Rabu, 06 Februari 2013

Pengaruh pemberian VCO (Virgin coconut oil) terhadap penyembuhan ruam popok


BAB I
PENDAHULUAN

1.1              LATAR BELAKANG
Ruam popok adalah iritasi pada kulit bayi di daerah pantat. Ruam popok merupakan masalah kulit pada daerah genital bayi yang ditandai dengan timbulnya bercak-bercak merah dikulit. Kulit bayi yang masih sensitif disebabkan fungsi-fungsinya yang masih terus berkembang terutama pada lapisan epidermis atau lapisan terluar kulit. Bagian ini yang memberikan perlindungan alami pada kulit dari lingkungan sekitar. (dr Stephani Dewi.Kompas,2011).          
Incidence rate (angka kejadian) ruam popok  berbeda-beda di setiap negara, bergantung pada hygiene, pengetahuan orang tua (pengasuh) tentang tata cara penggunaan popok .     Kimberly A Horii, MD (asisten profesor spesialis anak Universitas Misouri) dan  John Mersch, MD, FAAP menyebutkan bahwa 10-20 % Diaper dermatitis dijumpai pada praktek spesialis anak di Amerika. Sedangkan prevalensi pada bayi berkisar antara 7-35%, dengan angka terbanyak pada usia 9-12 bulan. Sementara itu Rania Dib, MD menyebutkan ruam popok  berkisar 4-35 % pada usia 2 tahun pertama.
Penelitian di Inggris menemukan, 25 persen dari 12.000 bayi berusia empat minggu mengalami ruam popok. (Steven.conectique. 2008).
Insiden ruam popok  di Indonesia mencapai 7-35%, yang menimpa bayi laki-laki dan perempuan berusia dibawah tiga tahun.(kabarbisnis.2010)
Berdasarkan data statistik di Divisi Dermatologi Pediatrik, Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin, FKUI/RSCM, Jakarta pada 2005-2009 , prevalensi penyakit eksim masuk dalam ketagori 10 besar penyakit kulit yang diderita anak Indonesia. Eksim atau dermatitis adalah istilah kedokteran untuk kelainan kulit yang mana kulit tampak meradang dan iritasi. Ada tiga jenis penyakit eksim yaitu eksim susu, eksim seboroik atau sarap dan eksim popok. Dari ketiga jenis eksim ini eksim popok merupakan yang paling banyak terjadi. Bahkan disinyalir 1 dari 3 bayi di Indonesia pernah mengalaminya.(majalah-farmacia.2011)
Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Peningkatan Kapasitas dan Desentralisasi, dr Krisnajaya, MS memperkirakan jumlah anak balita (bawah lima tahun) Indonesia mencapai 10 persen dari populasi penduduk. Jika jumlah penduduknya 220-240 juta jiwa, maka setidaknya ada 22 juta balita di Indonesia, dan 1/3 dari jumlah bayi d indonesia mengalami ruam popok (dinkes.bekasikab.2011).
Jumlah Balita di Jatim 2011 kurang lebih 3,2 juta jiwa (Pusat Data Dan Informasi Departemen Kesehatan RI, 2009). Setidaknya 50 persen bayi yang menggunakan popok mengalami hal ini. Mulai terjadi di usia beberapa minggu hingga 18 bulan (terbanyak terjadi di usia bayi 6-9 bulan)
(Rahmat hidayat.blogspot.2011).
Berdasarkan studi pendahuluan di Desa Mentoro, Kecamatan Sumobito, pada tanggal 19 maret 2011 jumlah balita total per tahun 2011 periode bulan maret, terdapat 58 jiwa, dan 12 balita mengalami ruam popok. Dan diketahui bahwa didaerah tersebut menggunakan bedak untuk mengatasinya. Ibu-ibu yang masih memakai bedak belum mengatahui bahwa bedak dapat mengakibatkan ruam popok yang lebih parah. Karena bedak yang terlaetak dilipatan paha, dah bercampur keringat mengakibatkan tumbuhnya bakteri.
Menurut laporan Journal of  Pediatrics terdapat 54% bayi berumur 1 bulan yang mengalami ruam popok setelah memakai disposable diaper. Dalam artikel yang berjudul Disposable Diapers : Potential Health Hazards, Cathy Allison menyatakan kalau Procter & Gamble (produsen Pampers dan Huggies) melalui penelitiannya memperoleh data mencengangkan. Angka ruam popok pada bayi yang menggunakan disposable diaper meningkat dari 7,1% hingga 61%. Sementara itu Mark Fearer dalam artikelnya yang berjudul Diaper Debate-Not Over Yet menyatakan beberapa hasil studi medis menunjukkan angka peningkatan ruam popok 7% pada tahun 1955 dan 78% pada tahun 1999 (Nyak, C, anakbunda. 2008).
                                    Penyebab ruam popok cukup banyak antara lain : Kulit bayi terpapar cukup lama dengan urin atau kotoran yang mengandung bahan ammonia,bahan kimia, sabun atau deterjen yang ada dalam diaper. Diaper yang terbuat dari bahan plastik atau karet dapat menyebabkan iritasi pada kulit bayi. Diare, Infeksi jamur, susu formula memungkinkan bayi mengalami ruam popok lebih besar ketimbang ASI, ini karena komposisi bahan kimia yang ada di urin atau kotorannya berbeda serta bayi yang mempunyai riwayat alergi. Disamping itu, faktor lingkungan seperti iklim tropis membuat kelembaban senantiasa tinggi. Akibatnya memperbesar resiko iritasi pada bayi.(Budiono.bayibalita.2010).
Sebagai upaya pencegahan agar ruam popok ini tidak terjadi maka perawatan perianal/perawatan pada daerah yang tertutup popok penting dilakukan. Mengganti popok usai mengompol, mengusahakan kulit agar tetap kering, menggunakan sabun khusus, melonggarkan popok, membiarkan daerah alat kelamin terkena udara bebas (Darsana,blogspot.2009). Dengan penelitian yang menyatakan bahwa pemberian bedak secara perianal mengakibatkan infeksi pada bayi, bisa memicu ruam popok                        (dr.Stephanie.Kompas ,2011).
Minyak kelapa sebenarnya sudah lama dikenal dan digunakan oleh nenek moyang kita, baik untuk keperluan memasak maupun untuk tujuan pengobatan ( Dr. drh. Masdiana Padaga, M.APP.Sc .koranpdhi.2011). VCO(virgin coconut oil) adalah minyak kelapa murni yang dibuat dari bahan baku kelapa segar, diproses dengan pemanasan terkendali atau tanpa pemanasan sama sekali, tanpa bahan kimia dan RDB( refined, bleached and deodorized). Penyulingan minyak kelapa seperti di atas berakibat kandungan senyawa-senyawa esensial yang dibutuhkan tubuh tetap utuh. Minyak kelapa murni dengan kandungan utama asam laurat ini memiliki sifat antibiotik, anti bakteri dan jamur sehingga dihasilkan produk dengan kadar air dan kadar asam lemak bebas yang rendah, berwarna bening, berbau harum, serta mempunyai daya simpan yang cukup lama yaitu lebih dari 12 bulan (Wikipedia Indonesia.2010)
Dr.Enig dalam artikel "COCONUT  IN SUPPORT OF GOOD HEALTH IN THE 21st CENTURY" menjelaskan beberapa hasil penelitian yang sudah dilakukan sejak tahun 1978 dan terbukti bahwa monolaurin dapat menginaktifkan beberapa bakteri pathogen penting seperti Listeria monocytogenes, Staphylococcus aureus, Streptococcus agalactiae, Streptococcus grup A,F dan G. Minyak kelapa juga mempunyai efek antiaging sehingga dapat digunakan untuk perawatan kulit. ( koranpdhi.2011)
Dengan kasus diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian di Ds.Menturo Kec.Sumobito Jombang dengan judul “Pengaruh Pemberian VCO (Virgin Coconut Oil) Terhadap Kejadian Ruam Popok”.

