Senin, 18 Februari 2013

GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUNJUNGAN IBU HAMIL DI POLINDES


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Induksi persalinan adalah usaha agar persalinan mulai berlangsung sebelum atau sesudah kehamilan cukup bulan dengan jalan merangsang timbulnya his (Israr, 2009).
Indikasi induksi antara lain hamil post term (lebih dari 42 minggu), ketuban pecah dini, janin mati dalam kandungan, pre eklampsia berat yang tidak membaik, kontra indikasi induksi di bagi dua yaitu: Absolute, disproporsi kepala panggul, placenta previa totalis letak rendah di belakang, gawat janin, uterus catat (pasca sectio secaria) yang tidak diketahui jenisnya dan relativ: grande Multigravida, kelainan letak presentasi, overdistensi uterus, presentasi bokong murni, pasca sectio secaria kurang dari 2 tahun. (Chuningham, 2005).
Persalinan adalah rangkaian proses yang berakhir dengan pengeluaran hasil konsepsi oleh ibu. Proses ini dimulai dengan kontraksi persalinan sejati, yang ditandai oleh perubahan progesif pada serviks, dan diakhiri dengan kelahiran plasenta (Varney, Helen, 2007:672).
Berdasarkan survey demografi dan kesehatan Indonesia (SDKI) 2002/2003, angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih berada pada angka 307 per 100.000 kelahiran hidup atau setiap jam terdapat 2 orang ibu bersalin meninggal dunia karena berbagai sebab. Demikian pula angka kematian bayi (AKB) khususnya angka kematian bayi baru lahir (neonatal). Masih berada kisaran 20 per 1000 kelahiran hidup.Keadaan ini menempatkan upaya kesehatan ibu dan bayi baru lahir menjadi prioritas Dalam bidang kesehatan. Penyebab terpenting kematian maternal di Indonesia adalah perdarahan 40-60%, Infeksi 20-30%, dan keracunan kehamilan 20-30% sisanya sekitar 5% disebabkan penyakit lain yang memburuk saat kehamilan atau persalinan (Dinkes, 20).
Berdasarkan data diruang PONEK Bapelkes RSUD Jombang tahun 2007 didapatkan bahwa jumlah kematian ibu sebanyak 8 orang dari persalinan spontan sebanyak 678 dan persalinan abnormal 1.069 (persalinan sungsang 174, manual aid 86, vacum ektraksi 352, forcep 1 dan persalinan dengan OD sebanyak 456). Dari data tersebut dapat dilihat bahwa hampir 50% persalinan yang ada di RSUD  Jombang menggunakan oksitoin drip (OD) (Dinkes 2007).
Berdasarkan fenomena di atas, maka peneliti ingin mengetahui tentang faktor-faktor pemberian oksitosin drip pada persalinan.

1.2  Rumusan Masalah
Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pemberian oksitosin drip pada persalinan di Ruang PONEK RSUD Jombang ?




1.3  Tujuan Penelitian
Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian oksitosin drip pada persalinan di Ruang PONEK RSUD Jombang pada bulan Januari-Maret.

1.4  Manfaat Penelitian
1.4.1        Bagi Peneliti
Menambah wawasan peneliti untuk berpikir secara kritis dan sistematis dalam menghadapi persaingan kompetensi seorang bidan dalam memberikan pelayanan kepada pasien.
1.4.2        Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai masukan bagi institusi pendidikan dan sebagai tambahan koleksi kepustakaan dan sebagai studi pendahuluan bagi peneliti yang akan datang.
1.4.3        Bagi Tempat Penelitian
Penelitian ini bisa di gunakan sebagai masukan dan menambah wawasan agar dapat meningkatkan derajat kesehatan yang optimal terutama bidang kesehatan sehingga memberikan kepuasan bagi pasien.

1.5  Sistematika Penulisan
BAB I       : PENDAHULUAN
Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Hipotesis, Sistematika Penulisan.
BAB II      : TINJAUAN PUSTAKA
Konsep Induksi Persalinan Dengan Oksitosin Drip, Konsep Persalinan, Kerangka Koseptual.
BAB III    : METODE PENELITIAN
Desain penelitian, populasi, sampel dan sampling, kriteria sampel, identifikasi variabel, definisi operasional, lokasi dan waktu penelitian, pengumpulan data, tehnik pengolahan data, instrumen, etika penelitian, keterbatasan.
Bab IV      : Hasil Penelitian  dan Pembahasan
Hasil penelitian, Pembahasan mengenai KTI
Bab V       : Penutup
Kesimpulan dan Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Konsep Induksi Persalinan Dengan Oksitosin Drip
2.1.1        Pengertian
Induksi persalinan adalah suatu proses untuk memulai aktivitas uterus untuk mencapai pelahiran pervaginam. Induksi memiliki rentang 10% dan 25% mencerminkan kebijakan saat ini, pola rujukan dan terkadang merupakan pilihan ibu. Persalinan dimulai prinsipnya untuk memberikan keuntungan baik kepada ibu, janin maupun keduanya dan sebagai suatu prosedur propilaktik elektif (David T.Y. LIU; 2007 :182).
Induksi persalinan adalah cara untuk memulai persalinan secara artifisial dengan memecahkan ketuban dan memberikan oksitosin atau prostaglandin untuk menstimulasi kontraksi (dr. Miriam Stoppard 2009 : 300).
2.1.1.1  Indikasi Untuk Induksi
2.1.1.2  Ibu
Kondisi medis atau obstetrik yang tidak berespon terhadap pengobatan dan mengancam kesehatan ibu, seperti gagal jantung, pre-eklampsia berat dan penurunan fungsi ginjal atau gangguan sistem saraf pusat, mengindikasikan induksi.


