Jumat, 08 Februari 2013

GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG PEMERIKSAAN USG DI BPS


BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Angka Kematian Ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) merupakan indikator penting untuk menilai tingkat kesejahteraan suatu Negara dan status kesehatan masyarakat. Umumnya ukuran yang dipakai untuk menilai baik buruknya keadaan pelayanan kebidanan (Maternity care) dalam suatu negara ialah kematian maternal (Maternal mortality). Menurut definisi WHO “kematian maternal adalah kematian seseorang wanita waktu hamil atau dalam 42 hari sesudah berakhirnya kehamilan oleh sebab apapun, terlepas dari tuanya kehamilan dan tindakan yang dilakukan untuk mengakhiri kehamilan” (Sarwono, 2006).
Berdasarkan data WHO angka kematian Ibu (AKI) dinegara-negara maju berkisar antara 5-10 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan di negara-negara sedang berkembang berkisar antara 750-1000 per 100.000 kelahiran hidup (Sarwono.p, 2006). Menurut SDKI (Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia) tahun 2007, angka kematian ibu 228 per 100.000 kelahiran hidup dan AKI Jatim 83 per 100.000 kelahiran hidup. Angka kematian ibu di Jombang masih berada 69 per 100.000 kelahiran hidup atau 14 ibu meninggal dunia sepanjang tahun 2009 (WWW.KOMPAS.COM). Menurut dr. Sri Hermiyanti M.Sc penyebab kematian ibu adalah perdarahan 28%, eklampsi 24%, infeksi 11%, partus lama 5%, abortus 5% dan lain-lain (SKRT 2001).
Dewasa ini dari Dokter spesialis obstetri dan ginekologi diharapkan agar segera dapat menentukan keadaan janin yang dikandung dan pula mengenai keadaan persalinan yang akan datang. Dengan adanya alat elektronik, kemajuan-kemajuan dalm pemeriksaan biomedik, dan akhir-akhir ini dengan ultrasonografi, kita dapat meramalkan dengan lebih tepat janin yang dikandung (Sarwono, 2006). Dengan USG kita dapat menentukan usia kehamilan, letak dan presentasi janin serta kelainan yang terjadi dalam kehamilan sehingga dapat meminimalisir AKI dan AKB.
Dari hasil kuesioner yang dilakukan oleh dr.I Putu Kusuma Y, 2009 : pada 23 responden yang dipilih secara acak, didapatkan 13 dari 23 responden (57%) pernah memeriksakan diri dengan USG. Hasil ini hampir sama dengan  Amerika dimana 67% wanita pernah menggunakan USG dalam kehamilannya. Namun ternyata masih banyak responden (22%) yang belum mengetahui kegunaan pemeriksaan USG itu sendiri. (Bali post, 26 Desember 2009) Dari hasil studi pendahuluan di desa Plemahan Kec. Sumobito Kab. Jombang dari 10 ibu hamil ternyata 4 ibu hamil yang sudah pernah memeriksakan kehamilannya degan pemeriksaan USG, setelah ditanya-tanya ternyata masi banyak ibu hamil yang belum mengetahui kegunaan USG itu sendiri.
Melalui pemeriksaan USG dapat menegakkan diagnosis kelainan pada janin, menentukan lokasi plasenta,mengenali kehamilan tunggal atau kembar, mengenali retardasi pertumbuhan janin dan menilai jumlah cairan amnion (WHO, 2002). Berdasarkan uraian diatas maka penulis ingin mengetahui gambaran tingkat pengetahuan ibu hamil tentang pemeriksaan USG di BPS Eni S Amd.Keb desa Plemahan Kec. Sumobito Kab. Jombang.

1.2    Rumusan Masalah
Bagaimana gambaran tingkat pengetahuan ibu hamil tentang pemeriksaan USG di BPS Eni Susilowati Amd. Keb di desa Plemahan Kec. Sumobito Kab. Jombang?

1.3    Tujuan Penelitian
Mengetahui gambaran tingkat pengaetahuan ibu hamil tentang pemeriksaan USG di BPS Eni S Amd. Keb di desa Plemahan Kec. Sumobito Kab. Jombang.
1.4    Manfaat Penelitian
1.4.1    Bagi masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan masyarakat tentang pemeriksaan USG pada ibu hamil.
1.4.2        Bagi peneliti
Dapat menambah wawasan pada peneliti mengenaigambaran pengetahuan ibu hamil tentang pemeriksaan USG.
1.4.3        Bagi institusi
Sebagai salah satu karya tulis ilmiah yang dapat menambah perbendaharaan perpustakaan.

1.5     Sistematika Penulisan
BAB I       : PENDAHULUAN
Menguraikan tentang Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Sistematika Penulisan.
BAB II      : TINJAUAN PUSTAKA
Menguraikan tentang konsep pengetahuan, konsep ibu hamil, konsep USG
BAB III    : METODE PENELITIAN
Menguraikan tentang desain penelitian, populasi, sampel, sampling, kriteria sampel, identifikasi variable, definisi operasional, lokasi dan waktu penelitian, teknik pengumpulan data dan analisa data, teknik pengolahan data, instrument, etika Penelitian, keterbatasan.
BAB IV    : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian dan pembahasan KTI.
BAB V      : PENUTUP
Kesimpulan dan Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN 

