Jumat, 08 Februari 2013

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG PENTINGNYA PEMERIKSAAN KADAR HEMOGLOBIN Hb DENGAN KEJADIAN ANEMIA


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator keberhasilan layanan suatu negara. Berdasarkan data World Health Organization (WHO) pada tahun 2005, setiap tahunnya wanita yang bersalin meninggal dunia mencapai lebih dari 500.000 orang (Winkjosastro, 2005). Berdasarkan hasil SDKI 2007 derajat kesehatan ibu di Indonesia masih perlu ditingkatkan, ditandai oleh Angka Kematian Ibu (AKI) yaitu 228/100.000 KH dan tahun 2008 , 4.692 jiwa ibu melayang di masa kehamilan, persalinan, dan nifas. Penyebab langsung kematian ibu adalah Perdarahan 28%, Eklamsi 24%, Infeksi 11%, Partus Lama 5%, Abortus 5%, dan lain-lain (SKRT 2001). Perdarahan merupakan faktor terbesar penyebab tingginya AKI. Salah satu penyebabnya adalah anemia dalam kehamilan. Penelitian Chi,dkk menunjukkan bahwa angka kematian ibu adalah 70% untuk ibu-ibu yang anemia dan 19,7% untuk mereka yang non anemia.
Kematian ibu 15-20% secara langsung atau tidak langsung berhubungan dengan anemia. Prevalensi anemia pada wanita hamil di Indonesia berkisar 20-80%, tetapi pada umumnya banyak penelitian yang menunjukkan prevalensi anemia pada wanita hamil yang lebih besar dari 50%. Juga banyak dilaporkan bahwa prevalensi pada Trimester  III berkisar 50-79%. Anemia dalam kehamilan juga berhubungan dengan meningkatnya Angka Kesakitan Ibu (Ikhsan S,2009:62 ). Anemia dalam kehamilan didefinisikan sebagai hemoglobin yang kurang dari 11 g/dl pada trimester pertama dan ketiga dan kurang dari 10,5 g/dl pada trimester kedua (Diane F & Margaret A Coper, 2009: 190).
Anemia dalam kehamilan memberi pengaruh kurang baik bagi bayi dan ibu, baik dalam kehamilan, persalinan, maupun nifas dan masa selanjutnya. Berbagai penyakit dapat timbul akibat anemia, seperti: abortus, partus prematurus, partus lama karena inertia uteri, perdarahan post partum karena atonia uteri, syok, infeksi baik intrapartum maupun post partum, anemia yang sangat berat dengan Hb kurang dari 4 g/100 ml dapat menyebabkan dekompensasi kordis, seperti dilaporkan oleh Lie-Injo Luang Eng, dkk. Juga hasil konsepsi anemia dalam kehamilan memberi pengaruh kurang baik, seperti kematian mudigah, kematian perinatal, prematurus, dapat terjadi cacat bawaan, cadangan besi kurang. Anemia dalam kehamilan merupakan sebab potensial morbiditas serta mortalitas ibu dan anak (Winkjosastro, 2005: 450).
Peran bidan sangat penting untuk menurunkan risiko terjadinya anemia dan komplikasinya. Salah satu usaha yang ditetapkan adalah pemeriksaan kehamilan secara rutin (ANC/ Antenatal Care). Standart pemeriksaan minimal untuk ANC selama hamil adalah 4 kali, yaitu 1x pada trimester I (sebelum 14 minggu), 1x pada trimester II (antara minggu 14-28), dan 2x pada trimester III (antara minggu 28-36 dan sesudah minggu ke 36).  Dalam pemeriksaan kehamilan di lakukan standart 7 T yaitu : Timbang dan Tinggi badan, Tensi, Tinggi fundus uteri, Suntik TT, Tablet tambah darah, Tes PMS dan temu Wicara. Selain pelayanan Standart 7T, juga dilakukan pemeriksaan laboraturium, diantaranya pemeriksaan Hb (hemoglobin).
Terdapat berbagai macam cara untukk menetapkan kadar hemoglobin, tetapi yang sering di kerjakan di laboraturium adalah yang berdasarkan kolorometrik visual, cara sahli, dan fotoelektrik cara sianmethemoglobin (hemoglobin sianida). (Gandosoebrata, 2003: 11-14). Cara yang paling banyak dilakukan adalah dengan cara sahli. Bagi petugas kesehatan, hal yang dilakukan untuk mencegah anemia ialah dengan kunjungan rutin selama kehamilan (ANC) dan memeriksa Hb secara rutin yaitu minimal pada Trimester I dan ke III serta memberi tablet tambah darah minimal 90 tablet selama masa kehamilan. Fungsi zat besi antara lain : untuk pembentukan hemoglobin baru, untuk mengembalikan hemoglobin kepada nilai normal setelah terjadi perdarahan, untuk mengambil sejumlah kecil zat besi yang secara konsisten di keluarkan tubuh terutama lewat urine, feses dan keringat, untuk menggantikan kehilangan zat besi lewat darah tubuh, pada laktasi untuk sekresi air susu (Budianto, 2002:61).
Dari Studi awal yang dilakukan peneliti di Desa Mlaras, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang pada bulan April 2010 terhadap 5 responden ibu hamil didapatkan bahwa setelah ditanya tentang pemeriksaan Hb, di ketahui 2 orang sudah melakukan tes Hb dan hasilnya normal (40%) serta ibu tersebut mengetahui untuk apa dilakukan pemeriksaan golongan darah  sedangkan 3 orang lainnya belum melakukan pemeriksaan (60%). Dari ke 5 responden tersebut sudah mendapatkan Tablet Fe pada kehamilan ini. Dari pernyataan diatas, dapat disimpulkan bahwa ibu hamil yang mempunyai pengetahuan cukup tentang pemeriksaan Hemoglobin (Hb), akan melakukan pemeriksaan Hb dan hasilnya normal. Sedangkan ibu hamil yang mempunyai pengetahuan kurang, tidak memeriksakan kadar Hemoglobin (Hb) sehingga ibu tersebut tidak mengetahui bahwa ibu tersebut anemia atau tidak.
 Dari fenomena diatas, peneliti ingin mengetahui lebih lanjut tentang Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil tentang Pentingnya Pemeriksaan Kadar Hemoglobin (Hb) dengan Kejadian Anemia di Desa Mlaras Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang.
1.2  Rumusan Masalah
1.2.1    Bagaimana Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil tentang Pentingnya Pemeriksaan Kadar Hemoglobin (Hb) di Desa Mlaras Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang?
1.2.2    Bagaimana Kejadian Anemia di Desa Mlaras Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang?
1.2.3    Adakah Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil tentang Pentingnya Pemeriksaan Kadar Hemoglobin (Hb) dengan Kejadian Anemia di Desa Mlaras Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang? 
1.3  Tujuan Penelitian
1.3.1        Tujuan Umum
Mengetahui Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil tentang Pentingnya Pemeriksaan Kadar Hemoglobin (Hb) dengan Kejadian Anemia di Desa Mlaras Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang.
1.3.2        Tujuan Khusus
1.3.2.1    Mengidentifikasi Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil tentang Pentingnya Pemeriksaan Kadar Hemoglobin (Hb) di Desa Mlaras, Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang.
1.3.2.2    Mengidentifikasi Kejadian Anemia di Desa Mlaras, Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang.
1.3.2.3    Menganalisis Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil tentang Pentingnya Pemeriksaan Kadar Hemoglobin (Hb) dengan Kejadian Anemia di Desa Mlaras Kecamatan Sumobito Kabuapaten Jombang.
1.4  Manfaat Penelitian
1.4.1        Bagi Institusi Penelitian
Sebagai wacana, referensi, serta kepustakaan dalam bidang ilmu pengetahuan dan pendidikan sehingga dapat meningkatkan wawasan di bidang penelitian. 
1.4.2        Bagi Peneliti
Menambah wawasan dari teori yang telah didapat dalam perkuliahan yang di publikasikan dalam bentuk penelitian dalam masyarakat serta sebagai acuan dalam mengadakan penelitian lebih lanjut.
1.4.3        Bagi Lahan Yang Diteliti
Dengan penelitian ini di harapkan dapat meningkatkan program penyuluhan dan konseling petugas kesehatan terutama Bidan tentang pemeriksaan hemoglobin pada ibu hamil.
1.5  Hipotesa Penelitian
H1     : Ada Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil tentang Pentingnya Pemeriksaan Kadar Hemoglobin (Hb) dengan Kejadian Anemia Di Desa Mlaras Kecamatan Sumobito Jombang.
1.6  Sistematika Penulisan
BAB I    :  PENDAHULUAN
Terdiri dari Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Hipotesa Penelitian, Sistematika Penulisan.
BAB II   :  TINJAUAN PUSTAKA
Terdiri dari Konsep Pengetahuan, Konsep Kehamilan, Konsep Hemoglobin, Konsep Dasar Anemia Karena Kekurangan Zat Besi, Kerangka Konsep
BAB III :  METODOLOGI PENELITIAN
            Terdiri dari Desain Penelitian, Lokasi Dan Waktu Penelitian, Populasi, Sampel, Sampling, Kriteria Sample, Identifikasi Variabel, Definisi Operasional, Pengumpulan Data Dan Analisa Data, Teknik Pengolahan Data, Alat Ukur, Etika Penelitian, Keterbatasan
BAB IV    : HASIL PENELITIAN  DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian dan Pembahasan.
BAB V     : PENUTUP
Kesimpulan dan Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1      Konsep Dasar Pengetahuan
2.1.1        Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan adalah merupakan hasil dari “tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (Notoatmodjo 2003).
2.1.2        Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan
2.1.2.1  Pendidikan
Secara luas pendidikan mencakup seluruh proses kehidupan individu sejak dalam ayunan hingga liang lahat, berupa interaksi individu dengan lingkungannya, baik secara formal maupun informal. Proses dan kegiatan pendidikan pada dasarnya melibatkan masalah perilaku individu maupun kelompok (Sunaryo, 2004 : 11).
2.1.2.2  Umur
Umur adalah variable yang selalu diperhatikan di dalam penyelidikan-penyelidikan. Angka-angka kesakitan maupun kematian hampir semua keadaan menunjukkan hubungan dengan umur (Notoajmodjo, 2003 : 15)
2.1.2.3  Pekerjaan
Jenis pekerjaan dapat berperan di dalam timbulnya penyakit melalui beberapa jalan. Penelitian mengenai hubungan jenis pekerjaan dan pola kesakitan banyak dikerjakan di Indonesia terutama pola penyakit kronis, misalnya : penyakit Jantung, tekanan darah tinggi, kanker (Notoajmodjo, 2003 : 17).
2.1.2.4  Informasi
Pengetahuan-pengetahuan yang di dapat dengan memberikan informasi-informasi tentang cara-cara hidup sehat, cara pemeliharaan kesehatan, cara-cara menghindari penyakit, dan sebagainya akan menimbulkan kesadaran mereka, dan akhirnya akan menyebabkan orang berperilaku sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya itu. Hasil atau perubahan perilaku dengan cara ini akan memakan waktu lama, tetapi perubahan yang dicapai akan bersifat langgeng karena didasari pada kesadaran mereka sendiri (bukan karena pakasaan) (Notoajmodjo, 2003 : 145).
2.1.2.5  Minat
Dengan adanya pengetahuan yang tinggi dan minat yang cukup terhadap sesuatu maka sangatlah mungkin seseorang tersebut akan berperilaku sesuai dengan apa yang di harapkan.