2.1.1.3  Janin
Pada janin adanya retardasi pertumbuhan yang progesif, abnormalitas yang tidak memungkinkan kehidupan, atau kematian janin, semuanya merupakan indikasi untuk induksi.
2.1.1.4  Janin dan ibu
Induksi persalinan juga di indikasikan jika menguntungkan baik ibu maupun janin, seperti pada diabetes yang tidak terkontrol setelah pecah ketuban atau jika terdapat koriomniotis. Indikasi ini khususnya berkaitan dengan praktik kebidanan kontemporer yang mempertimbangkan wanita yang sebelumnya memiliki masalah medis untuk tidak boleh hamil sekarang harus siap untuk memiliki masalah medis untuk tidak boleh hamil sekarang harus siap untuk menerima resiko penyerta menjadi ibu (David T,Y. LIU,2007: 182).
2.1.2        Induksi Persalinan Sebagai Profilaksis
Induksi persalinan di pertimbangkan untuk mengantisipasi kemungkinan komplikasi contohnya adalah :
1.      Fakta menunjukkan bahwa janin paling baik dilahirkan sebelum 10 hari postterem (usia kehamilan 40 minggu penuh). Induksi profilaksis mengurangi insiden seksio secaria, pelahiran dengan bantuan alat, gangguan janin selama persalinan dan mortalitas perinatal.
2.      Untuk mencapai pengontrolan terbaik setelah perssalinan yang dirangsang sebelumnya (persalinan kurang dari 2 jam).
3.      Untuk menghindari kematian janin sebelum kematian mendadak yang tidak dapat  dijelaskan setelah marturitas janin.
4.      Untuk menghindari makrosomia dan komplikasi atau distosia bahu khususnya pada ibu diabetik (David T.Y.LIU,2007:183).
2.1.3        Kontraindikasi Untuk Induksi
Induksi persalinan tidak boleh dilakukan pada keadaan-keadaan berikut ini :
1.      Kontraksi /faktor penyulit untuk partus pervaginam pada umumnya: adanya disproporsi sefalopelvik, plasenta previa, kelainan letak/ presentasi janin
2.      Riwayat section secaria (Resiko ruptur uteri lebih tinggi)
3.      Ada hal-hal lain dapat memperbesar resiko jika tetap dilakukan partus partus pervaginam, atau jika sectio secaria selektif merupakan pilihan yang terbaik (Winjosastro Hanifa, 2003).
2.1.4        Cara Pemberian Oksitosin Drip
Gunakan oksitosin dengan sangat hati-hati karena dapat terjadi gawat janin akibat hiperstimulasi dan dapat terjadi ruptur uterus, walaupun jarang. Ibu multy para memiliki resiko ruptur uterus yang lebih tinggi.
1.      Kandung kemih dan rectum terlebih dahulu dikosongkan
2.      Obsevasi ibu yang mendapatkan oksitosin secara cermat
3.      Pantau denyut nadi, tekanan darah, kontraksi ibu, serta periksa denyut jantung janin.
4.      Infuskan oksitosin 2,5 unit dalam 500 ml dektrosa (atau salin normal) dengan kecepatan 10 tetes permenit
5.      Tingkatkan kecepatan infuse 10 tetes permenit setiap 30 menit sampai terbentuk pola kontraksi yang baik (tiga kali kontraksi dalam 10 menit, setip kontraksi berlangsung lebih dari 40detik ).
6.      Pertahankan kecepatan infuse ini sampai pelahiran selesai
7.      Jika terjadi hiperstimulasi (setiap kontraksi berlangsung lebih dari 60 detik) atau jika terjadi lebih dari empat kali kontraksi dalam 10 menit, hentikan infuse dan relaksasikan uterus dengan menggunakan tokolitik.
a.       Terbutalin 250 mg melalui IV secara perlahan selama lima menit.
b.      ATAU salbutamol 10 mg dalam 1 L cairan IV (salin normal atau laktat Ringer) dengan kecepatan 10 tetes per menit.
8.      Jika tidak terbentuk pola kontraksi yang baik pada kecepatan infuse 60 tetes permenit.
a.       Tingkakan konsentrasi oksitosin menjadi 5 unit dalam 500 ml dektrosa (salin normal) dan atur kecepatan infuse menjadi 30 tetes permenit (15 mlU per menit).
b.      Tingkatkan kecepatan infuse 10 tetes per menit setiap 30 menit sampai terbentuk pola kontraksi yang baik tau sampai di capai kecepatan masimal 60 tetes per menit.
9.      Jika tetap belum terbentuk pola kontraksi yang baik dengan penggunaan konsentrasi oksitosin yang tinggi.
a.       Induksi gagal jika terjadi pada multigravida dan pada ibu memiliki jaringan parut akibat sectio secaria sebelumnya; lahirkan janin melalui section secaria.
b.      Jangan menggunakan oksitosin 10 unit dalam 500 ml (yaitu 20 ml U / ml) pada multigravida dan pada bu riwayat section secaria.
c.       Pada primi gravida infuskan oksitosin konsentrasi tinggi (10 unit dalam 500 ml ).
d.      Jika tidak terbentuk kontraksi yang baik pada dosis maksimal, lahirkan janin melalua sectio secaria (Devi Yulianti, 2005:252)
2.1.5        Persyaratan Dilakukan Oksitosin Drip
Induksi persalinan akan berhasil bila memperhatikan beberapa persyaratan sebagai berikut:
1.      Kehamilan aterm
2.      Ukuran panggul normal
3.      Tak ada CPD
4.      Janin dalam presentasi kepala
5.      Servik telah matang (portio lunak, mulai mendatar dan sudah mulai membuka) (Israr, 2009).
2.1.6        Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pemberian OD
1.      Hipertensi dalam kehamilan
2.      Post maturitas
3.      KPD
4.      Fase laten memanjang
5.      Diabetes Melitus (DM)
6.      Penyakit ginjal berat
7.      Hidramnion
8.      Anensefalus
9.      Gawat janin
10.  Primigravida Tua
11.  Ante partum bleeding (Sastrawinata,2000 : 21)
2.1.7        Hypertensi Dalam Kehamilan
Hipertensi dalam kehamilan berarti tekanan darah meninggi saat hamil. Keadaan ini biasanya mulai pada trimester ketiga, atau tiga bulan terakhir kehamilan. Kadang-kadang timbul lebih awal, tetapi hal ini jarang terjadi. Tidak diketahui mengapa tekanan darah bisa meninggi di saat hamil. Keadaan ini paling sering terjadi pada hamil anak pertama, dan lebih jarang pada hamil anak selanjutnya.
Dikatakan tekanan darah tinggi dalam kehamilan jika tekanan darah sebelum hamil (saat periksa hamil) lebih tinggi dibandingkan tekanan darah di saat hamil. Pengobatan hipertensi dalam kehamilan tergantung pada sejumlah faktor, yaitu usia kehamilan, beratnya hipertensi, dan kemampuan bayi mentoleransi peningkatan tekanan darah.
Pengobatan biasanya hanya istirahat dan pemantauan tekanan darah yang lebih sering. Pemeriksaan lain yang dilakukan adalah pemeriksaan darah, pemantauan denyut jantung janin, pemeriksaan urine untuk mengetahui ada tidaknya protein, dan penentuan volume cairan amnion dan keadaan pertumbuhan bayi jika perlu.
Satu-satunya hal yang dapat mengatasi hipertensi dalam kehamilan adalah melahirkan. Setelah melahirkan, gangguan ini bisa langsung sembuh, atau bertahan beberapa jam sampai beberapa minggu (www.google.com Dr. Sutrisno diakses tanggal 19 Mei 2010 jam 21.00 wib).
2.1.8        Post Maturitas (Kehamilan Lewat Waktu)
Kehamilan lewat bulan (serotinus) ialah kehamilan yang berlangsung lebih dari perkiraan hari taksiran persalinan yang dihitung dari hari pertama haid terakhir (HPHT), dimana usia kehamilannya telah melebihi 42 minggu (>294 hari).
1.      Penyebab
Penyebab pasti kehamilan lewat waktu sampai saat ini belum kita ketahui. Diduga penyebabnya adalah siklus haid yang tidak diketahui pasti, kelainan pada janin (anenefal, kelenjar adrenal janin yang fungsinya kurang baik, kelainan pertumbuhan tulang janin/osteogenesis imperfecta; atau kekurangan enzim sulfatase plasenta).
Beberapa faktor penyebab kehamilan lewat waktu adalah sebagai berikut:
a.       Kesalahan dalam penanggalan, merupakan penyebab yang paling sering.
b.      Tidak diketahui.
c.       Primigravida dan riwayat kehamilan lewat bulan.
d.      Defisiensi sulfatase plasenta atau anensefalus, merupakan penyebab yang jarang terjadi.
e.       Jenis kelamin janin laki-laki juga merupakan predisposisi.
f.       Faktor genetik juga dapat memainkan peran.
Jumlah kehamilan atau persalinan sebelumnya dan usia juga ikut mempengaruhi terjadinya kehamilan lewat waktu. Bahkan, ras juga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap kehamilan lewat waktu. Data menunjukkan, ras kulit putih lebih sering mengalami kehamilan lewat waktu ketimbang yang berkulit hitam. Di samping itu faktor obstetrik pun ikut berpengaruh. Umpamanya, pemeriksaan kehamilan yang terlambat atau tidak adekuat (cukup), kehamilan sebelumnya yang lewat waktu, perdarahan pada trimester pertama kehamilan, jenis kelamin janin (janin laki-laki lebih sering menyebabkan kehamilan lewat waktu ketimbang janin perempuan), dan cacat bawaan janin.
2.      Diagnosis
Diagnosis kehamilan lewat waktu biasanya dari perhitungan rumus Naegele setelah mempertimbangkan siklus haid dan keadaan klinis. Bila ada keraguan, maka pengukuran tinggi fundus uterus serial dengan sentimeter akan memberikan informasi mengenai usia gestasi lebih tepat. Keadaan klinis yang mungkin ditemukan ialah air ketuban yang berkurang dan gerakan janin yang jarang.
Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam mendiagnosis kehamilan lewat waktu, antara lain:
a.       HPHT jelas.
b.      Dirasakan gerakan janin pada umur kehamilan 16-18 minggu.
c.       Terdengar denyut jantung janin (normal 10-12 minggu dengan Doppler, dan 19-20 minggu dengan fetoskop).
d.      Umur kehamilan yang sudah ditetapkan dengan USG pada umur kehamilan kurang dari atau sama dengan 20 minggu.
e.       Tes kehamilan (urin) sudah positif dalam 6 minggu pertama telat haid.
Bila telah dilakukan pemeriksaan USG serial terutama sejak trimester pertama, maka hampir dapat dipastikan usia kehamilan. Sebaliknya pemeriksaan yang sesaat setelah trimester III sukar untuk memastikan usia kehamilan. Diagnosis juga dapat dilakukan dengan penilaian biometrik janin pada trimester I kehamilan dengan USG. Penyimpangan pada tes biometrik ini hanya lebih atau kurang satu minggu.
Pemeriksaan sitologi vagina (indeks kariopiknotik >20%) mempunyai sensitifitas 75% dan tes tanpa tekanan dengan KTG mempunyai spesifisitas 100% dalam menentukan adanya disfungsi janin plasenta atau postterm. Kematangan serviks tidak bisa dipakai untuk menentukan usia kehamilan.
Tanda kehamilan lewat waktu yang dijumpai pada bayi dibagi atas tiga stadium:
a.       Stadium I. Kulit menunjukkan kehilangan verniks kaseosa dan maserasi berupa kulit kering, rapuh, dan mudah mengelupas.
b.      Stadium II. Gejala stadium I disertai pewarnaan mekonium (kehijauan) pada kulit.
c.       Stadium III. Terdapat pewarnaan kekuningan pada kuku, kulit, dan tali pusat.
Yang paling penting dalam menangani kehamilan lewat waktu ialah menentukan keadaan janin, karena setiap keterlambatan akan menimbulkan resiko kegawatan. Penentuan keadaan janin dapat dilakukan:
a.       Tes tanpa tekanan (non stress test). Bila memperoleh hasil non reaktif maka dilanjutkan dengan tes tekanan oksitosin. Bila diperoleh hasil reaktif maka nilai spesifisitas 98,8% menunjukkan kemungkinan besar janin baik. Bila ditemukan hasil tes tekanan yang positif, meskipun sensitifitas relatif rendah tetapi telah dibuktikan berhubungan dengan keadaan postmatur.
b.      Gerakan janin. Gerakan janin dapat ditentukan secara subjektif (normal rata-rata 7 kali/ 20 menit) atau secara objektif dengan tokografi (normal rata-rata 10 kali/ 20 menit), dapat juga ditentukan dengan USG. Penilaian banyaknya air ketuban secara kualitatif dengan USG (normal >1 cm/ bidang) memberikan gambaran banyaknya air ketuban, bila ternyata oligohidramnion maka kemungkinan telah terjadi kehamilan lewat waktu.
c.       Amnioskopi. Bila ditemukan air ketuban yang banyak dan jernih mungkin keadaan janin masih baik. Sebaliknya air ketuban sedikit dan mengandung mekonium akan mengalami resiko 33% asfiksia.
3.      Penatalaksanaan
Prinsip dari tata laksana kehamilan lewat waktu ialah merencanakan pengakhiran kehamilan. Cara pengakhiran kehamilan tergantung dari hasil pemeriksaan kesejahteraan janin dan penilaian skor pelvik (pelvic score=PS). Ada beberapa cara untuk pengakhiran kehamilan, antara lain:
a.       Induksi partus dengan pemasangan balon kateter Foley.
b.      Induksi dengan oksitosin.
c.       Bedah seksio sesaria.
Dalam mengakhiri kehamilan dengan induksi oksitosin, pasien harus memenuhi beberapa syarat, antara lain kehamilan aterm, ada kemunduran his, ukuran panggul normal, tidak ada disproporsi sefalopelvik, janin presentasi kepala, serviks sudah matang (porsio teraba lunak, mulai mendatar, dan mulai membuka). Selain itu, pengukuran pelvik juga harus dilakukan sebelumnya.
Induksi persalinan dilakukan dengan oksitosin 5 IU dalam infus Dextrose 5%. Sebelum dilakukan induksi, pasien dinilai terlebih dahulu kesejahteraan janinnya dengan alat KTG, serta diukur skor pelvisnya. Jika keadaan janin baik dan skor pelvis >5, maka induksi persalinan dapat dilakukan. Tetesan infus dimulai dengan 8 tetes/menit, lalu dinaikkan tiap 30 menit sebanyak 4 tetes/menit hingga timbul his yang adekuat. Selama pemberian infus, kesejahteraan janin tetap diperhatikan karena dikhawatirkan dapat timbul gawat janin. Setelah timbul his adekuat, tetesan infus dipertahankan hingga persalinan. Namun, jika infus pertama habis dan his adekuat belum muncul, dapat diberikan infus drip oksitosin 5 IU ulangan. Jika his adekuat yang diharapkan tidak muncul, dapat dipertimbangkan terminasi dengan seksio sesaria.
4.      Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kehamilan yang teratur, minimal 4 kali selama kehamilan, 1 kali pada trimester pertama (sebelum 12 minggu), 1 kali pada trimester ke dua (antara 13 minggu sampai 28 minggu) dan 2 kali trimester ketiga (di atas 28 minggu). Bila keadaan memungkinkan, pemeriksaan kehamilan dilakukan 1 bulan sekali sampai usia 7 bulan, 2 minggu sekali pada kehamilan 7 – 8 bulan dan seminggu sekali pada bulan terakhir. Hal ini akan menjamin ibu dan dokter mengetahui dengan benar usia kehamilan, dan mencegah terjadinya kehamilan serotinus yang berbahaya.
Perhitungan dengan satuan minggu seperti yang digunakan para dokter kandungan merupakan perhitungan yang lebih tepat. Untuk itu perlu diketahui dengan tepat tanggal hari pertama haid terakhir seorang (calon) ibu itu. Perhitungannya, jumlah hari sejak hari pertama haid terakhir hingga saat itu dibagi 7 (jumlah hari dalam seminggu). Misalnya, hari pertama haid terakhir Bu A jatuh pada 2 Januari 1999. Saat ini tanggal 4 Maret 1999. Jumlah hari sejak hari pertama haid terakhir adalah 61. Setelah angka itu dibagi 7 diperoleh angka 8,7. Jadi, usia kehamilannya saat ini 9 minggu (www.google.com Dr. Sutrisno di akses tanggal 19 Mei 2010 jam 21.30 wib.).
2.1.9        KPD (Ketuban Pecah Dini)
Ketuban pecah dini (KPD) didefinisikan sebagai pecahnya ketuban sebelum waktunya melahirkan. Hal ini dapat terjadi pada akhir kehamilan maupun jauh sebelum waktunya melahirkan. KPD preterm adalah KPD sebelum usia kehamilan 37 minggu. KPD yang memanjang adalah KPD yang terjadi lebih dari 12 jam sebelum waktunya melahirkan.
Kejadian KPD berkisar 5-10% dari semua kelahiran, dan KPD preterm terjadi 1% dari semua kehamilan. 70% kasus KPD terjadi pada kehamilan cukup bulan. KPD merupakan penyebab kelahiran prematur sebanyak 30%.
Gambar 4.1. Ketuban Pecah
1.      Penyebab
Pada sebagian besar kasus, penyebabnya belum ditemukan. Faktor yang disebutkan memiliki kaitan dengan KPD yaitu riwayat kelahiran prematur, merokok, dan perdarahan selama kehamilan. Beberapa faktor risiko dari KPD :
a.       Inkompetensi serviks (leher rahim)
b.      Polihidramnion (cairan ketuban berlebih)
c.       Riwayat KPD sebelumya
d.      Kelainan atau kerusakan selaput ketuban
e.       Kehamilan kembar
f.       Trauma
g.      Serviks (leher rahim) yang pendek (<25mm 23="" kehamilan="" minggu="" pada="" span="" usia="">
h.      Infeksi pada kehamilan seperti bakterial vaginosis
2.      Tanda dan Gejala
Tanda yang terjadi adalah keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina. Aroma air ketuban berbau manis dan tidak seperti bau amoniak, mungkin cairan tersebut masih merembes atau menetes, dengan ciri pucat dan bergaris warna darah. Cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena terus diproduksi sampai kelahiran. Tetapi bila Anda duduk atau berdiri, kepala janin yang sudah terletak di bawah biasanya "mengganjal" atau "menyumbat" kebocoran untuk sementara.
Demam, bercak vagina yang banyak, nyeri perut, denyut jantung janin bertambah cepat merupakan tanda-tanda infeksi yang terjadi.
3.      Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan secara langsung cairan yang merembes tersebut dapat dilakukan dengan kertas nitrazine, kertas ini mengukur pH (asam-basa). pH normal dari vagina adalah 4-4,7 sedangkan pH cairan ketuban adalah 7,1-7,3. Tes tersebut dapat memiliki hasil positif yang salah apabila terdapat keterlibatan trikomonas, darah, semen, lendir leher rahim, dan air seni. Pemeriksaan melalui ultrasonografi (USG) dapat digunakan untuk mengkonfirmasi jumlah air ketuban yang terdapat di dalam rahim.


