum adalah keadaan fisik dan mental ibu dalam melakukan aktifitas sehari-hari pasca persalinan. Jika ibu memiliki tingkat sosial ekonomi yang rendah, bisa jadi penyembuhan luka perineum berlangsung lama karena timbulnya rasa malas dalam merawat diri.
2.3.5.5  Penanganan petugas
Pada saat persalinan, pembersihannya harus dilakukan dengan tepat oleh penanganan petugas kesehatan, hal ini merupakan salah satu penyebab yang dapat menentukan lama penyembuhan luka perineum.
2.3.5.6  Kondisi ibu
Kondisi kesehatan ibu baik secara fisik maupun mental, dapat menyebabkan lama penyembuhan. Jika kondisi ibu sehat, maka ibu dapat merawat diri dengan baik.
2.3.5.7  Gizi
Makanan yang bergizi dan sesuai porsi akan menyebabkan ibu dalam keadaan sehat dan segar. Dan akan mempercepat masa penyembuhan luka perineum.
(Smeltzer, 2002)
2.4      Prinsip Perawatan Luka Perineum
Lingkup perawatan perineum ditujukan untuk pencegahan infeksi organ-organ reproduksi yang disebabkan oleh masuknya mikroorganisme yang masuk melalui vulva yang terbuka atau akibat dari perkembangbiakan bakteri pada peralatan penampung lochea (pembalut) (Feerer, 2001).
Sedangkan menurut Hamilton (2002), lingkup perawatan perineum adalah
1.      Mencegah kontaminasi dari rektum
2.      Menangani dengan lembut pada jaringan yang terkena trauma
3.      Bersihkan semua keluaran yang menjadi sumber bakteri dan bau.
2.4.1        Waktu Perawatan
Menurut Feerer (2001), waktu perawatan perineum adalah
1.      Saat mandi
Pada saat mandi, ibu post partum pasti melepas pembalut, setelah terbuka maka ada kemungkinan terjadi kontaminasi bakteri pada cairan yang tertampung pada pembalut, untuk itu maka perlu dilakukan penggantian pembalut, demikian pula pada perineum ibu, untuk itu diperlukan pembersihan perineum.
2.      Setelah buang air kecil
Pada saat buang air kecil, pada saat buang air kecil kemungkinan besar terjadi kontaminasi air seni padarektum akibatnya dapat memicu pertumbuhan bakteri pada perineum untuk itu diperlukan pembersihan perineum.
3.      Setelah buang air besar.
Pada saat buang air besar, diperlukan pembersihan sisa-sisa kotoran disekitar anus, untuk mencegah terjadinya kontaminasi bakteri dari anus ke perineum yang letaknya bersebelahan maka diperlukan proses pembersihan anus dan perineum secara keseluruhan.
2.4.2        Penatalaksanaan
2.4.2.1  Persiapan
Ibu Pos Partum
Perawatan perineum sebaiknya dilakukan di kamar mandi dengan posisi ibu jongkok jika ibu telah mampu atau berdiri dengan posisi kaki terbuka.
Alat dan bahan
Alat yang digunakan adalah botol, baskom dan gayung atau shower air hangat dan handuk bersih. Sedangkan bahan yang digunakan adalah air hangat, pembalut nifas baru dan antiseptik (Fereer, 2001).
2.4.2.2  Penatalaksanaan
Perawatan khusus perineal bagi wanita setelah melahirkan anak mengurangi rasa ketidaknyamanan, kebersihan, mencegah infeksi, dan meningkatkan penyembuhan dengan prosedur pelaksanaan menurut Hamilton (2002) adalah sebagai berikut:
1.      Mencuci tangannya
2.      Mengisi botol plastik yang dimiliki dengan air hangat
3.      Buang pembalut yang telah penuh dengan gerakan ke bawah mengarah ke rectum dan letakkan pembalut tersebut ke dalam kantung plastik.
4.      Berkemih dan BAB ke toilet
5.      Semprotkan ke seluruh perineum dengan air
6.      Keringkan perineum dengan menggunakan tissue dari depan ke belakang.
7.      Pasang pembalut dari depan ke belakang.
8.      Cuci kembali tangan
2.4.2.3  Evaluasi
Parameter yang digunakan dalam evaluasi hasil perawatan adalah:
1.      Perineum tidak lembab
2.      Posisi pembalut tepat
3.      Ibu merasa nyaman

2.5      Manfaat Daun Sirih Terhadap Penyembuhan Luka Perineum
Kandungan kimia dan sifat-sifat kimia daun sirih mengandung minyak atsiri yang terdiri dari hidroksi kavikol, kavibetol, estragol, eugenol, metileugenol, karvakrol,. Sepertiga dari minyak atsiri terdiri dari fenol dan sebagian besar adalah kavikol yang memberikan bau khas daun sirih dan memiliki daya pembunuh bakteri lima kali lipat dari fenol biasa (Moeljanto, 2003). Daun sirih mengandung saponin (Widayat dkk, 2008) yang memacu pembentukan kolagen, yaitu protein struktur yang berperan dalam proses penyembuhan luka (Chandel and Rastogi, 1979 cit Suratman et al., 1996).
Berdasarkan penjelasan di atas, chavicol adalah salah satu komponen yang terkandung dalam daun sirih yang dapat berfungsi sebagai antiseptik. Menurut jurnal kesehatan dengan judul ”The Use of Chavicol as Antiseptic” (2007), kegunaan Chavicol adalah sebagai berikut :
The invention relates to the use of chavicol (p-allylpenol) as an antiseptic and, in particular, for the manufacture of a composition indicated for the treatment of infected skin and scalp. The invention also relates to a regimen or a method for the treatment of infected skin and scalp which comprises topically applying a composition comprising chavicol.
Kandungan daun sirih hijau adalah minyak atsiri yang mengandung antara lain chavicol dan chavibetol, yaitu senyawa yang mempunyai khasiat antiseptik. Khasiat antiseptik itu diduga erat berkaitan dengan pemakaiannya sebagai penghambat pertumbuhan bakteri pada luka (Arifin, 2008).










2.6 Kerangka Konsep
















Keterangan          :
Diteliti
Tidak diteliti
Diteliti
 

Tidak diteliti
Bagan 2.1   Kerangka Konsep ”Pengaruh  Penggunaan Daun Sirih Terhadap  Penyembuhan Luka Perineum”


2.7  Hipotesis
H1  :  Ada pengaruh penggunaan daun sirih terhadap penyembuhan luka perineum pada ibu nifas di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto, Jombang, 2010.