1.2        Rumusan Masalah
 Masalah dalam  penelitian dirumuskan sebagai berikut :
Adakah  pengaruh VCO terhadap kejadian ruam popok di Ds.Menturo Kec.Sumobito Jombang?
1.3        Tujuan Penelitian
1.3.1        Tujuan Umum
Mengetahui pengaruh pemberian virgin coconut oil (VCO) terhadap ruam popok pada bayi di Ds.Menturo Kec.Sumobito Jombang.
1.3.2          Tujuan Khusus
1.3.2.1   Mengidentifikasi ruam popok pada bayi di Ds.Menturo Kec.Sumobito Jombang.
1.3.2.2       Mengidentifikasi ruam popok pada bayi yang diberikan dan tidak diberikan perawatan VCO di Ds.Menturo Kec.Sumobito Jombang.
1.3.2.3       Menganalisa pengaruh pemberian virgin coconut oil (VCO) terhadap Penyembuhan Ruam popok di Ds.Menturo Kec.Sumobito Jombang.

1.4             Manfaat Penelitian
1.4.1        Bagi Peneliti
1.      Peneliti dapat mengetahui pengaruh pemberian VCO terhadap kejadian ruam popok.
2.      Sebagai aplikasi secara langsung setelah mengikuti perkuliahan di Prodi DIII Kebidanan FIK UNIPDU Jombang.
1.4.2        Bagi Institusi Pendidikan
Menambah referensi baru tentang pengaruh pemberian VCO terhadap kejadian ruam popok pada bayi.
1.4.3        Bagi tempat penelitian
Penelitian ini dapat sebagai masukan bagi tempat penelitian serta hasil penelitian dapat digunakan sebagai saranauntuk membuat kebijakan yang berkaitan dengan ruam popok sehubungan dengan pengaruh pemberian VCO terhadap kejadian ruam popok pada bayi.
1.5      Hipotesis
Jawaban sementara penelitrian, patokan duga, atau dalil sementara, yang kebenarannya akan dibuktikan dalam penelitian tersebut.
Yaitu    : H1 diterima : ada pengaruh pemberian virgin coconut oil (vco) terhadap penyembuhan ruam popok pada bayi.
1.6      Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah pembaca dalam memperoleh gambaran tentang penelitian ini maka penulis membagi bab sebagai berikut:
BAB I  : PENDAHULUAN
               Meliputi tentang Latar belakang. Rumusan masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Hipotesis  dan Sistematika Penulisan.



BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Meliputi tentang konsep teori yang mendasari atau mendukung penelitian yang meliputi konsep Bayi, konsep ruam popok, konsep VCO( virgin coconut oil), konsep pengaruh pemberian VCO, konsep penyembuhan luka, kerangka konsep,.
BAB III : METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang menguraikan tentang desain penelitian, populasi, sampel, kriteria sampel, identifikasi variabel, definisi oprasianal, lokasi dan waktu penelitian, pengumpulan data, analisa data, uji efektifitas, alat ukur, etika penelitian, dan keterbatasan.
BAB IV   HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian yang terdiri dari Data Umum dan Data Khusus, Pembahasan yang berisi tentang analisis dari Data Umum hingga Data Khusus
BAB V                 PENUTUP
Kesimpulan dan Saran

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1       Konsep Bayi
2.1.1    Definisi Bayi
Bayi adalah masa tahapan pertama kehidupan seorang manusia setelah lahir dari rahim seorang ibu (carapedia.2012). bayi adalah anak yang berusia 0-12 bulan (husaini.2002)
2.1.2        Masalah yang sering timbul pada kulit bayi
1.      Ruam popok
2.      Kurap
3.      Panu
4.      Eksem popok (bila ruam popok telah bertambah parah) ( Maulana Mirza.2009)
5.      Oral trush
6.      Miliaria
7.      Dermatitis seboroik (infobidania.2011)
2.2       Konsep Ruam Popok
2.2.1    Definisi Ruam Popok
                                    Ruam Popok sering disebut dengan “Diaper Rash”. Diaper Rash adalah Dermatitis yang timbul pada bayi di daerah yang ditutupi popok (Kamus Saku Kedokteran Dorlan, 1998: 926).
Yakni sekitar perut, kemaluan, lipatan paha dan pantat (dr. Suranto Adji.2010). Disebabkan oleh iritasi kulit, akibat ammonia sebagai hasil dekomposisi urin (Kamus Saku Kedokteran Dorlan,1998: 302). Juga akibat akhir karena kontak terus menerus dengan keadaan lingkungan yang tidak baik (Sudarti, 2009). Ruam popok dapat terjadi pada periode neonatal segera setelah anak mulai memakai popok. Puncak insiden pada mereka yang berusia 7-12 bulan, kemudian menurun seiring bertambahnya usia.
Ruam popok biasanya tidak terjadi pada usia 2 tahun karena telah mendapatkan toilet training (Balentine J,Wolfram W, Halamka. Emedicine.2010)
2.2.2     Etiologi ruam popok
1.         Kebersihan kulit yang tidak terjaga                                
2.         Jarang ganti popok setelah bayi/anak kencing.
3.         Akibat Diare (Sudarti, 2009).
4.         Diperkenalkannya makanan baru, (makanan padat) tekstur komposisi tinja berubah dan meningkatkan kemungkinan terjadinya ruam popok, makanan (jus dan buah) yang asam, protein dan gandum juga merupakan penyebab utama ruam popok.
5.         Jamur dan bakteri
6.         Kulit sensitive
7.         Penggunaan dan mengkonsumsi antibiotik (Prabantini Dewi,2010).
8.         Kelembaban berlebih pada kulit yang peka
9.         Gesekan antar lipatan kulit yang basah (Sears Wiliam,2007).
10.     Menggunakan bedak, kemudian mengumpul pada lipatan paha akan mengakibatkan timbulnya bakteri (Suririnah,2009).
11.     Mempunyai riwayat alergi (Maulana Mirza,2009)
12.     Pemakaian pelembut pakaian dan pembersih pada pakaian dapat mengakibatkan iritasi kulit (lansky Vicki,2007).
2.2.3      Manifestasi Klinis ruam popok :
1.      Kulit di daerah tersebut meradang, berwarna kemerahan kadang lecet (Suririnah, 2009).
2.      Iritasi pada kulit yang terkena, muncul sebagai eritema
3.      Erupsi pada daerah kontak langsung dengan pantat dan kemaluan, perut bawah, paha atas.
4.      Keadaan parah : papila eritematosa, Vesikula dan Ulserasi (Sudarti M.kes, 2009).
5.      Gatal-gatal dan lecet (Suririnah,2009).
2.2.4      Patofisiologi
                        Etiologi yang tepat dari ruam popok tidak didefinisikan secara jelas. Yaitu adanya kemungkinan dari kombinasi faktor-faktor yang meliputi kelembaban, gesekan, urin dan feses, dan keberadaan mikroorganisme. Berhubungan dengan kebersihan dan lingkungan mikroorganisme pada lipatan-lipatan paha,termasuk kelamin dan pantat bayi.
Faktor iritasi utama dalam situasi ini adalah protease dan lipase feses yang aktivitasnya meningkatkan pH asam sebuah permukaan kulit. Inilah penyebab tingginya insiden dermatitis iritan popok, contohnya pada bayi yang mengalami diare dalam 48 jam sebelumnya (Balentine J, Wolfram W, Halamka, emedicine.2010).
