Jumat, 15 Februari 2013

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU NIFAS PARITAS I TENTANG PERANAN PERAWATAN BAYI BARU LAHIR DENGAN KEJADIAN HIPOTERMI


BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Era globalisai yang semakin maju diharapkan bangsa indonesia dapat menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas, salah satunya dalam bidang kesehatan bayi dan anak, pemberian asuhan kesehatan pada anak yang tidak terpecahkan dari keluarga dan masyarakat, berbagai peran yang terdapat dalam keluarga adalah peranan ayah, peranan ibu, peranan anak dimana fungsi pokok keluarga terhadap anggota keluarganya adalah asah, asih, asuh sehingga dibutuhkan peranan ibu dalam pengasuhan dan perawatan yang baik untuk bayinya. Kebanyakan perawatan neonatal yang dialami masyarakat adalah kurangnya pengetahuan dalam perawatan BBL terutama didaerah desa pelosok. Banyak dijumpai ibu yang baru melahirkan dengan perawatan bayi yang tradisional serta pendidikan dan tingkat sosial ekonominya yang masih rendah. Selain itu juga dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan wanita, suami, dan keluarga tentang pentingnya pelayanan neonatal (Depkes RI, 2007).
Merawat bayi merupakan hal yang gampang-gampang susah, namun walaupun begitu tetap membutuhkan pengetahuan tentang cara perawatan bayi baru lahir. Khususnya calon ibu yang mau memiliki anak pertamanya, karena perawatan yang salah bisa menyebabkan dampak negative bagi bayinya. Banyak factor yang dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang diantaranya usia, pendidikan, pekerjaan, minat, lingkungan, pengalaman, dan informasi. Dizaman yang serba canggih dengan teknologi ini, setiap calon ibu bisa memperoleh informasi tentang perawatan bayi baru lahir melalui majalah, Koran, media elektronik, dan internet tentang perawatan bayi baru lahir, sehingga setiap ibu yang akan mempunyai anak pertama kali sudah siap ketika bayinya sudah lahir.
 Hipotermi merupakan salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas pada neonatal, untuk menurunkan kejadian hipotermi diharapkan ibu nifas mewaspadai tanda-tanda bahaya pada bayi baru lahir apabila terdapat tanda tersebut orang tua segera membawa ke fasilitas kesehatan terdekat.
Berdasarkan data dinkes kabupaten madiun AKB mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, sampai september 2009, dari jumlah 5.097 kelahiran bayi, sedikitnya 57 diantaranya meninggal dunia atau 1,13% per 1000 KH, pada tahun 2006 sebanyak 27 bayi yang dilahirkan meninggal, tahun 2007 Sebanyak 44 bayi yang dilahirkan meninggal, tahun 2008 meningkat 84 bayi Faktor yang menyebabkan peningkatan kematian neonatal kelompok umur 0-7 hari terrtinggi adalah premature dan BBLR (35%), Kemudian Asfiksia (33,6%) yang secara tidak langsung paling banyak disebabkan hipotermi dan bilirubin tinggi dengan komplikasi pneumoni, pendarahan intrakanial dan hipoglikemia. Sedangkan penyakit penyebab kematian neonatal kelompok umur 8-28 hari, tertinggi adalah infeksi (57,1%) (termasuk tetanus sepsis, pneumoni, diare) kemudian feeding problem. (titin@litbang,depkes.go.id,2009)
Data yang diperoleh dari RSAB Muslimat  Jombang  pada tahun 2008 bayi lahir dengan BBLR dan mengalami hipotermi sebanyak 152 dari 1.075 kelahiran bayi, tahun 2009 meningkat menjadi 157 bayi lahir dengan BBLR   dan mengalami hipotermi dari 1.051 kelahiran bayi.
Berdasarkan study pendahuluan di RSAB Muslimat Jombang secara penyebaran kuesioner dari 10 ibu nifas primi para didapatkan bahwa 80% responden tingkat pengetahuannya kurang tentang perawatan BBL dan hipotermi, dan 20% responden tingkat pengetahuannya baik tentang perawatan BBL dan hipotermi.
Kondisi yang seperti ini Petugas kesehatan terutama bidan sangat penting, untuk memberikan informasi yang lengkap, jelas, dan berkelanjutan tentang perawatan bayi baru lahir agar tetap hangat dan kering,  dengan informasi tersebut para ibu dan juga keluarga bisa melakukan perawatan pada bayi baru lahir dengan benar, sehingga bisa meningkatkan kesehatan pada bayi dan bisa menurunkan angka kematian bayi. informasi ini tidak hanya diberikan pada ibu nifas saja tetapi harus melibatkan suami, keluarga, kader, dukun bayi dan petugas kesehatan yang tepat untuk menyampaikan pesan-pesan menjaga kehangatan bayi.
Menurut uraian di atas maka peneliti berminat untuk meneliti  “Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Nifas Paritas I Tentang Peranan Perawatan Bayi Baru Lahir Dengan Kejadian Hipotermi” 


1.2    Rumusan Masalah
1.2.1        Bagaimana tingkat pengetahuan ibu nifas paritas I tentang peranan perawatan bayi baru lahir di RSAB Muslimat jombang 2010?
1.2.2        Bagaimana kejadian  hipotermi di RSAB Muslimat Jombang 2010?
1.2.3        Adakah hubungan antara tingkat pengetahuan ibu nifas paritas I tentang peranan perawatan bayi baru lahir dengan kejadian hipotermi di RSAB Muslimat Jombang 2010?

1.3    Tujuan Penelitian
1.3.1        Tujuan Umum
Mengetahui tingkat pengetahuan ibu nifas paritas I tentang peranan perawatan bayi baru lahir dengan kejadian hipotermi di RSAB Muslimat Jombang
1.3.2        Tujuan Khusus
1.3.2.1  Mengidentifikasi tingkat pengetahuan ibu nifas paritas I tentang peranan perawatan bayi baru lahir di RSAB Muslimat Jombang
1.3.2.2  Mengidentifikasi kejadian  hipotermi di RSAB Muslimat Jombang.
1.3.2.3  Menganalisa hubungan tingkat pengetahuan ibu nifas paritas I tentang peranan perawatan bayi baru lahir terhadap kejadian hipotermi di RSAB Muslimat Jombang.

1.4    Manfaat Penelitian
1.4.1        Bagi Institusi Pendidikan
Berguna bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan sebagai tambahan pengetahuan serta informasi dan hasil penelitian ini dapat dikembangkan pada penelitian selanjutnya.
1.4.2        Bagi Peneliti
Dapat memperoleh pengalaman secara langsung sekaligus sebagai pegangan dalam menerapkan ilmu yang diperoleh selama ini, serta menambah wawasan tentang hubungan tingkat pengetahuan ibu Nifas paritas I tentang peranan perawatan bayi baru lahir terhadap kejadian hipotermi.
1.4.3        Bagi Tempat Penelitian
Diharapkan dapat dijadikan masukan, bisa diterapkan bagi RS sehingga petugas kesehatan lebih kompeten dalam menangani bayi baru lahir dengan cara mengikuti pelatihan dan bisa meningkatkan pengetahuan ibu nifas khusunya primipara dalam  hal perawatan bayi baru lahir.

1.5    Hipotesis
H1    : Ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu nifas paritas I tentang peranan perawatan bayi baru lahir dengan kejadian hipotermi.


1.6    Sistematika Penulisan
BAB I      : PENDAHULUAN
Meliputi : Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian,Sistematika Penelitian, hipotesis
BAB II    : TINJAUAN PUSTAKA
Meliputi : Konsep Pengetahuan, Konsep nifas, Konsep paritas, konsep bayi baru lahir, konsep hipotermi, konsep hubungan tingkat pengetahuan dengan kejadian hipotermi, Kerangka Konseptual
BAB III   : METODE PENELITIAN
Meliputi : Desain penelitian, Populasi, Sample dan Sampling, Identifikasi Variabel, Definisi Operasional, Lokasi, dan Waktu Penelitian, Pengumpulan Data dan analisa Data, Teknik Pengolahan Data, Instrumen, Etika Penelitian, Keterbatasan
BAB IV    : HASIL PENELITIAN  DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian, Pembahasan.
BAB V     : PENUTUP
Kesimpulan dan Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1      Konsep Dasar Pengetahuan
2.1.1        Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap sesuatu obyek tertentu (Notoatmodjo, 2003 : hal 3).
2.1.2        Tingkatan Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2002) pengetahuan mempunyai 6 tingkatan, yaitu :
2.1.2.1  Tahu (Know)
Tahu merupakan mengingatkan kembali (recall) terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh badan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Orang tahu yang dipelajari bila mampu menyebutkan, menguraikan, mengidentifikasikan dan sebagainya.
2.1.2.2  Memahami (Comprehention)
Memahami diartikan sebagai sesuatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham harus dapat menjelaskan, menyimpulkan, meramalkan terhadap obyek yang dipelajari.

