Rabu, 06 Februari 2013

Pengaruh Mobilisasi Dini Terhadap Penurunan Tinggi Fundus Uteri Pada Ibu Nifas di Paviliun Melati RSUD Jombang (1-2)


BAB I
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang
Masa nifas mulai setelah partus selesai, dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu. Akan tetapi seluruh alat genetalia baru pulih kembali seperti sebelum ada kehamilan dalam waktu 3 bulan. Dalam masa nifas, alat-alat genetalia interna maupun eksterna akan berangsur-angsur pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil. Perubahan alat-alat genetalia ini dalam keseluruhannya disebut involusi. Sedangkan mobilisasi dini adalah kebijakan untuk selekas mungkin membimbing penderita keluar dari tempat tidurnya dan membimbingnya selekas mungkin berjalan. Setelah melahirkan ibu dianjurkan melakukan mobilisasi dini (Sarwono, 2006).
Dengan mobilisasi dini, ibu dapat sesegera mungkin melakukan buang air besar dan buang air kecil setelah melahirkan. Buang air besar secara spontan bisa tertunda selama dua sampai tiga hari setelah ibu melahirkan, keadaan ini bisa disebabkan karena tonus otot usus menurun selama proses persalinan. Fungsi ginjal akan kembali normal dalam waktu satu bulan setelah melahirkan. Hal tersebut merupakan perubahan fisiologis, tetapi perlu dilakukan mobilisasi dini. Pada hari ke-10 uterus tidak teraba lagi.
Data di Paviliun Melati RSUD Jombang, dari 10 ibu post partum 60% ibu sudah melakukan mobilisasi dini dan 40% ibu tidak melakukan mobilisasi dini. Ibu tidak melakukan mobilisasi dini dikarenakan ibu takut, malas dan merasa capek setelah melahirkan. Padahal mobilisasi dini dapat membantu menurunkan Tinggi Fundus Uteri secara bertahap. Dengan bergerak, hal ini akan mencegah kekakuan otot dan sendi sehingga juga mengurangi nyeri, menjamin kelancaran peredaran darah, memperbaiki pengaturan metabolisme tubuh, mengembalikan kerja fisiologis organ-organ vital yang pada akhirnya justru akan mempercepat penyembuhan luka.
Ibu nifas post partum mengalami involusi uteri, dimana otot-otot uterus berkontraksi sehingga pembuluh-pembuluh darah yang terbuka akibat perlekatan placenta akan terjepit, sehingga perdarahan post partum dapat dicegah, involusi uteri dipengaruhi oleh tiga hal yaitu autolysis, aktifitas otot dan iskemik. Seperti dijelaskan di atas bahwa mobilisasi dini dapat meningkatkan tonus otot yang sangat dibutuhkan untuk mempercepat proses involusi uteri dan pada akhirnya dapat mengurangi insiden perdarahan post partum.
Selain ibu nifas, mobilisasi dini juga dapat dilakukan pada ibu post SC dengan cara perlahan-lahan sampai ibu dapat melakukannya. Namun di sini peneliti hanya menekankan pada ibu nifas. Mobilisasi dini sangat penting dilakukan pada ibu nifas untuk mempercepat penurunan Tinggi Fundus Uteri.
Berdasar fakta dan uraian singkat di atas, maka peneliti perlu untuk mengetahui akan pengaruh mobilisasi dini terhadap penurunan Tinggi Fundus Uteri pada ibu nifas di Paviliun Melati RSUD Jombang.


1.2  Rumusan Masalah
Apakah ada pengaruh mobilisasi dini terhadap penurunan Tinggi Fundus Uteri pada ibu nifas di Paviliun Melati RSUD Jombang ?

1.3  Tujuan Penelitian
1.3.1             Tujuan Umum
Mengetahui pengaruh mobilisasi dini terhadap penurunan Tinggi Fundus Uteri pada ibu nifas di Paviliun Melati RSUD Jombang.
1.3.2             Tujuan Khusus
1.3.2.1  Mengidentifikasi Tinggi Fundus Uteri pada ibu nifas sebelum diberi perlakuan mobilisasi dini di Paviliun Melati RSUD Jombang.
1.3.2.2  Mengidentifikasi Tinggi Fundus Uteri pada ibu nifas setelah diberi perlakuan mobilisasi dini di Paviliun Melati RSUD Jombang.
1.3.2.3  Menganalisa tentang pengaruh mobilisasi dini terhadap penurunan Tinggi Fundus Uteri pada ibu nifas di Paviliun Melati RSUD Jombang.
.
1.4  Manfaat Penelitian
1.4.1             Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai media pembelajaran dan masukan tambahan materi dalam institusi pendidikan kesehatan, serta menjadi tambahan sumber kepustakaan di bidang kesehatan.