Dan ketika bayi mengompol urine akan mengenai kulit sekitar alat kelamin dan lipatan paha, daerah tersebut akan lembab dan memberikan peluang untuk tumbuhnya mikroorganisme yang dapat merusak kulit bayi. Penimbunan urine pada popok yang basah dapat membuat kulit bayi teriritasi, dan menyebabkan infeksi karena pada urine terdapat bakteri dari jenis ammoniagenes yang dapat menguraikan urine dan membentuk zat yang disebut amoniak, bakteri ini mungkin terkumpul dalam popok, seprei ataupun pakaian bayi dan tanpa diketahui telah menguraikan urine menjadi zat amoniak. Bau zat amoniak ini adalah bau pesing yang dapat diketahui dari bau popok, seprei ataupun baju bayi(Fitry.blogspot,2011).
Pemakaian popok menyebabkan peningkatan yang signifikan pada kulit basah dan pH basah yang berkepanjangan menyebabkan maserasi (pelunakan) dari stratum korneum, lapisan, pelindung terluar kulit. Serangkaian penelitian  telah menunjukkan bahwa pH produk pembersih dapat mengubah spektrum mikrobiologi pada kulit. Sabun dengan PH tinggi dapat mendorong pertumbuhan propionibacterial pada kulit, sedangkan syndets (yaitu, deterjen sintetis) dengan pH 5,5 tidak menyebabkan perubahan mikroflora tersebut. (Balentine J, Wolfram W, Halamka.emedicine.2010).
2.2.5 Mencegah Ruam Popok
            1.  Mengganti popok bayi bila sesering mungkin.
2. Membersihkan pantat bayi dengan lembut, menggunakan air hangat (Indivara Nadia,2009).
3.   Tidak memakai tisu basah yang beralkohol (dr. Suranto Adji.2010)
4.   Membiarkan terkena uadara( kontak dengan udara)
(warner peny,dkk.2009)
            5.   Memakai popok yang berbahan lembut, (Indivara Nadia,2009).
6. Memilih detergent dan pelembut yang tidak mengakibatkan alergi (Kennedy michelle.2004)
7.   Tidak menggosok pantat bayi terlalu keras dan sering.
8.   Menggunakan popok yang memiliki pori-pori (Lansky Vicki.2007).
9.   Tidak menggunakan bedak pada pantat bayi.
10.  Membuat sendiri bidet untuk pantat bayi mneggunakan soda kue (Kennedy Michelle.2004)
11.  Menggunakan pelembab, atau Baby oil (Indivara Nadia,2009).
12.  Menggunakan popok sebaiknya tak lebih dari 3 jam (sheradiofm.2011).
2.2.6 Mengatasi Ruam Popok.
            1. Memberikan Krim Zinc Oxide setiap mengganti popok.
            2. Menggunakan krim anti jamur.
            3. Menggunakan sedikit hidrokortison sesuai anjuran dokter
(Sears William.2009)
            4. Mengganti merek popok,atau menggunakan popok kain sementara waktu (Kennedy Michelle.2004)
            5. Steroid Topikal (dioleskan di kulit) Bekerja mengurangi peradangan.. Penggunaannya perlu hati-hati karena efek sampingnya. Dapat diserap tubuh  jika dipakai berlebihan dan justru dapat  memperparah ruam popok jika ternyata disertai oleh infeksi jamur atau bakteri.
6. Antibiotika Topikal. digunakan untuk mengobati ruam popok yang terinfeksi bakteri. (kti-kebidanan-faktor-faktor.blogspot.2011).
7. Menjaga kulit bayi tetap kering dan dingin.
8. Memilih baju yang tepat (Maulana Mirza.2009).
2.3.      Konsep VCO
2.3.1      Definisi VCO
Virgin Coconut Oil (VCO) adalah minyak kelapa murni yangdihasilkan dari kelapa segar, dibuat tanpa mengalami pemanasan, serta tanpabahan kimia. VCO mengandung sekitar 50% asam laurat dan 7 % asam kapriat,keduanya merupakan Medium Chain Fatty Acid (Asam lemak rantai sedang/ MCFA). MCT (medium chain Triglyserides) khususnya asam laurat memiliki kemampuan sebagai antivirus, anti fungi, anti protozoa dan anti bakteri. Secara umum VCO berfungsi sebagai pencegah maupun obatberbagai macam penyakit yang disebabkan virus, fungi, protozoa, bakteri, faktordegeneratif, dan radikal bebas (qolbu.blogspot.2010).
Salah satu dari MCT adalah asam laurat. Asam laurat juga ditemukan dalam Air Susu Ibu (ASI). Asam laurat ini jika sudah dikonsumsi maka oleh tubuh akan diubah menjadi monolaurin. Monolaurin dalam darah inilah yang berfungsi sebagai agen kekebalan tubuh Ia juga berfungsi memperbaiki jaringan tubuh yang rusak ( ayosembuhdansehat.blogspot.2011).
Penelitian epidemiologis pada orang yang tinggal di iklim tropis yang lebih banyak mengonsumsi minyak kelapa dalam makanannya, bahkan selama beberapa decade, minyak kelapa telah digunakan dalam larutan infuse di rumah sakit sebagai sumber makanan pasien berpenyakit kritis dan merupakan komponen utama dari susu formula bayi (Andi Nur A.S.2010)
Monolaurin menurut dr.Enig dapat menginaktivkan beberapa bakteri pathogen penting seperti Listeria monocytogenes, Staphylococcus aureus, Streptococcus agalactiae, Streptococcus grup A,F dan G. Minyak kelapa juga mempunyai efek antiaging sehingga dapat digunakan untuk perawatan kulit (koranpdhi.2011)
VCO menggunakan pemanasan yang tidak terlalu tinggi sehingga mempertahankan vit.E dan enzim-enzim yang terkandung dalam daging buah kelapa ( Nur Andi A.S.2010).