4.      Komplikasi KPD
Komplikasi paling sering terjadi pada KPD sebelum usia kehamilan 37 minggu adalah sindrom distress pernapasan, yang terjadi pada 10-40% bayi baru lahir. Risiko infeksi meningkat pada kejadian KPD. Semua ibu hamil dengan KPD prematur sebaiknya dievaluasi untuk kemungkinan terjadinya korioamnionitis (radang pada korion dan amnion). Selain itu kejadian prolaps atau keluarnya tali pusar dapat terjadi pada KPD.
Risiko kecacatan dan kematian janin meningkat pada KPD preterm. Hipoplasia paru merupakan komplikasi fatal yang terjadi pada KPD preterm. Kejadiannya mencapai hampir 100% apabila KPD preterm ini terjadi pada usia kehamilan kurang dari 23 minggu.
5.      Penanganan Ketuban Pecah di Rumah
a.       Apabila terdapat rembesan atau aliran cairan dari vagina, segera hubungi dokter atau petugas kesehatan dan bersiaplah untuk ke Rumah Sakit
b.      Gunakan pembalut wanita (jangan tampon) untuk penyerapan air yang keluar
c.       Daerah vagina sebaiknya sebersih mungkin untuk mencegah infeksi, jangan berhubungan seksual atau mandi berendam
d.      Selalu membersihkan dari arah depan ke belakang untuk menghindari infeksi dari dubur
e.       Jangan coba melakukan pemeriksaan dalam sendiri
6.      Terapi
Apabila terjadi pecah ketuban, maka segeralah pergi ke rumah sakit. Dokter kandungan akan mendiskusikan rencana terapi yang akan dilakukan, dan hal tersebut tergantung dari berapa usia kehamilan dan tanda-tanda infeksi yang terjadi. Risiko  kelahiran bayi prematur adalah risiko terbesar kedua setelah infeksi akibat ketuban pecah dini. Pemeriksaan mengenai kematangan dari paru janin sebaiknya dilakukan terutama pada usia kehamilan 32-34 minggu. Hasil akhir dari kemampuan janin untuk hidup sangat menentukan langkah yang akan diambil.
Kontraksi akan terjadi dalam waktu 24 jam setelah ketuban pecah apabila kehamilan sudah memasuki fase akhir. Semakin dini ketuban pecah terjadi maka semakin lama jarak antara ketuban pecah dengan kontraksi. Jika tanggal persalinan sebenarnya belum tiba, dokter biasanya akan menginduksi persalinan dengan pemberian oksitosin (perangsang kontraksi) dalam 6 hingga 24 jam setelah pecahnya ketuban. Tetapi jika memang sudah masuk tanggal persalinan dokter tak akan menunggu selama itu untuk memberi induksi pada ibu, karena menunda induksi bisa meningkatkan resiko infeksi.
Apabila paru bayi belum matang dan tidak terdapat infeksi setelah kejadian KPD, maka istirahat dan penundaan kelahiran (bila belum waktunya melahirkan) menggunakan magnesium sulfat dan obat tokolitik. Apabila paru janin sudah matang atau terdapat infeksi setelah kejadian KPD, maka induksi untuk melahirkan mungkin diperlukan.
Penggunaan steroid untuk pematangan paru janin masih merupakan kontroversi dalam KPD. Penelitan terbaru menemukan keuntungan serta tidak adanya risiko peningkatan terjadinya infeksi pada ibu dan janin. Steroid berguna untuk mematangkan paru janin, mengurangi risiko sindrom distress pernapasan pada janin, serta perdarahan pada otak.
Penggunaan antibiotik pada kasus KPD memiliki 2 alasan. Yang pertama adalah penggunaan antibiotik untuk mencegah infeksi setelah kejadian KPD preterm. Dan yang kedua adalah berdasarkan hipotesis bahwa KPD dapat disebabkan oleh infeksi dan sebaliknya KPD preterm dapat menyebabkan infeksi. Keuntungan didapatkan pada wanita hamil dengan KPD yang mendapatkan antibiotik yaitu, proses kelahiran diperlambat hingga 7 hari, berkurangnya kejadian korioamnionitis serta sepsis neonatal (infeksi pada bayi baru lahir).
7.      Pencegahan
Beberapa pencegahan dapat dilakukan namun belum ada yang terbukti cukup efektif. Mengurangi aktivitas atau istirahat pada akhir triwulan kedua atau awal triwulan ketiga dianjurkan (www.google.com Dr. Sutrisno di akses tanggal 10 Mei 2010 jam 21.30 wib).