1.4.2             Bagi Peneliti
Wahana belajar dalam menerapkan ilmu dan teori yang didapatkan selama perkuliahan ke dalam praktek dilingkungan masyarakat, peningkatan daya pikir dan mengamati suatu permasalahan yang nyata bagi peneliti dalam proses penelitian.
1.4.3             Bagi Lahan Praktek
Sebagai masukan yang dapat dipergunakan untuk mengetahui dan meningkatkan pengetahuan tentang pengaruh mobilisasi dini terhadap penurunan TFU.
1.4.4        Bagi Pasien
Untuk memberikan informasi tentang pentingnya mobilisasi dini dan manfaat mobilisasi dini.
1.5                Sistematika Penulisan
BAB I                        : PENDAHULUAN
Meliputi          : latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat  penelitian, sistematika penulisan.
BAB II           : TINJAUAN PUSTAKA
Meliputi          : konsep dasar nifas, konsep dasar mobilisasi dini, konsep dasar penurunan Tinggi Fundus Uteri, kerangka konsep, hipotesa.
BAB III          : METODOLOGI PENELITIAN
Meliputi          : desain penelitian, sampling desain, kriteria sampel, identifikasi variabel, definisi operasional, pengumpulan data dan anamnesa data, teknik pengolahan data, alat ukur yang digunakan, etika penelitian dan keterbatasan.
BAB IV          : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
                              Memaparkan hasil penelitian dan pembahasan.
BAB V           : PENUTUP
                              Memaparkan kesimpulan dan saran-saran.
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN

BAB II
TIJAUAN PUSTAKA

2.1       Konsep Dasar Nifas
2.1.1    Pengertian Nifas
                        Masa puerperium atau masa nifas mulai setelah partus selesai, dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu. Akan tetapi, seluruh alat genetalia baru pulih kembali seperti sebelum ada kehamilan dalam waktu 3 bulan (Prawiroharjo, 2006:237).
            Masa nifas (puerperium) dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil.masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu (Prawiroharjo, 2002:122).
            Masa nifas atau masa purperium adalah masa setelah partus selesai dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu (Kapita selekta, 2000:316).
2.1.2    Perubahan Fisiologis Pada Masa Nifas
2.1.2.1 Penurunan TFU
Uterus mulai mengecil segera setelah plasenta lahir. Uterus biasanya berada pada 1-2 jari di bawah pusat. Pada 24 jam pertama, uterus mungkin membesar sampai mencapai pusat. Setelah itu, uterus akan mengecil dan mengencang. Pada akhir minggu kedua setelah persalinan ukurannya telah kembali ke keadaan sebelum hamil. Ibu yang telah mempunyai anak biasanya uterusnya sedikit lebih besar dari pada ibu yang belum mempunyai anak (Depkes, 2000).
2.1.2.2 Laktasi
Prinsip pemberian ASI adalah sedini mungkin dan eksklusif. Bayi baru lahir harus mendapat ASI dalam waktu satu jam setelah lahir. Anjurkan ibu untuk memeluk bayinya dan mencoba segera menyusukan bayi setelah tali pusat diklem dan dipotong. Beritahu bahwa penolong akan selalu membantu ibu untuk menyusukan bayi setelah plasenta lahir dan memastikan ibu dalam kondisi baik (termasuk menjahit laserasi). Keluarga dapat membantu ibu untuk memulai pemberian ASI lebih awal (APN, 2007)
2.1.2.5 Lochea
Lochea adalah sekret yang berasal dari kavum uteri dan vagina dalam masa nifas. Pada hari pertama dan kedua lochea rubra atau lochea kruenta, terdiri atas darah segar bercampur sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua, sisa-sisa verniks kaseosa, lanugo, dan mekoneum. Hari berikutnya darah bercampur lendir dan disebut lochea sanguilenta. Setelah satu minggu, lochea cair tidak berdarah lagi, warnanya agak kuning, disebut lochea serosa. Setelah 2 minggu, lochea hanya merupakan cairan putih disebut lochea alba. Biasanya lochea berbau agak sedikit amis, kecuali bila terdapat infeksi; dan akan berbau busuk, umpamanya pada adanya lokiostasis (lochea tidak lancar keluar) dan infeksi (Bobak, 2005).