2.1.2.6  Kebudayaan
Menurut Mac Iver sebagaimana dikutip oleh Soekanto (2001), “Ekspresi jiwa terwujud dalam cara-cara hidup dan berpikir, pergaulan, hidup, seni kesusastraan, agama, rekreasi, dan hiburan.” Dalam arti sempit, kebudayaan diartikan sebagai kesenian, adat istiadat, atau peradaban manusia. Ternyata hasil kebudayaan manusia akan mempengaruhi perilaku manusia itu (Sunaryo, 2004: 12).
2.1.2.7  Lingkungan   
Lingkungan merupakan semua kondisi internal dan eksternal yang mempengaruhi dan berakibat terhadap perkembangan dan perilaku seseorang dan kelompok. lingkungan eksternal dapat berupa fisik, kimiawi atau psikologis yang diterima individu dan dipersepsikan sebagai suatu ancaman. Sedangkan lingkungan internal adalah keadaan proses mental dalam tubuh individu (berupa pengalaman, kemampuan, emosional, kepribadian) dan proses stressor biologis (sel maupun molekul) yang berasal dari dalam tubuh individu (Notoajmodjo, 2003 : 9).
2.1.3        Tingkat Pengetahuan
Komponen pengetahuan menurut Bloom yang dikutip Notoatmojo 2003 mencakup 6 tingkat 
2.1.3.1  Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah di pelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang di pelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan, daan sebagainya.
2.1.3.2  Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai sesuatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang di ketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar, orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap obyek yang dipelajari.
2.1.3.3  Aplikasi (Aplication)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. Misalnya dapat menggunakan rumus statistic dalam perhitungan-perhitungan hasil penelitian, dapat menngunakan prinsip-prinsip siklus pemecahan masalah (problem solving cycle) di dalam pemecahan masalah kesehatan dari kasus yang diberikan.
2.1.3.4  Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obyek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.
2.1.3.5  Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesa itu suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada, misalnya dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkas, dapat menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumus-rumus yang telah ada.
2.1.3.6  Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau obyek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu criteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan criteria yang telah ada (Notoajmodjo, 2003 : 122).
2.1.4        Kriteria Pengetahuan
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subyek penelitian atau responden. Kedalam pengetahuan yang ingin diketahui atau diukur dapat disesuaikan dengan tingkatan tersebut diatas. Kualitas pengetahuan pada masing-masing tingkat pengetahuan dapat dilakukan dengan kriteria, yaitu :
a.       Tingkat pengetahuan baik jika jawaban responden dari kuesioner yang benar 76-100%
b.      Tingkat pengetahuan cukup jika jawaban responden dari kuesioner yang benar 56-75%
c.       Tingkat pengetahuan kurang jika jawaban responden dari kuesioner yang benar  <56 o:p="">
(Arikunto, 2005:342).
2.2      Konsep Dasar Kehamilan
2.2.1        Pengertian kehamilan
Kehamilan adalah masa dimulai dari ovulasi sampai partus kira-kira 280 hari (40 minggu), dan tidak lebih dari 300 hari (43 minggu) (Winkjosastro, 2005:125).
Gambaran kehamilan normal adalah keadaan ibu sehat, tidak ada riwayat obstetri buruk, ukuran uterus sesuai usia kehamilan, pemeriksaan fisik dan laobaturium normal (Abdul Bari S, 2004:N-1).
2.2.2        Tanda-Tanda Kehamilan
2.2.2.1  Tanda Presumsi Kehamilan
a.         Amenore
b.        Kelemahan dan keletihan
c.         Mual dan muntah di pagi hari (Morning Sicknees)
d.        Sering berkemih
e.         Payudara terasa penuh
f.         Pembesaran abdomen
g.        Perubahan pada kulit (seperti strie gravidarum) dan pigmentasi (cloasma gravidarum, linea nigra).
2.2.2.2  Tanda Kemungkinan Hamil
a.         Tanda Hegar
b.        Tanda Chadwick
c.         Tanda piscaseck
d.        Tanda Braxton-Hiks
e.         Pembesaran rahim
f.         Ballotement
g.        Hasil tes kehamilan positif
2.2.2.3  Tanda Pasti Kehamilan
a.         Denyut jantung janin
b.        Gerakan janin
c.         Visualisasi janin dengan alat teknik, seperti USG
(Bobak, 2005:143).
2.2.3        Perubahan Fisiologis Pada Saat Kehamilan
Pada kehamilan terdapat perubahan pada seluruh tubuh wamita, khusunya pada alat genetalia eksterna dan interna dan pada payudara (mamma). Dalam hal ini, hormon somatomammotropin, estrogen, dan progesteron mempunyai peranan penting.
Perubahan yang terdapat pada wanita hamil ialah antara lain sebagai berikut :
2.2.3.1  Uterus
Uterus akan membesar pada bulan-bulan pertama dibawah pengaruh estrogen dan progesteron yang kadarnya meningkat. Berat uterus normal lebih kurang 30 gram, pada akhir kehamilan (40 minggu) berat uterus ini menjadi 1000 gram dengan panjang lebih kurang 20 cm dan dinding lebih kurang 2,5 cm.
2.2.3.2  Seviks uteri
Serviks uteri pada kehamilan mengalami perubahan akibat hormon estrogen. Akibat kadar estrogen meningkat, dan dengan adanya hipervaskularisai, maka konsistensi serviks menjadi lunak. Kelenjar-kelenjar di serviks akan berfungsi lebih dan akan mengeluarkan sekresi lebih banyak. Kadang-kadang wanita yang sedang hamil mengeluh mengeluarkan cairan pervaginam lebih banyak. Keadaan ini sampai batas tertentu masih merupakan keadaan fisiologik.
2.2.3.3  Vagina dan vulva
Vagina dan vulva mengalami perubahan juga akibat hormon estrogen. Adanya hipervaskularisasi mengakibatkan vulva dan vagina akan tampak kemerahan, agak kebiruan (lividae). Tanda ini disebut Tanda Chadwick.
2.2.3.4  Ovarium
Dengan terjadinya kehamilan indung telur yang mengandung korpus luteum gravidarum akan meneruskan fungsinya sampai terbentuk plasenta yang sempurna pada umur 16 minggu.
2.2.3.5  Mamma
Mamma akan membesar akibat hormon somatomammotropin, estrogen, progesteron, akan tetapi belum mengeluarkan air susu. Papilla akan tampak membesar, lebih tegak, lebih hitam, seperti seluruh areola mamae karena hyperpigmentasi.
2.2.3.6  Sirkulasi darah
Sirkulasi darah pada ibu dalam kehamilan dipengaruhi oleh adanya sirkulasi ke plasenta, uterus yang membesar dengan pembuluh darah yang membesar pula, mamma dan alat-alat lain yang memang berfungsi dalam kehamilan. Volume darah ibu selama kehamilan bertambah secara fisiologik dengan adanya pencairan darah yang disebut hidermia. Volume darah bertambah banyak kira-kira 25%, dengan puncak kehamilan 32 minggu, diikuti dengan cardiac output yang meninggi kira-kira 30%
            (Winkjosastro, 2005:89-96).
2.3      Konsep Dasar Pemeriksaan Hemoglobin
2.3.1        Pengertian Hemoglobin
Sel darah merah merupakan sel yang paling banyak di bandingkan dengan 2 sel lainnya, dalam keadaan normal mencapai hampir separuh dari volume darah. Sel darah merah mengandung hemoglobin yang memungkinkan sel darah merah membawa oksigen dari paru-paru dan mengantarkannya keseluruh tubuh. Oksigen dipakai untuk membentuk energi bagi sel-sel, dengan bahan limbah berupa karbondioksida, yang akan diangkut oleh sel darah merah dari jaringan dan kembali ke paru-paru (Endah K , 2010: 10).
Hemoglobin adalah molekul protein yang mengandung zat besi dan merupakan pigmen darah yang membuat darah menjadi merah (Eko Budi Minarno, 2008 : 113).
Hemoglobin mengandung bentuk ferro yang terdapat di dalam erytrosit (Djaeni, 2000:179).
2.3.2        Fungsi Hb
Fungsi Hb adalah sebagai transportasi oksigen. Oksigen yang diisap oleh paru-paru akan bersenyawa dengan Hb akan bersenyawa menjadi HbO2, yang kemudian disalurkan oleh darah ke seluruh tubuh, dimana oksigen dilepaskan kejaringan-jaringan yang memerlukan. Di dalam jaringan, Hb mengikat karbondioksida (CO2) menjadi HbCO2 yang kemudian diangkut ke paru-paru yang mengeluarkan CO2 itu melalui pernafasan. Mioglobin berfungsi sebagai cadangan oksigen di dalam sel-sel otot. Yang menerima, menyimpan, dan melepaskan oksigen bila otot itu bekerja (Eko Budi Minarno, 2008 : 114).
2.3.3        Komponen Hb
Zat besi merupakan komponen yang paling penting dari Hb. Zat besi juga berfungsi dalam proses oksidasi-reduksi dalam sel yang berhubungan dengan pembentukan energi. Kekurangan zat besi menimbulkan penyakit defisiensi yang disebut anemia defisiensi besi. Anemia adalah keadaan dimana kadar Hb darah kuarang dari kadar normal.
Tabel 2.1   Kadar Hb Normal Berbeda-Beda Untuk Setiap Kelompok Umur Dan Jenis Kelamin

