Jumat, 15 Februari 2013

HUBUNGAN PENDAMPINGAN SUAMI DENGAN KEMAJUAN PROSES PERSALINAN KALA I – IV


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) di dunia masih merupakan masalah yang menjadi prioritas utama di bidang kesehatan. Disamping menunjukkan derajat kesehatan masyarakat juga dapat menggambar tingkat kesejahteraan masyarakat dan kualitas pelayanan kesehatan. Penyebab kematian langsung kematian ibu adalah trias yaitu perdarahan, infeksi dan keracunan kehamilan, penyebab kematian langsung tersebut tidak dapat sepenuhnya dimengerti tanpa memperhatikan latar belakang (underlaying factor) yang mana bersifat medic maupun non medic. Diantara factor non medik misalnya keadaan kesejahteraan ekonomi keluarga, pendidikan ibu, lingkungan hidup, prilaku dan lain-lain. (Sarwono, 2005)
Berdasarkan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002/2003, Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih berada pada angka 307 per 100.000 per kelahiran hidup atau setiap jam terdapat 2 orang ibu bersalin meninggal dunia karena berbagai sebab. Demikian pula Angka Kematian Bayi (AKB) khususnya angka kematian bayi baru lahir (neonatal) masih berada pada kisaran 20 per 1000 kelahiran hidup, keadaan ini menempatkan upaya prioritas dalam dalam bidang kesehatan, penyebab terpenting kematian maternal di Indonesi adalah perdarahan 40-60%, infeksi 20-30%, dan keracunan kehamilan 20-30%, sisanya sekitar 5% disebabkan penyakit lain yang memperburuk persalinan. (Dinkes, 2005)
Persalinan dan kelahiran merupakan sebuah kejadian fisiologis serta peristiwa alamiah yang sangat di nantikan oleh ibu dan keluarga selama Sembilan bulan.Ketika proses persalinan di mulai, peran ibu adalah melahirkan bayinya dan peran petugas kesehatan adalah memantau persalinan untuk mendeteksi dini adanya komplikasi  serta bersama keluarga memberikan dukungan  dan bantuan ibu bersalin. (Saifuddin, 2002)
Prinsip asuhan sayang ibu antara lain saling menghargai budaya kepercayaan dan keinginan sang ibu, salah satu prinsip dasar asuhan sayang ibu adalah mengikutsertakan suami dan keluarga selama proses persalinan dan kelahiran bayi serta mengetahui dengan baik mengenai proses  persalinan dan asuhan yang akan mereka terima, mereka akan mendapatkan rasa aman serta dapat mengurangi persalina dengan tindakan. (Depkes. RI, 2002)
Pendamping terutama orang terdekat ibu selama proses persalinan ternyata dapat membuat persalinan menjadi lebih singkat, nyeri berkurang, robekan jalan lahir lebih jarang, serta nilai APGAR pun menjadi lebih baik, namun saat ini partisipasi pria dalam kesehatan reproduksi masih sangat rendah, masih sangat banyak suami belum mampu menunjukkan dukungan penuh terhadap proses persalinan, terdapat 68% persalinan di Indonesia tidak di damping suami selama persalinan. (Darsana Nur Sejiwa. Blogspot. Com, 10 Maret 2010)
Sekitar 58,2% ibu melahirkan meninggal dalam kondisi tidak di samping suami, karena pemahaman tentang hal itu masih kurang di negara Indonesia (Www.Infoanda.com,10 Maret). Penelitian lain terhadap 200 ibu melahirkan dirumah sakit yang berada di lima kota besar di Indonesia, di peroleh 86,2% menyatakan perasaan senang dan bahagia selama persalinannya di damping oleh suami dan sisanya merasa senang bila di damping oleh keluarga khususnya ibu kandung. (Http://www.kespro.com : 10 Maret 2010)
Dari studi pendahuluan yang telah di lakukan pada tanggal 17 maret 2010 di dapatkan data ibu bersalin dengan pendampingan sebanyak 18 orang, yakni 11 orang didampingi oleh suami dan 7 orang didampingi oleh keluaraga ibu, dan 4 orang diantara ibu bersalin dengan didampingi oleh suami dirujuk ke rumah sakit lantaran mengalami kegagalan dalam kemajuan persalinan.
Maka dari itu penulis mengangkat masalah yang ada, yakni mengenai hubungan pendampingan suami dengan kemajuan proses persalinan kala I-IV.

1.2  Rumusan Masalah
Apakah ada hubungan antara pendampingan suami dengan kemajuan persalinan kala I-IV di BPS Hj. Umi Salamah Kecamatan Peterongan Kabupaten Jombang ?