BAB III
METODE PENELITIAN

3.1    Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Metode eksperimen merupakan metode penelitian yang menguji hipotesis berbentuk hubungan sebab akibat melalui pemanipulasian variabel independen dan menguji perubahan yang diakibatkan oleh pemanipulasian tadi. Metode eksperimen yang digunakan adalah Quasy Eksperimental Design (rancangan eksperimental semu) dengan Post Test Only Control Group (Sudrajat, 2005).
Dalam penelitian ini peneliti ingin mempelajari tentang pengaruh penggunaan daun sirih terhadap penyembuhan luka perineum dengan menganalisis perbedaan lama penyembuhan luka perineum antara kelompok yang menggunakan daun sirih, dan kelompok yang tidak menggunakan daun sirih.
Tabel 3.1 Rancangan Post Test Only Control Group

Subjek
Pra
Perlakuan
Pasca-Tes
R
-
I
O
R
-
-
O

Keterangan            :
R   : Responden
I     : Dilakukan Perlakuan
O   : Dilakukan Pengukuran
        (Nursalam, 2003)
3.2    Lokasi dan Waktu Penelitian
3.2.1        Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian adalah di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang
3.2.2        Waktu Penelitian
      Penelitian ini dilaksanakan mulai Bulan Februari-Mei 2010. Sedangkan pengumpulan data dilaksanakan pada bulan April-Mei 2010.

3.3  Populasi, Sample, Sampling
3.3.1        Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang akan diteliti (Notoatmodjo, 2005).
 Pada penelitian ini populasinya adalah seluruh ibu nifas hari ke-1 sampai hari ke-10 pada Bulan April-Mei yang ada di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang sebanyak 25 orang.
3.3.2        Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Notoatmodjo, 2005). Sampel pada penelitian ini adalah seluruh ibu nifas yang memenuhi kriteria penelitian yang telah ditetapkan, dan dalam jangka  waktu April-Mei 2010 di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang, sebanyak 20 orang, dimana 10 orang dilakukan perawatan perineum dengan menggunakan air rebusan daun sirih, dan 10 orang tidak dilakukan perawatan perineum dengan menggunakan air rebusan daun sirih.
3.3.3        Sampling
Sampling yang digunakan pada penelitian ini adalah non probability sampling dengan jenis consecutive sampling, yaitu pemilihan sample dengan menetapkan subyek yang memenuhi kriteria penelitian dimasukkan dalam penelitian sampai kurun waktu tertentu, sehingga jumlah pasien yang diperlukan terpenuhi (Nursalam, 2003).

3.4    Kriteria Penelitian
Kriteria penelitian adalah karakteristik umum subyek penelitian dari suatu populasi target yang terjangkau yang akan diteliti (nursalam, 2003).
Pada penelitian ini, kriteria penelitiannya adalah :
  1. Ibu  nifas hari ke-1 yang berada di Desa Sumbermulyo, Jogoroto, Jombang.
  2. Paritas < 4.
  3. Laserasi perineum derajat 2.
  4. Jenis persalinan : normal.
  5. Ibu nifas yang tidak menderita penyakit Diabetes atau penyakit lain yang dapt mempengaruhi penyembuhan luka.
  6. Ibu nifas yang tidak pantang makanan.
  7. Ibu nifas dengan luka perineum yang bersedia menjadi responden.

3.5    Identifikasi Variabel
Identifikasi variabel pada penelitian tentang pengaruh penggunaan daun sirih terhadap penyembuhan luka perineum ibu nifas adalah:
3.5.1        Variabel Manipulasi
Variabel manipulasi adalah variabel yang sengaja dapat diubah dan di manipulasi oleh peneliti. Variabel manipulasi sengaja dibuat bervariasi oleh peneliti (Sugiyono, 2005).
Variabel manipulasi dalam penelitian ini adalah penggunaan daun sirih. Terdapat 2 kelompok, yaitu kelompok yang diberi perlakuan dengan menggunakan daun sirih, dan kelompok yang lain dengan tidak menggunakan daun sirih.
3.5.2        Variabel Respon
Variabel respon adalah yaitu variabel yang dipengaruhi oleh variabel manipulasi. ketika varianel manipulasi berubah, variabel respon ikut berubah (Sugiyono, 2005).
Variabel respon penelitian ini adalah penyebuhan luka perineum.   
3.5.3        Variabel Kontrol
Variabel kontrol adalah merupakan variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan sehingga pengaruh variabel manipulasi terhadap respon tidak dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak diteliti (Sugiyono, 2005).

Variabel-variabel kontrol dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Derajat luka perineum : derajat 2
2.      Jumlah daun sirih yang digunakan
3.      Nutrisi ibu nifas
4.      Tidak ada kelainan penyembuhan luka, misalnya: keloid, atau diabetes.
5.      Jenis antibiotik yang digunakan
6.      Tanpa menggunakan obat anti inflamasi
7.      Jenis analgesik yang digunakan
8.      Personal Hygiene ibu nifas
9.      Cara pembuatan dan penggunaan rebusan daun sirih

3.6    Definisi Operasional Variabel
Definisi operasional adalah suatu penentuan mengenai wujud variabel yang akan dikaji dalam suatu penelitian. Untuk mengkaji hipotesis, peneliti perlu menentukan atau memastikan variabel apa saja yang akan dilibatkan dalam penelitian ini. Definisi operasional bermanfaat untuk mengarahkan kepada pengukuran atau pengamatan terhadap variabel-variabel yang bersangkutan serta mengembangkan instrumen alat ukur (Notoatmodjo, 2005).
Berdasarkan uraian di atas, maka definisi operasional dalam penelitian ini adalah:

Tabel 3.2 Definisi Operasional

Variabel
Definisi Operasional
Parameter
Alat Ukur
Skor
Skala

Penggunaan daun sirih

Melakukan perawatan luka perineum dengan rebusan air daun sirih.
Perawatan luka perineum dilakukan dengan cebok air daun sirih 2x/hari.
Observasi
1 = jika menggunakan daun sirih

0 = jika tidak menggunakan daun sirih
Nominal

Penyembuhan luka perineum

Lama kembalinya jaringan perineum yang rusak seperti keadaan semula.