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
                                                                                    
2.1    Konsep Dasar Pengetahuan
2.1.1        Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil “tahu” penginderaan manusia terhadap suatu obyek tertentu. Proses penginderaan terjadi melalui panca indra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan melalui kulit. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang penting sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (behavior) (Notoamodjo, 2003).
Pengetahuan (knowledge) adalah hasil dari tahu dari manusia, yang sekedar menjawab pertanyaan “what”, misalnya apa air, apa manusia, apa alam (Notoatmodjo, 2005).
2.1.2        Tingkat Pengetahuan
Tingkat pengetahuan menurut Notoatmodjo (2007:144) adalah sebagai berikut :
1.      Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap sesuatu yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Tahu adalah tingkat pengetahuan paling rendah.
2.      Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui,dan dapat menginterpretasikan materi tesebut secara benar.
3.      Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menggunakan materi atau obyek kedalam komponen-komponen tetapi masih dalam satu stuktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.
4.      Analisis (analysis)
Analisis diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjabarkan suatu materi atau suatu obyek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu stuktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.
5.      Sintesis (syntesis)
Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian ke dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
6.      Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk meletakkan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria-kriteria yang ada.

2.1.3        Faktor – faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
Faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang yaitu :
1.      Faktor Internal (Azwar.S,2007:30-33)
a.      Pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, keperibadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan.
b.      Minat
Suatu fungsi jiwa untuk dapat mencapai sesuatu, minat merupakan kekuatan dari dalam diri sendiri untuk menambah pengetahuan.
c.      Intelegensi
Pengetahuan yang dipengaruhi Intelegensia adalah pengetahuan intelegen dimana seseorang dapat bertindak secara tepat, cepat dan mudah dalam mengambil keputusan. Seseorang yang mempunyai intelegensia yang rendah akan bertingkah laku lambat dalam pengambilan keputusan.

2.      Faktor eksternal (Azwar.S,2007:30-33)
a.      Media massa
Dengan majunya teknologi akan tersedia pula bermacam – macam media massa yang dapat pula mempengaruhi pengetahuan masyarakat tentang inovasi baru.
b.      Pengalaman
Pengalaman dari diri sendiri maupun orang lain yang meninggalkan kesan paling dalam akan menambah pengetahuan seseorang.
c.      Sosial Budaya
Sosial Budaya adalah hal – hal yang komplek yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, moral, hukum, adat–istiadat, kemampuan - kemampuan, serta kebiasaan berevolusi di muka bumi ini sehingga hasil karya, karsa dan cipta dari masyarakat. Masyarakat kurang menyadari bahwa kurang mengetahui beberapa tradisi dan sosial budaya yang bertantangan dari segi kesehatan yang dimana hal ini tentunya berkaitan atau tidak terlepas dari suatu pendidikan.
d.     Lingkungan
Lingkungan dimana kita dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap pengetahuan seseorang.

e.      Penyuluhan
Meningkatkan pengetahuan masyarakat juga dapat melalui metode penyuluhan. Dengan pengetahuan bertambah seseorang akan merubah perilakunya.
f.     Informasi
Informasi merupakan pemberitahuan secara kognitif baru bagi penambahan pengetahuan. Pemberian informasi adalah untuk menggugah kesadaran ibu hamil terhadap suatu motivasi yang berpengaruh terhadap pengetahuan.
2.1.4        Cara Memperoleh Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2005), ada beberapa cara untuk memperoleh pengetahuan yaitu :
A.    Cara coba-salah (Trial and error)
Cara coba-coba ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan masalah, dan apabila kemungkinan tersebut tidak berhasil, dicoba kemungkinan yang lain. Apabila kemungkinan kedua ini gagal pula, maka dicoba dengan kemungkinan ketiga, dan apabila kemungkinan ketiga gagal dicoba kemungkinan keempat dan seterusnya, sampai masalah tersebut dapat dipecahkan. Itulah sebabnya maka cara ini disebut metode trial (coba) and error (gagal atau salah).

B.     Cara kekuasaan atau otoritas
Dalam kehidupan manusia sehari-hari, banyak sekali kebiasaan-kebiasaan dan tradisi-tradisi yang dilakukan oleh orang, tanpa melalui penalaran apakah  yang dilakukan tersebut baik atau tidak. Kebiasaan-kebiasaan ini biasanya diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi berikutnya.dengan kata lain, pengetahuan tersebut diperoleh berdasarkan pada otoritas atau kekuasaan, baik tradisi, otoritas pemerintah,otoritas pemimpin agama, maupun ahli-ahli ilmu pengetahuan. Prinsip ini adalah, orang lain menerima pendapat yang dikemukakan oleh orang yang memppunyai otoritas, tanpa terlebih dulu menguji atau membuktikan kebenarannya, baik berdasarkan fakta empiris ataupun berdasarkan penalaran sendiri. Hal ini disebabkan karena orang yang menerima pendapat tersebut menganggap bahwa yang dikemukakannya adalah benar.
C.     Berdasakan pengalaman pribadi
Pengalaman adalah guru yang baik, demikian bunyi pepatah, pepatah ini mengandung maksud bahwa pengalaman itu merupakan sumber pengetahuan, atau pengalaman itu merupakan suatu cara untuk memperoleh pengetahuan.
D.    Melalui jalan pikiran
Sejalan dengan perkembangan umat manusia, cara berpikir manusia pun ikut berkembang. Dari sini manusia telah mampu menggunakan penalarannya dalam memperoleh pengetahuannya. Dengan kata lain, dalam memperoleh kebenaran pengetahuan manusia telah menggunakan jalan pikirannya, baik melalui induksi maupun deduksi.
E.     Cara moderen memperoleh pengetahuan
Cara baru dalam memperoleh pengetahuan pada dewasa ini lebih sistematis, logis, dan ilmiah. Cara ini disebut “metode penelitian ilmiah”, atau lebih popular disebut metodelogi penelitian (research methodology)
2.1.5        Kriteria Pengetahuan (Arikunto, 2005)
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subyek penelitian atau responden ke dalam pengetahuan yang ingin diketahui atau diukur dapat disesuaikan dengan tingkatan tersebut di atas. Sedangkan kualitas pengetahuan pada masing-masing tingkat pengetahuan dapat dilakukan dengan kriteria, yaitu :
1.      Tingkat pengetahuan baik jika jawaban responden dari kuesioner yang benar 76 – 100 %
2.      Tingkat pengetahuan cukup jika jawaban responden dari kuesioner yang benar 56 – 75 %
3.      Tingkat pengetahuan cukup jika jawaban responden dari kuesioner yang benar < 56 %