1.3  Tujuan Penelitian
1.3.1        Tujuan Umum
Untuk mengetahui  apakah ada hubungan antara pendampingan suami dengan kemajuan persalinan kala I-IV di BPS Hj. Umi Salamah Kecamatan Peterongan Kabupaten Jombang.
1.3.2        Tujuan Khusus
a.       Mengidentifikasi pendampingan suami pada kemajuan persalinan kala I-IV.
b.      Mengidentifikasi kemajuan proses persalinan kala I-IV.
c.       Menghubungkan antara pendampingan suami dengan kemajuan proses persalinan kala I-IV.

1.4  Manfaat Penelitian
1.4.1        Bagi Peneliti
Menambah wawasan tentang teori pendampingan suami dengan kemajuan persalinan pada kala I-IV.
1.4.2        Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai wacana bagi Institusi sehingga teori pendampingan suami  dengan kemajuan persalinan dapat di teliti.
1.4.3        Bagi Tempat Penelitian
Penelitian ini di gunakan sebagai masukan, tentang pendampingan suami dalam kemajuan persalinan, sehingga penelitian ini dapat bermanfaat untuk di terapkan oleh bidan.

1.5  Sistematika Penulisan
BABI : PENDAHULUAN
Menguraikan tentang Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian, Sistematika Penulisan
BAB II :TINJAUAN PUSTAKA
Menguraikan tentang Konsep Pendampingan Suami, Konsep Persalinan

BAB III : METODE PENELITIAN
Menguraikan tentang Desain Penelitian, Populasi, Sampling, Kriteria Sampel, Identifikasi Variabel, Definisi Operasional, Lokasi Dan Waktu Penelitian, Teknik Pengumpulan Data Dan Analisa Data, Teknik Pengolahan Data, Instrumen, Etika Penelitian, Keterbatasan.

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN


































BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Konsep Dasar Pendampingan Suami
2.1.1        Konsep Pendampingan Suami
Definisi
Pendampingan berasal dari kata “damping” yang berarti dekat, karib, persaudaraan. Sedangkan arti dari pendamping adalah orang yang mendampingi, dan arti dari pendampingan adalah suatu cara atau proses mendampingi. (Departemen Pendidikan Nasional : 2005)
Suami adalah pemimpin di dalam rumah tangganya serta bertanggung jawab atas baik dan buruknya keadaan anak dan istrinya, idealnya suami harus mengetahui begaimana mengatur rumah tangga yang benar serta ia harus mengetahui bekal apa saja yang di perlukan untuk menjadi nahkoda rumah tangga yang sukses. (DR. Husein Syahatah :2006)

2.1.2        Peran Suami Dalam Proses Melahirkan
Menurut Chapman, peran suami dalam proses persalinan di bagi menjadi tiga yaitu :
2.1.2.1  Pelatih
Suami secara aktif membantu wanita selama dan sesudah kontraksi persalinan, seorang pelatih menunjukkan keinginan yang kuat untuk mengendalikan diri mereka dan mengontrol persalinan, wanita memajukan keinginan yang kuat agar suami terlibat secara fisik dalam persalinan.
2.1.2.2  Teman Satu Tim
Suami sebagai teman satu tim akan membantu wanita dengan berespon terhadap permintaan wanita akan dukungan fisik atau dukungan emosi atau keduanya, teman satu tim biasanya mengambil peran sebagai pengikut atau pembantu dan menunggu wanita atau perawat memberitahukan mereka apa yang dapat mereka lakukan.
2.1.2.3  Saksi
Suami sebagai saksi, dalam peraban ini suami bertindak sebagai teman dan memberikan dukungan emosi dan moral, ia memperhatikan wanita bersalin dan melahirkan, akan tetapi seringkali tertidur, menonton televisi atau meninggalkan ruangan untuk waktu yang lama. Saksi yakin tidak banyak yang mereka lakukan secara fisik dan mereka membiarkan perawat dan pemberi jasa kesehatan menangani persalinan pasangannya. Wanita tidak mengharapkan pasangan berperan tidak lebih sekedar hadir. (Bobak : 2005)
Peran pasangan dalam persalinan yakni memberikan dukungan dengan penuh rasa cinta, pasangan dapat melakukan berbagai cara untuk membantu ibu bertahan menghadapi rasa sakit dan proses persalinan :
a.       Membantu ibu mengajari pernafasannya
b.      Mengusap punggung ibu dengan usapan lembut
c.       Mendorong ibu untuk tetap rileks
d.      Membantu ibu dalam posisi melahirrkan
e.       Membantu ibu bernafas dan mendorong
f.       Memberikan ibu dukungan emosional
g.      Membantu ibu untuk memerangi kelelahan dan bertahan dari rasa sakit
(dr. Miriam Stoppard :2009)