2.1.10    Fase Laten Memanjang
Menurut Sarwono Prawirohardjo dalam buku pelayanan maternal dan neonatal fase laten memanjang adalah suatu keadaan pada kala I dimana pembukaan serviks sampai 4 cm dan berlangsung lebih dari 8 jam.
1.      Etiologi
Menurut Rustam Mochtar (Sinopsis Obstetri) pada dasarnya fase laten memanjang dapat disebabkan oleh :
a.       His tidak efisien (adekuat)
b.      Tali pusat pendek
c.       Faktor jalan lahir (panggul sempit, kelainan serviks, vagina, tumor)
d.      Kesalahan petugas kesehatan memastikan bahwa pasien sudah masuk dalam persalinan (inpartu) atau belum
Faktor-faktor ini saling berhubungan satu sama lain.
2.      Penilaian Klinis
Menurut Sarwono Prawirohardjo menentukan keadaan janin :
a.       Periksa DJJ selama atau segera setelah His. Hitung frekuensinya sekurang-kurangnya 1 x dalam 30 menit selama fase aktif dan tiap 5 menit selama fase laten kala II.
b.      Jika ketuban sudah pecah, air ketuban kehijau-hijauan atau bercampur darah, pikiran kemungkinan gawat janin
c.       Jika tidak ada ketuban yang mengalir setelah selaput ketuban pecah, pertimbangkan adanya indikasi penurunan jumlah air ketuban yang mungkin juga menyebabkan gawat janin. Perbaiki keadaan umum dengan memberikan dukungan psikologis. Berikan cairan baik secara oral atau parenteral dan upayakan BAK.
d.      Bila penderita merasakan nyeri yang sangat berat berikan analgetik
3.      Diagnosis
Menurut Suprijadi dalam buku asuhan intrapartum pada fase laten memanjang ini memungkinkan terjadinya partus lama. Maka dari itu bidan harus bisa mengidentifikasi keadaan ini dengan baik.
Diagnosa partus lama ialah :
Tanda dan Gejala Diagnosa
a.       Serviks tidak membuka
Tidak didapatkan his/his tidak teratur Belum inpartu
b.      Pembukaan serviks tidak melewati 4 cm sesudah 8 jam inpartu dengan his yang teratur Fase laten memanjang
c.       Pembukaan serviks melewati kanan garis waspada partograf
1)      Frekuensi his kurang dari 3 x his per 10 menit dan lamanya kurang dari 40 detik
2)      Pembukaan serviks dan turunnya bagian janin yang dipresentasi tidak maju, sedangkan his baik
3)      Pembukaan serviks dan turunnya bagian janin yang dipresentasi tak maju dengan caput, terdapat moulase hebat, oedema serviks, tanda ruptura uteri imins, gawat janin Fase aktif memanjang
d.      Pembukaan serviks lengkap, ibu ingin mengedan, tetapi tidak ada kemajuan penurunan  Kala II lama
Kekeliruan melakukan diagnosa persalinan palsu menjadi fase laten menyebabkan pemberian induksi yang tidak perlu yang biasanya sering gagal. Hal ini menyebabkan tindakan operasi SC yang kurang perlu dan sering menyebabkan amnionitis. Oleh sebab itu maka petugas kesehatan atau bidan harus benar-benar tahu atau paham tentang perbedaan persalinan sesungguhnya dan persalinan palsu yaitu dengan ciri-ciri sebagai berikut :
a.       Persalinan sesungguhnya
1)      Serviks menipis dan membuka
2)      Rasa nyeri dengan internal teratur
3)      Internal antara rasa nyeri yang secara perlahan semakin pendek
4)      Waktu dan kekuatan kontraksi bertambah
5)      Rasa nyeri berada dibagian perut bagian bawah dan menjalar ke belakang
6)      Dengan berjalan menambah intensitas
7)      Ada hubungan antara tingkat kekuatan kontraksi dengan intensitas rasa nyeri
8)      Lendir darah sering tampak
9)      Kepala janin terfiksasi di PAP diantara kontraksi
10)  Pemberian obat penenang tidak menghentikan proses persalinan sesungguhnya
11)  Ada penurunan kepala bayi
b.      Persalinan Semu
1)      Tidak ada perubahan serviks
2)      Rasa nyeri tidak teratur
3)      Tidak ada perubahan internal antara nyeri yang satu dan yang lain
4)      Tidak ada perubahan pada waktu dan kekuatan kontraksi
5)      Kebanyakan rasa nyeri dibagian depan saja
6)      Tidak ada perubahan rasa nyeri dengan berjalan
7)      Tidak ada hubungan antara tingkat kekuatan kontraksi uterus dengan intensitas rasa nyeri
8)      Tidak ada lendir darah
9)      Tidak ada kemajuan penurunan bagian terendah janin
10)  Kepala belum masuk PAP walaupun ada kontraksi
11)  Pemberian obat yang efisien menghentikan rasa nyeri pada persalinan
4.      Penatalaksanaan
a.       Penanganan secara umum (menurut Sarwono Prawirohardjo)
1)      Nilai secara cepat keadaan umum wanita hamil tersebut termasuk tanda-tanda vital dan tingkat hidrasinya. Apakah ia kesakitan dan gelisah, jika ya pertimbangkan pemberian analgetik.
2)      Tentukan apakah pasien benar-benar inpartu
3)      Upaya mengedan ibu menambah resiko pada bayi karena mengurangi jumlah O2 ke plasenta, maka dari itu sebaiknya dianjurkan mengedan secara spontan dan mengedan dengan tidak menahan napas terlalu lama
4)      Perhatikan DJJ
b.      Penanganan secara khusus
Apabila ibu berada dalam fase laten lebih dari 8 jam dan tidak ada tanda-tanda kemajuan, lakukan pemeriksaan dengan jalan penilaian ulang serviks :
1)      Bila tidak ada perubahan penipisan dan pembukaan serviks serta tak didapatkan tanda gawat janin, kaji ulang diagnosisnya kemungkinan ibu belum dalam keadaan inpartu
2)      Bila ada kemajuan dalam pendataran dan pembukaan serviks lakukan amniotomi dan induksi persalinan dengan oksitosin atau prostoglandin. Lakukan drip oksitosin dengan 5 unit dalam 500 cc dekstrose atau NaCl mulai dengan 8 tetes per menit, setiap 30 menit ditambah 4 tetes sampai His adekuat (maksimum 40 tetes/menit) atau diberikan preparat prostaglandin. Lakukan penilaian ulang setiap 4 jam. Bila ibu tidak masuk fase aktif setelah dilakukan pemberian oksitosin lakukan seksio sesarea.
3)      Pada daerah yang prevelensi HIV tinggi, dianjurkan membiarkan ketuban tetap utuh, selama pemberian oksitosin untuk mengurangi kemungkinan terjadinya penularan HIV
4)      Bila didapatkan tanda-tanda infeksi (demam, cairan vagina berbau) lakukan akselerasi persalinan dengan oksitosin 5 unit dalam 500 cc dekstrose atau NaCl mulai dengan 8 tetes permenit setiap 15 menit ditambah 4 tetes sampai his adekuat (maksimum 40 tetes/menit atau diberikan preparat prostaglandin, serta berikan antibiotika kombinasi sampai persalinan yaitu amplisilin 29 gr IV. Sebagai dosis awal dan 1 gr IV setiap 6 jam ditambah dengan gestamisin setiap 24 jam.
5)      Jika terjadi persalinan pervaginam stop antibiotika pasca persalinan
6)      Jika dilakukan seksio sesarea, lanjutkan antibiotika ditambah metronidazol 500 mg IV setiap 8 jam sampai ibu bebas demam selama 48 jam (www.google.com  Dr. Slamet diakses tanggal 19 Mei 2010 jam 21.10 wib.)
2.1.11    Diabetes Mellitus
Diabetes Mellitus Gestasional (DMG) didefinisikan sebagai gangguan toleransi glukosa berbagai tingkat yang diketahui pertama kali saat hamil tanpa membedakan apakah penderita perlu mendapat insulin atau tidak. Pada kehamilan trimester pertama kadar glukosa akan turun antara 55-65% dan hal ini merupakan respon terhadap transportasi glukosa dari ibu ke janin. Sebagian besar DMG asimtomatis sehingga diagnosis ditentukan secara kebetulan pada saat pemeriksaan rutin.
Di Indonesia insiden DMG sekitar 1,9-3,6% dan sekitar 40-60% wanita yang pernah mengalami DMG pada pengamatan lanjut pasca persalinan akan mengidap diabetes mellitus atau gangguan toleransi glukosa. Pemeriksaan penyaring dapat dilakukan dengan pemeriksaan glukosa darah sewaktu dan 2 jam post prandial (pp). Bila hasilnya belum dapat memastikan diagnosis DM, dapat diikuti dengan test toleransi glukosa oral. DM ditegakkan apabila kadar glukosa darah sewaktu melebihi 200 mg%. Jika didapatkan nilai di bawah 100 mg% berarti bukan DM dan bila nilainya diantara 100-200 mg% belum pasti DM.
Pada wanita hamil, sampai saat ini pemeriksaan yang terbaik adalah dengan test tantangan glukosa yaitu dengan pembebanan 50 gram glukosa dan kadar glukosa darah diukur 1 jam kemudian. Jika kadar glukosa darah setelah 1 jam pembebanan melebihi 140 mg% maka dilanjutkan dengan pemeriksaan test tolesansi glukosa oral (www.google.com Dr Sutrisno diakses tanggal 19 Mei 2010 jam 21.00 wib).