2.1.2.3  Aplikasi (Application)
Aplikasi adalah kemampuan menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi nyata. Aplikasi dapat diartikan sebagai penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya.
2.1.2.4  Analisis (Analysis)
Suatu kemampuan menjabarkan materi atau kedalam komponen-komponen tetapi masih dalam struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu dengan yang lain. Kemampuan analisis ini dapat diteliti dari penggantian kata seperti dapat menggambarkan (menurut bagian), membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.
2.1.2.5  Sintesis (Syntesis)
Menunjukkan kepada suatu komponen untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Merupakan kemampuan menyusun, merencanakan, meringkaskan dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang ada.
2.1.2.6  Evaluasi (Evalution)
Berkaitan dengan kemampuan melakukan justifikasi atau penelitian terhadap suatu materi atau obyek. Evaluasi meliputi kata kerja, membandingkan, menanggapi dan menafsirkan (Notoadmodjo, 2003 : hal 83-84).

2.1.3        Cara Memperoleh Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2003) pengetahuan sepanjang sejarah dapat dikelompokkan menjadi 2 berdasarkan cara yang telah digunakan untuk memperoleh kebenaran yaitu :
2.1.3.1  Cara Tradisional atau Non Ilmiah
Cara kuno atau tradisional ini dipakai orang untuk memperoleh kebenaran pengetahuan, sebelum ditemukannya metode ilmiah atau metode penemuan secara sistematis atau logis. Cara-cara penemuan pengetahuan pada periode ini antara lain meliputi :
2.1.3.2  Cara Coba-Coba Salah (Trial and Error)
Cara paling tradisional yang pernah digunakan manusia dalam memperoleh pengetahuan adalah melalui cara coba-coba atau dengan kata yang lebih dikenal “Trial and Error”. Cara ini telah dipakai orang sebelum adanya kebudayaan dan bahkan sebelum adanya peradaban. Pada waktu itu seseorang apabila menghadapi persoalan atau masalah upaya pemecahannya dilakukan dengan cara coba-coba saja. Cara ini dilakukan dengan menggunakan metode kemungkinan dalam memecahkan masalah dan apabila kemungkinan tidak berhasil, dicoba kemungkinan yang lain. Apabila kemungkinan kedua ini gagal pula maka dicoba kembali dengan kemungkinan ketiga gagal dicoba kemungkinan keempat dan seterusnya, sampai masalah ini terpecahkan. Itulah sebabnya maka cara-cara ini disebut metode coba-salah / coba-coba (Notoadmodjo, 2003:hal 11-12).

2.1.3.3  Cara Kekuasaan atau Otoriter
Dalam kehidupan manusia sehari-hari, banyak sekali kebiasaan-kebiasaan atau tradisi-tradisi yang dilakukan orang tua tanpa melalui penalaran apakah yang dilakukan itu baik atau tidak. Kebiasaan ini biasanya diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi berikutnya. Misalnya mengapa harus ada upacara selapanan dan turun tanah pada bayi, mengapa ibu menyusui harus minum jamu, mengapa anak tidak boleh makan telur dan sebagainya. Kebiasaan seperti ini tidak hanya terjadi pada masyarakat tradisional saja, melainkan juga terjadi pada masyarakat modern.
Sumber pengetahuan tersebut dapat berupa pemimpin-pemimpin masyarakat baik formal maupun informal, ahli agama, pemegang pemerintah, prinsip ini adalah orang lain menerima pendapat yang dikemukakan oleh orang yang punya otoriter, tanpa terlebih dahulu membuktikan kebenarannya, baik berdasarkan fakta empiris maupun berdasarkan masa lalu.   
2.1.3.4  Berdasarkan Pengalaman Pribadi
Pengalaman pribadi dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapkan pada masa lalu.

2.1.3.5  Melalui Jalan Pikiran
Dalam memperoleh kebenaran pengetahuan manusia telah menggunakan jalan pikiran, baik melalui induksi maupun deduksi. Apabila proses pembuatan kesimpulan itu melalui penyataan-pernyataan khusus kepada yang umum dinamakan insuksi, sedangkan deduksi adalah pembuatan kesimpulan dari pernyataan-pernyataan umum kepada yang khusus.
2.1.3.6  Cara Modern dalam Memperoleh Pengetahuan.
Cara ini disebut ‘metode penelitian ilmiah” atau lebih populer disebut metode penelitian. Cara ini mula-mula dikembangkan oleh Franseus bacon (1561-1626) kemudian dikembangkan oleh Deobold van Dallien, yang akhirnya lahir suatu cara penelitian yang dewasa ini kita kenal sebagai metode penelitian ilmiah.
2.1.4        Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2003) faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan adalah :
2.1.4.1  Usia
Dengan bertambahnya usia maka tingkat perkembangan akan berkembang sesuai pengetahuan yang pernah didapat juga dari pengalaman sendiri.

2.1.4.2  Pendidikan
Tingkat pendidikan seseorang sangat besar berpengaruh terhadap pengetahuan. Seseorang yang berpendidikan tinggi pengetahuannya akan berbeda dengan orang yang berpendidikan rendah.
2.1.4.3  Lingkungan.
Seseorang yang hidup dalam lingkungan yang berpikiran luas maka pengetahuannya akan lebih baik dari pada orang yang hidup di lingkungan yang berpikiran sempit.
2.1.4.4  Intelegensi
Pengetahuan yang dipengaruhi oleh intelegensia adalah pengetahuan intelegen dimana seseorang dapat bertindak cepat, tepat dan mudah dalam mengambil keputusan. Seseorang yang mempunyai intelegensia yang rendah akan bertingkah laku lambat dalam pengambilan keputusan.
2.1.4.5  Pekerjaan
Seseorang yang bekerja, pengetahuannya akan lebih luas dibanding dengan seseorang yang tidak bekerja karena dengan bekerja seseorang akan mempunyai banyak informasi dan pengalaman.
2.1.4.6  Minat
Minat diartikan sebagai sesuatu kecenderungan atau keinginan yang tinggi terhadap sesuatu dengan adanya pengetahuan yang tinggi didukung dengan minat yang cukup seseorang sangatlah mungkin akan mendorong seseorang tersebut berperilaku sesuai dengan apa yang diharapkan (Saifudin Azwar, 2002: 42).
2.1.4.7  Pengalaman
Tidak adanya pengalaman sama sekali dengan suatu obyek psikologis cenderung akan membentuk sikap negative terhadap obyek tersebut. Untuk dapat menjadi dasar pembentuk sikap, pengalamn pribadi haruslah meningkatkan kesan yang kuat (Saifudin azwar, 2002 : 42).
2.1.4.8  Informasi
Informasi merupakan keseluruhan makna dapat diartikan sebagai pemberitahuan seseorang adanya informasi baru mengenai suatu hal memberi landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. Pesan-pesan sugesti dibawa oleh informasi tersebut. Apabila cukup bertahan memberi dasar efektifitas dalam menilai sesuatu hal sehingga terbentuknya arah sikap tertentu. Pendekatan ini biasanya digunakan untuk menggugah kesadaran masyarakat terhadap suatu inovasi yang berpengaruh terhadap perubahan perilaku biasanya menggunakan media massa (Saifuddin Azwar, 2002 : 43).