2.1.3        Kebudayaan danPartisipasi Suami
Banyak rumah sakit mendorong ayah untuk hadir selama persalinan dan melahirkan. Apabila suami tidak dapat hadir, orang yang dekat dengannya dapat hadir. Pada beberapa kebudayaan, ayah mungkin hadir, tetapi kehadirannya di sisi pasangannya mungkin di anggap tidak pantas sehingga ia mungkin di anggap tidak pantas sehingga ia menolak untuk terlibat. Prilakunya dapat di salah artikan oleh staf perawat  sebagai kurang peduli, kurang perhatian, kurang berminat. Sedangkan dalam kebudayaan Cina suami tidak diperbolehkan masuk  kamar bersalin karena ia  dapat tercemar oleh darah wanita. Perawat dari latar belakang budaya berbeda mungkin merasa aneh melihat seorang suami Cina tidak memberi dukungan emosi kepada istrinya selama proses persalinan dan melahirkan akan tetapi wanita cina mempunyai orang terdekat lain yang dapat memberi mereka dukungan emosional, jika di perlukan.  Karena banyak variasi pilihan orang yang lebih disukai untuk hadir adalah penting bagi bidan untuk menentukan siapa yang diinginkan untuk hadir dalam proses persalinannya  dan saat ia melahirkan.

2.2  Konsep Dasar Kemajuan Persalinan
2.2.1        Persalinan
Definisi
a.       Persalinan dan kelahiran adalah merupakan kejadian fisiologis yang normal, kelahiran seorang bayi juga merupakan peristiwa social yang ibu daan keluarga menantikannya selama Sembilan bulan. Ketika persalinan di mulai peranan ibu adalah melahirkan bayinya dan peran petugas adalah memantau persalinan untuk mendeteksi dini adanya komplikasi di samping itu bersama keluarga memberikan bantuan dan dukungan pada ibu bersalin. (Sifuddin :2006)
b.      Persalinan normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu). Lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung tidak lebih dari 18 jam tanpa komplikasi baik bagi ibu maupun janin. (Sarwono:2002)
c.       Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban keluar dari uterus ibu. Persalinan di anggap normal jika prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup bulan (37 minggu)  tanpa di sertai adanya penyulit. Persalinan dimulai (inpartu) sejak uterus berkontraksi dan menyebabkan perubahan pada serviks (membuka dan menipis) dan berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap, ibu belum inpartu jika kontraksi uterus tidak mengakibatkan perubahan serviks (JNPK-KR :2007)

2.2.2        Sebab-Sebab Mulainya Persalinan
Sebab yang mendasari terjadinya partus secara teoritis masih merupakan kumpulan teoritis yang kompleks, teori turut memberikan andil dalam proses terjadinya persalina antara lain :
a.       Teori hormonal
b.      Teori prostaglandin
c.       Struktur uterus
d.      Pengaruh saraf dan nutrisi
Beberapa hal di ataslah yang diduga memberikan pengaruh sehingga partus di mulai. Sedangkan menurut Mochtar sebab dimulainya persalinan karena beberapa sebab antara lain :
2.2.2.1  Penurunan kadar progesteron
Progesteron  menimbulkan relaksasi otot-otot rahim, sebaliknya estrogen meningkatkan kontraksi otot-otot rahim, selama kehamilan terdapat keseimbangan antara kadar progesterone dan estrogen di dalam darah tetapi pada akhir-akhir kehamilan kadar progesterone menurun sehingga timbul kontraksi.
2.2.2.2  Teori oksitosin
Pada akhir kehamilan, maka makin tereganglah otot-otot rahim  sehingga timbullah kontraksi untuk mengeluarkan janin.
2.2.2.3  Pengaruh janin
Hipofise dan kadar suprarenal janin rupanya memegang peranan penting oleh karena itu pada anenchepalus kelahiran  sering lebih lama.
2.2.2.4  Teori prostaglandin
Kadar prostaglandin dalam kehamilan dari minggu ke 15 hingga aterm terutama saat persalinan yang menyebabkan kontraksi miometrium. (Lilik, Lia, Ai Yeyeh :2009)