2.2  Penyakit Ginjal Berat
Seorang wanita yang sebelum hamil menderita penyakit ginjal berat tidak mungkin bisa mengandung bayinya sampai cukup matang untuk dilahirkan.
Tetapi beberapa wanita yang secara rutin menjalani dialisa akibat gagal ginjal dan banyak wanita yang telah menjalani pencangkokan ginjal bisa melahirkan bayi yang sehat.
Wanita hamil yang menderita penyakit ginjal biasanya memerlukan perawatan dari ahli ginjal dan ahli kandungan. Secara rutin dilakukan pemeriksaan fungsi ginjal, tekanan darah dan berat badan.
Asupan garam dibatasi. Pemberian diuretik membantu mengendalikan tekanan darah dan edema.
Penderita seringkali harus dirawat di rumah sakit setelah kehamilan mencapai 28 minggu. Persalinan dini harus dilakukan untuk menyelamatkan bayi dan biasanya dilakukan melalui operasi sesar.
2.2.1        Hidramnion
Hidramnion terjadi karena :
1.      Produksi air seni janin berlebihan.
2.      Ada kelainan pada janin yang menyebabkan cairan ketuban menumpuk, yaitu hidrosefalus, atresia saluran cerna, kelainan ginjal dan saluran kencing kongenital.
3.      Ada sumbatan/penyempitan saluran cerna pada janin sehingga ia tak bisa menelan air ketuban. Alhasil, volume air ketuban meningkat drastis.
4.      Kehamilan kembar, karena ada dua janin yang menghasilkan air seni.
5.      Ada proses infeksi.
6.      Ada hambatan pertumbuhan atau kecacatan yang menyangkut sistem saraf pusat sehingga fungsi gerakan menelan mengalami kelumpuhan.
7.      Ibu hamil menderita diabetes yang tidak terkontrol.
8.      Inkompatibilitas/ketidakcocokan Rhesus.
Cairan ketuban yang berlebih berdampak buruk. Ibu biasanya merasa kandungannya cepat sekali membesar. Pada kasus hidramnion ekstrem, pembesaran perut biasanya begitu berlebihan sehingga dinding perut menjadi sedemikian tipis. Bahkan pembuluh darah di bawah kulit pun terlihat jelas. Lapisan kulit pecah, sehingga tampak guratan-guratan nyata pada permukaan perut. Kalau diukur, pertambahan lingkaran perut terlihat begitu cepat. Begitu juga tinggi rahim.
Cairan ketuban yang berlebih menyebabkan peregangan rahim, selain menekan diafragma ibu. Itu semua akan memunculkan keluhan-keluhan serupa dengan kehamilan kembar, di antaranya sesak napas/gangguan pernapasan yang berat, pertambahan berat badan berlebih dan bengkak di sekujur tubuh. Keluhan-keluhan tersebut ujung-ujungnya akan memicu terjadinya hipertensi dalam kehamilan yang mungkin harus diakhiri dengan persalinan prematur.
Selain dampak di atas, cairan ketuban menyebabkan letak janin umumnya menjadi tidak normal. Dengan alat pemeriksa, suara denyut jantung janin terdengar jauh karena letaknya jadi cukup jauh dari permukaan. USG bisa mendapat diagnosis yang lebih pasti dengan cara mengukur ketinggian kantung air ketuban dan indeks cairan amnion. Alat ini sekaligus dapat mengetahui apakah ada kelainan bawaan pada janin dan gangguan pertumbuhan janin.
Plasen Peregangan atau tekanan yang begitu kuat pada dinding rahim dapat memicu terjadinya kontraksi sebelum waktunya. Namun, dokter tentu akan mengupayakan agar tidak terjadi persalinan prematur dengan cara memberikan obat "peredam" kontraksi.
Cairan ketuban yang berlebih juga bisa meningkatkan risiko komplikasi persalinan, yaitu perdarahan pascapersalinan. hidramnion juga amat memungkinkan terjadinya komplikasi plasenta terlepas dari tempat perlekatannya. Belum lagi risiko terjadinya kematian janin dalam kandungan.
Yang jelas, kemungkinan ibu menjalani bedah sesar jauh lebih tinggi dibanding kehamilan biasa mengingat letak janin yang tidak normal dan menurunnya tingkat kesejahteraan janin. (www.google.com Ani burnani, diakses tanggal 19 Mei 2010 jam 21.10 wib)