2.2    Konsep Ibu hamil
Ibu hamil adalah wanita yang mengandung janin dalam rahim karena setelah dibuahi oleh spermatozoa (Tim penyusun pusat bahasa, 2001 : 385).

2.3    Konsep USG
2.3.1        Pengertian
Ultrasonografi (USG) merupakan suatu metoda diagnostik dengan menggunakan gelombang ultrsonik , untuk mempelajari struktur jaringan berdasarkan gelombang ekho dari gelombang ultrasonik yang dipantulkan oleh jaringan (Sarwono.P, 2006).
Ultrasonografi (USG) adalah tekhnik radiologi yang pertama kali dikembangkan dalam tahun 1960-an, yaitu letak struktur tubuh yang dalam dilihat dengan merekam pantulan (ekho) gelombang ultrasonik yang diarahkan langsung kepada jaringan. (WHO, 2002)
2.3.2        Indikasi Pemeriksaan USG Obstetri
Sebetulnya belum ada keseragaman mengenai indikasi pemeriksaan USG dalam kehamilan. Di beberapa negara Eropa, pemeriksaan USG dikerjakan secara rutin sedikitnya 1-2 kali selama kehamilan. Di Amerika Serikat pemeriksaan USG tidak dikerjakan secara rutin, melainkan atas indikasi klinis, yaitu bila dalam pemeriksaan klinis dijumpai keadaan yang meragukan atau mencurigakan adanya kelainan dalam kelainan. Indikasi tersebut antara lain : 1) usia kehamilan yang tidak jelas; 2) tersangka kehamilan multipel; 3) perdarahan dalam kehamilan; 4) tersangka kematian mudigah/janin; 5) tersangka kehamilan ektopik; 6) tersangka kehamilan mola; 7) terdapat perbedaan tinggi fundus uteri dan lamanya amenorea; 8) persentasi janin yang tidak jelas; 9) tersangka pertumbuhan janin terhambat; 10) tersangka janin besar; 11) tersangka oligohidramnion atau olihidramnion; 12) penentuan profil biofisik janin; 13) evaluasi letak dan keadaan plasenta; 14) adanya resiko dan tersangka cacat bawaan; 15) sebagai alat bantu dalam tindakan obstetrik dalam, seperti versi luar, versi ekstraksi, plasenta manual dan sebagainya; 16) tersangka kehamilan dengan IUD, 17) tersangka kehamilan dengan kelainan bentuk uterus; 18) tersangka kehamilan dengan tumor pelvik; 19) sebagai alat bantu dalam tindakan intervensi dalam kehamilan, seperti amniosentesis,biopsi villi koriales, tranfusi intrauterin, fetokopi, dan sebagainya (Sarwono.P. 2006).
2.3.3        Kontraindikasi
Hingga saat ini tidak dikenal adanya kontraindikasi pemeriksaan USG dalam kehamilan.
2.3.4        Pemeriksaan USG Pada Kehamilan Trimester I
2.3.4.1  Kehamilan intrauterin (Sarwono, 2006)
Pada kehamilan 5 minggu terlihat struktur kantong gestasi berdiameter 5-10 mm. Struktur mudigah belum dapat dideteksi dengan alat USG. Pada kehamilan 6 minggu diameter kantong gestasi mencapai 15 mm. Mudigah kadang-kadang dapat dideteksi, terutama dengan USG transvaginal. Panjang mudigah mencapai 5 mm. Mungkin juga terlihat pulsasi denyut jantung.
Pada kehamilan 7 minggu diametr kantong gestasi telah mencapai 25 mm. Panjang mudigah mencapai 10 mm, dan menjadi lebih mudah dilihat. Struktur kepala sudah dapat dibedakan dari badan. Selain denyut jantung, mungkin juga dapat dideteksi adanya gerakan mudigah. Gerakan mudigah dirangsang timbulnya dengan menggunakan perkusi pada dinding abdomen Ibu. Mungkin juga terlihat selaput amnion berupa sekat ekhogenik yang letaknya di dalan kantong gestasi.
Pada kehamilan 8 minggu kantong gestasi telah berdiameter 30 mm. Struktur mudigah dapat dilihat lebih jelas lagi, panjangnya telah mencapai 15-20 mm. Seringkali terlihat kantong kuning telur (yolk sak), berupa struktur vesikuler berdiameter kira-kira 5 mm yang letaknya di luar selaput amnion. Mulai kehamilan 9 minggu struktur mudigah makin bertambah jelas. Periode mudigah (embrio) berlangsung dari usia kehamilan 5 sampai 10 minggu; dan setelah 10 minggu disebut janin (fetus). Rongga amnion makin besar dan mendesak rongga korion, sehingga pada kehamilan 12 minggu rongga korion dan kantong kuning telur tidak terlihat lagi. Pusat-pusat pertulangan mulai tampak di daerah mandibula, maksila, klavikula, kemudian di daerah humerus, femur, ilium, dan iga.lagi Pengukuran biometri janin menjadi lebih mudah dilakukan. Lokasi pertumbuhan plasenta terlihat makin jelas.