2.2.3        Tahapan Persalinan (Kala I, II, II, IV)
Persalinan di bagi menjadi empat kala yakni :
2.2.3.1  Kala I
Dimulai dari saat persalinan sampai  pembukaan lengkap 10 cm, proses ini terbagi dalam dua fase  : fase laten (8 jam) seviks membuka sampai (3 cm) dan fase aktif & jam) serviks membuka dari 3 cm-10 cm. Kontraksi lebih kuat dan sering selama fase aktif.
2.2.3.2  Kala II
Dimulai dari pembukaan lengkap (10 cm) sampai bayi lahir proses ini berlangsung 2 jam pada primi dan 1 jam pada multi.
2.2.3.3  Kala III
Dimulai segera setelah bayi lahir sampai lahirnya plasenta yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit.
2.2.3.4  Kala IV
Di mulai dari saatnya lahir plasenta 2 jam pertama post partum. (Sarwono :2006)


2.2.4        Fisiologi Persalinan Kala I – IV
2.2.4.1  Kala I
Pada kala I persalinan di mulainya proses persalinan  yang di tandai dengan adanya kontraksi yang teratur, adekuat dan menyebabkan perubahan pada pembukaan serviks hingga mencapai pembukaan lengkap, fase kala I persalinan terdiri dari fase laten yaitu di mulai dari awal kontraksi hingga pembukaan mendekati 4 cm. Kontraksi mulai teratur tetapi lamanya masih di antara 20-30 detik, tidak terlalu mules. Fase aktif dengan tanda-tanda kontraksi di atas 3 kali dalam 10 menit, lamanya 40 detik atau lebih dan mules. Pembukaan 4 cm hingga lengkap 10 cm ,penurunan bagian terbawah janin. Waktu pembukaan fase di bagi menjadi 2 : fase laten pembukaan terjadi sangat lambat berlangsung selama 8 jam, fase aktif yang terbagi lagi menjadi 3 fase  yaitu : fase akselerasi dalam waktu 2 jam, pembukaan 3 menjadi 4 cm menjadi 9 cm fase adeselerasi  pembukaan jadi lambat kembali dalam 2 jam pembukaan 9 cm menjadi. Lama kala I untuk primigravida berlangsung 2 jam dengan bukaan 2 cm perjam. Sedangkan pada muti gravid  pembukaan 1 cm perjam komplikasi yang dapat timbul : ketubanan pecah dini, tali pusat menumbung, obstrupsi plasenta, dan inersia uteri
2.2.4.2  Kala II
GEJALA DAN TANDA KALA II, telah terjadi pembukaan lengkap, tampak bagian kepala janin melalui bukaan introitus vagina, ada rasa ingin meneran saat kontraksi, ada dorongan pada rectum atau vagina, perenium terlihat menonjol vulva dan sfingter ani membuka, peningkatan keluaran lender dan darah.
Di mulainya  dari pembukaan lengkap (10 cm) sampai bayi lahir, proses ini biasanya berlangsung 2 jam pada primi dan 1 jam pada multi. Pada kala pengeluaran janin telah turun masuk ruang panggul sehingga terjadi tekanan pada otot-otot dasar panggul yang secara reflektoris menimbulkan rasa mengedan, karena tekanan pada rectum ibu merasa seperti ingin buang air besar dengan tanda anus membuka, perineum menonjol atau meregang. Dengan adanya his ibu di pimpin untuk mengedan, maka lahir kepala dengan di ikuti oleh seluruh badan janin. Komplikasi yang biasa timbul pada kala II yaitu : eklampsia, kepala terhenti, kelelahan ibu, persalinan lama, rupture uteri, distosia karena kelainan letak, infeksi intra partum, inersia uteri rupture uteri, tanda-tanda lilitan tali pusat.
2.2.4.3  Kala III
Batasan kala III, masa setelah lahirnya bayi dan berlangsungnya proses pengeluaran plasenta. Tanda lepasnya plasenta : terjadi perubahan bentuk uterus dan tinggi fundus uteri tali pusat memanjang atau terjulur keluar melalui vagina, adanya semburan darah secara tiba-tiba, kala III berlangsung tidak lebih dari 30 menit. Setelah bayi lahir uterus teraba keras dengan fundus uteri agak di atas pusat beberapa menit kemudian uterus berkontraksi lagi untuk melepaskan plasenta dari dindingnya, biasanya plasenta lepas dalam 6 menit-15 menit setelah bayi lahir dan keluar spontan atau dengan tekanan pada fundus uteri pengeluaran plasenta, di sertai dengan pengeluaran darah.
Komplikasi yang dapat terjadi pada kala III  adalah perdarahan akibat atonia uteri, retensio plasenta, perlukaan jalan lahir.
2.2.4.4  Kala IV
Dimulai dari saat lahirnya plasenta 2 jam pertama post partum. Komplikasi yang biasa terjadi pada kala IV adalah sub involusi di karenakan uterus tidak berkontraksi, perdarahan yang disebabkan oleh atonia uteri, laserasi jalan lahir, sisa plasenta.