Cara melakukan observasi dengan menganalisa penyembuhan luka melalui lembar observasi.
Observasi
Cepat bila luka sudah mengering, tidak timbul nanah dan tanda-tanda infeksi, serta jahitan menutup dengan baik 1-3 hari. Skor = 3

Sedang bila luka sudah mengering, tidak timbul nanah dan tanda-tanda infeksi, serta jahitan menutup dengan baik 1-3 hari.Skor = 2

Lambat bila luka sudah mengering, tidak timbul nanah dan tanda-tanda infeksi, serta jahitan menutup dengan baik lebih dari 7 hari. Skor = 1
Ordinal

3.7  Instrumen, Alat dan Bahan Penelitian
3.7.1        Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah instrumen penelitian adalah alat-alat yang akan digunakan dalam pengumpulan data (Notoatmodjo 2002).
Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis instrumen observasi terstruktur. Observasi terstruktur adalah observasi fakta-fakta yang ada pada subyek, tetapi lebih didasarkan pada perencanaan penelitian yang sudah disusun sesuai pengelompokannya, pencatatan dan pemberian kode terhadap hal-hal yang sudah ditetapkan (Nursalam, 2003).
3.7.2        Alat dan Bahan Penelitian
Alat dan bahan untuk melakukan penelitian ini antara lain :
1.      5 lembar daun sirih
2.      Air matang (mendidih) 1 L
3.      Gelas ukur 1 buah
4.      Baskom 1 buah
5.      Kertas, pensil, dan penghapus

3.8    Prosedur Pelaksanaan Penelitian
Prosedur penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Siapkan alat dan bahan
2.      Rebus 5 lembar daun sirih dalam 1 L air.
3.      Tunggu sampai air rebusan menjadi hangat-hangat kuku.
4.      Bersihkan vulva dan perineum dengan menggunakan air bersih (apabila ada kotoran)
5.      Basuhkan air seduhan daun sirih yang telah hangat-hangat kuku.
6.      Jangan dibasuh air lagi dan keringkan.
7.      Berikan K.I.E tentang nutrisi, mobilisasi, dan personal hygiene.
8.      Ulangi perawatan luka perineum ibu nifas setiap pagi dan sore sampai luka perineum sembuh.
9.      Catat perkembangan penyembuhan luka perineum pada lembar observasi.

3.9    Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan menggunakan data primer dan data sekunder.
3.9.1        Data Primer
Data primer pada penelitian ini didapatkan dengan cara menentukan responden masuk ke dalam kelompok yang diberi perlakuan atau kelompok yang tidak diberi perlakuan. Pada kelompok yang diberi perlakuan, diberikan konseling tentang cara perawatan luka perineum dengan merebus daun sirih sampai air berwarna kekuningan kemudian airnya digunakan cebok 2x/hari. Sedangkan untuk kelompok yang tidak diberi perlakuan, tidak mendapatkan perawatan luka perineum dengan air rebusan daun sirih.
Selama pasien melakukan perawatan luka perineum, yang harus diperhatikan dan perlu diobservasi oleh peneliti setiap harinya adalah warna luka, kapan luka mulai mengering dan menutup, apakah terdapat jaringan parut, apakah timbul nanah serta hari keberapa luka menutup dengan baik dan rasa nyeri hilang. Observasi dilakukan sampai dengan fase ke-2 dengan menggunakan lembar observasi untuk kesembuhan.

3.9.2        Data Sekunder
Data sekunder penelitian ini adalah data seluruh ibu nifas yang diperoleh dari register persalinan pada bulan April-Mei 2010 di Desa Sumbermulyo, Jogoroto, Jombang, tentang jumlah ibu nifas.

3.10          Teknik Pengolahan Data
Setelah data dikumpulkan, data kemudian diolah dengan tahap-tahap sebagai berikut:
3.10.1    Editing
Pada penelitian ini, penulis menggunakan lembar observasi yang telah dipersiapkan sebelumnya. Terdapat 2 lembar observasi (lampiran), dimana lembar observasi pertama merupakan sebuah tabel yang diperuntukkan hasil pengamatan keadaan luka setiap harinya. Sedangkan tabel kedua untuk mnuliskan hari dimana luka perineum sembuh pada tiap-tiap responden.
3.10.2    Coding
Setelah data diedit langkah berikutnya adalah mengkoding data, yaitu memberi kode terhadap setiap jawaban yang diberikan. Tujuannya untuk memudahkan klasifikasi data, menghindari terjadinya pencampuran data yang bukan jenis dan kategorinya. Juga untuk memudahkan pada saat analisis data dan dan proses entry dengan bantuan perangkat lunak komputer. Skor yang diberikan adalah sesuai dengan teori penyembuhan luka, yaitu: 3 untuk luka yang cepat sembuh, 2 untuk yang sedang, dan 1 untuk luka yang lama sembuh. Penulis juga memberikan kode pada setiap responden, yaitu :  R1 untuk responden 1, dan seterusnya.
3.10.3    Tabulating
Data yang telah diperoleh kemudian diolah dan dianalisa secara deskriptif dan analitik untuk mempelajari tentang pengaruh penggunaan daun sirih terhadap penyembuhan luka perineum. Data diolah secara deskriptif yaitutentang karakteristik yang menggunakan tabel istribusi responden dan disajikan dalam benuk tabel dan grafik.
3.10.4    Cleaning
Dilakukan dengan cara memasukan data yang telah dicoding ke dalam komputer. Program yang digunakan adalah program khusus Uji Mann-Whitney U-Test.