2.1.3    Asuhan masa nifas
2.1.3.1 Mencegah infeksi
Salah satu cara penting untuk mencegah infeksi ialah mempertahankan lingkungan yang bersih. Penutup tempat tidur harus diganti setiap hari, tampon atau pelapis sekali pakai perlu diganti lebih sering. Pasien diusahakan untuk tidak berjalan di dalam rumah sakit tanpa menggunakan alas kaki untuk menghindari kontaminasi tempat tidur saat mereka kembali ke tempat tidur. Supervisi penggunaan fasilitas untuk mencegah kontaminasi silang juga diperlukan. Misalnya, tempat duduk untuk mandi atau lampu pemanas harus dicuci sebelum digunakan oleh ibu yang lain. Petugas ruangan juga merupakan bagian penting lain dari lingkungan rumah sakit. Mereka harus mengetahui cara mencuci tangan untuk mencegah infeksi silang. Tindakan pencegahan secara universal harus dilakukan. Anggota staf yang pilek, batuk, dan memiliki infeksi kulit (misalnya, herpes di bibir(virus herpes simpleks, tipe1) harus mengikuti protokol rumah sakit jika kontak dengan pasien nifas.
2.1.3.2 Mencegah distensi kandung kemih
Kandung kemih yang penuh membuat rahim terdorong ke atas umbilikus dan ke salah satu sisi abdomen. Keadaan ini juga mencegah uterus untuk berkontraksi secara normal. Intervensi perawat difokuskan untuk membantu ibu mengosongkan kandung kemihnya seacar spontan sesegera mungkin. Prioritas pertama ialah membantu ibu ke kamar kecil atau berkemih di bedpan jika ia tidak mampu berjalan. Membiarkan ibu mendengar bunyi air mengalir, merendam tangannya di dalam air hangat, atau memercikkan air dari botol ke perineumnya bisa merangsang berkemih. Teknik lain yang dapat digunakan ialah membantu ibu mandi atau melakukan sitz bath dan menganjurkan ibu berkemih atau meletakkan minyak peppermint di dalam bedpan di bawah ibu. Uap minyak ini dapat merelaksasi meatus urinarius dan membuat ibu berkemih secara spontan. Apabila tindakan ini tidak berhasil, sebuh kateter steril dimasukkan untuk mengeluarkan urine.
2.1.2.3 Rasa nyaman
Kebanyakan ibu mengalami nyeri segera setelah memasuki masa nifas. Penyebab umum nyeri meliputi nyeri pada masa nifas, episiotomi atau laserasi perineum, hemoroid, dan pembesaran (engorgement) payudara. Penjelasan ibu tentang jenis dan berat nyeri adalah pedoman terbaik bagi perawat untuk memilih intervensi yang harus dilakukan. Intervensi keperawatan ditujukan untuk mengeliminasi sampai pada tingkat yang dapat diterima ibu, sehingga ia dapat merawat dirinya dan bayinya. Perawat bisa menggunakan intervensi nonfarmakologi dan farmakologi untuk mengupayakan rasa nyaman. Sebagai patokan, tindakan nonfarmakologi harus dilakukan lebih dahulu, bisa tanpa atau dikombinasi dengan intervensi farmakologi. Hilangnya nyeri dapat lebih cepat, jika menggunakan lebih dari satu metode atau cara.


2.1.2.4 Istirahat
Kegembiraan yang dialami setelah melahirkan seorang bayi bisa membuat ibu sulit beristirahat. Ibu baru seringkali cemas akan kemampuannya dalam merawat bayinya atau sering merasa nyeri. Hal ini bisa membuatnya sukar tidur. Intervensi harus direncanakan untuk memenuhi kebutuhan ibu akan tidur dan istirahat. Menggosok-gosok punggung, tindakan lain yang member kenikmatan, dan pemberian obat tidur mungkin diperlukan selama beberapa malam pertama. Rutinitas rumah sakit dan perawat bisa juga disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan individu. Selain itu, perawat dapat membantu keluarga ini membatasi pengunjung dan memberi kursi yang nyaman atau tempat tidur untuk pasangan.
2.1.2.5 Latihan fisik
Kebanyakan ibu yang baru saja melahirkan sangat tertarik untuk bisa kembali memiliki bentuk tubuh sebelum hamil. Latihan senam nifas dapat segera dimulai setelah melahirkan walaupun ibu harus dianjurkan untuk memulai latihan ini secara mandiri dan semakin lama semakin berat
2.1.2.6 Defekasi
Intervensi keperawatan untuk mempercepat proses defekasi normal ialah memberi ibu penjelasan tentang upaya menghindari konstipasi. Tindakan tersebut mencakup upaya menjamin cukup serat kasar dalam makanan dan cukup minum serta melakukan latihan. Beri tahu ibu efek samping analgesik narkotika (misalnya, penurunan motilitas saluran cerna). Hal ini bisa mamberi ibu semangat untuk menerapkan tindakan untuk mengurangi resiko konstipasi. Pelunak tinja sering diberikan dan laksatif diperlukan pada masa awal periode masa nifas. Dengan program pemulangan pasien lebih dini, ibu baru dapat pulang ke rumah sebelum ia mampu buang air besar (Bobak, 2005:492).