Kelompok Umur
Kadar Hemoglobin
Anak balita
Anak usia sekolah
Wanita dewasa
Pria dewasa
Ibu hamil
Ibu menyusui
11 gram %
12 gram%
12 gram%
13 gram%
11 gram%
12 gram%

Pada wanita sehat yang memiliki cadangan zat besi, konsentrasi hemoglobin rata-rata menurun dari 13,3 gr/dl pada keadaan tidak hamil menjadi 11 gr/dl di awal kehamilan. Konsentrasi terendah terjadi pada usia gestasi 32 minggu saat ekspansi volume plasma mencapai maksimal, kemudian meningkat sampai kira-kira 0,5 g/dl dan akhirnya mencapai 11 g/dl sekitar minggu ke 36 kehamilan. Anemia dalam kehamilan didefinisikan sebagai hemoglobin yang kurang dari 11 g/dl pada trimester pertama dan ketiga dan kurang dari 10,5 g/dl pada trimester kedua. Istilah anemia fisiologis yang digunakan untuk mendefinisikan proses tersebut merupakan istilah yang salah, oleh karena itu dianjurkan untuk tidak menggunakan lagi istilah tersebut (Diane F & Margaret A Coper, 2009: 190). 
2.3.4        Penetapan Kadar Hb
Kadar Hemoglobin darah dapat ditentukan dengan bermacam-macam cara. Yang banyak digunakan dalam laboraturium klinik adalah cara foto elektrik dan kolorimetrik visual.
2.3.4.1  Cara Foto elektrik : sianmethemoglobin
Hemoglobin darah diubah menjadi sianmethemoglobin (hemoglobinsianida) dalam larutan yang berisi kaliumferrisianida dan kaliumsianida. Absorbsi larutan diukur pada gelombang 540 nm atau filter hijau. Larutan Drabkin yang di pakai cara ini mengubah hemoglobin, oksihemoglobin, methemoglobin, dan karboksihemoglobin menjadi sianmethemoglobin. Sulfhemoglobin tidak berubah dan karena tidak ikut diukur.
Cara ini sangat bagus untuk laboraturium rutin dan sangat dianjurkan untuk penetapan kadar hemoglobin dengan teliti karena standar methemoglobin yang ditanggung kadarnya bersifat stabil dan dapat dibeli. Ketelitian ini mencapai + 2 %.
2.3.4.2  Cara kolorimetrik visual : Sahli
Pada cara ini hemoglobin diubah menjadi hematin asam, kemudian warna yang terjadi di bandingkan secara visual dengan standart  dalam alat itu (Gandosoebrata, 2003).
Alat dan bahan yang digunakan dalam pemeriksaan dengan menggunakan sahli :
a.       Hemoglobinometer (hemometer) sahli, terdiri dari :
1.      Gelas berwarna sebagai warna standart
2.       Tabung hemometer dengan pembagian skala putih 2 sampai 22, skala merah untuk hematokrit.
3.      Pengaduk dari gelas
4.      Pipet sahli
5.      Pipet Pasteur
6.      Kertas saring/ tissu/ kain kassa kering
b.      Reagen
1.      Larutan HCl 0,1 N
2.      Aquades         
Cara pemeriksaan dengan menggunakan sahli :
a.       Masukkan kira-kira 5 tetes HCl 0,1 n ke dalam tabung pengencer hemometer.
b.      Isaplah darah (kapiler, EDTA atau oxalat) dengan pipet hemoglobin sampai garis tanda 20 ul.
c.       Hapuslah darah yang melekat pada sebelah luar ujung pipet dengan menggunakan kertas saring/ tissu.
d.      Catatlah waktunya dan segeralah alirkan darah dari pipet ke dalam dasar tabung pengencer yang berisi HCl itu. Hati-hati jangan sampai terjadi gelembung udara.
e.       Angkatlah pipet itu sedikit, lalu isap asam HCl yang jernih itu kedalam pipet 2 atau 3 kali untuk membersihkan darah yang masih tinggal dalam pipet.
f.       Campurlah isi tabung itu supaya darah dan asam bersenyawa; warna campuran menjadi coklat tua.
g.      Tambahkan aquadest setetes demi setetes, tiap kali diaduk dengan batang pengaduk yang tersedia. Persamaan warna campuran dan batang standart harus dicapai dalam waktu 3-5 menit setelah saat darah dan HCl dicampur. Pada usaha mempersamakan warna hendaknya tabungdiputar demikian sehinggga garis bagi tidak terlihat.
h.      Bacalah kadar hemoglobin dengan gram/ 100ml darah.

 








Gambar 2.1 Alat dan Bahan Pemeriksaan Hb Sahli


1.                                                                                             3.






 