A.    Penentuan Usia kehamilan (Sarwono,2006)
1.      Diameter kantong gestasi.
Kantong gestasi (KG) umumnya mudah mudah terlihat setelah diameter mencapai 5 mm atau lebih. Pengukuran diameter kantong gestasi sebaiknya dilakukan dalam 3 dimensi, yaitu yaitu jarak kraniokaudal (KK), jarak anteroposterior (AP), dan  jarak tranversal (T). Diameter rata-rata KG adalah :
(KK + AP + T) / 3
(Selanjutnya bila disebut diameter KG, yang dimaksud adalah diameter rata-ratanya).Salah satu cara penentuan usia kehamilan berdasarkan pengukuran diameter KG adalah :
            Usia kehamialn (minggu) = Diameter KG (cm) + 2,54
                                                                        0,702
Sebelum diameter KG mencapai KG 25 mm, usia kahamilan secara kasar dapat pula dihitung menurut rumus :
                        Usia kehamilan (hari) = Diameter KG + 30
Penentuan usia kehamilan berdasrkan diameter KG umunya cukup baik sampai usia kehamilan 7 minggu bentuk KG biasanya tidak sirkuker lagi, apalagi bila terjadi kontrksi uterus atau kandung kencing terisi terlalu penuh. Pada keadaan demikian, pengukuran diameter KG menjadi sulit dan tidak akurat lagi. Disamping itu, mulai kehamilan 7 minggu struktur mudigah biasanya mudah dideteksi, sehingga jarak kepala-bokong mudigah dapat diukur dengan lebih mudah. Oleh karena itu setelah kehamilan 7 minggu penentuan usia kehamilan sebaiknya didasarkan atas pengukuran biometri mudigah.
2.      Jarak kepala-bokong (crown-rump length; CRL)
Ukuran jarak kepala-bokong (JKB) paling baik digunakan untuk menentukan usia kehamilan pada trimester I. Diusahakan agar mudigah/janin berada dalam sikap ekstensi, bila perlu mudigah janin dirangsang dulu agar bergerak dengan cara perkusi dinding abdomen ibu. Bila mudigah/janin tetap berada dalam sikap fleksi, hasil pengukuran harus ditambah 5 % sebagai koreksi untuk mendapatkan ukuran yang sebenarnya.
Usia kehamilan (minggu) = JKB (cm)  +  6,5
Setelah usia kehamilan 12 minggu ukuran janin sudah sedemikian panjang mengisi kavum uteri, sehingga janin berada dalam fleksi, dan pengukuran JKB menjadi tidak akurat lagi. Oleh karena itu pengukuran JKB untuk menentukan usia kehamilan sebaiknya tidak dilakukan lagi setelah kehamilan 12 minggu.
3.      Diameter biparietal dan femur
Penentuan usia kehamilan pada trimester I dapat juga didasarkan pada pengukuran diameter biparietal dan femur, yaitu setelah usia kehamilan 9 minggu, dimana proses osifukasi telah mencakup daerah kepala dan femur. 

2.3.4.2  Komplikasi pada kehamilan trimester I
a.       Perdarahan nidasi
Proses nidasi blastosis kedalam endometrium akan menimbulkan perlukaan pada jaringan endometrium. Kadang-kadang perlukaan tersebut mmenimbulkan perdarahan pervaginam. Perdarahan nidasi tidak dianggap patologik, karena hanya sedikit, berlangsung sebentar, dan tidak berpengaruh buruk terhadap kehamilan. Pada follow-up selanjutnya daerah perdarahan akan menghilang dengan sendirinya, pertumbuhan kantong gestasi dan mudigah akan berjalan normal.
b.      Abortus
Pemeriksaan USG sangat bermanfaat pada kejadian abortus, untuk menilai keadaan mudigah/janin, serta luasnya daerah perdarahan intrauterin. Hal ini penting untuk menentukan prognosis kehamilan selanjutnya.
c.       Kehamilan anembrionik
Kehamilan anembrionik adalah kehamilan patologik, dimana mudigah terbentuk sejak awal. Disamping mudigah, kantong kuning telur juga ikut tidak terbentuk. Kehamilan anembrionik harus dibedakan dari kehamilan muda yang normal, dimana mudigah masih terlalu kecil untuk dapat dideteksi dengan alat USG (biasanya kehamilan 5-6 minggu).