3.11          Analisis Data
Penelitian ini menggunakan uji statistik mutivariat dengan dua variabel. Skala penelitian ini adalah ordinal nominal, sehingga peneliti memilih uji Mann-Whitney U-Test sebagai penguji hipotesis.
Metode statistik nonparametrik Mann-Whitney dipakai apabila karakteristik kelompok item yang menjadi sumber sampelnya tidak diketahui. Metode ini diterapkan terhadap data yang diukur dengan skala ordinal dan dalam kasus tertentu, dengan skala nominal. Pengujian nonparametrik bermanfaat untuk digunakan apabila sampelnya kecil dan lebih mudah dihitung daripada metode parametrik.
Menurut Sugiyono (2005), untuk menghitung nilai statistik uji Mann-Whitney U, rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:
dimana:
U = Nilai uji Mann-Whitney
N1= sampel 1
N2= sampel 2
Ri = Ranking ukuran sampel
Prosedur pengujian yang akan dilakukan adalah:
1.      Menyatakan Hipotesis dan α
H1     =   Ada pengaruh penggunaan daun sirih terhadap penyembuhan luka perineum pada ibu nifas desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto, Jombang 2010.
a = 0,05
2.      Menyusun peringkat data tanpa memperhatikan kategori sample
Setelah menyusun data, langkah berikutnya adalah menetapkan peringkat seluruh data tanpa memperhatikan kategori sampelnya.
3.      Menjumlahkan peringkat menurut tiap kategori sampel dan menghitung nilai statistik U.
Setelah peringkat semua data ditetapkan, peringkat tiap kategori dijumlahkan.
Rumus yang dapat digunakan untuk menghitung nilai statistik U:
U = n1n2 + (n1 (n1 + 1))/2 – R1 U = n1n2 + (n2 (n2 + 1))/2 – R2
di mana R1 = jumlah peringkat yang diberikan pada sampel dengan jumlah n1 R2 = jumlah peringkat yang diberikan pada sampel dengan jumlah n2
Kedua rumus ini kemungkinan besar akan menghasilkan dua nilai yang berbeda bagi U.
Nilai yang dipilih untuk U dalam pengujian hipotesis adalah nilai yang paling kecil dari kedua nilai tersebut.
Untuk memeriksa apakah perhitungan kita atas nilai U benar, rumus berikut dapat digunakan: Nilai U terkecil = n1n2 – nilai U terbesar
4.      Penarikan kesimpulan statistik mengenai hipotesis nol
Setelah menghitung statistik U, kita menguji hipotesis nol secara resmi. Pengujian ini melibatkan pembanding nilai hitung U dengan nilai U pada tabel yang cocok seandainya hipotesis nol benar. Tabel nilai U memberikan nilai U untuk n1, n2, dan α yang cocok dengan asumsi bahwa hipotesis nol adalah benar.
Aturan pengambilan keputusannya ialah:
Tolak hipotesis nol jika nilai hitung U sama atau lebih kecil dari nilai dalam tabel U, dan Terima hipotesis nol jika nilai hitung U lebih besar dari nilai dalam tabel U.
5.      Pendekatan Normal untuk sampel yang lebih besar:
Ketika jumlah masing-masing sampel lebih dari 10 maka kita dapat menentukan distribusi dari R1 yaitu normal (µ1, σ1).

3.12          Etika Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan mendapat persetujuan dari direktur institusi serta kepala desa dan bidan desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto, Jombang. Setelah mendapatkan persetujuan, kemudian akan dilakukan observasi dengan menekankan pada masalah etika sebagai berikut :
3.12.1    Inform Consent
Peneliti akan memberikan informasi yang terperinci tentang penelitian yang akan dilakukan, bahwa tidak akan merugikan responden. Setiap responden juga mempunyai hak untuk bebas berpartisipasi atau menolakmenjadi responden. Pada inform consent juga dicantumkan bahwa data yang diperoleh hanya akan dipergunakan untuk pengembangan ilmu.
3.12.2    Tanpa nama (Anonimity)
Pada penelitian ini, peneliti akan merahasiakan nama respnden, dengan hanya memberikan kode-kode pada tiap-tiap responden. Hal ini penting untuk menjaga kerahasiaan apabila terdapat sesuatu atau kelainan yang tidak ingi dipublikasikan.
3.12.3    Kerahasiaan (Confidentiality)
Kerahasiaan informasi yang diberikan oleh subyek dijamin oleh peneliti.


3.13          Keterbatasan
3.13.1    Literatur
Literatur yang digunakan peneliti salah satunya menggunakan bahasa inggris. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan literatur dalam bahasa indonesia. Untuk mengatasi masalah tersebut, penulis mengambil point-point yang penting saja untuk dimasukkan dalam tinjauan pustaka, selain itu merumuskan pembahasan di Bab IV dengan teks bahasa indonesia, sehingga mudah dipahami.
3.13.2    Waktu
Waktu yang dimiliki penulis untuk meneliti sangat terbatas. Hal ini membatasi pengambilan sample, sehingga validitas data tidak bisa benar-benar diterapkan. Selain itu angka kesalahan juga dapat bertambah karena tergesa-gesanya peneliti. Maka dari itu solusi untuk meminimalkan keterbatasan tersebut adalah dengan cara menggunakan metode sampling yang tepat, menggunakan uji statistik yang tepat, serta pengawasan intensif terhadap variabel kontrol, sehingga tidak mengganggu variabel yang lain.
3.13.3    Peneliti
Karena penelitian ini adalah yang pertama kali dilakukan dan peneliti belum memiliki pengalaman sehingga banyak sumber-sumber yang belum dimunculkan secara maksimal. Pengalaman yang kurang maksimal, dan faktor kejenuhan serta kelelahan menjadi dasar kesalahan pada data.


BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1    Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini meliputi data umum dan data khusus. Adapun data hasil penelitian terdiri dari data umum responden yang meliputi usia pendidikan, serta paritas, dan data khusus yang meliputi lama penyembuhan luka perineum ibu nifas yang menggunakan daun sirih daun sirih dan ibu nifas yang tidak menggunakan daun sirih.
4.1.1        Data Umum
Data yang disajikan berupa karakter responden berdasarkan usia, pendidikan, dan paritas yang didapat dari data ibu nifas di Desa Sumber Mulyo Kecamatan Jogoroto yang memenuhi kriteria penelitian.
4.1.1.1  Distribusi Frekuensi Karakteristik Ibu Nifas Berdasarkan Usia
Tabel 4.1   Distribusi Frekuensi Karakteristik Ibu Nifas Berdasarkan Usia di Desa Sumber Mulyo Kecamatan Jogoroto

Umur (tahun)
Kelompok Eksperimen
Kelompok Kontrol
Frekuensi
n
%
n
%
< 20
1
10
-
0
1
20-30
5
50
8
80
13
31-35
3
30
2
20
5
>35
1
10
-
0
1
Jumlah
10
100
10
100
20
Sumber : Data Primer yang diolah

Berdasarkan tabel 4.1 diperoleh data pada kelompok eksperimen (yang menggunakan daun sirih) sebagian besar dari responden yang berusia 20-30 tahun sebanyak 50% dan sebagian kecil berusia >35 tahun sebanyak 10%, sedangkan pada kelompok kontrol (tanpa menggunakan daun sirih) sebagian besar berusia 20-30 tahun sebanyak 80% dan sebagian kecil berusia 31-35 tahun sebanyak 20%.
4.1.1.2  Distribusi Frekuensi Karakteristik Ibu Nifas Berdasarkan Pendidikan
Tabel 4.2   Distribusi Frekuensi Karakteristik Ibu Nifas Berdasarkan Pendidikan di Desa Sumber Mulyo Kecamatan Jogoroto