2.2      Konsep Dasar Nifas
2.2.1         Pengertian
Nifas atau puerperium adalah periode waktu atau masa dimana organ-organ reproduktif kembali kepada keadaan tidak hamil. Masa ini membutuhkan waktu 6 minggu. Proses perubahan pada organ-organ reprodukif disebut involusi (Sarwono Prawirohardjo, 2006 : 237).
Masa nifas dimulai setelah kelahiran placenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung 6 – 8 minggu (40 hari).
Pada masa ini terjadi perubahan fisiologis yaitu :
1.      Perubahan fisik.
2.      Involusi
3.      Laktasi / pengeluaran ASI.
4.      Perubahan sistem tubuh lainnya.
5.      Perubahan psikis.
Tujuan asuhan masa nifas :
1.      Menjaga kesehatan ibu dan bayinya baik fisik  maupun psikologi.
2.      Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah, mengobati  atau merujuk apabila terjadi komplikasi terhadap ibu dan bayinya.
3.      Pemberian pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan dan nutrisi, KB, menyusui, pemberian imunisasi, kepada bayinya dan perawatan bayi sehat.
4.      Memberikan pelayanan KB.
Nifas dibagi dalam 3 periode, yaitu :
1.      Puerperium dini.
Yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan dalam agama islam dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.
2.      Puerperium intermedial
Yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6 – 8 minggu.
3.      Remote puerperium
Yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. (sarwono prawirohardjo,2006)
2.2.2        Perwatan Pasca Persalinan
a.       Mobilisasi
Karena letih sehabis bersalin ibu harus istirahat, tidur terlentang ± 8 jam dan apabila ibu sudah mampu segera dilakukan mobilisasi dini, pasca persalinan
b.      Diet
Makanan harus bermutu, bergizi dan cukup kalori sebaiknya makanan yang mengandung protein, banyak minum, sayur dan buah.
c.       Miksi
Hendaknya kencing dapat dilakukan sendiri secepatnya.
d.      Defeksi
BAB harus dilakukan 3 – 4 hari pasca persalinan bila sulit BAB dan terjadi obstipasi apalagi berak keras dapat diberikan obat laksant per oral / perectal bila masih belum baik dilakukan klisma.

e.       Perawatan payudara
Hendaknya dimulai sejak wanita hamil supaya puting susu lemas, tidak  keras sebagai persiapan menyusui bayinya.
f.       Laktasi
g.      Cuti hamil dan bersalin
h.      Perawatan pasca persalinan
2.2.3        Involusi Alat-Alat Genetalia
a.       Uterus secara berangsur-angsur menjadi kecil (involusi) sehingga akhirnya kembali seperti sebelum hamil.
Tabel 2.1    : Tinggi Fundus Dan Berat Uterus Menurut Masa Involusi
Involusi
Tinggi Fundus Uteri
Berat Uterus
Bayi lahir
Uri lahir
1 minggu
2 minggu
6 minggu
8 minggu
Setinggi pst
1 jr bawah pst
pertengahan pst sympisis
tidak diraba diatas sympisis
bertambah kecil
sebesar kecil
1.000 gram
700 gram
500 gram
350 gram
50 gram
30 gram

b.      Bekas implantasi uri plasenta terasa mengecil karena kontraksi dan menonjol ke kavum uteri dengan diameter 7,5 sesudah 2 minggu menjadi 3,5 cm pada minggu ke-6 24 cm dsan akhirnya pulih.
c.       Luka-luka pada jalan lahir bila tidak disertai dakan sembuh dalam 6 – 7 hari.
d.      Rasa sakit yang disertai rasa panas (mules-mules) disebabkan kontraksi rahim biasanya berlangsung 2 – 4 hari pasca persalinan.
e.       Lochea adalah cairan secret yang berasal dari kavum uteri dan vagina dalam masa nifas :
1.      Lochea rubra, berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban dan sel-sel desidua.
2.      Lochea sangulenta, berwarna merah kuning bersisi darah dan lendir hari ke 3 – 7 pasca persalinan.
3.      Lochea serosa berwarna kuning, cairan tidak berdarah lagi hari ke 7 – 14 pasca persalinan.
4.      Lochea alba airan putih selama 2 minggu.
5.      Lochea purulenta terjadi infeksi, keluar darah seperti mnanah berbau busuk.
6.      Locheostatis, lochea yang tidak lancar keluarnya.
f.       Serviks setelah persalinan bentuk serviks agak menganga seperti corong berwarna merah kehitaman, konsistensinya lunak kadang-kadang terdapat perlukaan-perlukaan kecil setelah bayi lahir tangan masih bisa masuk rongga rahim. Setelah 2 jam dapat dilalui 2 – 3 jari dan setelah 7 hari hanya dapat dilalui 1 jari.
g.      Ligament-ligament fasia dan diafragma pelvis yang merenggang pada waktu dan pulih kembali sehingga tidak jarang uterus jatuh kebelakang dan menjadi retrofleksi. Karena ligamentum rotundum menjadi kendor (Sarwono Prwirohardjo, 2006 : 238).
2.2.4        Tanda Bahaya Masa Nifas
a.       Perdarahan hebat yang tiba-tiba meningkat dari vulva.
b.      Pengeluaran dari vagina yang berbau busuk.
c.       Rasa nyeri dibagian bawah abdomen.
d.      Rasa sakit kepala terus menerus, nyeri epigatrium.
e.       Pembengkakan di lengan.
f.       Demam, muntah, sakit ketika BAB.
g.      Payudara tampak merah, panas dan nyeri.
h.      Kehilangan nafsu makan untuk jangka yang terlalu lama.
i.        Rasa nyeri, warna merah, lembek dan banyak pada kaki.
j.        Merasa sangat letih atau sesak nafas.
2.2.5        Tingkatkan Psikologi Ibu Post Partum
Tahap I : Ketergantungan (Talking In) menerima
a.      Pada hari ke – 2
b.     Membutuhkan perlindungan dan pelayanan
c.      Membutuhkan perlindungan dan pelayanan
d.     Fokus energi pada bayi baru
e.      Selalu membicarakan pengalaman melahirkan berulang-ulang.
Tahap II : Ketergantungan ketidaktergantungan (Talking Hold)
a.       Hari ke 3 – 4
b.      Energi ibu meningkat.
c.       Lebih nyaman
d.      ASI keluar
e.       Fokus pada diri sendiri dan bayinya.
f.       Mempunyai inisiatif untuk merawat diri sendiri dan merawat bayinya.
g.      Saat tepat pemberian penyuluhan kesehatan.

Tahap III : Letting go → peran baru
a.       Tubuh telah sembuh.
b.      Siap menerima tanggung jawab.
c.       Ibu merasa bayinya sudash terpisah dari dirinya. (halen varney, 2007)
2.2.6        Periode Post Partum
Periode post partum adalah waktu penyembuhan dan perubahan waktu kembali pada keadaan tidak hamil dan penyesuain terhadap penambahan keluarga baru walaupun tubuh terus mengamati perubahan seperti pemulihan setelah melahirkan anak, asuhan keperawatan dibagi dalam tiga periode :
1.      Kritis 2 sampai 4 jam segera setelah lahir.
2.      Tiga hari berikutya
3.      4 sampai 6 minggu berikutnya. Sekarang ibu dan bayi yang sehat biasanya meninggalkan fasilitas perawatan akut terkadang selama 3 hari setelah melahirkan.
Selama persalinan kala empat bahaya utama pada ibu adalah hemoragi keamanan ibu tergantung pada pengkajian yang sering dan waktu interensi dari perawat yang siaga.
2.2.7        Tujuan Asuhan Kebidanan
Tujuan asuhan keperawatan selama persalinan kala IV ini adalah untuk :
a.       Mencegah hemoragi.
b.      Memberikan kenyamanan fisik, nutrisi, hidrasi, keamanan dan eliminasi.
c.       Memberikan dorongan pada ibu dan keluarga untuk mulai mengintegrasikan proses kelahiran menjadi pengalaman hidup mereka.
d.      Memelihara proses pendekatan / kedekatan dengan neonatus. (sarwono prawirohardjo, 2006)

2.3      Konsep Dasar Paritas
Paritas adalah jumlah kehamilan yang menghasilkan janin hidup, bukan jumlah janin yang di lahirkan, janin yang lahir hidup atau mati setelah veabilitas di capai, tidak mempengaruhi prioritas (Bobak, 2004).