2.2.5        Faktor Yang Mempengaruhi Persalinan
2.2.5.1  Tenaga (Power)
a.       His atau kontraksi adalah kontraksi otot-otot uterus dalam persalinan
b.      Kekuatan ibu mengedan
2.2.5.2  Janin dan Placenta (Passanger)
Bagian yang paling besar dank eras dari janin adalah kepala janin sehingga kepala janin harus sesuai dengan rongga panggul yang meliputi ukuran kepala dan tulang tengkorak (cranium), ukuran badan janin, postur tubuh janin dalam rahim.
2.2.5.3  Jalan Lahir (Passage)
Meliputi ukuran panggul, bentuk dan struktur dasar panggul.
2.2.5.4  Psikis Ibu Bersalin
Psikis ibu bersalin sangat berpengaruh dari dukungan suami dan anggota keluarga yang lain untuk mendampingi ibu selama bersalin dan kelahiran di anjurkan mereka berperan aktif dalam mendukung dan mendampingi langkah-langkah yang mungkin akan sangat membantu kenyamanan ibu, hargai keinginan ibu untuk di dampingi.
2.2.5.5  Penolong
Penolong persalinan adalah petugas kesehatan yang mempunyai legalitas dalam menolong persalinan antara lain dokter, bidan serta  petugas kesehatan yang mempunyai kompetensi dalam menolong persalinan, menangani kegawat daruratan serta melakukan rujukan jika di perlukan.

2.2.6        Kebutuhan Dasar Selama Persalinan
Untuk memenuhi kebutuhan dasar ibu selama persalinan dapat di lakukan beberapa tindakan  antara lain :
a.       Membimbing ibu untuk rileks sewaktu ada his
b.      Mengatur aktifitas dan posisi ibu
c.       Menghadirkan orang yang di anggapnya penting  seperti suami, keluarga ibu dan teman terdekat
d.      Menjaga privasi ibu
e.       Penjelasan kemajuan persalinan
f.       Mengatasi rasa panas
g.      Masase
h.      Pemberian asupan makan dan minum
i.        Mempertahankan kandung kemih tetap kosong
(Lilik, Lia, Ai Yeyeh :2008)