Gambar 2.2 Prosedur Pemeriksaan Hb Sahli
2.4      Konsep Dasar Anemia Karena Kekurangan Zat Besi
2.4.1        Pengertian Anemia Karena Kekurangan Zat Besi
Anemia karena kekurangan zat besi adalah suatu keadaan dimana jumlah sel darah merah atau hemoglobin (protein pengangkut oksigen) dalam sel darah berada di bawah normal, yang disebabkan karena kekurangan besi (Endah K , 2010: 31).
Anemia yang paling banyak terjadi adalah anemia akibat kekurangan zat besi. Zat besi merupakan bagian dari molekul hemoglobin. Oleh karena itu, ketika tubuh kekurangan zat besi, produksi hemoglobin pun akan menurun.
Kebutuhan zat besi pada wanita juga meningkat pada saat haamil dan melahirkan (Ikhsan S, 2009: 32).
2.4.2        Terjadinya Anemia Akibat Kekurangan Zat Besi
Anemia karena kekurangan zat besi biasanya terjadi secara bertahap, melalui beberapa stadium. Gejalanya baru timbul pada stadium lanjut.
2.4.2.1  Stadium 1
Kehilangan zat besi melebihi asupannya, sehingga menghabiskan cadangan dalam tubuh, terutama di sumsum tulang.
Kadar ferritin (protein yang menampung zat besi) dalam darah berkurang secara progresif.
2.4.2.2  Stadium 2
Cadangan besi yang telah berkurang tidak dapat memenuhi kebutuhan untuk pembentukan sel darah merah, sehingga sel darh merah yang dihasilkan jumlahnya sedikit.
2.4.2.3  Stadium 3
Mulai terjadi anemia. Pada stadium awal ini, sel darah merah tampak normal, tetapi jumlahnya lebih sedikit. Kadar hemoglobin dan hematokrit menurun.
2.4.2.4  Stadium 4
Sumsum tulang berusaha untuk menggantikan kekurangan zat besi dengan mempercepat pembelahan sel dan menghasilkan sel drah merah dengan ukuran yang sangat kecil (mikrositik), yang khas untuk anemia karena kekurangan zat besi.
2.4.2.5  Stadium 5
Dengan semakin memburuknya kekurangan zat besi dan anemia, maka akan timbul gejala-gejala kerena kekurangan zat besi dan gejala-gejala karena anemia semakin memburuk
            (Endah K , 2010: 32-33).
2.4.3        Penyebab Anemia Akibat Kekurangan Zat Besi
Tubuh mendaur ulang zat besi, yaitu ketika sel darah merah mati, zat besi didalamnya dikembalikan ke sumsum tulang untuk digunakan kembali oleh sel darah merah yang baru. Tubuh kehilangan sejumlah sejumlah besar zat besi hanya ketika sel darah merah hilang karena perdarahan dan menyebabkan kekurangan zat besi. Kekurangan zat besi merupakan salah satu penyebab terbanyak dari anemia dan satu-satunya penyebab kekurangan zat besi pada dewasa adalah perdarahan. Makanan yang mengandung sedikit zat besi bisa menyebabkan kekurangan pada bayi dan anak kecil, yang memerlukan lebih banyak zat besi untuk pertumbuhannya (Endah K , 2010: 33-34).
2.4.4        Gejala Anemia Akibat Kekurangan Zat Besi
Kekurangan zat besi memiliki gejala tersendiri, diantaranya adalah :
a.       Pika             :  suatu keinginan memakan zat yang bukan makanan, seperti  es batu, kotoran atau kanji
b.      Glositis        :  iritasi lidah
c.       Keilosis       :  bibir pecah-pecah
d.      Koilonikia   :  kuku jari tangan pecah-pecah dan bentuknya seperti sendok
(Endah K , 2010: 34).
2.4.5        Diagnosa Anemia Akibat Kekurangan Zat Besi
Pemeriksaan darah digunakan untuk mendiagnosis anemia. Biasanya penderita anemia di periksa untuk mengetahui kekurangan zat besi. Kadar zat besi diukur dalam darah. Kadar zat besi dan transferin (protein pengangkut yang berada diluar sel darah merah) diukur dan dibandingkan. Jika kurang dari 10% transferin yang terisi dengan zat besi, maka kemungkinan terjadi kekurangan zat besi.
Kadang diperlukan pemeriksaan yang lebih mendetail untuk menegakkan diagnosis. Pemeriksaan yang paling khusus adalah dengan pemeriksaan sumsum tulang, dimana contoh dari sel periksa dibawah mikroskop untuk menentukan kandungan zat besinya (Endah K, 2010: 35).
2.4.6        Penatalaksanaan
Pada tata cara klinis, jika penyebab anemia sudah ditemukan dan tempat perdarahan berlangsung sudah berhasil dieliminasi, pengobatan diarahkan untuk mengganti defisit zat besi dengan garam besi anorganik. Sesungguhnya, masalah defisiensi zat besi cukup diterapi dengan memberikan makanan yang cukup mengandung zat besi. Namun, jika anemia sudah terjadi, tubuh tidak akan mungkin menyerap zat besi dalam jumlah besar dan dalam waktu yang relatif singkat. Karena itu, pengobatan suplemen zat besi, di samping itu tentu saja menambah jumlah makanan yang kaya akan zat besi dan yang dapat menambah penyerapan zat besi.
2.4.6.1  Preparat Tablet
Tablet zat besi dalam bentuk ferro lebih mudah diserap ketimbang bentuk ferri. Sediaan yang banyak tersedia, mudah didapat dan murah, serta khasiatnya yang paling efektif adalah ferro ssulfat, ferroglukonat, ferro fumarat.
Dosis pemberian untuk remaja dan dewsa adalah 60 mg (anemia derajat ringan), dan 120 mg (anemia derajat sedang sampai berat). Terhadap wanita hamil diasanya diberikan tablet zat besi sebanyak 90 tablet selama kehamilan.
Respon positif terhadap pengobatan dapat dilihat dari peningkatan kadar Hb sebesar 0,1 gr/dl sehari mulai dari hari kelima dan seterusnya. Dengan demikian, pemberian sebanyak 30 gram zat besi tiga kali sehari akan meningkatkan kadar hemoglobin paling sedikit sebesar 0,3 gr/dl/minggu (atau 10 hari). Secara global, respons ini berdampak pada penurunan prevalensi anemia wanita hamil dan 73,7% pada tahun 1980 menjadi 63,5% dan 50,9 masing-masing pada athun 1992 dan 1995.
Efek samping tablet besi berupa pengaruh yang tidak menyenangkan seperti rasa tidak enak di ulu hati, mual, muntah dan diare (terkadang konstipasi).
2.4.6.2  Preparat Parenteral
Preparat perenteral baru boleh diberikan jika pasien tidak bisa menoleransi preparat oral (misalnya, pemberian oral menyebabkan muntah hebat yang tidak dapat dihentikan dengan cara menurunkan dosis), atau karena pada kasus-kasus ketidaktaatan.
Preparat parenteral yang sering digunakan (dapat diberikan secara intramuskular (IM) atau intravena (IV)) adalah Imferon (iron dextran). Manfaat pemberian secara IV adalah pemenuhan kebutuhan zat besi lengkap hanya dalam satu dosis. Dosis yang dianjurkan untuk wanita hamil sebesar 500mg Fe dalam 10cc larutan garam fisiologis yang diberikan selama 10 menit setelah dusis uji sebanya 1-2 tetes.
Dosis yang diberikan secara intramuskular sebesar 100mg Fe dalam 2cc larutan garam fisiologis. Pemberian IM sebaiknya dilakukan hanya jika tidak tersedia cukup kemudahan untuk pemebrian IV. Preparat lainnya adalah Astrafer (dextriferron) dan Jectofer (iron sorbitex)
(Arisman, 2007: 149-151).
2.4.7        Pencegahan
Sejauh ini, ada 4 pendekatan dasar pencegahan anemia defisiensi zat besi. Keempat pendekatan tersebut adalah : 
2.4.7.1  Pemberian tablet atau suntikan zat besi
Wanita hamil merupakan salah satu kelompok yang diprioritaskan dalam program suplemtasi. Dosis suplementatif yang dianjurkan dalam satu hari adalah dua tablet (satu tablet mengandung 60 mg Fe dan 200 µg asam folat) yang dimakan selama paruh kedua kehamilan karena pada saat tersebut kebutuhan akan zat besi sangat tinggi.
2.4.7.2  Pendidikan dan upaya yang ada kaitannya dengan peningkatan asupan zat besi melalui makanan
Seperti telah dibicarakan di depan, konsumsi tablet zat besi dapat menimbulkan efek samping yang mengganggu sehinnga orang cenderung menolak tablet yag diberikan. Penolakan tersebut sebenarnya berpangkal dari ketidaktahuan mereka bahwa selama kehamilan mereka memerlukan tambahan zat besi. Agar mengerti, para wanita hamil harus diberikan pendidikan yang tepat misalnya tentang bahaya yang mungkin terjadi akibat anemia, dan harus pula diyakinkan bahwa salah satu penyebab anemia adalah defisiensi zat besi.
2.4.7.3  Pengawasan penyakit infeksi
Pengobatan yang efektif dan tepat waktu dapat mengurangi dampak gizi yang tidak diingini. Tindakan yang penting sekali selama penyakit ialah mendidik keluarga penderita tentang cara yang sehat selama dan sesudah sakit.
Pengawasan penyakit infeksi ini memerlukan upaya kesehatan masyarakat pencegahan, seperti: penyediaan air bersih, perbaikan sanitasi lingkungan dan kebersihan perorangan.
2.4.7.4  Fortifikasi makanan pokok dengan zat besi
Fortifikasi makanan yang banyak dikonsumsi dan yang diproses secara terpusat merupakan inti pengawasan anemia di berbagai negara. Fortifikasi makanan merupakan salah satu cara terampuh dalam pencegahan defisiensi zat besi. Proses boleh ditargetkan untuk merangkul beberapa atau seluruh kelompok masyarakat. Kelompok masyarakat yang dijadikan target harus (dilatih) dibiasakan mengkonsumsi makanan Fortifikasi itu, serta harus memiliki kemampuan untuk mendapatkannya.
(Arisman, 2007: 151).
2.5      Konsep Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Pentingnya Pemeriksaan Kadar Hemoglobin (Hb) dengan Kejadian Anemia
Pengetahuan adalah merupakan hasil dari “tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (Notoatmodjo 2003).
Pendidikan, secara luas pendidikan mencakup seluruh proses kehidupan individu sejak dalam ayunan hingga liang lahat, berupa interaksi individu dengan lingkungannya, baik secara formal maupun informal. Proses dan kegiatan pendidikan pada dasarnya melibatkan masalah perilaku individu maupun kelompok (Sunaryo, 2004 : 11).
Umur adalah variable yang selalu diperhatikan di dalam penyelidikan-penyelidikan. Angka-angka kesakitan maupun kematian hampir semua keadaan menunjukkan hubungan dengan umur (Notoajmodjo, 2003 : 15).
Jenis pekerjaan dapat berperan didalam timbulnya penyakit melalui beberapa jalan. Penelitian mengenai hubungan jenis pekerjaan dan pola kesakitan banyak dikerjakan di Indonesia terutama pola penyakit kronis , misalnya : penyakit Jantung, tekanan darah tinggi, kanker (Notoajmodjo, 2003 : 17).
Pengetahuan-pengetahuan yang di dapat dengan memberikan informasi-informasi tentang cara-cara hidup sehat, cara pemeliharaan kesehatan cara-cara menghindari penyakit, dan sebagainya akan menimbulkan kesadaran mereka, dan akhirnya akan menyebabkan orang berperilaku sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya itu. Hasil atau perubahan perilaku dengan cara ini akan memakan waktu lama, tetapi perubahan yang dicapai akan bersifat langgeng karena didasari pada kesadran mereka sendiri (bukan karena pakasaan) (Notoajmodjo, 2003 : 145).
Dengan adanya pengetahuan yang tinggi dan minat yang cukup terhadap sesuatu maka sangatlah mungkin seseorang tersebut akan berperilaku sesuai dengan apa yang di harapkan.
Menurut Mac Iver sebagaimana dikutip oleh Soekanto (2001), “Ekspresi jiwa terwujud dalam cara-cara hidup dan berpikir, pergaulan, hidup, seni kesusastraan, agama, rekreasi, dan hiburan.” Dalam arti sempit, kebudayaan diartikan sebagai kesenian, adapt istiadat, atau peradaban manusia. Ternyata hasil kebudayaan manusia akan mempengaruhi perilaku manusia itu (Sunaryo, 2004: 12).
Lingkungan merupakan semua kondisi internal dan eksternal yang mempengaruhi dan berakibat terhadap perkembangan dan perilaku seseorang dan kelompok. lingkungan eksternal dapat berupa fisik, kimiawi atau psikologis yang diterima individu dan dipersepsikan sebagai suatu ancaman. Sedangkan lingkungan internal adalah keadaan proses mental dalam tubuh individu (berupa pengalaman, kemampuan, emosional, kepribadian) dan proses stressor biologis (sel maupun molekul) yang berasal dari dalam tubuh individu (Notoajmodjo, 2003 : 9).
Kadar Hemoglobin darah dapat ditentukan dengan bermacam-macam cara. Yang banyak digunakan dalam laboraturium klinik adalah cara foto elektrik dan kolorimetrik visual (Gandosoebrata, 2003).
Anemia yang paling banyak terjadi adalah anemia akibat kekerangan zat besi. Zat besi merupakan bagian dari molekul hemoglobin. Oleh karena itu, ketika tubuh kekurangan zat besi, produksi hemoglobin pun akan menurun.
Kebutuhan zat besi pada wanita juga meningkat pada saat haamil dan melahirkan (Ikhsan S, 2009: 32).
Semakin tinggi tingkat pengetahuan ibu hamil tentang pentingnya pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb), maka kejadian anemia selama kehamilan dapat diatasi dengan cepat dan tepat.
2.6      Kerangka Konsep
Kerangka konseptual adalah abstraksi dari suatu realita agar dapat dikomunikasikan dan membentuk suatu yang menjelaskan keterikatannya antar variabel (baik yang variabel yang diteliti maupun tidak) (Nursalam, 2003 : 25).