2.4      Konsep Dasar Bayi Baru Lahir
2.4.1        Pengertian Asuhan Bayi Baru Lahir
Adalah Asuhan yang diberikan pada bayi baru lahir tersebut selama jam pertama setelah kelahiran, sebagian besar bayi yang baru lahir akan menunjukkan usaha nafas spontan dengan sedikit bantuan atau gangguan (Sarwono Prawirohardjo, 2002).
Penanganan dilakukan sejak kepala mulai keluar dari jalan lahir, yaitu dengan melakukan pembersihan lendir serta cairan yang berada di sekitar mulut dan hidung dengan kapas dan kain kasa steril, bayi sehat akan menangis dalam 30 detik, tidak perlu dilakukan apa-apa lagi, karena bayi sudah napas spontan dan warna kulitnya kemerah-merahan.

2.4.2        Ciri-Ciri Bayi Baru Lahir Normal
a.       Menangis kuat
b.      Frekuensi nadi > 100
c.       Warna kulit kemerah-merahan
2.4.3        Penatalaksanaan Awal Bayi Baru Lahir
2.4.3.1  Persalinan bersih dan aman
Adalah menyediakan perlengkapan alat-alat di kamar bersalin diantaranya adalah :
a.       Alat penghisap lendir (mucus Extractor)
b.      Tabung oksigen dengan alat pemberi oksigen
c.       Alat pemotong dan pengikat tali pusat
d.      Tanda pengenal bayi
e.       Tempat tidur bayi atau incubator dengan keadaan hangat dan steril
f.       Lain-lain : kasa,baju steril, serta obat anti septik
g.      Termometer dan stopwatc
h.      Tempat  atau ruang dalam keadaan hangat dan terang
2.4.3.2  Membersihkan jalan napas
Bayi normal akan menangis spontan segara setelah lahir, apabila tidak langsung menangis penolong segera membersihkan jalan napas dengan cara:
a.       Letakkan bayi pada posisi terlentang ditempat yang keras dan hangat
b.      Gulung sepotong kain dan leyakkan dibawah bahu sehingga leher bayi lebih lurus dan kepala tidak menekuk, posisi kepala diatas lurus
c.       Bersihkan hidung, rongga mulut dan tenggorokan bayi dengan jari tengah yang dibungkus dengan kasa steril.
2.4.3.3  Klem dan potong tali pusat
a.       Klem tali pusat diantarnya kedua klem, pada titik kira-kira 2 cm dan 3 cm dari pangkal pusat bayi
b.      Potong tali pusat diantaranya kedua klem sambil melindungi bayi dari gunting dengan tangan kiri
c.       Pertahankan kebersihan pada saat memotong tali pusat,ganti sarung tangan bila sudah kotor, potong tali pusat dengan gunting steril
d.      Periksa tali pusat setiap 15 menit apabila masih terjadi perdarahan, lakukan pengikatan tali pusat ulang yang lebih ketat
2.4.3.4  Jaga bayi agar tetap hangat
a.       Pastikan bayi tersebut tetap hangat dan terjadi kontak antara kulit bayi dengan kulit ibunya
b.      Ganti handuk atau kain yang basah dan bungkus bayi tersebut dengan selimut, memastikan kepala terlindungi dengan baik untuk mencegah keluarnya panas tubuh dingin.
c.       Memastikan bayi tetap hangat dengan memeriksakan telapak kaki bayi setiap 15 menit
d.      Apabila kaki bayi dingin, cek suhu aksila
e.       Apabila suhu < 36,5 C, segera hangatkan bayi


2.4.3.5  Kontak dini dengan ibu
a.       Berikan bayi kepada ibu secepat mungkin, kontak dini antara ibu dan bayi penting, untuk :
1.      Kehangatan
2.      Ikatan batin (bonding attachment) dan pemberian asi
b.      Dorong ibu untuk menyusui bayinya apabila telah siap
c.       Bayi normal sudah dapat di susui segera sesudah lahir
d.      Pada hari ke 3 bayi sudah bisa menysu 10 menit
2.4.3.6  Pernapasan
a.       Periksa pernapasan dan warna kulit bayi setiap 5 menit
b.      Jika tidak segera nafas, lakukan hal-hal berikut
1.      Keringkan bayi dengan selimut atau handuk yang hangat
2.      Gosok punggung bayi dengan lembut
c.       Jika bayi tidak nafas setelah 60 menit mulai resusitasi
2.4.3.7  Perawatan Mata
a.       Obat mata entromisin 0,5% atau tetrasiklin 1% dianjurkan untuk  mencegah penyakit mata karna klamidia
b.      Perawatan mata harus dianjurkan segera
2.4.3.8  Apgar Skor
A = apperence   :  Warna kulit
P = pulse           :  Detak jantung
G = grimace      :  Reflek
A = Activity     :  (tonus otot) aktifitas
R =Respiratori  :  Pernafasan
2.4.4        Asuhan Bayi Baru Lahir
Dalam waktu 24 jam, bila bayi tidak mengalami masalah apapun berikan asuhan berikut:
a.       Lakukan perawatan tali pusat
1.      Pertahankan sisa tali pusat dalam keadaan terbuka agar terkena udara dan tutupi dengan kain bersih secara longgar
2.      Lipat popok dibawah sisa tali pusat
3.      Jika tali pusat terkena kotoran atau tinja, cuci dengan sabun dan air bersih dan keringkan
b.      Dalam waktu 24 jam sebelum ibu dan bayi pulang, berikan imunisasi BCG, Polio oral, dan Hb
c.       Ajarkan tanda-tanda bahaya pada orang tua dan beritahu agar merujuk apabila ada tanda-tanda tersebut
d.      Ajarkan pada orang tua cara merawat bayi dan perawatan harian untuk bayi baru lahir :
1.      Beri ASI sesuai dengan kebutuhan setiap 2 – 3 jam
2.      Pertahankan agar bayi slalu bersama ibu
3.      Jaga bayi dalam keadaan bersih, hangat dan kering dengan mengganti popok dan selimut sesuai dengan keperluan
4.      Jaga tali pusat dalam keadaan bersih dan kering
5.      Awasi masalah dan kesulitan pada bayi dan minta bantuan jika perlu
6.      Ukur suhu bayi jika tampak sakit atau menyusu kurang baik.
2.4.5        Tanda-tanda Bahaya Pada Bayi Baru Lahir
a.       Pernafasan sulit atau lebih dari 60x/menit
b.      Kehangatan terlalu panas suhu > 38  atau terlalu dingin suhu < 36
c.       Warna kuning(pada 24 jam pertama)biru,pucat atau memar
d.      Pemberian makan hisapan lemah, mengantuk berlebihan, banyak muntah
e.       Tali pusat merah, bengkak, keluar cairan, bau busuk, berdarah
f.       Infeksi, suhu meningkat, merah, bengkak, keluar cairan(nanah), bau busuk, pernafasan sulit
g.      Tinja / kemih, tidak berkemih dalam 24 jam, tinja lembek, hijau tua ada lendir atau darah pada tinja
h.      Aktifitas menggigil, atau nangis tidak biasa, sangat mudah tersinggung, lemas, terlalu mengantuk, lunglai, kejang, tidak bisa tenang, menangis terus menerus. (sarwono prawirohardjo, 2002)
IMAGE0021
IMAGE0021
IMAGE0022
IMAGE0022
Gambar 2.1    Cara Memandikan Bayi Yang Benar
IMAGE0023
Gambar 2.2    Cara Menutup Kepala Bayi Dengan Handuk Supaya Bayi Tetap Hangat

IMAGE0018
Gambar 2.3    Cara Memakaikan Popok Dengan Menggunakan Kain Segi Empat

IMAGE0019          IMAGE0019
                         1                                                    2
IMAGE0019              IMAGE0019
                         3                                                    4
IMAGE0019           IMAGE0019
                         5                                                    6
Gambar 2.4    Cara Memakaikan Popok Dengan Menggunakan Kain Segi Tiga
IMAGE0028
1        2
IMAGE0028
                         3                                                4
Gambar 2.5    Cara Memakaikan Baju
2
 
1
 
IMAGE0025

 
IMAGE0026IMAGE0026
3
 
4
 
 