2.3  Konsep Dasar Hubungan Pendampingan Suami Dengan Kemajuan Persalinan
Melahirkan merupakan fungsi fisiologis. Wajar apabila para ibu ingin melaksanakan fungsi ini dengan cara yang mereka pertimbangkan paling tepat. Anggapan individu sebelum hamil, media dan latar belakang sosial serta kultural merupakan hal-hal yang yang turut berperan terhadap harapan sang ibu mengenai persalinan. Keselamatan ibu dan bayi menjadi tujuan utama. Akan tetapi kelahiran seorang bayi juga harus di ingat sebagai sebagai suatu pengalaman yang membahagiakan dan memperkaya batin. Persalinan hanya dapat di anggap berhasil di pimpin jika tujuan itu terpenuhi.
Personel medis yang mendampingi persalinan dapat memilih pandangan sendiri untuk memimpin persalinan. Akan tetapi persalinan tidak di anggap berhasil  kecuali jika staff medis merasa bahwa mereka telah mencapai hubungan yang baik dengan ibu yang melahirkan dan memimpin persalinan untuk mencapai tujuan yang telah di bahas di atas. Maka dari dari itu D.LIU menganjurkan pasangan suami untuk mendampingi ibu selama persalinan. Prilaku menuntut atau agresif yang di tunjukkan oleh suami atau pasangan mencerminkan rasa ketidakberdayaan terhadap situasi  yang mereka hadapi atau perasaan bersalah karena mereka telah menyebabkan kepada trauma melahirkan. (D.LIU :2007)
Karena seorang suami berpatisipasi dalam proses persalinan dan melahirkan, dalam berbagai cara perawat atau bidan perlu mendorongnya untuk mengambil peran yang sesuai untuknya dan untuk wanita itu, bukan sekedar berpura-pura  menjalankan peran sehingga tingkat mutualitas (saling ketergantungan) dan pengertian (kemampuan mengetahui kebutuhan satu sama lain) dalam hubungan suatu pasangan menentukan peran yang di emban seorang suami. Peran pelatih dan teman satu tim sering kali di perankan oleh pria yang memiliki hubungan dengan tingkat mutualitas yang tinggi dengan pasangannya. Sebaliknya, pria yang memiliki hubungan yang tingkat mutualitasnya rendah cenderung berperan sebagai saksi dalam proses melahirkan.
Beberapa penelitan di beberapa Negara yakni Amerika Serikat, Kanada, Inggris, dan Afrika Selatan telah menerapkan program persiapan melahirkan  dan persalinan dengan mengikutsertakan pasangan  sebagai tim pelatih dan memberikan dukungan dalam menghadapi proses persalinan, ternyata di dapatkan hasil yang sangat mengejutkan, sering kali cara ini berhasil, dengan realitas proses persalinan seperti ini menjadi motivasi tinggi dan kesiapan untuk melahirkan menjadi meningkat. (Bobak, 2005)
Di sebuah penelitian lain, telah memperlihatkan efektifnya dukungan fisik, emosional dan psikologis selama persalinan dan kelahiran. Dalam   cochrane database pengkajian sistematik dari 14 percobaan-percobaan yang melibatkan 5000 wanita memperlihatkan bahwa kehadiran seorang pendamping akan menghasilkan :
a.       Kelahiran dengan tindakan vacuum ekstraksi dan forsep semakin kecil
b.      Skor APGAR < 7 lebih sedikit
c.       SC untuk kelahiran semakin berkurang
d.      Lamanya persalinan semakin pendek
e.       Kepuasan ibu yang semakin besar dalam pengalaman mereka melahirkan
(Pusdiknas –WHO-JHPIEGO :2001)
Dengan metode mengurangi rasa sakit yang di berikan secara terus-menerus  dalam bentuk dukungan di dapatkan manfaat antara lain :
a.       Sederhana
b.      Efektif
c.       Bea rendah
d.      Resiko rendah
e.       Bersifat sayang ibu
f.       Resiko rendah
g.      Membantu kemajuan persalinan
h.      Hasil kelahiran semakin baik
(Pusdiknas –WHO-JHPIEGO :2001)


2.4  Kerangka Konsep
Kerangka Konsep adalah kerangka hubungan tentang konsep-kosep yang ingin di amati dan di ukur melalui penelitian yang akan dilakukan. (Notoatmodjo, 2003)
 




















Keterangan :
                  :  Diteliti
                  :  tidak diteliti

Penjelasan
Peran suami saat mendampingi persalinan dapat dilakukan berbagai cara antara lain : membantu ibu mengajari pernafasan, membantu dalam melahirkan, memberi dukungan emosional, mengusap punggung dengan asupan lembut dll. Sehingga pendampingan suami dapat mempengaruhi kemajuan proses persalinan kala I-IV, selain itu kemajuan persalinan dapat dipengaruhi oleh : power, passanger, passage, psikologi ibu, penolong, kriteria dari kemajuan persalinan itu apabila £ 12 jam dikategorikan cepat, dan > 12 jam dikategorikan lambat.

2.5  Hipotesis
HO :  Ada hubungan antara pendampingan suami dengan kemajuan proses persalinan kala I-IV.





BAB III
METODE PENELITIAN

Metode penelitian adalah suatu cara untuk memperoleh kebenaran ilmu pengetahuan atau pemecahan masalah, pada dasarnya menggunakan metode ilmiah. (Notoatdmojo : 2001)
Pada bab ini akan di uraikan tentang Desain Penelitian, Populasi, Sampling, Kriteria Sampel, Identifikasi Variabel, Definisi Operasional, dan Waktu Penelitian, Pengumpulan Data, Tehknik Pengolahan Data, Alat Ukur Yang Di Gunakan, Etika Penelitian, Keterbatasan.
3.1  Desain Penelitian
Jenis penelitian yang di gunakan adalah metode survey analitik atau penelitian yang mencoba menggali bagaimana dan mengapa fenomena kesehatan itu terjadi baik antara faktor resiko, maupun factor efek. Dengan menggunakan studi cross sectional yaitu suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi, antara factor-faktor resiko dengan efek, dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada sesuatu saat (point approach) artinya tiap subyek penelitian hanya statis karakter atau variable pada saat pemeriksaan. Hal ini tidak berarti bahwa semua obyek penelitian di amati pada waktu yang sama. (Notoatmojdo, 2005)