d.      Mola hidatidosa
Pada kehamilan trimester I gambaran mola hidatidosa tidak spesifik, sehingga seringkali sulit dibedakan dari kehamilan anembrionik, missed abortion, abortus inkompletus, atau mioma uteri.  
e.       Kehamilan ektopik
Pada kehamilan normal, struktur kantong gestasi intrauterin dapat dideteksi mulai kehamilan 5 minggu,dimana diameternya sudah mencapai 5-10 mm. Bila dihubungkan dengan kadar HCG, pada saat itu kadarnya sudah mencapai 6000-6500 mIU/ml. Dari kenyataan ini dijumpai adanya kantong gestasi intrauterin, maka kemungkinan kehamilan ektopik harus dipikirkan.
2.3.5        Pemeriksaan USG pada kehamilan trimester II dan III
Pemerksaan pada trimester kedua dan ketiga berbeda dengan pemeriksaan trimester pertama, pada pemeriksaan ini, janin sudah terbentuk, dimana hal-hal yang harus diperhatikan pada trimester II dan III adalah :
A.    Keadaan janin
Yang harus diperhatikan dalam memeriksa keadaan janin adalah :
1.      Janin hidup/mati, dengan cara kita mencari pulsasi jantung janin
2.      Jumlah  janin, kita perhatikan apakah tunggal/multipel, jika lebih dari satu janin, harus ditentukan khorionitas dan amnionitas.
3.      Kelainan kongenital mayor : lebih jelas dapat dilihat pemeriksaan USG trimester I
4.      Presentasi dan letak janin, jika usia gestasi sudah memasuki trimester III, harus diperhatikan letak janin, apakah memanjang/melintang, oblique, dan presentasi bagian terbawanya, apakah presentasi kepala, atau presentasi bokong.
B.     Usia gestasi
Menentukan usia gestasi pada trimester II dan III berbeda dengan trimester I, beberapa hal yang perlu diperhatikan (Sarwono,2006) :
    1. Diameter biparietal (Biparietal Diameter / BPD)
Diameter biparietal (DBP) merupakan yang umum digunakan untuk menentukan usia kehamilan, terutama pada kehamilan trimester II. Selama periode tersebut laju pertumbuhan DBP sangat cepat dan mempunyai variasi yang relatif kecil. Tulang kepala janin yang tipis akan mempermudah tekhnik dan memperkecil kesalahan dalam pengukuran.Kadang-kadang bentuk kepala mengalami deformasi, misalnya akibat moulage, kelainan letak janin, kelainan bentuk kepala, penekanan kepala oleh probe sewaktu pengukuran, dan sebagainya, sehingga ukuran DBP tidak sesuai dengan yang sebenernya. Dalam keadaan itu pengukuran DBP menjadi tidak akurat lagi hasilnya.
    1. Lingkar Kepala (Head Circumference / HC)
Lingkar kepala dihitung dengan rumus :
Lingkar kepala = (DBP + DOF) x 1,57
Ukuran lingkar kepala merupakan alternatif lain untuk menentukan usia kehamilan, pada keadaan dimana ukuran DBP kurang dapat dipercaya, misalnya adanya kompresi kepala. Disamping itu pengukuran lingkar kepala lebih berguna dalan menentukan adanya kelainan bentuk kepala seperti mikro-makrosefalus, atau dalam mendeteksi gangguan pertumbuhan janin melalui pengukuran rasio lingkar kepala/lingkar perut.
    1. Lingkar Perut (Abdominal Circumference / AC)
Dibandingkan dengan DBP, lingkar kepala, dan femur, maka lingkar perut paling tidak akurat bila dipakai untuk menentukan usia kehamilan. Bentuk abdomen sangat mudah berubah, dan untuk usia kehamilan tertentu variasi ukuran linkar perut cukup besar. Ukuran lingkar perut lebih sering digunakan untuk menentukan besar/berat janin, dan mengevaluasi laju pertumbuhan janin.
    1. Panjang Femur (Femur Length / FL)
Femur merupakan tulang panjang yang bentuknya kompak sehingga mudah diidentifikasi dan tidak mengalami deformasi oleh kompresi.
C.     Cairan ketuban
Pengukuran volume cairan amnion telah menjadi suatu komponen integral dari pemeriksaan kehamilan untuk melihat adanya resiko kematian janin. Hal ini didasarkan bahwa penurunan perfusi uteroplasenta dapat mengakibatkan gangguan aliran darah ginjal dari janin, menurunkan volume miksi dan menyebabkan terjadinya oligohidramnion.
D.    Plasenta
Menentukan kondisi plasenta, karena rusaknya plasenta akan menyebabkan terhambatnya perkembangan janin.
2.3.6        Manfaat Pemeriksaan USG
1.        Trimester I
a.         Memastikan hamil atau tidak.          
b.        Mengetahui keadaan janin, lokasi hamil, jumlah janin dan tanda kehidupannya.
c.         Mengetahui keadaan rahim dan organ sekitarnya.
d.        Melakukan penapisan awal dengan mengukur ketebalan selaput lendir, denyut janin, dan sebagainya.
2.        Trimester II:
a.         Melakukan penapisan secara menyeluruh.
b.        Menentukan lokasi plasenta.
c.         Mengukur panjang serviks.
3.        Trimester III:
a.         Menilai kesejahteraan janin.
b.        Mengukur biometri janin untuk taksiran berat badan.
c.         Melihat posisi janin dan tali pusat.
d.        Menilai keadaan plasenta.