                                                    












Gambar 2.3 Kerangka Konseptual Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil tentang Pentingnya Pemeriksaan Kadar Hb dengan Kejadian Anemia

Keterangan :
                        : Diteliti
                        : Tidak Diteliti
BAB III
METODE PENELITIAN

Metode penelitian adalah suatu cara untuk memperoleh kebenaran ilmu pengetahuan atau pemecahan suatu masalah. Pada dasarnya menggunakan metode ilmiah (Notoatmojdo, 2005 : 19).
Dalam bab ini menjelaskan tentang desain penelitian, lokasi dan waktu penelitian, populasi, sampel, sampling, kriteria sample, identifikasi variabel, definisi operasional, pengumpulan data dan analisa data, teknik pengolahan data, alat ukur, etika penelitian, keterbatasan.
3.1    Desain Penelitian
Desain penelitian merupakan hasil akhir dari suatu tahap keputusan yang dibuat oleh peneliti berhubungan dengan bagaimana suatu penelitian bisa diterapkan. Desain penelitian adalah merupakan hasil akhir dari suatu keputusan yang dibuat berhubungan dengan bagaimana suatu penelitian bisa diterapkan (Nursalam, 2003 : 80).
Metode analitik yaitu penelitian diarahkan untuk menjelaskan suatu keadaan atau situasi (Notoatmodjo, 2005 : 26) dan pendekatan Cross Sectional artinya setiap objek penelitian hanya berobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap status karakteristik atau variable subyek pada saat pemeriksaan, pengumpulan data untuk jenis penelitian ini baik untuk variable sebab (variable independent) maupun variable akibat (variable dependent) dilakukan secara sekaligus (Notoatmodjo, 2005 : 27).
Dalam penelitian ini peneliti ingin mengetahui atau mengukur Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil tentang Pentingnya Pemeriksaan Kadar Hb dengan Kejadian Anemia Di Desa Mlaras Kecamatan Sumobito Jombang. Dalam penelitian ini menggunakan metode analitik dan menggunakan pendekatan Cross Sectiona
3.2    Lokasi Dan Waktu Penelitian
3.2.1        Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian dilaksanakan di Desa Mlaras Sumobito Jombang.
3.2.2        Waktu Penelitian
Waktu penelitian dilaksanakan mulai bulan Februari – Juni 2010.
3.3    Populasi, Sample, Sampling
3.3.1        Populasi
Populasi adalah setiap subyek yang telah memenuhi kriteria yang telah ditetapkan (Nursalam, 2003 : 93).
Populasi dalam penelitian ini adalah 20 ibu hamil di Desa Mlaras.
3.3.2        Sampel
Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan obyek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2005 : 74).
Sampel yang diambil adalah 20 ibu hamil di Desa Mlaras.
3.3.3        Sampling
Sampling adalah suatu cara atau teknik tertentu yang digunakan untuk pengambilan sampel, sehingga sampel tersebut sedapat mungkin mewakili populasi (Notoatmojdo, 2005 : 79).
Teknik Probability Sampling adalah bahwa setiap subyek dalam populasi mempunyai kesempatan untuk terpilih atau tidak terpilih sebagai sampel (Nursalam, 2003: 93).
Teknik Stratified Random Sampling digunakan apabila suatu populasi terdiri dari unit yang mempunyai karakteristik yang berbeda-beda atau heterogen (Notoatmojdo, 2005 : 86).
Dalam penelitian ini menggunakan Teknik Probability Sampling dengan Teknik Stratified Random Sampling.
3.4    Kriteria Sample
Kriteria sampel sangat membantu peneliti untuk mengurangi bias hasil penelitian, khususnya jika terhadap variable-variable  (kontrol atau perancu) yang ternyata mempunyai pengaruh terhadap variable yang kita teliti (Nursalam, 2003 : 96).
3.4.1        Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subyek penelitian dari suatu populasi target yang terjangkau yang akan diteliti (Nursalam, 2003 : 96).
Kriteria inklusi dari penelitian ini adalah :
Seluruh ibu hamil yang pernah atau belum pernah memeriksakan kadar hemoglobin (Hb) selama kehamilan ini di Desa Mlaras Kecamatan Mlaras Kabupaten Jombang.   
3.5    Identifikasi Variable
Variable mengandung pengertian ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota-anggota suatu kelompok yang berbeda yang dimiliki oleh kelompok yang lain. Definisi lain mengatakan bahwa variable adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat atau ukuran yang dimiliki atau didapatkannya oleh satuan penelitian suatu konsep pengertian tertentu (Notoatmojo, 2005 : 70).
3.5.1        Variabel Independent
Variabel independent adalah faktor yang digunakan sebagai faktor yang mempengaruhi variable dependent (Nursalam, 2003 : 102). Dalam penelitian ini variable independent adalah tingkat pengetahuan ibu hamil tentang pentingnya pemeriksaan kadar Hb.
3.5.2        Variabel Dependent
Variable dependent adalah suatu obyek penelitian atau yang menjadi perhatian suatu penelitian (Nursalam, 2003 : 102). Dalam penelitian ini variable dependent adalah kejadian anemia.
3.6    Definisi Operasional
Definisi operasinal adalah definisi yang berdasarkan karakteristik yang diamati dari sesuatu didefinisikan tersebut dapat diamati artinya memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu obyek atau fenomena yang kemudian yang dapat diulangi oleh orang lain (Nursalam dan Pariani, 2001 : 44).
Table 3.1   Definisi operasional Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil tentang Pentingnya Pemeriksaan Kadar Hb dengan Kejadian Anemia Di Desa Mlaras Kecamatan Sumobito Jombang