Komponen VCO, tidak dicerna sebagai lipoprotein dan tidak diedarkan dalam aliran darah seprti minyak lainnya, tetapi dikirim langsung ke hati, lalu diubah menjadi energy. Asam lemak ini juga dapat mudah diserap oleh dinding usus karena molekulnya relative kecil, demikian dapat mengurangi kerja pancreas, saluran pencernaan, hati, serta tidak membuat lemak menumpuk dalam tubuh. Saat dikonsumsi, tubuh langsung menggunakannya untuk memproduksi energy bukan menimbunnya di jaringan adipose sebagai lemak tubuh (sutarmi.2010).
2.3.2    Manfaat VCO
1. VCO di dalam tubuh tidak tersintesis menjadi kolesterol, tidak tertimbun menjadi lemak dalam tubuh, karena mudah dicerna dan dibakar sebagai sumber energi. VCO berfungsi mengobati berbagai penyakit seperti ;
Kencing manis, Darah tinggi, Kolesterol, Stroke, Jantung, Asam urat, maag, Ginjal, Asma akut, Liver, Hepatitis, Paru-paru, Osteoporosis, AIDS, Gangguan pencernaan, Influenza(bungsuteujadi.blogspot.2010).
2. Mematikan berbagai virus penyebab mononucleosis, influenza,hepatitis C , cacar air, herpes
3. Mematikan berbagai bakteri penyebab pneumonia, sakit telinga,infeksi tenggorokan, gigi berlubang, keracunan makanan, infeksi salurankencing, meningitis, gonorrhea, luka, dan membantu kerusakan gigi sertamencegah penyakit periodental
4. Mematikan jamur dan ragi penyebab candida, jock itch, kadas,athletes foot, ruam karena keringat dan popok, serta infeksi lainnya
5. Melumpuhkan dan mematikan cacing pita, lice, giardia, danparasit lainnya
6. Menyediakan sumber nutrisi dan energi cepat serta berbagaiantioksodan pelindung
7. Meningkatkan energi dan stamina yang memperbaiki fisik danpenampilan atlet
8. Memperbaiki pencernaan dan penyerapan vitamin serta asamamino yang larut dalam lemak
9. Meperbaiki sekresi insulin dan pendayagunaan glukosa darah
10. Meredakan stres pasa pankreas dan sistem enzim tubuh
11. Meredakan gejala dan resiko diabetes
12. Mengurangi gangguan kesulitan pencernaan dan cystic fibrosis
13. Memperbaiki penyerapan kalsium dan magnesium, sertapertumbuhan tulang dan gigi
14. Meredakan penyakit yang berhubungan dengan Chron’s disease,ulteractive colitis, dan bisul perut
15. Mendukung penyembuhan dan perbaikan jaringan tubuh, dansistem kekebalan tubuh
16. Melindungi tubuh dari kanker payudara, kanker colon, dankanker lainnya
17. Membantu meredakan epilepsi, gejala psoriasis, eksim,dermatitis
18. Mencegah infeksi topical, melembutkan dan mengencangkankulit, mengendalikan ketombe, Mencegah keriput dan bercak penuaan
19. Meningkatkan vitalitas (qolbu.blogspot.2010)
20. Mengatasi bau badan.
21. Mengatasi kaki pecah-pecah, dan kerusakan kulit akibat matahari.
22. Memutihkan siku dan lutut (kapanlagi.2011)
2.3.3    Kandungan VCO
VCO mengandung 90% asam lemak jenuh yang terdiri atas asam laurat,miristat dan palmitat. Kandungan asam lemak jenuh dalam VCO didominasi oleh asam laurat dan asam miristat, sedangkan kandungan asam lainnya lebih rendah. Tingginya asam lemak jenuh yang dikandungnya menyebabkan VCO tshsn terhadap proses ketengikan akibat oksidasi.
Tabel 2.3.3.1  kandungan VCO menurut Alamsyah 2004.
Asam lemak
Rumus kimia
Jumlah (%)
Asam lemak jenuh
Asam kaporat
Asam kaprilat
Asam kaprat
Asam laurat
Asam miristat
Asam palmitat
Asam stearat
Asam arachidat
C5H11COOH
C7H17COOH
C9H19COOH
C11H23COOH
C13H31COOH
C15H35COOH
C19H39COOH
C19HCOOH
0,2
6,1
8,6
50,5
16,18
7,5
1,5
0,02
Asam lemak tak jenuh
Asam palmitoleat
Asam oleat
Asam linoleat
C15H29COOH
C17H33COOH
C17H31COOH
0,2
6,5
2,7
Tabel 2.3.3.2 kandungan kolesterol pada bebagai minyak dan lemak
Jenis Minyak
Kadar
Minyak kelapa
Minyak kelapa sawit
Minyak kedelai
Minyak jagung
Mentega
Lemak babi
0-14
18
28
50
3,150
3,500
(Nur  Andi A.S.2010).
VCO mengandung sejulmlah rantai C6-C12 asam lemak yang tidak terdapat pada minyak nabati lainnya. Minyak tersebut juga memiliki asam lemak esensial terendah seperti asam oleat,asam linoleat. Oleh karena itu, kualitas nutrisi VCO lebih inferior dibandingkan dengan minyak nabati lainnya (Nur Andi A.S.2010).
2.3.4    Membuat VCO
            Cara membuat VCO dengan berbagai cara yaitu:
1.      Pemanasan.
Pertama, kelapa di buat santan dengan mencampurkan 1kg parutan kelapa dengan 2 liter air. Santan tersebut kemudian didiamkan selama kurang lebih 12 jam. Setelah didiamkan, santan akan terbagi menjadi 3 lapisan. Lapisan pertama disebut krim (kanil- jawa), lapisan yang kedua disebut skim yang berupa protein, dan lapisan ketiga berupa air. Kemudian krimnya dipanaskan hingga menjadi minyak kelapa murni. Setelah itu aduk perlahan supaya blondo tidak hangus. Hentikan pemanasan apabila blondo dan minyak terjadi peemisahan, selanjutnya angkat dan dinginkan. Saring blondo dari minyak, press blondo hingga semua minyak keluar. Panaskan kembali agar minyak menjadi jernih.
2.      Fermentasi