2.3.7        Jenis Pemeriksaan USG
1.      USG 2 Dimensi
Menampilkan gambar dua bidang (memanjang dan melintang). Kualitas gambar yang baik sebagian besar keadaan janin dapat ditampilkan.
2.      USG 3 Dimensi
Dengan alat USG ini maka ada tambahan 1 bidang gambar lagi yang disebut koronal. Gambar yang tampil mirip seperti aslinya. Permukaan suatu benda (dalam hal ini tubuh janin) dapat dilihat dengan jelas. Begitupun keadaan janin dari posisi yang berbeda. Ini dimungkinkan karena gambarnya dapat diputar (bukan janinnya yang diputar).
3.      USG 4 Dimensi
Sebetulnya USG 4 Dimensi ini hanya istilah untuk USG 3 dimensi yang dapat bergerak (live 3D). Kalau gambar yang diambil dari USG 3 Dimensi statis, sementara pada USG 4 Dimensi, gambar janinnya dapat “bergerak”. Jadi pasien dapat melihat lebih jelas dan membayangkan keadaan janin di dalam rahim.
4.      USG Doppler
Pemeriksaan USG yang mengutamakan pengukuran aliran darah terutama aliran tali pusat. Alat ini digunakan untuk menilai keadaan/kesejahteraan janin. Penilaian kesejahteraan janin ini meliputi:
a.       Gerak napas janin (minimal 2x/10 menit).
b.      Tonus (gerak janin).
c.       Indeks cairan ketuban (normalnya 10-20 cm).
d.      Doppler arteri umbilikalis.
e.       Reaktivitas denyut jantung janin.
2.3.8        Aspek keamanan
Ultrasound telah digunakan sebagai alat pencitraan diagnostik sejak 1950- an sehingga saat ini, kita memasuki generasi ketiga bayi-bayi yang mengalami pemeriksaan USG. Merupakan hal yang sangat beralasan untuk berasumsi bahwa segala efek samping mayor tekhnologi ini seharusnya sudah muncul sejak sebelumnya, tetapi ternyata hingga saat ini ultrasound masih boleh digunakan,asalkan dengan hati-hati dan hanya jika terdapat indikasi yang jelas.
 

2.4    Kerangka Konsep
Konsep adalah abstraksi dari suatu realita agar dapat dikomunikasikan dan membentuk suatu teori yang menjelaskan keterkaitan antar variabel (baik variabel yang diteliti maupun yang tidak diteliti) (Nursalam, 2008 : 55).

 









                                                                       



Keterangan :
                                                  = Variabel Yang diteliti
                                                  = Variabel Yang tidak diteliti

Bagan kerangka konsep gambaran tingkat pengetahuan ibu hamil tentang pemeriksaan USG di BPS NY ENI S Amd. Keb desa Plemahan Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang. Pengetahuan ibu dipengaruhi oleh baberapa faktor yang meliputi pendidikan, minat, pengalaman, kebudayaan, informasi, dan usia. Ibu dapat mengatasi masalahnya dengan baik jika tingkat pengetahuan ibu tinggi.
BAB III
METODE PENELITIAN

            Metode penelitian adalah suatu cara menerapkan prinsip-prinsip logis terhadap penelitian, penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran. (Notoatmodjo,2003)
            Metode dalam penelitian ini mencakup desain penelitian,lokasi dan waktu penelitian, desain sampling (populasi, sample dan sampling), indentifikasi variabel, definisi operasional, pengumpulan data, alat ukur dan analisis data, tekhnik pengolahan data,etika penelitian (informed consent, anonimity, confidentiality) dan keterbatasan.
3.1  Desain Penelitian
Desain penelitian adalah hasil akhir dari suatu tahap keputusan yang dibuat oleh penelitian berhubungan dengan bagaimana suatu penelitian bisa diterapkan (Nursalam, 2003).
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah penelitian deskriptif, yaitu penelitian untuk mengetahui gambaran tentang suatu keadaan atau status fenomena (Nursalam, 2001).
Dalam hal ini penulis ingin meneliti gambaran tingkat pengetahuan Ibu hamil tentang pemeriksaan USG di BPS Eni Susilowati Amd.Keb di desa plemahan Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang.


3.2  Lokasi Dan Waktu Penelitian
Penalitian ini dilakukan di BPS Ny. Eni Susilowati Amd.Keb Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang pada bulan Maret-Mei 2010.

3.3 Desain Sampling
3.3.1    Populasi
            Populasi adalah setiap subjek (misalnya : manusia,pasien) yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan.(Nursalam,2003)
            Populasi pada penelitian ini adalah semua ibu hamil yang datang ke BPS Eni Susilowati Amd.Keb Kecamatan  Sumobito Kabupaten Jombang pada bulan Maret-Mei 2010.
3.3.2   Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. (Arikunto, 2006) Dalam penelitian ini menggunakan sampel semua ibu hamil di BPS Eni Susilowati desa Plemahan Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang yang akan dilaksanakan pada bulan Mei 2010.
Menurut Notoatmodjo (2005), untuk populasi kecil atau lebih kecil dari 10.000, dapat menggunakan formula yang lebih sederhana lagi seperti berikut :
Keterangan :
N : Besar populasi
n : Besar sampel
d : tingkat kepercayaan/ketepatan yang diinginkan
Jadi jumlah sampel yang diambil adalah : 36 orang ibu hamil.
3.3.3   Sampling
Sampling merupakan tekhnik pengambilan sampel (Sugiyono, 2009). Dalam penelitian ini pengambilan sampel menggunakan non probability sampling dengan jenis consecutive sampling (berurutan) adalah pemilihan sampel dengan menetapkan subjek yang memenuhi kriteria penelitian dimasukkan dalam penelitian sampai kurun waktu tertentu, sehingga jumlah klien yang diperlukan terpenuhi. Jenis sampling ini merupakan jenis non probability sampling (Arikunto, 2006).

3.4 Identifikasi Variabel
Variabel mengandung pengertian ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota-anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok lain (Notoatmodjo, 2005).
Variabel dalam penelitian ini adalah gambaran tingkat pengetahuan ibu hamil tentang pemeriksaan USG.