Pendidikan Terakhir
Kelompok Eksperimen
Kelompok Kontrol
Frekuensi

n
%
n
%
SMA
3
30
4
40
7
SMP
5
50
3
30
8
SD
2
20
3
30
5
Jumlah
10
100
10
100
20
Sumber Sumber: Data Primer yang diolah

Berdasarkan tabel 4.2 diperoleh data pada kelompok eksperimen  sebagian besar dari responden berpendidikan SMP sebanyak 50% dan sebagian kecil berpendidikan SD sebanyak 20%, sedangkan pada kelompok kontrol sebagian besar berpendidikan SMA sebanyak 40% dan sebagian kecil berpendidikan SD sebanyak 30%.
4.1.1.3  Distribusi Frekuensi Karakteristik Ibu Nifas Berdasarkan Jumlah Anak
Tabel 4.3   Distribusi Frekuensi Karakteristik Ibu Nifas Berdasarkan Jumlah Anak di Desa Sumber Mulyo Kecamatan Jogoroto

Paritas
Kelompok Eksperimen
Kelompok Kontrol
Frekuensi
n
%
n
%
1
3
30
3
30
6
2
5
50
6
60
11
3
2
20
1
10
3
Jumlah
10
100
10
100
20
Sumber : Data Primer yang diolah

Berdasarkan tabel 4.3 diperoleh data pada kelompok eksperimen  sebagian besar dari responden yang mempunyai anak 2 sebanyak 50% dan sebagian kecil mempunyai anak 3 sebanyak 20%, sedangkan pada kelompok kontrol  sebagian besar mempunyai anak 2 sebanyak 60% dan sebagian kecil mempunyai anak 3 sebanyak 10%.
4.1.2        Data Khusus
4.1.2.1  Distribusi Frekuensi Ibu Nifas Berdasarkan Lama Penyembuhan Luka Perineum Setelah Menggunakan Daun Sirih
Tabel 4.4   Distribusi Frekuensi Karakteristik Ibu Nifas Berdasarkan Lama Penyembuhan Luka Perineum Setelah Menggunakan Daun Sirih di Desa Sumber Mulyo Kecamatan Jogoroto

No.
Sembuh Hari ke-
Frekuensi
n
%
1.
3
6
60
2.
4
3
30
3.
5
1
10

Jumlah
10
100
Sumber : Data Primer yang diolah

Berdasarkan tabel 4.4 diperoleh data pada kelompok eksperimen  sebagian besar dari responden yang sembuh pada hari ke-3 sebanyak 60%, sedangkan sebagian kecil sembuh pada hari ke-5 sebanyak 10%.

4.1.2.2  Distribusi Frekuensi Ibu Nifas Berdasarkan Lama Penyembuhan Luka Perineum Tanpa Menggunakan Daun Sirih
Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Karakteristik Ibu Nifas Berdasarkan Lama Penyembuhan Luka Perineum Tanpa Menggunakan Daun Sirih di Desa Sumber Mulyo Kecamatan Jogoroto

No.
Sembuh Hari ke-
Frekuensi
n
%
1.
7
1
10
2.
8
4
40
3.
9
3
30
4.
10
2
20

Jumlah
10
100
Sumber : Data Primer yang diolah

Berdasarkan tabel 4.5 diperoleh data pada kelompok eksperimen  sebagian besar dari responden yang sembuh pada hari ke-8 sebanyak 40%, sedangkan sebagian kecil sembuh pada hari ke-7 sebanyak 10%
4.1.2.3  Perbedaan Lama Penyembuhan Luka Perineum Antara Perawatan Dengan Menggunakan Daun Sirih Dan Tanpa Menggunakan Daun Sirih Pada Ibu Nifas
Tabel 4.6 Perbedaan Lama Penyembuhan Luka Perineum Pada Ibu Nifas di Desa Sumber Mulyo Kecamatan Jogoroto

Sembuh Hari ke-
Perawatan dengan daun sirih
Perawatan tanpa daun sirih
Total
n
%
n
%
n
%
3
6
60
-
-
6
30
4
3
30
-
-
3
15
5
1
10
-
-
1
5
6
-
-
-
-
-
0
7
-
-
1
10
1
5
>7
-
-
9
90
9
45
Total
10
100
10
100
20
100
Sumber : Data Primer yang diolah

Berdasarkan tabel 4.6 diperoleh data perbedaan lama penyembuhan luka perineum antara yang melakukan perawatan menggunakan daun sirih sebagian besar mengalami penyembuhan luka perineum pada hari ke-6 sebanyak 60%, sedangkan yang tidak melakukan perawatan daun sirih sebagian besar mengalami penyembuhan luka perineum lebih dari 7 hari sebanyak 90%.
Grafik 4.1 Perbedaan Penyembuhan Luka Perineum antara Kelompok Yang Menggunakan Daun Sirih Dan Yang Tidak Menggunakan Daun Sirih
4.1.2.4  Pengolahan Daun Sirih
Hasil pengolahan daun sirih :
1.      Lembar daun sirih yang direbus dengan 1000ml air sehingga mendapatkan air rebusan sebanyak + 400-500 ml berwarna kuning kehijauan.
2.      pH air rebusan daun sirih = + 4 (asam) (diukur dengan mencelupkan indicator asam basa pada air rebusan daun sirih yang dibuat oleh peneliti dengan konsentrasi 20%)
3.      Setelah diendapkan semalam, terjadi proses oksidasi sehingga warna air rebusan berubah menjadi cokelat.
4.1.3        Analsis Data dengan Mann Whitney U-Test
Tabel 4.6 merupakan hasil penelitian secara manual tentang perbedaan lama penyembuhan antara responden yang menggunakan daun sirih dan yang tidak menggunakan daun sirih. Dalam sub bab ini akan dilakukan analisis secara mendalam mengenai pengaruh penggunaan daun sirih terhadap penyembuhan luka perineum ibu nifas dengan menggunakan metode Mann Whitney U-test secara manual dan SPSS.
1.      Mann Whitney U-Test secara manual
Tabel 4.7  Perolehan Data
Responden
Kelompok Eksperimen
Kelompok Kontrol
Sembuh hari ke-
skor
Sembuh hari ke-
skor
R-1
6
3
8
1
R-2
4
5
9
1
R-3
5
4
7
2
R-4
6
3
8
1
R-5
5
4
10
1
R-6
5
4
10
1
R-7
6
3
9
1
R-8
6
3
8
1
R-9
6
3
9
1
R-10
6
3
8
1