5
 
IMAGE0026


Gambar 2.6    Cara Membedong Bayi


2.5      Konsep Hipotermi
2.5.1        Pengetian Hipotermi
            Adalah suatu keadaan dimana suhu tubuh bayi kurang dari 36,5 C (Manuaba, 2009:142)
2.5.2        Kategori Hipotermi
a.       Hipotermi sedang (suhu tubuh 32 c – 36,4 c)
Tanda-tanda hipotermi sedang
1.      Gangguan nafas
2.      Denyut jantung kurang dari 100x/menit
3.      Malas minum
4.      Letargi
5.      Kaki teraba dingin
b.      Hipotermi berat
Tanda-tanda hipotermi berat
1.      Tanda lain hipotermi berat
2.      Kulit teraba keras
3.      Nafas pelan dan dalam
2.5.3        Penyebab
a.       Asuhan BBL yang kurang tepat
b.      Pada 10 – 20 menit setelah kelahiran, basah karena cairan ketuban, memandikan bayi baru lahir kurang dari 6 jam
c.       Ketidak mampuan menghasilkan panas yang cukup untuk mengimbangi hilangnya panas saat persalinan
d.      Luas permukaan yang besar dibanding tubuhnya yang kecil, serta kepala secara proporsional lebih besar
e.       Kepala tidak ditutupi, merupakan 75% dari kehilangan panas tubuh
f.       BBLR (2500g) dan prematur, lemak dalam tubuh tidak cukup serta kemampuan tidak ada untuk mengendalikan suhu
2.5.4        Faktor Risiko
a.       BBL yang menderita hipotermia segera setelah lahir, akan lebih mungkin terus mengalami hipotermi selama 24 jam berikutnya
b.      BBL yang mengalami asfiksia
c.       BBLR
d.      Pengguna anastesi / analgesic selama persalinan
e.       Infeksi atau penyakit bayi lainnya
f.       Langkah-langkah yang tidak memadaiuntuk menjaga agar bayi tetap hangat, sebelum dan selama transportasi
2.5.5        Kondisi-kondisi Yang Memperparah Hipotermi
a.       Ruang persalinan yang ber AC
b.      Pengerikan tubuh bayi yang tidak sempurna
c.       Penyelimutan yang tidak baik atau dengan kain yang lembab
d.      Kepala bayi tidak ditutupi
e.       Memandikan bayi terlalu pagi
f.       Lingkungan yang dingin dar ber AC

2.5.6        Dampak Dari Hipotermi
a.       Hipoglikemia
b.      Asidosis metabolic
c.       Gawat nafas
d.      Penggumpalan darah abnormal
e.       Resiko tinggi infeksi
f.       Kematian
2.5.7        Penatalaksanaan
a.       Penghangatan secepat mungkin
b.      Suhu rusngan minimal 25 c
c.       Pakaian dingin disingkirkan dan diganti dengan pakaian setelah dihangatkan
d.      Kepala bayi dikenakan topi
e.       Jika memggunakan alat pemanas, bayi harus diberi pakaian dan suhu harus dicek secara berulang-ulang
f.       Penting ! untuk terus memberi makan bayi untuk memberikan kalori dan cairan. ( manuaba dkk, 2009 : 142)
IMAGE0014                                        IMAGE0015
Gambar 2.6    Inkubator                      Gambar 2.7   Pemancar Panas

2.6      Konsep Hubungan Tingkat Pengetahuan ibu nifas paritas I Tentang Peranan Perawatan Bayi Baru Lahir Dengan Kejadian Hipotermi
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini tejadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap sesuatu objek tertentu, penginderaan terjadi melalui panca indra manusia, yakni penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba, sebagian besar pengetahuan diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmojo,2003 : hal 3).
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang antara lain usia, pendidikan, lingkungan, intelegensi, pekerjaan, minat, pengalaman, dan informasi.
Hipotermi merupakan salah satu penyebab tersering dari kematian pada bayi baru lahir, seorang bayi cukup bulan dalam keadaan kesehatan yang baik sekalipun dapat mengalami hipotermi.
Terjadinya hipotermi pada bayi disebabkan oleh kebiasaan atau perilaku yang salah dalam perawatan BBL. Perawatan yang salah terhadap bayi bisa menyebabkan dampak negatif  bagi bayinya, khususnya calon ibu yang memiliki anak pertamanya mereka perlu memiliki pengetahuan tentang cara merawat bayi.
Stlee dan Pollack (1968) menyatakan bahwa menjadi orang tua merupakan satu proses yang tediri dari 2 komponen, pertama bersifat praktis atau mekanis, melibatkan ketrampilan kognitif dan mekanik, komponen ke dua, bersifat emosional, melibatkan ketrampilan afektif dan kognitif. kedua komponen ini penting untuk keberadaan bayi.
Komponen pertama melibatkan aktivitas perawatan anak, seperti memberi makan, menggendong, mengenakan pakaian, membersihkan bayi, menjaganya dari bahaya, dan memungkinkannya untuk bisa bergerak. aktifitas yang berorientasi pada tugas ini atau ketrampilan kognitif-motorik tidak terlihat secara otomatis pada bayi baru lahir, kemampuan orang tua dalam hal ini dipengaruhi oleh pengalaman pribadinya dan budayanya. banyak orang tua harus belajar untuk melakukan tugas ini dan proses belajar ini mungkin akan sukar bagi mereka. akan tetapi hampir semua orang tua yang memiliki keinginan untuk belajar dan di bantu dukungan orang lain menjadi terbiasa dengan aktivitas merawat anak.
Komponen kedua  komponen psikologis dalam menjadi orang tua, sifat keibuan atau kebapakkan tampaknya berakar dari pengalaman orang tua di masa kecil saat mengalami dan menerima kasih sayang dari ibunya, dalam hal ini orang tua bisa dikatakan mewarisi kemampuan untuk menunjukkan perhatian dan kelembutan serta menyalurkan kemampuan ini kegenerasi berikutnya dengan meniru hubungan orang tua anak yang pernah di alaminya.
Semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang tentang perawatan bayi baru lahir, akan membuat seseorang semakin tahu tentang peranan perwatan bayi baru lahir dengan kejadian hipotermi.


2.7      Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual adalah abstraksi dari suatu relita agar dapat dikomunikasikan dan membentuk suatu yang menjelaskan keteriaktannya antar variabel (baik yang variabel yang diteli maupun tidak) (Nursalam, 2003 : 25).
 























Gambar 2.8   Kerangka Konseptual Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Nifas Paritas 1 Tentang Peranan Perawatan Bayi Baru Lahir Dengan Kejadian Hipotermi

Keterangan :
                        :    Diteliti.
                        :    Tidak diteliti.
Primi para        :    orang yang pertama melahirkan
Hipotermi        :    suhu  bayi kurang dari 36,5 c


Alur : Pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh beberapa factor, semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang tentang perawatan bayi baru lahir, akan membuat seseorang semkin tahu tentang peranan perawatan bayi baru lahir dengan terjadinya hipotermi.















BAB III
METODE PENELITIAN

Metode penelitian adalah suatu cara untuk memperoleh kebenaran ilmu pengetahuan atau pemecahan suatu masalah. Pada dasarnya menggunakan metode ilmiah (Notoatmojdo, 2005 : 19).
Metode penelitian ini terdiri dari desain penelitian, sampling desain, kriteria sample, identifikasi variabel, definisi operasional, lokasi waktu penulisan, pengumpulan data dan analisa data, teknik pengolahan data, alat ukur yang digunakan, etika penelitian, keterbatasan.

3.1    Desain Penelitian
Desain penelitian adalah merupakan hasil akhir dari suatu keputusan yang dibuat berhubungan dengan bagaimana suatu penelitian bisa diterapkan (Nursalam, 2003 : 80).
Jenis penelitian yang digunakan adalah peelitian analitik, penelitian analitik adalah suatu penelitian yang mencoba menggali bagaimana dan fenomena kesehatan itu terjadi, sedangkan rancangan yang digunakan adalah cross sectional, cross sectional adalah suatu penelitian untuk mempelajari dinamika kolerasi antara faktor-faktor risiko dengan efek.
 Dalam penelitian ini peneliti ingin mengetahui atau mengukur hubungan tingkat penetahuan ibu nifas paritas 1 tentang peranan perawatan bayi baru lahir terhadap kejadian hipotermi. Dalam penelitian ini menggunakan metode analitik dan menggunakan pendekatan Cross Sectional artinya setiap objek penelitian hanya berobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap status karakteristik atau variabel subyek pada saat pemeriksaan, pengumpulan data untuk jenis penelitian ini baik untuk variabel sebab (variabel independent) maupun variabel akibat (variabel dependent) dilakukan secara sekaligus.