2.1.4    Tujuan asuhan masa nifas
2.1.4.1 Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologik.
2.1.4.2 Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya.
2.1.4.3  Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat.
2.1.4.4  Memberikan pelayanan keluarga berencana.
Asuhan masa nifas diperlukan dalam periode ini karena merupakan masa kritis baik ibu maupun bayinya. Diperkirakan bahwa 60% kematian ibu akibat kehamilan terjadi setelah persalinan, dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama (Sarwono, 2001).

2.2       Konsep Dasar Mobilisasi Dini
2.2.1    Definisi
                        Mobilisasi dini adalah kebijakan untuk segera membimbing penderita keluar dari tempat tidurnya dan membimbing penderita berjalan (http://Indonesiannursing.com).
2.2.2    Rentang gerak dalam mobilisasi
            Dalam mobilisasi terdapat tiga rentang gerak yaitu :
2.2.2.1 Rentang gerak pasif
            Rentang gerak pasif ini berguna untuk menjaga kelenturan otot-otot dam persendian dengan menggerakkan otot orang lain secara pasif misalnya perawat mengangkat dan menggerakkan kaki pasien.
2.2.2.2 Rentang gerak aktif
            Hal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan cara menggunakan otot-ototnya secara aktif misalnya berbaring pasien menggerakkan kakinya.
2.2.2.3 Rentang gerak fungsional
            Berguna untuk memperkuat otot-otot dan sendi dengan melakukan aktifitas yang diperlukan.

2.2.3    Manfaat mobilisasi dini pada ibu nifas
                        Mobilisasi dilakukan segera setelah beristirahat beberapa jam dengan beranjak dari tempat tidur ibu (pada persalinan normal). Mobilisasi dini dapat mengurangi bendungan lokia dalam rahim, meningkatkan peredaran darah sekitar alat kelamin, mempercepat normalisasi alat kelamin dalam ke keadaan semula.
2.2.3.1 Penderita merasa lebih sehat dan kuat dengan mobilisasi dini. Dengan bergerak, otot-otot perut dan panggul akan kembali normal sehingga otot perutnya menjadi kuat kembali dan dapat mengurangi rasa sakit dengan demikian ibu merasa sehat dan membantu memperoleh kekuatan, mempercepat kesembuhan. Faal usus dan kandung kencing lebih baik. Dengan bergerak akan merangsang peristaltic usus kembali normal. Aktivitas ini juga membantu mempercepat organ-organ tubuh bekerja seperti semula.
2.2.3.2 Mobilisasi dini memungkinkan kita mengajarkan segera untuk ibu merawat anaknya. Perubahan yang terjadi pada ibu nifas akan cepat pulih misalnya kontraksi uterus, dengan demikian ibu akan cepat merasa sehat dan bisa merawat anaknya dengan cepat.
2.2.3.3 Mencegah terjadinya thrombosis dan tromboemboli, dengan mobilisasi sirkulasi darah normal / lancer sehingga resiko terjadinya thrombosis dan tromboemboli dapat dihindarkan.

2.2.4    Kerugian bila tidak melakukan mobilisasi
2.2.4.1 Peningkatan suhu
            Karena adanya penurunan TFU yang tidak baik sehingga sisa darah tidak dapat dikeluarkan dan menyebabkan infeksi dan salah satu dari tanda infeksi adalah peningkatan suhu tubuh.
2.2.4.2 Perdarahan yang abnormal
            Dengan mobilisasi dini kontraksi uterus akan baik sehingga fundus uteri keras, maka resiko perdarahan yang abnormal dapat dihindarkan, karena kontraksi membentuk penyempitan pembuluh darah yang terbuka.

2.2.4.3 Penurunan TFU yang tidak baik
            Tidak dilakukan mobilisasi dini akan menghambat pengeluaran darah sisa plasenta sehingga menyebabkan terganggunya kontraksi uterus (http://Indonesiannursing.com).