3.2  Populasi dan Sampling
3.2.1        Populasi
Populasi adalah wilayah generelisasi yang terdiri atas obyek  atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang di tetapkan oleh peneliti untuk mempelajari dan kemudian di tarik kesimpulannya. Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga  tetepi juga obyek dalam benda-benda alam yang lain. Populasi juga bukan sekedar obyek atau subyek yang di pelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik atau sifat yang di miliki oleh subyek atau obyek itu. (Sugiyono:2006)
Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada di wilayah penelitian populasi dan hanya dapat di gunakan apabila subyeknya tidak terlalu banyak dan terhingga. (Arikunto :2002)
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin yang di dampingi oleh suaminya saat bersalin, di BPS Hj. Umi Salamah Kecamatan Peterongan Kabupaten Jombang pada bulan Maret-Juni. Populasi pada bulan Maret sejumlah 25 orang.
3.2.2        Sampling
Sampling adalah proses menyeleksi porsi dari populasi untuk dapat mewakili populasi (Nursalam : 2003). Sampling dalam penelitian ini adalah total populasi atau sama dengan populasi yaitu jumlah sampel yang 100% mewakili populasi, jadi bila jumlah populasi 1000 orang tersebut dan hasil penelitian itu akan di berlakukan untuk 1000 orang tersebut tanpa ada kesalahan, maka jumlah sampel yang di ambil sama dengan jumlah populasi tersebut yaitu 100 orang. Obyek pada populasi di teliti, hasilnya  di analisis, di simpulkan dan simpulan itu berlaku untuk seluruh populasi (Arikunto:2002)

3.3  Kriteria Sampel
  1. Ibu bersalin yang bersedia di teliti di BPS Hj; Umi Salamah Kecamatan Peterongan Kabupaten Jombang
  2. Semua ibu bersalin yang di damping oleh suaminya saat proses persalinan

3.4  Identifikasi Variabel
Variabel adalah ukuran suatu ciri yang di miliki oleh anggota- anggota suatu kelompok yang berbeda dengan kelompok yang lain (Notoatmodjo : 2005)
Variabel yang di gunakan oleh peneliti adalah :
3.4.1        Variabel Independen (Variabel Bebas)
Adalah variable yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab timbulnya atau berubahnya variabel dependen (Variabel Terikat) (Sugiyono : 2006)
Variabel independen dalam penelitian ini adalah pendampingan suami
3.4.2        Variabel Dependen (Variabel Terikat )
Merupakan variable yang di pengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variable bebas (Sugiyono : 2006)
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah proses persalinan kala I- IV

3.5  Definisi Operasional
Definisi operasional adalah definisi berdasarkan karakteristik yang di amati dari sesuatu yang di definisikan tersebut
Tabel 3.1 Definisi Operasional
No
Variabel
Definisi Operasional
Katagori
Skala Ukuran
Alat Ukur
1
Independen
Pendampingan suami
Suatu proses mendampingi ibu bersalin, dimana sang suami berada di dekat ibu dengan memainkan perannya selama persalinan
1.Ya, jika di damping
2.Tidak,jika tidak di dampingi
Nominal
Observasi (checklist)
2
Dependen
Kemajuan Persalinan kala I - IV
Suatu perkembangan persalinan,mulai dari awal pembukaan serviks dan berakhir setelah 2 jam kelahiran plasenta ,dan rata-rata waktunya di ukur
1.Cepat, jika ≤12 jam

2.Lambat,jika ≥12 jam
Ordinal
Observasi
(Lembar partograf)

3.6  Lokasi Dan Waktu  Penelitian
3.6.1        Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di BPS Hj. Umi Salamah Kecamatan Peterongan Kabupaten Jombang
3.6.2        Waktu Penelitian
Penelitian ini di lakukan pada bulan Maret – Juni 2010