2.2.2        Anansephalus
Anensefalus terjadi jika tabung saraf sebelah atas gagal menutup, tetapi penyebabnya yang pasti tidak diketahui. Penelitian menunjukkan kemungkinan anensefalus berhubungan dengan racun di lingkungan juga kadar asam folat yang rendah dalam darah.
2.2.3        Gawat Janin
Dr. Sutrisno dan Dr. I. Edward Kurnia S.L Gawat janin selama persalinan menunjukkan hipoksia (kurang oksigen) pada janin. Tanpa oksigen yang adekuat, denyut jantung janin kehilangan variabilitas dasarnya dan menunjukkan deselerasi (perlambatan) lanjut pada kontraksi uterus. Bila hipoksia menetap, glikolisis (pemecahan glukosa) anaerob menghasilkan asam laktat dengan pH janin yang menurun.
1.      Data Subjektif dan Objektif
Gerakan janin yang menurun atau berlebihan menandakan gawat janin. Tetapi biasanya tidak ada gejala-gejala yang subyektif. Seringkali indikator gawat janin yang pertama adalah perubahan dalam pola denyut jantung janin (bradikardia, takikardia, tidak adanya variabilitas atau deselerasi lanjut). Hipotensi pada ibu, suhu tubuh yang meningkat atau kontraksi uterus yang hipertonik atau ketiganya secara keseluruhan dapat menyebabkan asfiksia (kegagalan nafas adequate pada menit-menit pertama kelahiran) janin.(www.google.com –Dr Sutrisno,diakses tanggal 19 Mei 2010 jam 21.00 )
2.2.4        Primi Gavida Tua
Wanita yang hamil untuk pertama kali dengan usia 30 tahun disebut primigravida tua (elederly primigravida)
2.2.5        Ante Perum Bleeding
Perdarahan antepartum adalah perdahan yang terjadi setelah kehamilan 28 minggu biasanya lebih banyak dan lebih berbahaya daripada perdarahan kehamilan sebelum 28 minggu.
2.2.6        Komplikasi Induksi Perslinan
Menurut Rustam, komplikasi induksi persalinan adalah :
a.       Terhadap Ibu
1.      Kegagalan induksi.
2.      Kelelahan ibu dan krisis emosional.
3.      Inersia uteri partus lama.
4.      Tetania uteri (tamultous lebar) yang dapat menyebabkan solusio plasenta, ruptura uteri dan laserasi jalan lahir lainnya.
5.      Infeksi intra uterin.
b.      Terhadap janin
1.      Trauma pada janin oleh tindakan.
2.      Prolapsus tali pusat.
3.      Infeksi intrapartal pada janin (Winjosastro Hanifa,2003)
2.3  Konsep Persalinan
2.3.1        Pengertian Persalinan
Persalinan adalah rangkaian proses yang berakhir dengan pengeluaran hasil konsepsi oleh ibu. Proses ini dimulai dengan kontraksi persalinan sejati, yang ditandai oleh perubahan pogesif pada seviks, dan diakhiri dengan kelahiran plasenta (Varney, Helen. 2007 :  672).
Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya  serviks, dan janin turun kedalam  jalan lahir. Kelahiran adalah proses dimana janin dan ketuban di dorong keluar melalui jalan lahir (Sarwono Prawirohardjo, 2006  : 100).
2.3.2        Faktor Yang Mempengaruhi Persalinan
1.      Power : kekuatan his yang adekuat dan tambahan kekuatan mengejan
2.      Passage: Jalan lahir tulang ,jalan lahir otot
3.      Passanger: janin, plasenta, dan selaput ketuban
4.      Psikis ibu bersalin
5.      Penolong persalinan (Ai Yeyeh, Lia Yulianti, Hj. Maemunah, Hj. Lilik, 2009 13)
2.3.3        Sebab-Sebab Mulainya Persalinan
Sebab yang mendasari terjadinya partus secara teoritis masih merupakan kumpulan teoritis yang kompleks teori yang turut memberikan andil dalam proses terjadinya peralinan antara lain : teori hormonal, prostaglandin, strutur uterus, sirkulasi uterus, pengaruh saraf dan nutrisi hal inilah yang diduga memberikan pengaruh sehingga partus dimulai.
1.      Penurunan kadar progesteron
Progesteron menimbulkan relaksasi otot-oto rahim, sebaiknya estrogen meningkatkan kontraksi otot rahim. selama kehamilan, terdapat keseimbangan antara kadar progesterone  dan estrogen di dalam darah tetapi pada akhir kehamilan kadar progesterone menurun sehingga timbul his.
2.      Teori oxytosin
Pada akhir kehamilan kadar oxytosin bertambah. Oleh karena itu timbul kontraksi otot-otot rahim.
3.      Peregangan Otot-otot
Dengan majunya kehamilan, maka makin tereganglah Otot-otot rahim sehingga timbullah kontraksi untuk mengeluarkan janin.
4.      Pengaruh  Janin
Hipofise dan kadar suprarenal janin rupanya memegang peranan penting oleh karena itu pada anencephalus kelahiran sering lebih lama.
5.      Teori Prostaglandin
Kadar prostaglandin dalam kehamilan dari minggu ke 15 hingga aterm terutama saat persalinan
(Ai Yeyeh, Lia Yulianti, Hj. Maemunah, Hj. Lilik 2009 3)
2.3.4        Kala Dalam Persalinan
1.        Kala I      : Dimulai dari saat persalinan mulai sampai pembukaan lengkap (10 cm). Proses ini terbagi dalam 2 fase, fase laten (8 jam) serviks membuka sampai 3 cm dan fase aktif (7 jam) servik membuka dari 3 sampai 10 cm. Kontraksi lebih kuat dan sering selama fase aktif.
2.        Kala II    : Dimulai dari pembukaan lengkap (10 cm) sampai bayi lahir. Proses ini biasanya berlangsung 2 jam pada primi dan 1 jam pada multi.
3.        Kala III   : Dimulai segera setelah bayi lahir sampai lahirnya plasenta, yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit
4.        Kala IV   : Dimulai dari saat lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama post partum (Sarwono, 2005).
2.3.5        Tujuan Asuhan Persalinan
Adalah memberikan asuhan yang memadai selama persalinan dalam upaya mencapai pertolongan persalinan yang bersih dan aman, dengan memperhatikan aspek sayang ibu dan sayang bayi (Ai Yeyeh, 2009).
2.3.6        Tanda-Tanda Persalinan
Sebelum terjadinya pesalinan, didahului dengan tanda-tanda sebagai berikut:
1.      Kekuatan his makin sering terjadi dan teratur dengan jarak kontraksi yang semakin pendek.
2.      Dapat terjadi pengluaran lendir atau pengeluaran lendir bercampur darah
3.      Dapat juga disertai ketuban pecah
4.      Pada pemeriksaan dalam terdapat peubahan serviks yaitu: pelunakan serviks, pendataran serviks dan terjadinya pembukaan serviks (Ai Yeyeh, Lia Yulianti, Hj. Maemunah, Hj. Lilik, 2009 : 10).
2.3.7        Tanda-Tanda Bahaya Persalinan
Ada berapa Tanda-tanda bahaya ibu bersalin yang akan mengancam jiwanya diantaranya:
1.      Syok pada persalinan
2.      Perdarahan pada saat persalinan
3.      Nyeri kepala
4.      Gangguan penglihatan
5.      Kejang atau koma
6.      Tekanan darah tinggi
7.      Persalinan yang lama
8.      Gawat janin dalam persalinan
9.      Demam dalam persalinan
10.  Nyeri perut hebat
11.  Sukar bernafas (JNPK-KR,2007)
2.4  Kerangka Konseptual
  Kerangka  konseptual  adalah kerangka hubungan antara konsep yang ingin di amati atau di ukur melalui penelitian yang akan dilaksanakan (Notoatmodjo: 2003).
 









Gambar 2.1   Kerangka Konseptual Gambaran Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemberian Oksitosin Drip Pada Persalinan

                             = diteliti
                    = tidak diteliti
Penjelasan :
Faktor yang mempengaruhi oksitosin drip antara lain hypertensi dalam kehamilan, post maturitas, KPD, fase laten memanjang, diabetes melitus, penyakit ginjal berat, anansephalus, gawat janin, primi gravida tua, ante partum bleeding.



BAB III
METODE PENELITIAN

3.1    Desain Penelitian
Desain penelitian merupakan hasil akhir dari tahap keputusan yang dibuat oleh peneliti berhubungan dengan bagaimana suatu penelitian bisa diterapkan, desain sangat erat dengan kerangka konsep penelitian sebagai petunjuk perencanaan pelaksana suatu penelitian sebagai “Blue print”. Desain adalah suatu pola atau petunjuk secara umum yang bisa di aplikasikan pada beberapa penelitian dangan adanya permasalahan penelitian yang jelas. Kerangka konsep dan perencanaan penelitian secara rinci dalam hal pengumpulan dan analisa data (Nursalam, 2002).
Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif yaitu Suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskriptif tentang suatu keadaan secara objektif.
Metode deskriptif ini digunakan untuk memecahkan atau menjawab  Permasalahan yang sedang dihadapi pada situasi sekarang ini. Dengan langkah-langkah berikut : Pengumpulan data, klasifikasi, pengolahan data atau analisa data, dan membuat kesimpulan atau laporan dalam penelitian ini, peneliti ingin mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian oksitosin drip pada persalinan di Ruang PONEK RSUD Jombang.
3.2         Lokasi dan Waktu Penelitian
3.2.1        Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian dilaksanakan di Ruang PONEK RSUD Jombang.
3.2.2        Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan bulan Februari sampai Juni 2010.
3.3    Populasi, Sampel dan Sampling
3.3.1        Populasi
Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian atau obyek yang diteliti (Notoatmodjo, 2002:79).
Populasi dalam penelitian ini semua ibu yang bersalin dengan Pemberian oksitosin drip di paviliun PONEK RSUD Jombang yang tercatat dalam rekam medik sebanyak 138 orang pada bulan Januari – April 2010.
3.3.2        Sampel
Sampel adalah bagian yang diambil dari keseluruhan obyek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2002:79).
Pada penelitian ini sampel yang diambil adalah semua ibu bersalin dengan  pemberian oksitosin drip di paviliun PONEK RSUD Jombang yang tercatat dalam rekam medik sebanyak 138 orang pada bulan Januari – April 2010. 
3.3.3        Sampling
Sampling adalah suatu proses dalam menyeleksi porsi dari populasi untuk dapat mewakili populasi (Nursalam, 2003:93).
Metode pengambilan sampling yang digunakan pada penelitian ini adalah non probability dengan menggunakan total sampling adalah dengan penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel.(Sugiono,2006            :96)
3.4    Identifikasi Variable
Variabel adalah suatu yang digunakan sebagai ciri ,sifat,atau ukuran yang dimiliki atau ukuran  yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan peneliian tentang sesuatu konsep pengertian tertentu (Notoatmodjo, 2005 : 70).
Variable dalam penelitian ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian oksitosin drip pada persalinan.