Prosedur pengujian :
    1. Menyatakan hipotesis dan a
H0   : Tidak ada pengaruh penggunaan daun sirih terhadap penyembuhan luka perineum Desa Sumber Mulyo, Kecamatan Jogoroto, Jombang
H1   :  Ada pengaruh pengguanaan daun sirih terhadap penyembuhan luka perineum pada ibu nifas Desa Sumber Mulyo, Kecamatan Jogoroto, Jombang.
a = 0,005
    1. Perhitungan Mann Whitney U-Test dan penarikan kesimpulan.
            Ueksperimen          = (10 x 10) + {10 (10+1)/2} – 150,50 = 4,50
Ukontrol              = (10 x 10) + {10 (10+1)/2} – 59,50 = 95,5
Jadi, Ueksperimen < Ukontrol  dan yang dipakai untuk perbandingandengan Utabel adalah Ueksperimen  = 4,50
Berdasarkan tabel harga kritis Mann Whitney U-Test untuk n1=10, n2=10 adalah 22, jadi Utabel = 22
Ueksperimen < Utabel  , maka H0 ditolak, dengan arti lain ada pengaruh penggunaan daun sirih terhadap penyembuhan luka perineum ibu nifas Desa Sumber Mulyo, Kecamatan Jogoroto, Jombang.
  1. Mann Whitney U-Test dengan metode SPSS
Hasil U-Test (Mann Whitney U-Test), selengkapnya penulis sajikan pada tabel berikut:

Tabel 4.8 Uji Mann Whitney U-Test (SPSS)

Penyembuhan Luka Perineum
Mann Whitney U-Test
Wilcoxon W
Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
Exact Sig. [2*(1-tailed sig.)]
.000
55.000
-4.028
.000
.000a

a.       Not corrected for ties
b.      Grouping variable: Penggunaan Daun Sirih
Sumber: Output SPSS
1.      Hipotesis :
H0    : Tidak ada pengaruh penggunaan daun sirih terhadap penyembuhan luka perineum Desa Sumber Mulyo, Kecamatan Jogoroto, Jombang.
H1     :  Ada pengaruh pengguanaan daun sirih terhadap penyembuhan luka perineum pada ibu nifas Desa Sumber Mulyo, Kecamatan Jogoroto, Jombang.
2.      Ketentuan :
    1. Dengan a 0,05 (pengujian dua sisi) maka :
    2. H0 diterima jika : - 1,96 £Zh£1,96
    3. H1 diterima jika : + Zh> +1,96  atau -Zh<- 1="" o:p="">
3.      Kesimpulan :
    1. Dari hasil uji U-Test di atas, didapat harga Zh = -4.028 < -1,96 dengan Asymp.sig = 0.000 < 0,05. Dengan demikian H0 ditolak. Kesimpulannya, terdapat perbedaan lama penyembuhan luka perineum antara kelompok yang menggunakan daun sirih dan kelompok yang tidak menggunakan daun sirih. Dengan kata lain, terdapat pengaruh penggunaan daun sirih terdapat penyembuhan luka perineum  ibu nifas.
    2. Estimasi % signifikansi pengaruh daun sirih terhadap penyembuhan luka perineum dapat dihitung dengan menggunakan kuadrat hasil Pearson’s R atau Spearman Correlation, yaitu:
Value of Spearman Correlation = 0, 924
Kuadrat Spearman Correlation  = 0,853776
% Signifikan Data = 0,853776 X 100 % = 85, 3776 %
Kesimpulannya, pengaruh daun sirih terhadap penyembuhan luka perineum adalah sebesar 85, 3776 %

4.2    Pembahasan
4.2.1        Analisis Penggunaan Daun Sirih
Daun sirih yang digunakan dalam penelitian ini sengaja melalui perhitungan yang telah diatur sebelumnya agar dapat mengetahui konsentrasi chavicol yang terdapat di dalam daun sirih. Penggunaan daun sirih sebanyak 2x sehari juga dimaksudkan agar kontak air rebusan daun sirih lebih sering kontak dengan luka perineum.
Pada proposal sebelum melakukan penelitian ini, disebutkan bahwa pembuatan air rebusan daun sirih adalah dengan merebus 1000 ml air dengan 5 lembar daun sirih, padahal pada kenyataanya responden enggan menimbang dan mengukur alat dan bahan, sehingga diperoleh konsentrasi yang berbeda-beda pada setiap penggunaan. Hal ini tentunya tidak dapat memastikan berapa konsentrasi daun sirih yang dapat bersifat medikatif atau antiseptis sehingga dapat mempengaruhi penyembuhan luka perineum.
Berdasarkan hasil penelitian, pH air rebusan daun sirih adalah + 4 sehingga cocok denga lingkungan fisiologis vagina. Namun pH yang peneliti ukur secara insidental belum dapat menjadi ukuran paten sehingga harus dilakukan uji laboratorium secara insentif. meneliti
Zat yang dapat menghambat pertumbuhan kuman yang terkandung pada Sirih antara lain adalah zat phenol betle (cavicol, cavibetol, carvacrol, eugenol dan alliphyrocatechol). Menurut penelitian dari Sjoekoer dkk (Peneliti mikrobiologi dari FK Unibraw) bahwa infusum sirih dapat menghambat pertumbuhan E.coli, Staphylococcus koagulase positif, Salmonella typhosa, bahkan Pseudomonas aeruginosa yang kerap kali resisten terhadap antibiotik. Menurut penelitian penulis, sebenarnya pada konsentrasi 3,25% sudah terjadi penghambatan pertumbuhan Candida albicans, tetapi hambatan total (tidak didapatkan koloni kuman)baru terjadi pada konsentrasi 7,5%. Kematian kuman ini diduga disebabkan karena adanya perusakan membran plasma, inaktivasi enzim, dan denaturasi protein.