3.7  Pengumpulan Data Dan Analisa Data
3.7.1        Pengumpulan Data
Pengumpulan data adalah proses pendekatan kepada subyek dan proses pengumpulan karakteristik subyek yang di perlukan dalam suatu penelitian. (Nursalam : 2006)
Pengumpulan data di peroleh dengan cara observasi dalam bentuk  checklist dan lembar partograf. Observasi adalah suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Di antara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan. (Sugiyono  : 2006)
Dalam penelitian ini observasi yang terstruktur artinya peneliti secara cermat mendefinisikan apa yang akan di obsevasi melalui suatu perencanaan yang matang, peneliti tidak hanya mengobservasi fakta-fakat yang ada subyek, tetapi lebih di dasarkan pada perencanaan penelitian yang telah di susun sesuai pengelompokannya, pencatatan checklist adalah daftar variabel yang akan di kumpulkan datanya dalam hal ini pengamatan memberikan tanda atau tally setiap pemunculan gejala yang di maksud.
3.7.2        Analisa Data
Analisa data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau sumber data lain terkumpul. (Sugiyono : 2006)
Setelah mendapat izin data di kumpulkan melalui observasi untuk  pendampingan suami, jika di dampingi oleh suami maka di beri skor 1). Jika tidak di dampingi maka di berikan skor 0), sedangkan untuk kemajuan proses persalinan, di berikan skor 2) jika cepat, dan di berikan skor 1) jika lambat. Setelah data terkumpul, data di uji dengan menggunakan Tabulasi Silang dan Chi-Square, dengan tingkat kemaknaan α = 0,05  bila hasil α < 0,05  berarti Ho di tolak, berarti ada hubungan antara pendampingan suami dengan kemajuan persalinan kala I-IV. Sebaliknya jika  α ≥ 0,05 maka Ho diterima yang berarti H1 ditolak yaitu tidak ada hubungan antara pendampingan suami dengan kemajuan proses peersalinan kala I –IV.



3.8  Teknik Pengolahan Data
Setelah data terkumpul selanjutnya di lakukan pengolahan data dengan cara editing, scoring dan tabulating. (Budiarto :2002)
3.8.1        Editing
Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang di peroleh atau di kumpulkan. Editing dapat di lakukan pada tahap pengumpulan data setelah data terkumpul. (Hidayat,2007)
3.8.2        Coding
Coding adalah usaha mengklasifikasikan dan mengkode data kualitas atau membedakan aneka karakter pemberian kode ini sangat di perlukan terutama dalam rangka pengolahan data, baik secara  manual, menggunakan kalkulator, maupun dengan menggunakan computer. (Sudarwan :2003)
3.8.3        Skoring
Adalah pemberian skor atau nilai terhadap bagian-bagian yang perlu di beri skor. (Arikunto :2006)
3.8.4        Tabulating
Tabulating adalah pengorganisasian data sedemikian rupa agar dengan mudah dapat di jumlah, di susun, di data dan di tata untuk di ajukan dan di analisis, proses tabulasi dapat di lakukan dengan berbagai cara antara lain dengan metode tally, menggunakan kartu, dan menggunakan computer. (Budiarto, 2002)

3.9  Alat Ukur
Dalam penelitian ini , instrument yang di gunakan adalah:
3.9.1        Variabel Independen
Untuk variable independen instrument yang di gunakan untuk mengukur adalah lembar observasi (check list).
3.9.2        Variabel Dependen
Untuk variable dependen instrument yang di gunakan untuk mengukur adalah lembar partograf.

3.10    Etika Penelitian
Dalam penelitian ini mengajukan permohonan pada Bidan Hj. Umi Salamah Kecamatan Peterongan Kabupaten Jombang untuk mendapatkan persetujuan, setelah mendapatkan persetujuan, kemudian kemudian mengadakan wawancara dan observasi pada responden yang akan di teliti dengan beberapa etika sebagai berikut:
3.10.1    Informed Concent
Lembar persetujuan akan di berikan kepada responden atau subyek sebelum penelitian di laksanakan dengan maksud agar responden mengetahui tujuan penelitian, jika subyek bersedia di teliti harus menandatangani lembar persetujuan tersebut.

3.10.2    Annonimity (Tanpa Nama)
Nama subyek tidak di cantumkan pada lembar pengumpulan data, untuk mengetahui keikutsertaan responden, penulis menuliskan nomor dan kode pada masing-masing lembar pengumpulan data.
3.10.3    Confidentiality
Informasi yang telah di kumpulkan dari subyek di jamin kerahasiaannya oleh peneliti, hanya kelompok tertentu saja yang di laporkan atau di saikan pada hasil penelitian.

3.11    Keterbatasan
Keterbatasan  merupakan kelemahan dan hambatan dalam penelitian dan keterlambatan dalam penelitian yang di hadapi penelitian adalah :
3.11.1    Literatur
Bahan yang di gunakan sebagai acuan dalam penelitian kurang memadai sehingga dalam penyempurnaan penelitian memerlukan waktu yang cukup lama.
3.11.2    Kelemahan Penelitian
 Pada penelitian ini, peneliti tidak melihat ibu bersalin primigravida atau multigravida, tetapi hanya melihat  ibu bersalin di BPS Hj Umi  Salamah Kecamatan Peterongan Kabupaten Jombang.


0 komentar:

Poskan Komentar

 

Friends

Blog List