3.5 Definisi operasional
    Untuk membatasi ruang lingkup atau pengertian variabel-variabel diamati / diteliti, perlu sekali variabel-variabel tersebut diberi batasan atau “definisi operasional”. Definisi operasional ini juga bermanfaat untuk mengarahkan kepada pengukuran atau pengamatan terhadap variabel-variabel yang bersangkutan serta pengembangan instrumen (Notoatmodjo, 2005).
Tabel 3.1 Definisi Operasional

Variabel
Definisi opersional
Alat ukur
Skala
Skor
Gambaran pengetahuan ibu hamil tentang pemeriksaan USG
Segala sesuatu yang diketahui ibu hamil tentang pemeriksaan USG berdasarkan kemampuan menjawab kuesioner.
kuesioner
ordinal
Benar = 1
Salah = 0
Dengan kriteria:
Baik(76-100%)
Cukup(56-75%)
Kurang(<56 o:p="">

3.6 Pengumpulan data,alat ukur dan analisa data
3.6.1 Pengumpulan Data
Pengumpulan data adalah proses pendekatan kepada subjek dan proses pengumpulan kharakteristik subyek yang diperlukan dalam suatu penelitian (Nursalam, 2003). Dalam pengumpulan data ini menggunakan data primer.
Pada penelitian ini pengumpulan data dengan menyebarkan kuesioner yang dibagikan kepada seluruh ibu hamil di desa Plemahan Sumobito Jombang yang telah menyetujui untuk menjadi responden, dimana kuesioner diisi sendiri oleh responden yang sebelumnya dijelaskan tentang cara pengisiannya oleh peneliti.
3.6.2 Alat Ukur
 Instrument adalah alat dan cara yang dipergunakan untuk mengukur dalam suatu proyek riset (Nursalam, 2004) maka penelitian ini menggunakan metode alat ukur kuesioner.
Kuesioner adalah daftar pertanyaan yang disusun secara tertulis dalam rangka pengumpulan data suatu penelitian (Nursalam, 2003). Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah close ended item dimana jawabannya telah disediakan (Notoatmodjo, 2003).
3.6.2 Analisa Data
  Analisa data merupakan suatu proses atau analisa yang dilakukan secara sistematis terhadap data yang telah dikumpulkan dengan tujuan supaya trends dan relationship biasa dideteksi.(Nursalam,2001)
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan dihitung dengan menggunakan tabel distribusi frekwensi dalam bentuk pengetahuan dengan menggunakan rumus :
Keterangan       :
P = Prosentase
F = Jumlah jawaban yang benar
N = Jumlah seluruh pertanyaan
Setelah diketahui prosentasenya maka hasil penelitian akan menggambarkan pengetahuan ibu :
Baik                  : 76-100%
Cukup               : 56-75%
Kurang              : <56 o:p="">
(Nursalam, 2008 : 120).

3.7 Teknik Pengolahan Data
Pengolahan data adalah suatu proses pendekatan subjek dan proses pengolahan karakteristik subjek yang diperlukan dalam suatu penelitian (Nursalam, 2003). Setelah data terkumpul, maka dilakukan pengolahan data melalui tahapan Editing, Skoring, Koding dan Tabulasi.
3.7.1  Editing                                
     Editing adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk meneliti kembali apakah isian pada lembar pada pengumpulan data sudah cukup baik sebagai   upaya menjaga kualitas data agar dapat diproses lebih lanjut.
3.7.3  Koding
       Koding adalah mengklasifikasikan jawaban dari responden menurut kriteria tertentu. Klasifikasi pada umumnya ditandai dengan kode tertentu yang biasanya berupa angka. Misalnya untuk responden 1 diberi kode dengan R1.

3.7.4  Tabulasi
      Yaitu menyusun data dalam tabel – tabel dengan menggunakan tabel distribusi, frekuensi dalam bentuk persentase.

3.8 Etika penelitian
Responden yang diteliti adalah seseorang manusia yang merupakan satu kesatuan yang utuh dan unik, yang terdiri dari biopsikososial, spiritual dan kultural. Maka peneliti berusaha untuk memperhatikan hak-hak responden sebagai subjek peneliti yang meliputi (Nursalam, 2003) :
3.8.1 Lembar Persetujuan (Informed Consent)
            Lembar persetujuan ini diberikan kepada responden dengan tujuan agar subjek mengetahui maksud dan tujuan penelitian. Subjek yang bersedia diteliti dimohon untuk  menandatangani lembar persetujuan tersebut dan subjek yang menolak untuk diteliti maka peneliti tidak memaksa dan tetap menghormati hak-haknya.
3.8.2 Tanpa Nama (Anonimity)
            Untuk menjaga kerahasiaan responden, maka peneliti tidak mencantumkan nama responden pada pengumpulan data (kuesioner) yang diisi oleh subjek, tetapi cukup dengan memberi kode.
3.8.3 Kerahasiaan (Confidentialty)
            Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti karena hanya kelompok data tertentu saja yang akan disajikan atau dilaporkan sebagai hasil penelitian.
3.9 Keterbatasan
3.9.1. Instrumen
Pada rancangan alat ukur untuk instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner sehingga memungkinkan responden menjawab pertanyaan dengan lebih dipengaruhi oleh sikap dan harapan-harapan pribadi yang bersifat subyektif sehingga hasilnya kurang mewakili secara kualitatif.
3.9.2.Peneliti
Karena penelitian ini adalah yang pertama kali dilakukan dan peneliti belum memiliki pengalaman sehingga banyak sumber-sumber yang belum dimunculkan secara maksimal oleh peneliti.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini penulis akan menyajikan hasil penelitian dan pembahasan dari pengumpulan data kuesioner tentang “Gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Pemeriksaan USG Di BPS Eni Susilowati Amd.Keb kecamatan Sumobito kabupaten Jombang”
Responden dalam penelitian ini sebanyak 36 orang, sesuai dengan jumlah responden yang ditentukan oleh peneliti. Sampling yang digunakan adalah Non Probability Sampling dengan jenis Consecutive. Pengambilan data dilakukan pada bulan Mei 2010.
Data dari 36 responden diatas dikelompokkan menjadi data umum yang meliputi umur, pendidikan. Sedangkan data khusus meliputi gambaran tingkat pengetahuan ibu hamil tentang pemeriksaan USG.
4.1  Hasil Penelitian
4.1.1        Data Umum
1.      Karakteristik Responden Menurut Umur
Tabel 4.1    Distribusi Responden Menurut Umur Di BPS Eni Susilowati Amd. Keb Desa Plemahan kecamatan Sumobito Jombang