3.2    Sampling Desain
3.2.1        Populasi
Populasi adalah setiap subyek yang telah memenuhi kriteria yang telah ditetapkan (Nursalam, 2003 : 93).
Populasi dalam penelitian ini kurang lebih 20 ibu nifas paritas I di RSAB Muslimat jombng.
3.2.2        Sampel
Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan obyek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2005 : 74).
Sampel yang diambil adalah kurang lebih 19 ibu nifas paritas I di RSAB Muslimat Jombang.
3.2.3        Sampling
Sampling adalah suatu cara atau teknik tertentu yang digunakan untuk pengambilan sampel, sehingga sampel tersebut sedapat mungkin mewakili populasi (Notoatmojdo, 2005 : 79).
Desain sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah  Probability Sampling dengan jenis simpel rondom sampling yaitu pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi (Notoatmojdo, 2005 : 79).
Untuk mengetahui populasi dalam penelitian ini melihat data sebelumnya karna populasi dalam penelitian ini populasi berjalan, kemudian menghitung sampel dan di undi dengan cara dilotre.

3.3    Kriteria Sampel
Kriteria sampel sangat membantu peneliti untuk mengurangi bias hasil penelitian, khusunya jika terdapat variabel-variabel  (kotor atau perancu) yang ternyata mempunyai pengaruh terhadap variabel yang kita teliti (Nursalam, 2008 : 92).
3.3.1        Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subyek penelitian dari suatu populasi target yang terjangkau yang akan diteliti (Nursalam, 2008 : 92).
Kriteria inklusi dari penelitian ini adalah :
a.       Ibu nifas paritas I  yang melahirkan dengan SC di RSAB Muslimat Jombang
b.      Ibu nifas paritas I yang bersedia diteliti
c.       Ibu nifas paritas  I yang bisa membaca dan menulis
3.3.2        Kriteria Eksklusi
Kriteria eksklusi adalah menghilangkan atau mengeluarkan subyek yang memenuhi kriteria inklusi dari berbagai sebab (Nursalam, 2008 : 92).
kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah :
a.       Ibu nifas paritas I di RSAB Muslimat Jombang  menolak untuk diteliti
b.      Ibu nifas yang melahirkan lebih dari 1x
3.4    Identifikasi Variabel
Variabel mengandung pengertian ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota-anggota suatu kelompok yang berbeda yang dimiliki oleh kelompok yang lain. (Notoatmojo, 2005 : 70).
3.4.1        Variabel Independent
Variabel independent adalah varibel yang nilainya menentukan variabel lain (Nursalam, 2008).
Dalam penelitian ini variabel independent adalah tingkat pengetahuan ibu nifas paritas 1 tentang perawatan bayi baru lahir.
3.4.2        Variabel Dependent
Variabel dependent adalah variabel yang nilainya ditentukan oleh variabel lain (Nursalam, 2008).
Dalam penelitian ini variabel dependent adalah kejadian hipotermi.

3.5    Definisi Operasional
Definisi operasinal adalah definisi berdasarkan karakteristik yang di amati dari sesuatu yang di definisikan tersebut (Nursalam, 2008).

Tabel 3.1   Definisi Operasional Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Nifas Paritas I Tentang Peranan Perawatan Bayi Baru Lahir Dengan Kejadian Hipotermi

Variabel
Definisi Operasional
Alat Ukur
Skala
Skor
 Independent
Tingkat Pengetahuan
Ibu nifas paritas I tentang peranan perawatan bayi baru lahir
Segala apa yang diketahui ibu nifas paritas I tentang peranan perawatan bayi baru lahir.
Kuesioner
Ordinal
Benar : 1
Salah : 0
 kemudian dimasukkan
-Tinggi 76- 100%
-Sedang 56-75%
-Rendah <56 o:p="">
Dependent :
Kejadian hipotermi
Suatu  Keadaan  dimana suhu tubuh bayi  dibawah normal
 (< 36,5 c) setelah dilakukan pemeriksaan dengan menggunakan termometer axial.
Termometer

interval
Hipotermi : (< 36,5 c)

Tidak hipotermi
(³ 36,5 c)

3.6    Lokasi Dan Waktu Penelitian
3.6.1        Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian dilaksanakan di RSAB Muslimat Jombang.
3.6.2        Waktu Penelitian
Waktu penelitian dilaksanakan mulai bulan Februari - Juni 2010. Pengambilan data dilakukan pada tanggal 08 – 15 Mei 2010.


3.7    Pengumpulan Data dan Analisa Data
3.7.1        Pengumpulan data
Pengumpulan data adalah suatu proses pendekatan pada subjek dan proses pengumpulan karakteristik subjek yang diperlukan dalam suatu penelitian (Nursalam, 2008).
Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan data primer dengan menggunakan kuesioner berstruktur dimana kuesioner dibuat sedemikian rupa sehingga responden hanya tinggal memilih dan menjawab pada jawaban yang sudah ada.
3.7.2        Analisa data
3.7.2.1  Analisa univariat
Analisa univariat adalah menganalisis tiap-tiap variabel penelitian yang ada secara deskriptif dengan menghitung distribusi frekuensi, variabel yang di analisis secara univariat adalah tingkat pengetahuan ibu nifas paritas 1 tentang peranan perawatan bbl.
Setelah dikumpulkan melalui angket kuesioner, dilakukan pemberian skor dalam penelitian dengan nilai jika benar 1 dan 0 jika salah, rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:
Keterangan :
N         : Nilai yang didapat
SP        : Skor yang didapat
SM      : Skor maksimum
Setelah sampai pada hasil prosentase, kemudian diinterpretasikan dengan kriteria kualitatif sebagai berikut:
a.       Bila hasil 76 – 100 %        : Tinggi
b.      Bila hasil 56 – 76 %          : Sedang
c.       Bila hasil < 56 %               : Rendah
Untuk menentukan prosentase frekuensi jawaban responden dengan cara membandingkan jumlah jawaban responden dari masing-masing pertanyaan dengan jumlah keseluruhan responden. Adapun rumusnya sebagai berikut 
Keteranagn:
P                      : Prosentase jawaban responden
            ƒ                      : Frekuensi jawaban responden
N                     : Jumlah responden
Dari hasil analisa data tersebut akan diinterpretasikan dengan skala :
a.       100 %        : Seluruhnya
b.      76 – 99 %  : Hampir Seluruhnya
c.       51 – 75 %  : Sebagian Besar
d.      50 %          : Setengahnyas
e.       26 – 49 %  : Hampir Setengahnya
f.       25 %          : Sebagian Kecil
g.      0 %            : Tidak Satupun
(Arikunto, 2006 : 266).
3.7.2.2  Anlisa bivariat
Analisa bivariat adalah dilakukan terhadap 2 variabel yang juga berhubungan atau berkolerasi.
Untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu nifas paritas 1 tentang peranan perawatan bayi baru lahir dengan kejadian hipotermi. menggunakan uji Spearman Rank dengan menggunakan program SPSS. Jika a < 0.05 maka H0 ditolak yang berarti H1 diterima yaitu ada hubungan yang bermakna antara variabel independent dengan variabel dependent, sebaliknya jika a > 0,05 Maka H0 diterima yang artinya tidak ada hubungan antara variabel independent dan variabel dependent.

3.8    Teknik Pengelolahan Data
Setelah data terkumpul selanjutnya dilakukan pengolahan data, kegiatan dalam pengolahan data meliputi :
3.8.1        Editing
Editing adalah memeriksa data yang telah dikumpulkan baik berupa daftar pertanyaan kultur atau buku register (Budiarto, 2001 : 24).
Dalam penelitian ini kegiatan editing yang dilakukan yaitu kuesioner yang telah terkumpul kemudian dihitung berapa banyak lembar pertanyaan yang telah diisi untuk mengetahui apakah sesuai dengan jumlah yang telah ditentukan. Lalu mengoreksi apakah semua pertanyaan telah diisi dan apakah jawaban sesuai dengan pertanyaan atau terdapat tulisan yang kurang jelas.