Dengan pembuatan minyak kelapa dengan fermentasi, krim yang didapat dicampurkan dengan enzim untuk memecahkan emulsi. Enzim yang bisa digunakan di antaranya enzim mikroba atau ragi dari saccharomyces cerevisae. Bisa juga menggunakan enzim pemecah emulsi lainnya, seperti poligalaktruronase, amylase, atau pektinase. Caranya dengan mencampurkan cuka nira dengan perbandingan 2 sendok makan cuka nira untuk 1 liter krim santan. Setelah di aduk, lalu difrmentasikan selama 1-2 hari, sampai terbentuk blondo, minyak dan air. Setelah dipisahkan antara blondo, minyak dan air, panaskan kembali dengan suhu sekitar 60° hingga minyak berwarna jernih dan beraroma khas.
3.      Minyak Pancingan
Dengan teknik pemancingan, molekul minyak dalam santan ditarik oleh minyak pancing sampai akhirnya menjadi minyak semuanya. Tarikan itu akan mengubah air dan dan protein yang sebelumnya terikat dengan molekul santan menjadi terputus. Teknik ini pada dasarnya mengubah bentuk emulsi-air menjadi emulsi minyak-minyak. Pertama kumpulkan krimnya dan buang airnya setelah itu camour denag minyak yang sudah jadi dengan perbandingan 1:3. Aduk-aduk hingga minyak rata, kemudian diamkan selama 8 jam hingga terbentuk blondo, minyak dan air. Kemudian pisahkan. Bila baunya kurang sedap berarti prosesnya salah.
Dari berbagai cara pembuatan minyak kelapa murni tersebut, cara yang dianggap paling baik adalah cara pancigan. Dengan cara pancingan, kemungkinan rusaknya asam lemak pada minyak relative lebih kecil. Selain itu, prosesnya juga lebih cepat (J, Kuncoro.2010).
2.4       Konsep Pengaruh Pemberian VCO
Vco dapat menyembuhkan ruam popok (indivara, nadia.2010). Karena salah satu manfaat VCO adalah mematikan jamur dan ragi penyebab candida, jock itch, kadas,athletes foot, ruam karena keringat dan popok, serta infeksi lainnya (qolbu.2011). Dan salah satu kandungan vco adalah asam laurat. Asam laurat juga ditemukan dalam Air Susu Ibu (ASI). Asam laurat ini jika sudah dikonsumsi maka oleh tubuh akan diubah menjadi monolaurin. Monolaurin dalam darah inilah yang berfungsi sebagai agen kekebalan tubuh Ia juga berfungsi memperbaiki jaringan tubuh yang rusak
( ayosembuhdansehat.blogspot.2011).
Monolaurin menurut dr.Enig dapat menginaktivkan beberapa bakteri pathogen penting seperti Listeria monocytogenes, Staphylococcus aureus, Streptococcus agalactiae, Streptococcus grup A,F dan G. Minyak kelapa juga mempunyai efek antiaging sehingga dapat digunakan untuk perawatan kulit (koranpdhi.2011). VCO menggunakan pemanasan yang tidak terlalu tinggi sehingga mempertahankan vit.E dan enzim-enzim yang terkandung dalam daging buah kelapa ( Nur Andi A.S.2010). VCO yang dipakai rutin secara topical akan membantu mengangkat sel-sel kulit mati dan mengganti dengan sel-sel baru (J. Kuncoro.2010).
2.5       Konsep penyembuhan luka
2.5.1    Definisi penyembuhan luka
Penyembuhan adalah proses, cara, perbuatan menyembuhkan, pemulihan (Depdikbud.2008).
2.5.2    Fase penyembuhan
Dibawah pengaruh adenosin diphosphat (ADP) kebocoran dari kerusakan jaringan akan menimbulkan agregasi platelet untuk merekatkan kolagen. ADP juga mensekresi faktor yang berinteraksi dengan dan merangsang pembekuan intrinsik melalui produksi trombin, yang akan membentuk fibrin dari fibrinogen. Hubungan fibrin diperkuat oleh agregasi platelet menjadi hemostatik yang stabil. Akhirnya platelet juga mensekresi sitokin seperti ”platelet-derived growth factor”. Hemostatis terjadi dalam waktu beberapa menit setelah injuri kecuali ada gangguan faktor pembekuan (Go ET_WOC Nurse Indonesia, 2009).
Fase-fase dalam penyembuhan Intension primer :
1.      Fase Inisial (3-5 hari)
2.      Sudut insisi merapat, migrasi sel-sel epitel, mulai pertumbuhan sel
3.      Fase granulasi (5 hari – 4 minggu)
Fibroblas bermigrasi ke dalam bagian luka dan mensekresi kolagen. Selama fase granulasi luka berwarna merah muda dan mengandung pembuluh darah. Tampak granula-granula merah. Luka berisiko dehiscence dan resisten terhadap infeksi.
Epitelium permukaan pada tepi luka mulai terlihat. Dalam beberapa hari lapisan epitelium yang tipis bermigrasi menyebrangi permukaan luka. Epitel menebal dan mulai matur dan luka merapat. Pada luka superficial, reepitelisasi terjadi selama 3 – 5 hari.
4.      Fase kontraktur scar ( 7 hari – beberapa bulan )
Serabut-serabut kolagen terbentuk dan terjadi proses remodeling. Pergerakan miofibroblast yang aktif menyebabkan kontraksi area penyembuhan, membentu
menutup defek dan membawa ujung kulit tertutup bersama-sama. Skar yang matur selanjutnya terbentuk. Skar yang matur tidak mengandung pembuluh darah dan pucat dan lebih terasa nyeri daripada fase granulasi