Variabel
Definisi Operasional
Alat Ukur
Skala
Skor
Independent :
Tingkat Pengetahuan
Ibu hamil tentang pentingnya pemeriksaankadar Hb
Segala apa yang diketahui ibu hamil tentang pemeriksaan kadar Hb
-          Pengertian Hb
-          Fungsi Hb
-          Pemeriksaan kadar Hb
-          Nilai kadar Hb normal
Kuesioner
Ordinal
Benar : 1
Salah : 0
Kriteria:
-Baik  76- 100%
-Cukup56-75%
-Kurang <56 o:p="">
Dependent :
Kejadian Anemia
Suatu Keadaan dimana jumlah sel darah merah dan hemoglobin berada di bawah keadaan normal (<11 5l="" anemia="" cara="" dan="" dengan="" dilakukan="" dl="" emah="" gr="" hb="" lalai="" lesu="" letih="" lunglai="" menggunakan="" menunjukkan="" o:p="" pemeriksaan="" sahli="" setelah="" tanda="" yaitu="">
Hb Sahli
Nominal
Anemia
·     TM I dan TM III < 11 gr/dl
·     TM II     < 10,5 gr/dl

Tidak anemia
·     TM I dan TM III >11 gr/dl
·     TM II>10,5 gr/dl


3.7    Pengumpulan Data dan Analisa Data
3.7.1        Pengumpulan data
Pengumpulan data adalah proses pendekatan kepada subyek dan proses pengumpulan karakteristik subyek yang diperlukan dalam suatu penelitian (Nursalam, 2003 : 109).
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh langsung diinformasikan pada saat melakukan penyebaran kuesioner. Data sekunder adalah data yang diperoleh berdasarkan hasil pengamatan atau hasil pemeriksaan.
3.7.2        Analisa data
3.7.2.1  Analisa Univariat
Menganalisa data dari setiap variable, yaitu variable independent tentang tingkat pengetahuan ibu hamil tentang pentingnya pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb).
Setelah dikumpulkan melalui angket kuesioner, dilakukan pemberian skor dalam penelitian dengan nilai jika benar 1 dan 0 jika salah, rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:
Keterangan :
N         : Nilai yang didapat
SP        : Skor yang didapat
SM      : Skor maksimum
Setelah sampai pada hasil prosentase, kemudian diinterpretasikan dengan kriteria kualitatif sebagai berikut
a.       Bila hasil 76 – 100 %        : Baik
b.      Bila hasil 56 – 76 %          : Cukup
c.       Bila hasil < 56 %               : Kurang
 (Budiarto, 2002).
Variabel Dependent dalam penelitian ini adalah kejadian anemia dengan kriteria :
a.       Anemia
1)      Pada Trimester I dan Trimester III < 11 gr/dl
2)      Pada Trimester II < 10,5 gr/dl
b.      Tidak Anemia
1)      Pada Trimester I dan Trimester III > 11 gr/dl
2)      Pada Trimester II > 10,5 gr/dl
3.7.2.2  Analisa Bivariat
Setelah dikumpulkan melalui kuesioner, maka akan dilakukan pengolahan hasil dalam bentuk prosentase, selanjutnya untuk mengetahui hubungan dengan menggunakan uji Mann Withney dan menggunakan progam statistic SPSS, uji dilakukan dengan taraf signifikan α < 0,05 yang berarti jika α > 0,05  H0 diterima H1 ditolak, tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu hamil tentang pentingnya pemeriksaan kadar Hb dengan kejadian anemia dan α < 0,05 H0 ditolak artinya ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu hamil tentang pentingnya pemeriksaan kadar Hb dengan kejadian anemia.
3.8    Teknik Pengelolahan Data
Setelah data terkumpul selanjutnya dilakukan pengolahan data, kegiatan dalam pengolahan data meliputi :
3.8.1        Editing
Editing adalah memeriksa data yang telah dikumpulkan baik berupa daftar pertanyaan kultur atau buku register (Budiarto, 2001 : 24).
Dalam penelitian ini, peneliti memeriksa kelengkapan kuesioner, kejelasan makna jawaban dan kesesuaian jawaban.
3.8.2        Coding
Coding adalah tahap dimana penelitian memberi kode pada setiap katagori yang dalam varibel (Budiarto, 2001 : 30).
Dalam penelitian ini, menggunakan kode pada setiap kategori.
1.      Data Umum
a.       No Responden
Responden nomer 1   :  R1
Responden nomer 2   :  R2
Dan seterusnya
b.      Pendidikan Terakhir
SD                              :  P1
SMP                           :  P2
SMA                          :  P3
Perguruan Tinggi        :  P4
c.       Umur Kehamilan
Trimester I                  :  T1
Trimester II                :  T2
Trimester III               :  T3
3.8.3        Skoring
Diberikan skor pada setiap item lembar kuesioner dimana jika jawabann benar 1 dan jika salah nilainya 0 (Arikunto, 2006 : 236).
Dalam penelitian ini, jika jawaban benar nilainya 1 dan jika salah nilainya 0.
3.8.4        Tabulasi 
Tabulasi adalah pekerjaan menyusun tabel mulai dari penyusunan tabel utama yang berisi seluruh data atau informasi yang berhasil dikumpulkan dengan daftar pertanyaan sampai dengan tabel khusus yang telah benar-benar ditentukan betul dan isinya sesuai dengan tujuan penelitian, setelah terbentuk tulisan (Nursalam, 2003 : 94).
Dalam penelitian ini, tabulasi data dilakukan dari menyusun tabel yang berisi seluruh data yang berhasil dikumpulkan sampai menyusun data khusus, rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:


Keterangan :
N         : Nilai yang didapat
SP        : Skor yang didapat
SM      : Skor maksimum
Setelah sampai pada hasil prosentase, kemudian diinterpretasikan dengan kriteria kualitatif sebagai berikut
d.      Bila hasil 76 – 100 %        : Baik
e.       Bila hasil 56 – 76 %          : Cukup
f.       Bila hasil < 56 %               : Kurang

3.9         Alat Ukur
Kuesioner close ended yang terdiri dari pertanyaan yang menyediakan beberapa jawaban alternatif dan responden hanya memilih satu diantaranya dengan pendapatnya ini disebut multiple chois (Notoatmojdo, 2002 : 125).
     Dalam penelitian ini alat yang digunakan adalah bentuk kuesioner. Kuesioner ini digunakan peneliti adalah kuesiner close ended untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu hamil tentang pentingnya pemeriksaan kadar Hb dengan kejadian anemia.
3.10      Etika Penelitian
Pelaksanaan penelitian ini harus ijin pada pihak yang terkait selain itu baru disebarkan pada responden yang akan diteliti dengan menekankan masalah etika yang diteliti meliputi :
3.10.1    Informed Consent (Lembar Persetujuan)
Lembar persetujuan yang diberikan pada subyek yang akan diteliti, peneliti menjelasakan maksud dan tujuan penelitian serta dampak yang mungkin terjadi selama dan sesudah pengumpulan data jika subyek menolak untuk diteliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati hak-haknya (Nursalam dan Pariani, 2001 : 172).
3.10.2    Anonimity (Tanpa Nama)
Untuk menjaga kerahasian responden peneliti tidak mencantumkan nama pada lembar pengumpulan data cukup dengan memberi nomer pada masing-masing lembar tersebut.
3.10.3    Confidenciality (Kerahasiaan)
Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh penulis hanya kelompok data tertentu saja yang akan dilaporkan sebagai hasil penelitian.
3.11     Keterbatasan
Keterbatasan merupakan kelemahan dan hambatan dalam penelitian, keterbatasan dalam penelitian yang dihadapi oleh peneliti adalah :
3.11.1    Sampel atau Desain
Sampel yang diambil terbatas pada ibu hamil di Desa Mlras.
3.11.2    Instrumen atau Alat Ukur
Pengumpulan data dengan kuesioner yang memiliki jawaban lebih banyak dipengaruhi oleh sikap dan harapan-harapan pribadi yang bersifat subyektif. Sehingga hasilnya kurang mewakili secara kualitatif.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan diuraikan hasil penelitian yang dilaksanakan di Desa Mlaras pada tanggal 10 sampai 16 Mei 2010 dengan 20 responden. Hasil penelitian disajikan dalam dua bagian yaitu data umum dan data khusus. Dalam data umum dimuat karakteristik responden berdasarkan umur, pendidikan terakhir, informasi dan sumber informasi. Sedangkan data khusus terdiri dari tingkat pengetahuan ibu hamil tentang pentingnya pemeriksaan kadar hemoglobin, kejadian anemia, dan hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang pentingnya pemeriksaan kadar hemoglobin dengan kejadian anemia. Data-data tersebut disajikan dalam bentuk tabel :
4.1    Hasil Penelitian
4.1.1        Data Umum
4.1.1.1  Karakteristik Responden Berdasarkan Umur
Tabel 4.1   Daftar Distribusi Responden Menurut Umur Di Desa Mlaras Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang

Umur
Jumlah
Prosentase (%)
< 20 Tahun
20-35 Tahun
> 35 Tahun
4
15
1
20
75
5
Jumlah
20
100
           
Berdasarkan Tabel 4.1 dapat menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia antara 20 sampai 35 tahun sebanyak 15 responden (75%).
4.1.1.2  Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan
Tabel 4.2   Daftar Distribusi Responden Menurut Pendidikan Di Desa Mlaras Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang

Pendidikan
Jumlah
Prosentase (%)
SD
SMP
SMA
Perguruan Tinggi
7
8
4
1
35
40
20
5
Jumlah
20
100

Berdasarkan tabel 4.2 dapat menujukkan bahwa hampir setengah dari responden berpendidikan SMP sebanyak 8 orang (40%).
4.1.1.3  Karakteristik Responden Berdasarkan Informasi
Tabel 4.3   Daftar Distribusi Responden Menurut Informasi Yang Didapat Tentang Pemeriksaan Kadar Hemoglobin Di Desa Mlaras Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang
           
Informasi
Jumlah
Prosentase (%)
Pernah
Tidak Pernah
Tidak Tahu
19
1
0
95
5
0
Jumlah
20
100
           
Berdasarkan tabel 4.3 dapat menunjukkan bahwa hampir seluruh responden sudah mendapatkan informasi tentang pemeriksaan kadar hemoglobin sebanya 19 responden (95%).
4.1.1.4  Karakteristik Responden Berdasarkan Sumber Informasi
Tabel 4.4   Daftar Distribusi Responden Menurut Sumber Informasi Tentang Pemeriksaan Kadar Hemoglobin Di Desa Mlaras Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang

Sumber Informasi
Jumlah
Prosentase (%)
Tenaga Kesehatan
Televisi/Radio
Koran/Media Cetak
19
0
0
100
0
0
Jumlah
19
100
Berdasarkan tabel 4.4 dapat menunjukkan bahwa seluruh responden mendapatkan informasi tentang pemeriksaan kadar hemoglobin dari tenaga kesehatan sebanyak 19 orang (100%).
4.1.1.5  Karakteristik Responden Berdasarkan Melakukan Pemeriksaan Kadar Hemoglobin
Tabel 4.5   Daftar Distribusi Responden Menurut Pernah Atau Tidaknya Melakukan Pemeriksakan Kadar Hemoglobin Di Desa Mlaras Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang
           
Pemeriksaan  Hemoglobin
Jumlah
Prosentase (%)
Pernah
Tidak pernah
Tidak Sama Sekali
14
6
0
70
30
0
Jumlah
20
100

Berdasarkan tabel 4.5 dapat menunjukkan bahwa sebagian besar responden sudah melakukan pemeriksaan kadar hemoglobin sebanyak 14 responden (70%).
4.1.1.6  Karakteristik Responden Berdasarkan Frekuensi Pemeriksaan Kadar Hemoglobin
Tabel 4.6   Daftar Distribusi Responden Menurut Frekuensi Pemeriksaan Kadar Hemoglobin Di Desa Mlaras Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang

Frekuensi
Jumlah
Prosentase
1 Kali
2 Kali
3 Kali
13
1
0
93
7
0
Jumlah
14
100

Berdasarkan tabel 4.6 dapat menunjukkan bahwa sebagian besar responden melakukan pemeriksaan kadar hemoglobin 1 kali selama hamil sebanyak 13 responden (93%).
4.1.2        Data Khusus
4.1.2.1  Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Pentingnya Pemeriksaan Kadar Hemoglobin
Tabel 4.7   Daftar Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Pentingnya Pemeriksaan Kadar Hemoglobin Di Desa Mlaras Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang

Tingkat Pengetahuan
Jumlah
Prosentase (%)
Baik
Cukup
Kurang
10
7
3
50
35
15
Jumlah
20
100

Berdasarkan tabel 4.7 dapat diketahui bahwa dari setengah dari jumlah responden memiliki pengetahuan yang baik tentang pemeriksaan kadar hemoglobin sebanyak 10 responden (50%).
4.1.2.2  Kejadian Anemia
Tabel 4.8   Daftar Distribusi Frekuensi Responden Yang Mengalami Anemia Di Desa Mlaras Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang

Kejadian anemia
Jumlah
Prosentase (%)
Anemia
Tidak anemia
10
10
50
50
Jumlah
20
100
        
Berdasarkan tabel 4.8 dapat menunjukkan bahwa setengah dari jumlah responden mengalami anemia sebanyak 10 responden (50%).
4.1.2.3  Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Pentingnya Pemeriksaan Kadar Hemoglobin Dengan Kejadian Anemia
Tabel 4.9   Tabulasi Silang Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Pentingnya Pemeriksaan Kadar Hemoglobin Dengan Kejadian Anemia Di Desa Mlaras Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang

Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Pentingnya Pemeriksaan Kadar Hemoglobin
Kejadian Anemia
Anemia
Tidak Anemia
Total
Jumlah
Prosentase
(%)
Jumlah
Prosentase
(%)
Jumlah
Prosentase (%)
Baik
Cukup
Kurang
1
6
3
10
85,7
100
9
1
0
90
14,3
0
10
7
3
100
100
100
Jumlah
10
50
10
50
20
100
        
Berdasarkan tabel 4.9 didapatkan bahwa dari 10 responden yang memiliki pengetahuan baik, 1 responden (10%)  mengalami anemia dan 9 responden (90%) tidak mengalami anemia. Dari 7 responden yang berpengetahuan cukup, 6 responden (85,7%) mengalami anemia dan 1 responden (14,3%) tidak mengalami anemia. Sedangkan 3 responden (100%) yang memiliki pengetahuan kurang, semuanya mengalami anemia.
            Berdasarkan hasil uji Mann Withney dengan SPSS For Windows 11.5 didapatkan bahwa z hitung lebih kecil daripada z tabel yaitu, -3,442 < -1,96, artinya ada hubungan tingkat pengetahuan ibu hamil tentang pentingnya pemeriksaan hemoglobin dengan kejadian anemia (hasil uji statistik lihat lampiran).