3.8.2        Coding
Coding adalah tahap dimana penelitian memberi kode pada setiap katagori yang dalam varibel (Budiarto, 2001 : 30).
Dalam penelitian ini setelah diklasfisikasi diberi kode :
            Pendidikan                  SD       = 1
                                                SMP    = 2
                                                SMA   = 3
                                                S1        = 4
3.8.3        Skoring
Diberikan skor pada setiap item lembar kuesioner dimana jika jawaban benar 1 dan jika salah nilainya 0 (Arikunto, 2006 : 236).
3.8.4        Tabulasi 
Tabulasi adalah peekerjaan menyusun tabel mulai dari penyusunan tabel utama yang berisi seluruh data atau informasi yang berhasil dikumpulkan dengan daftar pertanyaan sampai dengan tabel khusus yang telah benar-benar ditentukan betul dan isinya sesuai dengan tujuan penelitian, setelah terbentuk tulisan (Nursalam, 2003 : 94).
Dalam penelitian ini penyusunan data dengan bantuan komputer menggunakan SPSS.

3.9    Alat Ukur
Dalam penelitian ini alat ukur pengumpulan data menggunakan kuesioner tertutup dimana responden tinggal memilih jawaban yang telah disediakan
Adapun kuesioner adalah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang diketahui.
3.10 Etika Penelitian
Pelaksanaan penelitian ini harus ijin pada pihak yang terkait selain itu baru disebarkan pada responden yang akan diteliti dengan menekankan masalah etika yang diteliti meliputi :
3.10.1    Inform Consent (Lembar Persetujuan)
Lembar persetujuan yang diberikan pada subyek yang akan diteliti, peneliti menjelasakan maksud dan tujuan penelitian serta dampak yang mungkin terjadi selama dan sesudah pengumpulan data jika subyek menolak untuk diteliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati hak-haknya (Nursalam dan Pariani, 2001 : 172).
3.10.2    Anonimity (Tanpa Nama)
Untuk menjaga kerahasian responden peneliti tidak mencantumkan nama pada lembar pengumpulan data cukup dengan memberi nomer pada masing-masing lembar tersebut.
3.10.3    Confidentiality (Kerahasiaan)
Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh penulis hanya kelompok data tertentu saja yang akan dilaporkan sebagai hasil penelitian.

3.11 Keterbatasan
Keterbatasan merupakan kelemahan dan hambatan dalam penelitian, keterbatasan dalam penelitian yang dihadapi oleh peneliti adalah :
3.11.1    Keterbatasan Instrumen
Pengumpulan data menggunakan kuesioner atau angket memungkinkan responden menjawab pertanyaan dengan tidak jujur atau tidak mengerti pertanyaan yang dimaksud dan menimbulkan persepsi yang berbeda sehingga hasilnya kurang mewakili secara kualitatif.



















BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan diuraikan hasil penelitian yang dilaksanakan di RSAB Muslimat Jombang  dengan 21 responden. Hasil penelitian disajikan dalam dua bagian yaitu data umum dan data khusus. Dalam data umum dimuat dalam karakteristik responden berdasarkan umur, pendidikan, pekerjaan. Sedangkan data khusus terdiri dari tingkat pengetahuan ibu nifas  paritas 1 tentang peranan perawatan bayi baru lahir, kejadian hipotermi, hubungan pengetahuan ibu tentang peranan perawatan bayi baru lahir dengan kejadian hipotermi. Data – data tersebut dalam bentuk tabel.
4.1    Hasil Penelitian
4.1.1        Data Umum
4.1.1.1  Karakteristik responden berdasarkan umur
Tabel 4.1   Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur di RSAB Muslimat Jombang 2010

N
Umur
Frekuensi (f)
Persentase (%)
1.
2.
3.
< 20   tahun
20-30 tahun
> 30   tahun
2
18
1
9 %
86 %
5 %
Jumlah
          21
         100 %

Berdasarkan tabel 4.1 terlihat bahwa hampir seluruhnya responden berusia 20 – 30 tahun sebanyak 18 responden (86%).



4.1.1.2  Karakteristik responden berdasarkan pendidikan
Tabel 4.2   Distribusi frekuensi berdasarkan pendidikan responden di RSAB Muslimat Jombang

No
Pendidikan
Frekuensi (f)
Pementase (%)
1.
SD
1
5 %
2.
SLTP
6
28%
3.
SLTA
5
24 %
4.
Akademi/PT
9
43%
Jumlah
21
100 %

Berdasarkan tabel 4.2 di atas menunjukkan bahwa hampir setengahya pendidikan responden Pergurun Tinggi sebanyak 9 responden (43%).
4.1.1.3  Karakteristik responden berdasarkan pekerjaan
Tabel 4.3   Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pekerjaan Responden di RSAB Muslimat Jombang 2010

No
Pekerjaan
Frekuensi (f)
Persentase (%)
1.
Ibu rumah tangga
6
28%
2.
PNS
4
19 %
3.
Swasta
10
48 %
4.
Petani
1
5 %
Jumlah
21
100 %

Berdasarkan Tabel 4.3 diatas dapat menunjukkan bahwa Hampir setengahnya pekerjaan responden  swasta sebanyak 10 responden (71%).

4.1.2        Data Khusus
4.1.2.1  Karakteristik Tingkat pengetahuan ibu nifas paritas I tentang peranan perawatan bayi baru lahir
Tabel 4.4   Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pengetahuan Tentang Peranan Perawatan Bayi Baru Lahir di RSAB Muslimat Jombang 2010

No
Pengetahuan
Frekuensi (f)
Persentase (%)
1.
2.
3.
Baik
Cukup
Kurang
11
6
4
52 %
29 %
19 %
Jumlah
21
100 %

Berdasarkan Tabel 4.4 didapatkan bahwa  tingkat  pengetahuan ibu  tentang peranan perawatan bayi baru lahir sebagian besar  baik sebanyak 11 responden (52%).
4.1.2.2  Karakteristik kejadian hipotermi
Tabel 4.5   Distribusi Frekuensi Kejadian Hipotermi di RSAB Muslimat Jombang 2010

No
Kejadian hipotermi
Frekuensi (f)
Persentase (%)
1.
2.
Tidak Hipotermi
  Hipotermi
   17
    4
      81 %
      19 %
Jumlah
   21
100 %

Berdasarkan tabel 4.5 menunjukkan bahwa hampir seluruhnya bayi tidak mengalami hipotermi sebanyak 17 bayi (81%).





Tabel 4.6   Tabulasi Silang Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Nifas Paritas I Tentang Peranan Perawatan Bayi Baru Lahir Dengan Kejadian Hipotermi di RSAB Muslimat Jombang 2010

Dependen

Independen
Kejadian hipotermi
Total
Tidak Hipotermi
Hipotermi
Jml
%
Jml
%
Jml
%
Tingkat pengetahuan ibu nifas paritas I Tentang perawatan bayi baru lahir
Baik
11
52
0
0
11
52
Cukup
5
24
1
5
6
29
Kurang
1
5
3
14
4
19
Total
17
81
4
19
21
100

Berdasarkan tabel 4.6 sebagian besar responden tingkat pengetahuanya baik sebanyak 11 responden (52%), dari 21 responden di dapatkan 17 bayi yang  tidak  mengalami hipotermi (81%), dan 4 bayi mengalami Hipotermi (19 %).
Dari data tersebut dilakukan uji statistik SPSS spearman rank dengan tingkat kemaksimalan a < 0,05 menunjukkan nilai signifikan 0,002 yang berarti Ho ditolak artinya ada hubungan tingkat pengetahuan ibu nifas paritas I tentang peranan perawatan bayi baru lahir dengan kejadian hipotermi di RSAB Muslimat Jombang 2010. (hasil uji statistik Spearman’s Rank  lihat lampiran).