3.5    Definisi Operasional
Merupakan definisi berdasarkan kerakteristik yang diamati dari sesuatu yang didenifisikan atau menjelaskan semua variable, dan istilah yang digunakan dalam penelitian secara operasional sehingga mempermudah pembaca atau penguji dalam mengartikan makna penelitian (Nursalam, 2003).


Tabel 3.1 Definisi Operasional

No
Variable
Definisi Operasional
Alat ukur
Kriteria
1
Gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian oksitosin drip pada persalinan
Menggambarkan suatu keadaan secara objektif tentang faktor-faktor pemberian oksitosi drip pada persalinan antar lain:
1.      Hypertensi dalam kehamilan
2.      Post maturitas
3.      KPD
4.      Fase laten memanjang
Catatan rekam medik
-    Hypertensi dalam kehamilan
-    Post maturitas
-    KPD
-    Fase laten memanjang  

3.6    Pengumulan Data dan Analisa Data
3.6.1        Pengumpulan Data
Adalah suatu proses pendekatan kepada subyek dan proses pengumpulan karakteristik subyek yang diperlukan dalam suatu penelitian (Nursalam, 2003 : 109)
Penelitian ini menggunakan data sekunder yaitu data yang di peroleh dari rekam medik maupun catatan atau dokumentasi medik menunjang tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian oksitosin drip pada persalinan dilaksanakan di ruang PONEK RSUD Jombang  pada bulan Januari-Maret 2010.
3.6.2        Analisa Data
Analisa data pada penelitian di analisis secara univariat. Analisis Univariat yaitu menganalisis tiap-tiap variabel penelitian yang ada secara deskriptif dengan menghitung distribusi frekuensi. Variable yang di analisis secara univariat adalah faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian oksitosin drip pada persalinan.
Perhitungan persentase dengan rumus :
Keterangan :
P            : Persentase
F            : jumlah kasus yang di dapat
N           : sampel
(Budiarto, 2002 38).
3.6.3        Alat Ukur yang Digunakan
Lembar pengumpulan data dengan  mempelajari data sekunder untuk memperoleh data-data tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian oksitosin drip pada persalinan, yang didapatkan dari rekam medik  pasien yang dibuat sampel.

3.7    Tehnik Pengolahan Data
Setelah data terkumpul kemudian dilakukan pengolahan data kegiatan, dalam pengolahan data meliputi:
3.7.1        Editing
Editing adalah memeriksa data yang telah dikumpulkan baik berupa daftar pertanyaan kultur atau buku register (Budiarto, 2001 : 24).


3.7.2        Koding
Adalah tahap dimana penelitian memberikan kode pada setiap kategori yang dalam variabel (Budiarto, 2001 : 30).
Dalam penelitian ini peneliti memberikan kode dengan cara menggunakan angka contoh: Hipertensi dalam kehamilan 1, Post maturitas 2, KPD 3,dan Fase laten memanjang 4.
3.7.3        Tabulasi
Tabulasi adalah bagian terakhir dari pengolahan data, maksud tabulasi adalah memasukkan data pada tabel-tabel tertentu dan mengatur angka-angka serta menghitungnya (Burhan, 2005 : 168).

3.8    Etika Penelitian
Dalam melakukan penelitian ini penulis mengajukan permohonan izin kepada ketua program studi kebidanan UNIPDU Jombang dan kepada direktur RSUD Jombang selanjutnya kepada kepala ruangan paviliun PONEK RSUD dan Petugas rekam medik Jombang.
3.8.1        Lembar Persetujuan (Inform Concent)
Meminta persetujuan dan izin dari pihak ruang rekam medik untuk mengambil data dan menjaga kerahasiannya.
3.8.2        Tanpa Nama (Anomility)
Dalam penelitian ini pengambilan sampel melalui rekam medik peneliti akan menjaga kerahasiaan status pasien sebagaimana tugas dari pihak rekam medik.
3.8.3        Kerahasiaan (Confidentiality)
Kerahasiaan yang diberikan responden dijamin oleh peneliti, hanya Kelompok tertentu saja yang akan dilaporkan pada hasil penelitian (Nursalam dan Pariani, 2001:173).

3.9    Keterbatasan
Keterbisaaan merupakan kelemahan dan hambatan dalam penelitian. Dan keterbatasan dalam penelitian yang dihadapi penelitian adalah :
3.9.1        Literatur
 Bahan yang digunakan sebagai acuan dalam penelitian kurang memadai sehingga dalam penyempurnaan penelitian memerlukan waktu yang cukup lama.
3.9.2        Kelemahan Lain
Peneliti belum memiliki pengalaman dalam penelitian sehingga dalam penelitian ini banyak menerima hambatan.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1  Hasil Penelitian
Pada bab ini akan diuraikan hasil penelitian di Paviliun PONEK RSUD Jombang. Hasil penelitian disajikan dalam dua bagian yaitu data umum adalah persalinan dan data khusus adalah angka kejadian faktor-faktor pemberian oksitosin drip pada persalinan.
4.1.1        Data Umum
Telah dilakukan penelitian di RSUD Jombang tentang faktor-faktor pemberian oksitosin drip pada persalinan pada bulan Januari sampai April 2010. Terdapat jumlah 138 orang, seperti tampak pada tabel ini.
Tabel 4.1   Distribusi frekuensi Persalinan Oksitosin Drip dan Tindakan Persalinan Lainnya

No
Data RSUD Jombang
Jumlah
Prosentase (%)
1

2
3.

Pesalinan Spontan Belakang kepala
Persalinan SC
Persalinan dengan VE (vacum ektraksi)
121

8
9
87,6

5,7
6,7
Total
138
100
Sumber : Data Sekunder Bulan Januari-April 2010
Berdasarkan tabel di atas tampak bahwa sebagian besar persalinan oksitosin drip dilakukan tindakan persalinan spontan belakang kepala 121 orang (87,6%), persalinan SC 8 orang (5,7%), dan persalinan VE (vacum ekstraksi) 9 orang (6,7%).

4.1.2        Data Khusus
Tabel 4.2   Distribusi Frekuensi Faktor–Faktor Yang Mempengaruhi Pemberian Oksitosin Drip Pada Persalinan di Ruang PONEK RSUD Jombang bulan Januari-April 2010

No
Faktor Yang Mempengaruhi Pemberian OD
Frekuensi
Prosentase (%)
1.
2
3
4
Hypertensi dalam kehamilan
Post maturitas
KPD
Fase laten memanjang

21
32
38
47

15,4
23,1
27,5
34

Total
138
100
Sumber data Sekunder Bulan Januari-April 2010

Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa faktor-faktor pemberian oksitosin drip pada persalinan di ruang PONEK RSUD Jombang bulan Januari-April 2010 sebagian besar terdapat pada kasus Fase laten memanjang yaitu 47 kasus (34%), KPD 38 kasus (27,5%), post maturitas 32 orang (23,1%) dan hypertensi kehamilan 21 orang (15,4%).