2.2.5    Tahap-tahap mobilisasi dini
2.2.5.1 Miring ke kanan – kiri
            Memiringkan badan ke kiri – ke kanan merupakan mobilisasi paling ringan yang paling baik dilakukan pertama kali. Di samping mempercepat proses penyembuhan, gerakan ini juga mempercepat kembalinya fungsi usus dan kandung kemih secara normal.
2.2.5.2 Menggerakkan kaki
            Setelah membalikkan badan ke kanan dan kiri, mulai gerakkan kedua kaki. Ada mitos yang mengatakan hal ini tidak boleh dilakukan karena bisa menyebabkan varises. ”Itu tidak benar!Justru bila kaki tidak digerakkan dan ibu berbaring terlalu lama, akan terjadi pembekuan pembuluh darah balik yang bisa menyebabkan varises maupun infeksi.”
2.2.5.3 Duduk
            Setelah agak ringan, cobalah duduk di tempat tidur. Bila merasa tidak nyaman, jangan paksakan diri. Lakukan pelan-pelan sampai terasa nyaman.


2.2.5.4 Berdiri dan turun dari tempat tidur
            Kalau duduk tidak manyebabkan rasa pusing, teruskan dengan mencoba turun dari tempat tidur dan berdiri. Jalan sedikit. Bila terasa sakit atau ada keluhan, sebaiknya hentikan dulu dan di coba lagibegitu kondisi tubuh sudah terasa lebih nyaman.
2.2.5.5 Ke kamar mandi
            Bila sudah tidak ada keluhan, bisa di coba untuk berjalan ke kamar mandi dan buang air kecil. Ini pun harus dilatih, karena biasanya banyak ibu yang merasa takut.

2.3       Konsep Dasar Penurunan Tinggi Fundus Uteri
2.3.1    Definisi
Penurunan TFU (Involution) adalah degenerasi progresif yang terjadi secara alamiah sesuai usia, berakibat pada penciutan organ atau jaringan (Kumala, 2003)
            Penurunan TFU adalah perubahan system reproduksi pada masa nifas yang mengalami perubahan sampai kembali kepada kondisi semula sebelum hamil (Pilliterri, 2002:150).
            Alat-alat genetalia interna dan eksterna akan berangsur pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil, yang disebut penurunan TFU (Kapita Selekta, 2000:316).
Penurunan TFU adalah proses kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil setelah melahirkan (Bobak, 2005:492).
2.3.2    Beberapa faktor kondisi yang menghambat penurunan TFU
a.      Kehamilan multiple
b.      Hidroamnion
c.       Kelelahan akibat persalinan yang panjang dan kesulitan melahirkan
d.      Multipara atau efek fisiologis akibat kelebihan analgesic
e.       Ada bagian plasenta atau membran yang tertahan
f.       Kandung kemih penuh

Table 2.1 Tinggi Fundus Uteri Menurut Masa Involusi           
Involusi
Tinggi Fundus Uteri
Plasenta lahir
7 hari
14 hari
42 hari
56 hari
Sepusat
Pertengahan pusat-simfisis
Tidak teraba
Sebesar hamil 2 minggu
normal
Sumber : Manuaba, 1999
2.4       Kerangka Konsep
            Kerangka konsep penelitian adalah suatu hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep yang lainnya dari masalah yang ingin diteliti. (Notoatmodjo, 2005:43)
            Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian-penelitian yang akan dilakukan. (Notoatmodjo, 2005)

Post partum

Mobilisasi dini :
-          Definisi
-          Manfaat
-          Kerugian                                    


-          Teknik mobilisasi dini

-          Luka-luka pada jalan Bekas implantasi uri
-          Luka-luka jalan lahir
-          Rasa sakit
-          Lokia
-          Serviks
-          Ligament-ligamen

Perubahan-perubahan dari alat-alat genetal pada ibu nifas:
-          Uterus

Ada penurunan Tinggi Fundus Uteri

Tidak ada penurunan Tinggi Fundus Uteri
 










Gambar 2.1 Kerangka Konsep

Keterangan :


                     : diteliti
: tidak diteliti

2.5       Hipotesis
Hipotesis penelitian adalah jawaban sementara dari suatu penelitian (Nursalam, 2005:72)
H1     :  Ada pengaruh mobilisasi dini terhadap penurunan Tinggi Fundus Uteri pada ibu nifas di Paviliun Melati RSUD Jombang.
H0      : Tidak ada pengaruh mobilisasi dini terhadap penurunan Tinggi Fundus Uteri pada ibu nifas di Paviliun Melati RSUD Jombang. 

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Friends

Blog List