4.2    Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian hubungan tingkat pengetahuan ibu nifas paritas I tentang peranan perawatan bayi baru lahir dengan kajadian hipotermi di RSAB Muslimat Jombang, maka sesuai dengan tujuan penelitian yang telah diterapkan pada Bab I  Pada bab ini akan diuraikan pembahasan mengenai :
4.2.1        Pengetahuan Ibu Nifas Paritas I Tentang Peranan Perawatan Bayi Baru Lahir
Berdasarkan tabel 4.5 menunjukkan sebagian besar tingkat pengetahuan ibu baik. Menurut  Notoatmojo (2003), pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Tingkat pengetahuan ibu dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah faktor umur, pendidikan, pengalaman, pekerjaan dan informasi.
Pengetahuan ibu tentang perawatan bayi baru lahir baik. Hal ini karena dipengaruhi umur, pendidikan, dan pekerjaan, Usia adalah umur yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat ia akan berulang tahun. Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat yang lebih dewasa akan lebih dipercaya dari pada orang yang belum cukup tinggi tingkat kedewasaannya. Hal ini sebagai akibat dari pengalaman dan kematangan jiwanya.
Pengetahuan juga dipengaruhi oleh pendidikan, hampir setengahnya responden berpendidikan perguruan tinggi sebanyak 43%, tingginya pendidikan akan berpengaruh terhadap daya serap atau penerimaan perkembangan sikap seseorang terhadap nilai – nilai yang baru dikenal. Selain itu tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi pandanganya terhadap sesuatu yang datang dari luar. Orang yang mempunyai pendidikan tinggi akan memberikan tanggapan yang lebih rasional dibandingkan dengan orang yang berpendidikan rendah atau tidak berpendidikan sama sekali.
Bardasarkan hasil pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner terdapat kesamaan antara teori dan kanyataan bahwa pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain usia, pendidikan, dan pekerjaan, hal ini terbukti tingkat pendidikan ibu nifas paritas I Tentang perawatan bayi baru lahir baik karena dipengaruhi tingkat pendidikan yang tinggi yaitu PT, Usia yang cukup matang 20 – 30 tahun, pekerjaan sebagaian besar swasta, dan juga informasi yang didapat kebanyakan ibu sudah pernah mendapatkan informasi tentang perawatan bayi baru lahir.
4.2.2        Kejadian Hipotermi
Berdasarkan tabel 4.5 menunjukkan bahwa yang tidak mengalami hipotermi sebanyak 81%, menurut manuaba hilangnya panas tubuh disebabkan karena  4 hal, pertama bentuk radiasi (panas tubuh menghilang begitu kesekitarnya), kedua konveksi (hilangnya panas tubuh karena disekitarnya lebih dingin seperti kamar dengan AC), ketiga konduksi (hilangnya panas tubuh akibat bersentuhan dengan tubuh yang lebih dingin), keempat evaporasi (hilangnya panas tubuh karena penguapan air pada tubuh). Hipotermi terjadi karena perawatan bayi baru lahir yang salah, pengetahuan ibu nifas paritas I yaitu baik tentang perawatan bayi baru lahir agar tetap hangat dan kering. perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan bersifat langgeng (long lasting). Pengetahuan ibu tentang peranan perawatan bayi baru lahir yang baik akan memgakibatkan ibu berperilaku dengan benar dalam perawatan bayi baru lahir, sebaliknya pengetahuan ibu yang kurang menyebabkan ibu tidak dapat melakukan perawatan bayi baru lahir dengan benar.
Hal ini  dipengaruhi oleh pengetahuan ibu yang baik tentang perawatan bayi baru lahir agar tetap hangat dan kering.
Pekerjaan adalah serangkaian tugas atau kegiatan yang harus dilaksanakan atau diselesaikan oleh seseorang sesuai dengan jabatan atau profesi masing-masing. Status pekerjaan yang rendah sering mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang. Pekerjaan biasanya sebagai simbol status sosial di masyarakat (Notoatmojo,2003).
Pekerjaan responden mengidentifikasi pengetahuan responden, semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang tentang perawatan bayi baru lahir maka akan membuat seseorang berperilaku baik tentang perawatan bayi baru lahir, sebaliknya rendahnya pengetahuan seseorang tentang perawatan bayi baru lahir mengakibat tidak berperilaku baik dalam perawatan bayi baru lahir sehingga bayi mengalami hipotermi (suhu dibawah normal).

4.2.3        Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Nifas Paritas I Tentang Peranan Perawatan Bayi Baru Lahir Dengan Kejadian Hipotermi di RSAB Muslimat Jombang 2010
Berdasarkan tabel 4.6 ada hubungan tingkat pengetahuan ibu nifas paritas I Tentang peranan perawatan bayi baru lahir dengan kejadian hipotermi. Hal ini dipengaruhi oleh pengetahuan ibu tentang perawatan bayi baru lahir yang baik, tingginya pengetahuan dipengaruhi oleh tingkat pendidikan responden yang baik tentang cara perawatan bayi baru lahir, usia yang relatif matang, pekerjaan dan sudah pernah mendapat informasi tentang perawatan bayi baru lahir. Informasi dapat diperoleh dirumah, lembaga organisasi, media cetak dan tempat pelayanan kesehatan.
Pengetahuan yang baik tentang perawatan bayi baru lahir menyebab ibu memperhatikan perawatan bayi baru lahir yang benar, sebaliknya pengetahuan ibu yang kurang tentang perawatan bayi baru lahir cenderung tidak memperhatikan perawatan bayi baru lahir dengan benar. Peran petugas kesehatan terutama bidan sangat penting dalam perwatan bayi baru lahir  dan juga harus memberikan pendidikan pada ibu nifas baik dengan cara konseling cara perawatan bayi baru lahir yang benar agar bayi tetap hangat dan kering, sehingga ibu bisa melakukan perawatan bayi baru lahir yang benar dan bisa menurunkan kejadian hipotermi.




BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1  Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian di RSAB Muslimat Jombang tahun 2010 dapat disimpulkan bahwa :
1.      Pengetahuan ibu tentang perawatan bayi baru lahir adalah baik sebesar (52%)
2.      Kejadian hipotermi rendah sebesar (17%) hampir seluruhnya tidak mengalami hipotermi.
3.       Ada hubungan tingkat pengetahuan ibu nifas paritas I tentang peranan perawatan bayi baru lahir dengan kejadian hipotermi. Dengan tingkat kemaksimalan α < 0,05 menunjukkan nilai signifikan 0,002 yang berarti Ho ditolak.

5.2  Saran
5.2.1        Bagi Institusi Akademik
Institusi akademik diharapkan memberikan pendidikan yang lebih ekstensif kepada mahasiswa tentang perawatan bayi baru lahir sehingga mahasiswa dapat memberikan asuhan kepada bayi baru lahir dengan benar.


5.2.2        Bagi Peneliti Selanjutnya
Peneliti selanjutnya diharapkan meneliti hubungan lebih lanjut tentang faktor lain yang dapat menyebabkan hipotermi sehingga kejadian hipotermi dapat ditekan.
5.2.3        Bagi Tempat Penelitian
Tempat penalitian diharapkan dapat memberikan pendidikan dengan cara konseling kepada ibu nifas tentang perawatan bayi baru lahir agar tetap hangat dan kering.



























DAFTAR PUSTAKA

Alimul, Aziz. 2007. Metode Penelitian Keperawatan dan Analisa Data. Jakarta : Salemba Medika.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Bobak, Lowdermik, Jensen. 2004. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Jakarta : EGC.
Budiarto, Eko. 2002. Biostatistik Untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta : EGC.
Kosim Sholeh. 2003. Manajemen Masalah Bayi Baru Lahir Untuk Dokter, Bidan, dan Perawat di RS, Jakarta : Depkes RI
Marcia, Patricia. 2006. Pedoman Kesehatan Perawatan Anak. Jakarta : EGC
Manuaba, dkk. 2009. Buku ajar patologi obstetri, Jakarta : EGC
Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
___________., 2007. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta : Rineka Cipta.
Nursalam, 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.
___________, 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.
___________, 2001. dan Konsep Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, Jakarta : Salemba Medika
Saifuddin. 2002. Buku Panduan Praktik Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung : Alfabeta.
Sutantri, Peni. 2007. Suara Fraksi. http://www.dinkesjatim.com (25 Februari 2010)
Valen, Harney,dkk. 2007. Asuhan Kebidanan vol 1. Jakarta : EGC
Wiknjosastro, Hanifah. 2006. Ilmu Kebidanan, Jakarta : yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo
Yrama Widya, Ronald. 2008. Pedoman Perawatan Kesehatan Anak. Jakarta : EGC

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Friends

Blog List