Tabel 2.5.2 Fase penyembuhan luka
Fase Penyembuhan
Waktu
Sel-sel yang berperan
Analogi membangun kulit
Hemostasis Inflamation
Segera
Platelets Neutrophils
Cooping off conduct
Proliferation Granulosa
Hari 1-4
Macrophages
Lymphocytes
Angocytes
Neurocytes
Supervisor Cell
Specific labores at the
Plumber
Electrician
Contracture
Hari 4-21
Fibroblas
Keratinocytes
Framers
Roofers and siders
Remodelling
Hari 21-2 tahun
Fibrocytes
Remodelers
2.6        Kerangka Konsep
Suatu uraian dan visualisasi hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep yang lainnya, atau antara variable yang satu dengan variable yang lain dari masalah yang ingin diteliti (notoatmodjo.2010).


Flowchart: Process: Faktor penyebab terjadinya ruam popok :1. Memakai popok2. PH kurang3. Diare 4. Kulit sensitive5. Lembab 6. Alergi7. Mengkonsumsi PASI8.
           

Gambar. 2.3 kerangka konsep
            Keterangan:
                       
Yang di teliti
                                   
Yang tidak diteliti.


Keterangan :
VCO yang diolah tanpa pemanasan akan memberikan efek yang baik pada semua jaringan tubuh, khususnya jaringan ikat yang memberi elastisitas pada kulit. VCO yang dipakai rutin secara topical akan membantu mengangkat sel-sel kulit mati dan mengganti dengan sel-sel baru. VCO juga dapat melindungi kulit dari bakteri dan jamur yang dapat merusak kulit (J. Kuncoro.2010).

BAB III
METODE PENELITIAN

Metode penelitian adalah suatu cara untuk memperoleh kebenaran ilmu pengetahuan atau pemecahan suatu masalah dengan menggunakan metode ilmiah (Notoatmodjo, 2005). Dalam bab ini menguraikan tentang metode dan cara yang akan dipakai dalam penelitian ini, antara lain : desain penelitian, populasi, identifikasi variabel, definisi operasional, lokasi dan waktu, pengumpulan data, alat ukur, etika penelitian dan keterbatasan.

3.1        Desain Penelitian
Desain penelitian merupakan hasil akhir dari suatu tahap keputusan yang dibuat oleh peneliti berhubungan dengan bagaimana suatu penelitian bisa diterapkan (Nursalam, 2003) Dalam penelitian ini jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental dengan pendekatan posttest only control group design yaitu rancangan yang merupakan eksperimental sungguhan dan tidak ada pretest, karena kasus-kasus telah dirandomisasi baik kelompok eksperimen maupun kelompok control. Dengan rancangan ini memungkinkan peneliti mengukur pengaruh intervensi pada kelompok eksperimen dan membandingkan dengan kelompok control (notoadmojo soekidjo.2010)

Tabel 3.1 Rancangan Post Test Only Control Group

Subjek
Pra
Perlakuan
Pasca-Tes
R
-
I
O
R
-
-
O
Keterangan      :
R         : Responden
I           : Dilakukan Perlakuan
O         : Dilakukan Pengukuran

3.2              Populasi, Sampel, Sampling
3.2.1        Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang akan diteliti   (Notoatmodjo, 2010). Pada penelitian ini populasinya adalah semua bayi yang terkena ruam popok pada bulan mei 2012 di Desa Mentoro, Sumobito, Jombang.
3.2.2        Sampel
Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan obyek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2010). Semua bayi yang terkena ruam popok pada bulan mei 2012 di Desa Mentoro, Sumobito, Jombang
3.2.3        Sampling
Sampling adalah proses menyeleksi porsi dari populasi untuk dapat mewakili populasi (Nursalam, 2008)   . Sampling yang digunakan pada penelitian ini adalah Random Sampling, dimana pemilihan sampel secara acak. Dan boleh digunakan hanya pada populasi yang homogen (Notoatmodjo, Prawiroharjo.2010)

3.3              Kriteria Sampel
Agar karakteristik sampel tidak menyimpang dari populasinya, maka sebelum dilakukan pengambilan perlu ditentukan kriteria inklusi dan eksklusi (Notoatmodjo.2010)
Kriteria sampel dalam penelitian yaitu :
1.      Bayi yang terkena ruam popok.
2.      Bayi yang tidak mengalami eksim popok
3.      Bayi dengan keadaan umumnya sehat (tidak sedang sakit parah)
4.      Tidak diberikan antibiotik lain selama penelitian (baik oral maupun topikal, dari ibu dan bayi).
5.      Ibu dari bayi bersedia bila bayinya dijadikan responden.
6.      Ibu tidak memakaikan popok sekali pakai (pampers) saat dilakukan penelitian.

3.3              Identifikasi Variabel
Variabel adalah ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota-anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki kelompok lain (notoatmodjo.2010).Variabel dari penelitian ini adalah pengaruh pemberian VCO terhadap kejadian ruam popok
3.3.1        Variable bebas ( independent )
Adalah variable yang bila dalam suatu saat berada bersama dengan variabel lain, variabel tersebu berubah variasinya (notoatmodjo.2010). Variable bebas dalam penelitian ini adalah pengaruh pemberian VCO
3.3.2        Variable terikat ( dependent )
variabel yang berubah karena variabel bebas (notoatmodjo.2010).
       Variable dependent dalam penelitian ini adalah kejadian ruam popok
3.3.3    Variable pengganggu (confounding)
            Variable yang mengganggu variable dependent dan independent (notoatmodjo.2010).                   Apabila ada perbedaan pada lamanya kejadian ruam
3.4       Definisi Operasional
Definisi operasional adalah definisi berdasarkan karakteristik yang diamati dari sesuatu yang didefinisikan tersebut (Nursalam, 2008).
Tabel 3.4.1 Definisi Operasional
Variabel
Definisi Operasional
Alat Ukur
Kriteria
Skala
Independent
pemberian VCO

Pemberian vco terhadap penyembuhan ruam popok pada bayi. Yang diberikan setiap pagi dan sore hari setelah mandi.
observasi
Ya : diberi VCO

Tidak : tidak diberi VCO
 nominal
Dependent
Ruam popok
Terdapat radang, gatal-gatal dan bintil-bintil merah di sekitar paha, pantat dan genitalia.
observasi
Cepat : 1-5 hari
Lambat : 6- 20 hari
Ordinal

3.5      Lokasi dan Waktu Penelitian
3.5.1        Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian adalah tempat dimana penelitian dilaksanakan, penelitian dilaksanakan di desa Mentoro , Sumobito , Jombang.