Menurut Morison (2004), karakteristik antiseptic ideal adalah sebagai berikut :
1.      Membunuh mikro-organisme dalam rentang luas
2.      Tetap efektif terhadap berbagai macam pengenceran
3.      Non Toksik terhadap tubuh manusia
4.      Tidak mudah menimbulkan reaksi sensitivitas, baik lokal maupun sistemik.
5.      Bereaksi secara cepat
6.      Bekerja secara efisien, meski terdapat bahan-bahan organik (misalnya: pus, darah atau sabun).
7.      Tidak mahal
8.      Awet
Berdasarkan karakteristik tersebut, daun sirih dapat masuk sebagai golongan antiseptik ideal, namun harus dilakukan percobaan laboratorium dan penelitian yang lebih lanjut dan mendalam.
4.2.2        Analisis Penyembuhan Luka Perineum pada Kelompok yang Tidak Memakai daun Sirih
Berdasarkan hasil penelitian pada kelompok kontrol,  90% responden mengalami penyembuhan luka lebih dari 7 hari, dengan 40% dari responden sembuh pada hari ke-8, 30% dari responden sembuh pada hari ke-9, sisanya sembuh pada hari ke-7 dan 10.
Hal ini sedikit berbeda dengan pendapat Prawirohardjo (2006) bahwa perlukaan jalan lahir rata-rata akan sembuh dalam 6 sampai 7 hari apabila tidak terjadi infeksi, atau dalam kata lain lebih lambat dari rata-rata sembuh yang ditetapkan Prawirohardjo. Pada saat penelitian, semua responden tidak mengalami tanda-tanda infeksi, atau alergi, sehingga membuat peneliti mencari faktor lain yang menjadi penyebab lambatnya luka perineum untuk sembuh. Faktor-faktor yang memungkinkan menjadi penyebab adalah sebagai berikut:
1.      Usia sebagian besar responden adalah > 25 tahun (80%)
Dengan penuaan, baik kulit dan jaringan otot kehilangan nada dan
elasticity. elastisitas. Metabolisme juga melambat, dan mungkin sirkulasi terganggu. Semua faktor ini dapat memperpanjang waktu penyembuhan.
2.      Berat badan responden (ukuran ketersediaan lemak tubuh)
Pada pasien obesitas usia apapun, kelebihan lemak pada lokasi luka dapat mencegah mengamankan penutupan yang baik. Selain itu, lemak tidak memiliki pasokan darah yang kaya, sehingga yang paling rentan dari semua jaringan terhadap trauma dan infeksi.
3.      Nutrisi yang tidak adekuat (tidak sesuai dengan gizi seimbang)
Peneliti sudah berusaha untuk mengontrol asupan nutrisi dengan cara penyuluhan dan konseling intensif. Namun peneliti tidak menjamin apakah responden menerapkannya dengan sungguh-sungguh.
4.      Tidak digunakannya Asam Mefenamat sebagai anti inflamasi
Pada penelitian ini, Asam Mefenamat tidak digunakan dengan harapan proses inflamasi dapat berlangsung normal tanpa bantuan medikasi. Sedangkan pada kelompok kontrol, 60% responden merupakan ibu paritas 2, yang pernah mengkonsumsi Asam Mefenamat pada masa awal nifasnya, sehingga tubuh responden terbiasa untuk menerima obat anti inflamasi untuk membantu penyembuhan lukanya.
5.      Kekebalan tubuh responden
Karena respon imun melindungi dari infeksi, immunodeficiencies serius dapat mengganggu hasil dari prosedur bedah. Belum diketahui berapa responden yang mengalami penurunan imun. Hal ini karena peneliti tidak melakukan observasi terhadap kekebalan tubuh.
6.      Adanya invasi bakteri.
Dengan semua jenis luka - luka bahkan yang tampaknya kecil - selalu ada bahaya perkalian cepat bakteri . Orang tua dan orang dengan penurunan imunitas beresiko besar untuk yang berhubungan dengan infeksi luka.
7.      Penggunaan antibiotik
Penggunaan antibiotik adalah sebagai penurun frekuensi infeksi. Tetapi keputusan untuk menggunakan, lokal, atau harus didasarkan pada kondisi pasien, yang jenis, panjang, dan lingkungan operasi, luka kontaminasi, dan status kekebalan sistemik. Penggunaan diluar ketentuan penelitian dapat mempengaruhi lama penyembuhan luka perineum.

4.2.3        Analisis Pengaruh Penggunaan Daun Sirih terhadap Penyembuhan Luka Perineum
Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh dari metode Mann Whitney U-Test secara manual dan SPSS, diperoleh hasil bahwa ada pengaruh daun sirih terhadap penyembuhan luka perineum. Penyembuhan luka pada kelompok eksperimen sebagian besar terjadi pada hari ke-3 sebanyak 60%. Hal ini dikarenakan kandungan antiseeptik pada air rebusan daun sirih.
Hasil penelitian tersebut sudah sesuai dengan lembar observasi PUSH (Pressure Ulcer Scale for Healing) dan mengobservasi luka sampai pada fase proliferatif, yaitu pada saat pembuluh darah baru, yang diperkuat oleh jaringan ikat, menginfiltrasi luka. Rata-rata kesembuhan luka pada kelompok eksperimen terjadi pada hari ke- 3 samapai dengan hari ke-4. Hal ini lebih cepat dengan pendapat Prawirohardjo (2006) bahwa perlukaan jalan lahir rata-rata akan sembuh dalam 6 sampai 7 hari apabila tidak terjadi infeksi.
Kesembuhan luka perineum terjadi dengan proses cepat dikarenakan ibu nifas menggunakan air rebusan daun sirih untuk cebok minimal 2x/hari setelah mandi. Sesuai dengan pendapat Damayanti (2003) yang menyatakan bahwa perawatan perlukaan jalan lahir menggunakan daun sirih dengan cara merebus dan menggunakan airnya untuk cebok atau membersihkan perlukaan jalan lahir dapat mempercepat penyembuhan luka, karena daun sirih mengandung chavicol, dan beberapa senyawa biokimia lain. Senyawa biokimia ini meemiliki daya membunuh kuman, jamur dan bakteri 5 kali lipat dari phenol biasa serta mengandung antioksidan. Selain itu daun sirih juga merupakan antiseptik alami yang tidak memiliki efek samping sehingga aman untuk digunakan. Dengan penggunaanair rebusan daun sirih untuk cebok akan membantu kecepatan proses penyembuhan luka, tetapi harus dilakukan dengan benar dan minimal digunakan 2x/hari.
Meskipun sebagian besar responden yang mengalami penyembuhan luka dengan dengan proses cepat rata-rata berpendidikan sedang (SMP), mereka dapat melakukan perawatan luka dengan baik dan benar, hal ini tidak lepas dari peran petugas kesehatan untuk memberikan penjelasan secara intensif sehingga proses penyembuhan berjalan lancar dan luka sembuh dengan cepat tanpa adanya komplikasi.
Selain tindakan perawatan yang dilakukan, menurut Smelzer (2002), penyembuhan luka dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain : medikasi, tradisi, gizi, kondisi ibu, gizi dan pengetahuan yang sudah dikontrol oleh peneliti.
Dengan mengontrol beberapa variabel tersebut, peneliti mendapatkan hasil yang homogen pada setiap responden, serta tidak mengganggu variabel yang lain. Namun dalam kenyataan, ada 40% responden yang sembuh lebih dari hari ke-3. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu :

1.      Berat badan responden (ukuran ketersediaan lemak tubuh)
2.      Umur responden
3.      Ketidakpatuhan responden dalam menggunakan daun sirih
Peneliti hanya mengobservasi 1x/hari, sehingga tidak dapat dipastikan apakah ibu melakukan perawatan perineum dengan menggunakan daun sirih atau tidak di luar kunjungan peneliti.
4.      Nutrisi yang tidak adekuat (tidak sesuai dengan gizi seimbang)
5.      Konsentrasi tiap air rebusan daun sirih yang berbeda
6.      Ibu tidak melakukan mobilisasi dini
Faktor-faktor tersebut secara tidak langsung dapat mempengaruhi penyembuhan luka perineum. Oleh karena itu diharapkan pada penelitian selanjutnya, faktor-faktor yang telah disebutkan diatas hendaknya dikontrol dan diobservasi.
4.2.4        Keterbatasan Penelitian
4.2.4.1  Keterbatasan Instrumen
Meskipun beberapa faktor sudah dikontrol, namun ada beberapa faktor yang menjadi perancu dalam penelitian ini, diantaranya adalah:
1.      Berat badan responden (ukuran ketersediaan lemak tubuh)
2.      Ketidakpatuhan responden dalam menggunakan daun sirih
3.      Nutrisi yang tidak adekuat (tidak sesuai dengan gizi seimbang)
4.      Konsentrasi tiap air rebusan daun sirih yang berbeda
5.      Pengukuran pH yang kurang valid

4.2.4.2  Keterbatasan Waktu
Pengambilan data dilakukan pada akhir bulan April sampai dengan bulan Mei akhir. Dari waktu tersebut peneliti hanya bisa mengambil sampel dari satu tempat saja. Apabila peneliti memiliki waktu yang lebih lama, selain responden yang didapat lebih banyak, observasi penyembuhan dapat menjangkau sampai fase maturasi (benar-benar sembuh).
4.2.4.3  Keterbatasan Peneliti
Keterbatasan pengamatan peneliti dan unsur subjektivitas masih sangat mempengaruhi penelitian ini. Hal ini sudah dapat diminimalkan dengan penggunaan lembar observasi PUSH. Namun kurangnya kemampuan peneliti membuat hasil penelitian ini kurang sempurna. Diharapkan pada penelitian selanjutnya, observer terdiri dari beberapa orang dalam satu tim, sehingga dapat menghindari subjektivitas dalam penelitian.
Selain itu harus dilakukan pengontrolan ketat terhadap asupan nutrisi, dengan cara memperhatikan gizi responden dalam artian memberikan asupan gratis kepada responden yang kurang mampu. Yang dilakukan oleh peneliti hanyalah pengontrolan dengan menggunakan sistem konseling.





BAB V
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis yang dijelaskan pada bab sebelumnya, peneliti dapat menarik kesimpulan dan implikasi agar dapat diperhatikan peneliti lain yang ingin meneliti tentang pengaruh penggunaan daun sirih terhadap penyembuhan luka perineum.

5.1    Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1.      Penggunaan daun sirih pada penelitian ini adalah dengan cara membasuh perineum dengan menggunakan air hasil rebusan daun sirih 2x/hari.
2.      Penyembuhan luka perineum kelompok yang menggunakan daun sirih adalah 60% di hari ke-3 dan 90% lebih dari 7 hari pada kelompok yang tidak menggunakan daun sirih. Artinya responden yang menggunakan daun sirih lebih cepat penyembuhan luka perineumnya dibandingkan dengan responden yang tidak memakai daun sirih.
3.      Berdasarkan hasil uji Mann Whitney U-Test, didapat harga Zh = -4.028 < -1,96 dengan Asymp.sig = 0.000 < 0,05. Dengan demikian H0 ditolak. Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh penggunaan daun sirih terhadap penyembuhan luka perineum ibu nifas di Desa Sumber Mulyo, Kecamatan Jogoroto. Hal ini disebabkan oleh kandungan chavicol yang membuat air rebusan daun sirih dapat menjadi antiseptik.
4.      Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka perineum pada penelitian ini, yang didapat saat penelitian. Diantaranya adalah usia responden, ukuran ketersediaan lemak tubuh, dan kekebalan tubuh responden.

5.2    Saran
5.2.1        Bagi Ibu Nifas
Diharapkan dapat membudidayakan tanaman sirih sebagai antiseptic yang dapat mempercepat penyembuhan luka perineum.
5.2.2        Bagi Bidan
Diharapkan dapat melakukan sosialisasi penggunaan daun sirih sebagai alternative pilihan jika antiseptic lain tidak tersedia, khususnya bagi bidan yang berada di daerah terpencil sehingga ibu nifas lebih yakin bahwa membasuh perineum dengan menggunakan air rebusan daun sirih juga dapat mempercepat proses penyembuhan luka perineum karena tidak menimbulkan efek samping sehingga aman digunakan serta lebih murah.
5.2.3        Bagi Profesi Kesehatan
Dari hasil penelitian ini, penulis mengharapkan agar dapat dijadikan sebagai bahan inspirasi dan pertimbangan bagi bidan di Indonesia dalam memeberikan asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan luka perineum terutama dalam meningkatkan mutu pelayanan bagi masyarakat.
5.2.4        Bagi Peneliti Selanjutnya
Peneliti berharap kepada peneliti lain untuk lebih memperdalam penelitian ini dengan mencoba mengontrol beberapa faktor yang dapat memengaruhi penyembuhan luka atau melakukan uji laboratorium sehingga hasil penelitian yang didapatkan semakin akurat.



0 komentar:

Poskan Komentar

 

Friends

Blog List