4.2    Pembahasan
Dari hasil hubungan tingkat pengetahuan ibu hamil tentang pentingnya pemeriksaan hemoglobin dengan kejadian anemia di Desa Mlaras Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang tahun 2010, maka sesuai dengan tujuan penelitian yang telah ditetapkan pada Bab I. Pada bab ini akan diuraikan pembahasan mengenai :
4.2.1        Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Pentingnya Pemeriksaan Kadar Hemoglobin
Pengetahuan dipengaruhi oleh pendidikan (Notoatmodjo, 2003). Hal ini sesuai dengan pernyataan yang menyatakan bahwa makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki (Nursalam, 2003). Sebaliknya, pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang baru dikenal (Notoatmodjo, 2003).
Berdasarkan tabel 4.2 dapat menunjukkan bahwa hampir setengah dari jumlah responden berpendidikan SMP sebanyak 8 responden (40%).
Rendahnya pendidikan akan berpengaruh terhadap daya serap atau penerimaan informasi yang masuk apalagi informasi yang baru dikenal reponden termasuk perihal pemeriksaaan kadar hemoglobin. Selain itu, tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi pandangan ibu hamil terhadap sesuatu dari luar.
Pengetahuan juga dipengaruhi oleh usia. Usia adalah umur yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat ia akan berulang tahun. Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang untuk berfikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat yang lebih dewasa akan lebih dipercaya daripada orang yang belum cukup tinggi tingkat kedewasaannya. Hal ini sebagai akibat dari pengalaman dan kematangan jiwanya (Notoatmodjo, 2003).
Berdasarkan tabel 4.1 dapat menunjukkan bahwa sebagian besar responden beusia 20-35 tahun sebanyak 15 responden (75%).
Umur yang sudah matang akan mudah menerima informasi yang datangnya dari luar karena bertambahnya umur seseorang akan mempengaruhi kemampuan intelektual seseorang dalam menerima informasi.
Selain itu, pengetahuan juga dipengaruhi informasi yang di dapatkan oleh responden.Hal ini sesuai dengan pernyataan Kartono (2006) bahwa informasi dapat diperoleh dirumah, disekolah, dilembaga organisasi, media cetak, dan tempat pelayanan kesehatan.
Berdasarkan tabel 4.3 dapat menunjukkan bahwa hampir seluruh responden mendapatkan informasi tentang pemeriksaan hemoglobin sebanyak 19 responden (95%).
Informasi yang didapat seseorang akan mengubah seseorang yang awalnya tidak tahu menjadi tahu dan mengerti sehingga mereka akan bersikap seseuai dengan pengetahuan yang dimilikinya. Semakin tinggi pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang, mereka akan lebih bersikap dan berperilaku dengan baik daripada orang yang berpengetahuan lebih rendah atau orang yang tidak berpengetahuan sama sekali.
Berdasarkan tabel 4.7 diketahui bahwa pengetahuan ibu hamil tentang pentingnya pemeriksaan kadar hemoglobin dengan kriteria baik sebanyak 10 responden (50%), cukup sebanyak 7 responden (35%), dan kurang sebanyak 3 responden (15%).
Dapat disimpulkan bahwa pengetahuan ibu hamil di Desa Mlaras Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang adalah baik. Hal ini ditunjukkan bahwa setengah dari jumlah responden sebanyak 10 orang (50%) memiliki pengetahuan baik.
Berdasarkan dari data diatas, ada kesamaan antara teori dan hasil penelitian yang dilakukan terhadap tingkat pengetahuan bu hamil di Desa Mlaras Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang adalah baik.
Peran bidan sangat penting guna meningkatkan pengetahuan melalui peningkatan mutu pelayanan dan melakukan penyuluhan yang berkaitan dengan ibu dan dan anak, khususnya ibu hamil dan tentang pemeriksaan kadar hemoglobin. Pengetahuan yang baik akan menciptakan kesadaran pada tiap orang sehingga tercipta perilaku yang baik pula.
4.2.2        Kejadian Anemia
Anemia karena kekurangan zat besi adalah suatu keadaan dimana jumlah sel darah merah atau hemoglobin (protein pengangkut oksigen) dalam sel darah berada di bawah normal, yang disebabkan karena kekurangan besi (Endah K , 2010: 31).
Berdasarkan tabel 4.8 dapat menunjukkan bahwa setengah dari jumlah responden mengalami anemia sebanyak 10 responden (50%).
Peran bidan sangat penting untuk menurunkan risiko terjadinya anemia dan komplikasinya. Salah satu usaha yang ditetapkan adalah pemeriksaan kehamilan secara rutin (ANC/ Antenatal Care). Standart pemeriksaan minimal untuk ANC selama hamil adalah 4 kali, yaitu 1x pada trimester I (sebelum 14 minggu), 1x pada trimester II (antara minggu 14-28), dan 2x pada trimester III (antara minggu 28-36 dan sesudah minggu ke 36).  Dalam pemeriksaan kehamilan di lakukan standart 7 T yaitu : Timbang dan Tinggi badan, Tensi, Tinggi fundus uteri, Suntik TT, Tablet tambah darah, Tes PMS dan temu Wicara. Selain pelayanan Standart 7T, juga dilakukan pemeriksaan laboraturium, diantaranya pemeriksaan Hb (hemoglobin) untuk mengetahui kadar hemoglobin.
4.2.3        Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Pentingnya Pemeriksaan Kadar Hemoglobin Dengan Kejadian Anemia
Berdasarkan tabel 4.9 dan hasil uji Mann Withney dengan menggunakan SPSS For Windows 11.5, pada taraf kesalahan 5 % dan nilai α < 0,05. Dengan z hitung lebih kecil daripada z tabel yaitu, -3,442 < -1,96, artinya ada hubungan tingkat pengetahuan ibu hamil tentang pentingnya pemeriksaan hemoglobin dengan kejadian anemia di Desa Mlaras Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang.
Pengetahuan adalah merupakan hasil dari “tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. penginderaan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (Notoatmodjo 2003).
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan antara lain : pendidikan, usia, pekerjaan, informasi, minat, kebudayaan dan lingkungan (Notoatmodjo, 2003).
Pengetahuan-pengetahuan yang di dapat dengan memberikan informasi-informasi tentang cara-cara hidup sehat, cara pemeliharaan kesehatanm cara-cara menghindari penyakit, dan sebagainya akan menimbulkan kesadaran mereka, dan akhirnya akan menyebabkan orang berperilaku sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya itu. Hasil atau perubahan perilaku dengan cara ini akan memekan waktu lama, tetapi perubahan yang dicapai akan bersifat langgeng karena didasari pada kesadran mereka sendiri (bukan karena pakasaan) (Notoajmodjo, 2003 : 145).
Pengetahuan yang kurang tentang pentingnya pemeriksaan kadar hemoglobin maka akan terjadi anemia. Sebaliknya jika pengetahuan tentang pentingnya pemeriksaan kadar hemoglobin baik, maka responden tidak mengalami anemia.
Berdasarkan tabel 4.2 dapat menunjukkan bahwa hampir setengah dari responden berpendidikan SMP sebanyak 8 orang (40%).
Pendidikan diperoleh melalui proses belajar yang khusus diselenggarakan dalam waktu tertentu, tempat tertentu dan kurikulum tertentu, namun dapat diperoleh dari bimbingan yang diselenggarakan sewaktu-waktu dengan maksud mempertinggi kemampuan atau keterampilan khusus.
Pendidikan tentang pentingnya pemeriksaan kadar hemoglobin selama kehamilan merupakan suatu proses mengubah kepribadian, sikap, dan pengertian tentang anemia dalam kehamilan sehingga dapat menurunkan angka kejadian anemia dalam kehamilan. Berpedoman pada tujuan pendidikan diperkirakan bahwa semakin meningkatnya pendidikan yang dicapai sebagian besar penduduk, semakin membantu kemudahan pembinaan akan pentingnya pemeriksaan kadar hemoglobin guna menurunkan angka kejadian anemia pada ibu hamil.
Tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi pandangannya terhadap sesuatu yang datang dari luar. Orang yang mempunyai pendidikan tinggi akan memberikan tanggapan yang lebih rasional dibandingkan dengan orang yang berpendidikan rendah atau tidak berpendidikan sama sekali.
Anemia dalam kehamilan didefinisikan sebagai hemoglobin yang kurang dari 11 g/dl pada trimester pertama dan ketiga dan kurang dari 10,5 g/dl pada trimester kedua (Diane F & Margaret A Coper, 2009: 190). Apabila pada pemeriksaan kehamilannya hanya Hb yang di periksa dan Hb kurang dari 10 g/ 100ml, maka wanita dapat dianggap menderita anemia defisiensi besi, baik yang murni maupun yang dimorfis, karena tersering anemia dalam kehamilan ialah anemia defisiensi besi. Anemia dalam kehamilan memberi pengaruh kurang baik bagi bayi dan ibu, baik dalam kehamilan, persalinan, maupun nifas dan masa selanjutnya. Berbagai penyakit dapat timbul akibat anemia, seperti: abortus, partus prematurus, partus lama karena inertia uteri, perdarahan post partum karena atonia uteri, syok, onfeksi baik intrapartum maupun post partum, anemia yang sangat berat dengan Hb kurang dari 4 g/100 ml dapat menyebabkan dekompensasi kordis, seperti dilaporkan oleh Lie-Injo Luang Eng, dkk. Juga hasil konsepsi anemia dalam kehamilan memberi pengaruh kurang baik, seperti kematian mudigah, kematian perinatal, prematurus, dapat terjadi cacat bawaan, cadangan besi kurang. Anemia dalam kehamilan merupakan sebab potensial morbiditas serta mortalitas ibu dan anak (Winkjosastro, 2005: 450).
Berdasarkan tabel 4.8 dapat menunjukkan bahwa setengah dari jumlah responden mengalami anemia sebanyak 10 responden (50%).
Berdasarkan tabel 4.9 didapatkan bahwa dari 10 responden yang memiliki pengetahuan baik, 1 responden (10%)  mengalami anemia dan 9 responden (90%) tidak mengalami anemia. Dari 7 responden yang berpengetahuan cukup, 6 responden (85,7%) mengalami anemia dan 1 responden (14,3%) tidak mengalami anemia. Sedangkan 3 responden (100%) yang memiliki pengetahuan kurang, semuanya mengalami anemia.

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa ada kesamaan antara teori dan hasil penelitian yang telah dilakukan sehingga ada hubungan tingkat pengetahuan ibu hamil tentang pentingnya pemeriksaan kadar hemoglobin dengan kejadian anemia.
Peran petugas kesehatan terutama bidang sangat penting untuk menurunkan angka kejadian anemia yang terjadi terutama pada ibu hamil melalui peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Para bidan bisa menerapkan kelas ibu hamil yang diadakan setip bulan sehingga informasi tentang masalah kehamilan dapat tersampaikan secara maksimal dan pelayanan kebidanan dapat terlaksana secara maksimal.
BAB V
PENUTUP

5.1    Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian di Desa Mlaras Kecamatan Sumobito Jombang dapat disimpulkan bahwa:
1.      Setengah dari jumlah ibu hamil memiliki pengetahuan yang baik tentang pentingnya pemeriksaan kadar hemoglobin (50%).
2.      Setengah dari jumlah ibu hamil mengalami anemia (50%).
3.      Berdasarkan hasil uji Mann Withney ada hubungan tingkat pengetahuan ibu hamil tentang pentingnya pemeriksaan hemoglobin dengan kejadian anemia (-3,442<-1 span="">
5.2    Saran
5.2.1        Bagi Institusi Pendidikan
Bagi institusi pendidikan diharapkan dapat memberikan pembelajaran pada mahasiswa tentang pemeriksaan kadar hemoglobin sehingga mahasiswa dapat meningkatkan pengetahuannya dan dapat melakukan pemeriksaan hemoglobin dengan cepat dan tepat.
5.2.2        Bagi Peneliti Selanjutnya
Peneliti selanjutnya diharapkan meneliti hubungan lebih lanjut tentang faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan anemia sehingga kejadian anemia dapat dicegah dan ditekan.
5.2.3        Bagi Tempat Penelitian
Diharapkan tenaga kesehatan terutama bidan dapat meningkatkan mutu pelayanan kesehatan ibu dan anak khususnya ibu hamil melalui kelas ibu hamil sehingga bidan bisa memberi penyuluhan tentang pentingnya pemeriksaan kadar hemoglobin selama kehamilan, sehingga kejadian anemia dapat ditekan.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Friends

Blog List