3.5.2    Waktu Penelitian
Waktu penelitian adalah waktu pelaksanaan dan perencanaan mulai penelitian proposal hingga menulis laporan penelitian / KTI, penelitian dilaksanakan bulan Maret – Mei tahun 2012


3.6      Pengumpulan Data dan Analisis Data
3.7.1        Teknik Pengumpulan Data
1.      Data Primer
Penelitian ini menggunakan metode observasi eksperimental yaitu observe dimasukkan kedalam suatu kondisi atau situasi tertentu. Kondisi dan situasi itu diciptakan  sehingga gejala yang akan diamati akan timbul (notoatmodjo. 2010).
Kemudian peneliti akan memakai SOAP untuk mencatat perkembangan penyembuhan ruam popok yang timbul.
2.      Data Sekunder
Dari referensi maupun dari internet.

3.7.2    Analisis Data
Untuk mengetahui pengaruh pemberian VCO terhadap kejadian ruam popok      maka menggunakan Penelitian ini menggunakan uji statistik bivariat (dengan dua variabel). Skala penelitian ini adalah ordinal nominal, sehingga peneliti memilih uji Mann-Whitney U-Test sebagai penguji hipotesis.
rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:
Gambar 3.7.2.1 Rumus Uji Mann-Whitney
dimana:
U = Nilai uji Mann-Whitney
N1= sampel 1
N2= sampel 2
Ri = Ranking ukuran sampel
3.8      Teknik Pengolahan Data
Setelah data terkumpul, selanjutnya dilakukan pengolahan data, kegiatan dalam pengolahan data meliputi :
3.8.1        Editing
Pada penelitian ini, penulis menggunakan lembar observasi yang telah dipersiapkan sebelumnya. Terdapat 2 lembar observasi (lampiran), dimana lembar observasi pertama merupakan sebuah tabel yang diperuntukkan hasil pengamatan keadaan ruam setiap harinya. Sedangkan tabel kedua untuk menuliskan hari dimana ruam popok sembuh pada tiap-tiap responden.
3.8.2        Koding
Setelah data diedit langkah berikutnya adalah mengkoding data, yaitu memberi kode terhadap setiap jawaban yang diberikan. Tujuannya untuk memudahkan klasifikasi data, menghindari terjadinya pencampuran data yang bukan jenis dan kategorinya. Juga untuk memudahkan pada saat analisis data dan dan proses entri dengan bantuan perangkat lunak komputer.
            Contoh :  tidak : 1, ya : 2, lambat : 1, cepat : 2.
3.8.3        Tabulasi
Tabulasi adalah pekerjaan menyusun tabel mulai dari menyusun tabel utama yang berisi seluruh data atau informasi yang berhasil di kumpulkan dengan tabel khusus yang telah benar-benar di tentukan dan isinya sesuai dengan tujuan penelitian.
3.9              Alat Ukur
Penelitian ini menggunakan alat ukur lembar observasi dengan tujuan agar peneliti memperoleh data yang sesuai dengan tujuan penelitian yaitu pengaruh VCO terhadap penyembuhan ruam popok pada bayi.
3.10          Etika Penelitian
Dalam melakukan penelitian, peneliti mengajukan ijin kepada pihak yang terkait setelah itu baru disebarkan ke responden yang akan diteliti dengan menekan masalah etika yang meliputi :
3.10.1    Informed Consent (Lembar Persetujuan)
Informed Consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dengan responden dengan memberikan lembar persetujuan, yang diberikan sebelum penelitian dilakukan dengan tujuan agar responden mengerti maksud dan tujuan penelitian serta mengetahui dampak selama penelitian.
3.10.2    Anonimity (Tanpa Nama)
Nama responden tidak dicantumkan pada lembar alat ukur dan hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data atau hasil penelitian yang akan disajikan.
3.10.3    Confidentialy (Kerahasiaan)
Memberikan jaminan kerahasiaan hasil penelitian baik informasi maupun masalah-masalah lainnya. Semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti.
3.11          Keterbatasan
Keterbatasan merupakan kelemahan dan hambatan dalam penelitian dan keterlambatan dalam penelitian yang dihadapi peneliti adalah :
3.11.1    Literatur
Bahan yang digunakan sebagai acuan dalam penelitian kurang, sehingga dalam penyempurnaan penelitian memerlukan waktu yang cukup lama.
3.11.2    Waktu
Waktu penelitian terbatas sehingga sampel yang dilakukan terbatas jumlah sehingga hasilnya tidak bisa maksimal.
3.11.    3.12   Peneliti
Peneliti bleum pernah melakukan penelitian sebelumnya dan merupakan penelitian yang pertama, sehingga mungkin masih jauh dari kesempurnaan.
  



















0 komentar:

Poskan Komentar

 

Friends

Blog List