No
Umur (Tahun)
Jumlah
Prosentase (%)
1.
2.
3.
< 20
20 – 30
> 30
7
24
5
19
67
14
Total
36
100
Sumber data : kuesioner 2010
Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui bahwa hampir keseluruhan yaitu 24 responden (67%) berusia 20–30 tahun.
2.      Karakteristik Responden Menurut Pendidikan
Tabel 4.2    Distribusi Responden Menurut Pendidikan Di BPS Eni Susilowati Amd. Keb Desa Plemahan Kecamatan Sumobito Jombang

No
Pendidikan
Jumlah
Prosentase (%)
1.
2.
3.
4.
SD
SMP
SMU
PT
4
26
6
-
11%
72%
17%
-
Total
36
100
Sumber data : kuesioner 2010

Berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui bahwa hampir keseluruhan yaitu 26 responden (72%)yang berpendidikan SMP.
4.1.2        Data Khusus
Tabel 4.4  Distribusi Gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Pemeriksaan USG di BPS Eni Susilowati Amd. Keb Desa Plemahan Kecamatan Sumobito Jombang

No
Kriteria
Frekuensi
Prosentase (%)
1.
2.
3.
Baik
Cukup
Kurang
16
18
2
44
50
6
Total
36
100
Sumber data : kuesioner 2010

Berdasarkan tabel 4.6 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden berpengetahuan cukup sebanyak 18 responden (50%).


4.2  Pembahasan
Dalam pembahasan ini akan dijelaskan lebih lanjut tentang Gambaran tingkat pengetahuan ibu hamil tentang pemeriksaan USG di BPS Eni Susilowati Desa Plemahan Kecamatan Sumobito Jombang yang meliputi pengertian pengertian USG.
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu ndan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba, sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003).
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan antara lain pendidikan, usia, pekerjaan, informasi, minat, kebudayaan dan lingkungan (Notoatmodjo, 2003).
Pengetahuan dipengaruhi oleh pendidikan (Notoatmodjo, 2003). Hal ini sesuai dengan pernyataan yang menyatakan bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang semakin mudah menerima informasi. Sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki (Nursalam,2003). Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang tehadap nilai-nilai yang baru dikenal (Notoatmodjo, 2003).
Pada tabel 4.4 dapat diketahui bahwa gambaran tingkat pengetahuan ibu hamil tentang pemeriksaan USG adalah cukup 18 responden (50%).
Berdasarkan paparan diatas didapatkan bahwa meskipun tingkat pengetahuan ibu hamil rendah akan tetapi pada kenyataannya tingkat pengetahuannya cukup, kemungkinan karena keaktifan ibu hamil dalam mencari informasi tentang USG yaitu dengan cara mendengarkan penyuluhan, konseling dengan bidan, membaca majalah dan lain-lain.
Menurut Nursalam (2001) semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat seseorang yang lebih dewasa juga akan lebih dipercayai dari orang-orang yang belum cukup tinggi dewasanya. Hal itu sebagai akibat dari pengalaman dan kematangan jiwa.
Jika ditinjau dari karakteristik responden dari segi usia dapat dijelaskan berdasarkan tabel 4.1 bahwa hampir keseluruhan yaitu 24 responden (67%) berusia antara 20-30 tahun.
Berdasarkan paparan diatas didapat dari hasil penelitian dan teori terdapat kesamaan yaitu tingginya pengetahuan dipengaruhi oleh umur, semakin cukup umur semakin matang dalam bertpikir dan pengambilan keputusan.
BAB V
PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah disajikan dalam bab sebelumnya yaitu penelitian tentang gambaran tingkat pengetahuan ibu hamil tentang pemeriksaan USG di BPS Eni Susilowati Amd. Keb Desa Plemahan Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang tahun 2010, sebagai berikut :
5.1  Kesimpulan
Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa gambaran tingkat Pengetahuan ibu hamil tentang Pemeriksaan USG di BPS Eni Susilowati Amd.Keb Desa Plemahan Kecamatan Sumobito Jombang adalah cukup.

5.2  Saran
5.2.1        Bagi Institusi Pendidikan
Dalam pembuatan karya tulis ilmiah ini memerlukan berbagai sumbu kepustakaan. Oleh karena itu hendaknya institusi pendidikan menyediakan lebih banyak kepustakaan untuk lebih meningkatkan pengetahuan mahasiswa tentang pemeriksaan USG.
5.2.2        Bagi Peneliti Selanjutnya
Peneliti selanjutnya hendaknya dapat mengembangkan penelitiannya dengan menggunakan metode yang lebih luas. Sehingga penelitian dapat lebih baik dan mencapai hasil yang maksimal.

5.2.3        Bagi Lahan atau Petugas Kesehatan
Pihak petugas kesehatan khusunya Bidan hendaknya lebih meningkatkan tingkat pengetahuan responden melalui komunikasi, informasi dan edukasi untuk meningkatkan stimulus tentang masalah kesehatan khususnya tentang pemeriksaan USG

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Friends

Blog List