4.2  Pembahasan
4.2.1        Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemberian Oksitosin Drip Pada Persalinan
Berdasarkan tabel distribusi frekuensi terlihat faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian oksitosin drip pada persalinan di Ruang PONEK RSUD Jombang pada bulan Januari-April  2010. Terdapat 138 kasus persalinan dengan oksitosin drip di ruang PONEK  RSUD Jombang. terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian oksitosin drip pada persalinan sebagian besar dengan kasus Fase laten memanjang 47 kasus (34%), KPD 38 kasus (27,5%), post maturitas 32 kasus (23,1%), dan hypertensi dalam kehamilan 21 kasus (15,4%)
Menurut Dr.David T.Y.LIU, 2007, indikasi dilakukan oksitosin drip ada 3 yaitu  untuk kesehatan ibu, janin, dan kesehatan ibu janin. Seperti pada kondisi medis yang mengancam kesehatan ibu, pada janin yang mengalami retardasi pertumbuhan atau kematian janin dan jika menguntungkan baik ibu maupun janin.
Menurut Sastrawinata 2000 faktor yang mempengaruhi pemberian oksitosin drip pada persalinan ada beberapa faktor yaitu: Hypertensi pada kehamilan, post maturitas, KPD, Fase laten memanjang, DM, Hidramnion, Anansephalus, Gawat janin, Primigravida tua, dan Ante partum bleeding.
Melihat fakta dan teori diatas jika terdapat kasus fase laten memanjang, KPD, Post maturitas, dan hypertensi dalam kehamilan, sebagai bidan jika ditemukan kasus seperti diatas segera rujuk untuk dilakukan tindakan persalinan dengan oksitosin drip untuk keselamatan ibu dan janin.
Dari penelitian diatas maka dapat disimpulkan bahwa teori yang ada sudah di dukung hasil penelitian diketahui sebagian besar dengan rekam medic faktor yang mempengaruhi pemberian oksitosin sebagian besar dengan kasus Fase laten memanjang, KPD, Post maturitas, dan hypertensi dalam kehamilan.


4.2.1.1  Fase laten memanjang
Menurut Sarwono Prawihardjo dalam buku pelayanan maternal dan neonatal fase laten memanjang yaitu adalah suatu keadaan pada kala 1 dimana pembukaan serviks sampai 4 cm dan berlangsung lebih dari 8 jam dengan tanda dan gejala serviks tidak membuka, pembukaan serviks tidak melewati 4 cm sesudah 8 jam inpartu dengan his yang teratur, pembukaan serviks melewati kanan garis waspada pada partograf, pembukaan serviks lengkap, ibu ingin meneran tetapi tidak ada penurunan kala 2 lama.
Menurut Sarwono Prawihardjo Penanganan secara khusus pada kasus fase laten memanjang dengan cara induksi persalinan dengan oksitosin drip atau prostaglandin untuk menghindari kematian janin sebelum kematian mendadak yang tdak dapat dijelaskan setelah marturitas janin. (www.google.com Dr.Sutrisno, di akses tanggal 19 mei 2010 jam 21.00).
 Pada penelitian ini tingkat kejadian fase laten memanjang di Ruang PONEK RSUD Jombang sebanyak 47 kasus (34%) dari 138 kasus pemberian oksitosin drip pada persalinan.
Jika pembukaan serviks tidak melewati 4 cm sesudah 8 jam inpartu maka untuk menghindari kematian janin dengan cara  melakukan induksi persalinan dengan oksitosin drip atau prostaglandin. Jika setelah dilakukan oksitosin drip pembukaan tidak ada kemajuan segera lakukan tindakan selanjutnya seperti dilakukan SC (sectio secaria) untuk mencegah terjadinya komplikasi untuk ibu dan janin.
 Dari penelitian ini atara teori dengan fakta yang terjadi saling berkesinambungan atau berhubungan antara kasus fase laten memanjang dengan pemberian oksitosin drip pada persalinan.
4.2.1.2  KPD
Ketuban pecah dini (KPD) Di definisikan sebagai pecahnya ketuban sebelum waktunya melahirkan. Hal ini dapat terjadi pada akhir kehamilan maupun jauh sebelum waktunya melahirkan. KPD Preterm adalah KPD sebelum usia kehamilan 37 minggu. KPD yang memanjang adalah KPD yang terjadi lebih dari 12 jam sebelum waktunya penelitian. Kejadian KPD berkisar 5-10% dari semua kelahiran, KPD preterm terjadi 1 % dari semua kehamilan 70 % kasus KPD terjadi pada kehamilan cukup bulan. KPD merupakan penyebab kelahiran premature sebanyak 30 %.
Semakin dini ketuban pecah terjadi maka semakin lama jarak antara ketuban pecah dengan kontraksi dan jika tanggal persalinan belum tiba sedangkan ketuban sudah pecah dokter biasanya akan menginduksi persalinan dengan pemberian oksitosin (perangsang kontraksi) dalam 6 hingga 24 jam setelah pecahnya ketuban untuk mencegah infeksi pada ibu dan asfiksia berat pada janin (www.google.com,Dr. Sutrisno di akses tanggal 19 mei 2010 jam 21.15 wib).
Pada penelitian ini di dapatkan kasus KPD sebanyak 38 kasus (27,5 %) dari seluruh kasus pemberian okitosin drip pada persalinan di ruang PONEK RSUD Jombang.

Untuk mencegah komplikasi pada ibu dan janin jika ditemukan kasus ketuban pecah dini segera lakukan tindakan persalinan anjuran seperti persalinan dengan oksitosin drip, VE (vacum ekstraksi), dan sectio secaria.
Maka dapat disimpulkan bahwa teori yang sudah didukung dari hasil penelitian dengan menggunakan rekam medic. KPD termasuk  dalam faktor yang mempengaruhi pemberian oksitosin drip pada persallinan.
4.2.1.3  Post maturitas
Kehamilan lewat bulan (serotinus) ialah kehamilan yang berlangsung lebih dari tafsiran persalinan yang di hitung dari HPHT, dimana usia kehamilannya telah melebihi 42 minggu (>294 hari).
Penyebab pasti kehamilan lewat waktu sampai saat ini belum kita ketahui. Di duga penyebabnya adalah siklus haid yang tidak diketahui pasti, kelainan pada janin (anensefal, kelenjar adrenalin janin yang fungsinya kurang baik, kelainan pertumbuhan tulang janin atau kekurangan enzim zulfatase plasenta).
Menurut Rustam 1998 prinsip dari tata laksana kehamilan lewat waktu ialah mengakhiri kehamilan salah satunya dengan cara induksi dengan oksitosin drip untuk menghindari kematian janin di dalam rahim.
Pada penelitian ini di dapatkan kasus post marturitas sebanyak 32 kasus (23,1 %) dari seluruh kasus yang mempengaruhi pemberian oksitosin drip pada persalinan.

Melihat fakta dari hasil penelitian yang telah dilakukan sebagai bidan jika ditemukan kasus post maturitas segera rujuk ke instalasi yang memadai untuk dilakukan tindakan persalinan anjuran seperti persalinan dengan oksitosin drip, VE (vacum ekstraksi), dan SC (section secaria). Untuk mencegan terjadinya komplikasi pada ibu dan janin.
Maka dapat disimpulkan bahwa teori yang sudah ada di dukung hasil penelitian diketahui dari hasil rekam medic. Post maturitas termasuk dalam faktor-faktor yang mempengaruhi oksitosi drip pada persalinan.
4.2.1.4  Hypertensi dalam kehamilan
Hypertensi dalam kehamilan berarti tekanan darah meningkat saat hamil, keadaan ini biasanya mulai pada trimester ke tiga atau tiga bulan terakhir kehamilan. Kadang-kadang timbul lebih awal, tetapi hal ini jarang terjadi. Keadaan ini paling sering terjadi pada hamil anak pertama dan lebih jarang pada kehamilan selanjutnya.
Salah satunya hal yang dapat mengatasi hypertensi dalam kehamilan adalah melahirkan salah satunya dengan cara induksi menggunakan oksitosin drip untuk menghindarinya Preeklampsia, eklampsia pada ibu dan, untuk menghindari asupan oksigen yang mengalir ke plasenta menjadi berkurang yang menyebakan asfiksia dan hipoksia pada janin.
Pada penelitian ini di dapatkan kasus Hypertensi dalam kehamilan di dapatkan 21 kasus (15,4%) dari seluruh faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian oksitosin drip pada persalinan.
Melihat teori dan fakta diatas  sebaiknya jika di temukan kasus hypertensi dalam kehamilan untuk menghindari  komplikasi pada ibu dan janin sebaiknya dilakukan persalinan dengan oksitosin drip agar persalinan bisa berjalan dengan lancar.
Maka dapat di simpulkan bahwa teori yang sudah ada didukung hasil penelitian diketahui dari rekam Medic. Hypertensi dalam kehamilan termasuk faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian oksitosin drip pada persalinan.
BAB V
PENUTUP

5.1    Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan dalam bab IV, penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian oksitosin drip pada persalinan sebagian besar dengan kasus Fase laten memanjang, KPD post maturitas, hypertensi dalam kehamilan, gawat janin, primi gravida tua, ante partum bleding, hidramnion, anancephalus, tidak ada kasus DM (diabetes mellitus) dan penyakit ginjal berat.

5.2   Saran
5.2.1        Bagi Peneliti
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam penyelesaian penelitian sebagai tugas akhir yang di bebankan, di harapkan terlebih dahulu matang dalam pengetahuan dan pemahaman mengenai metode-metode penelitian, teori-teori penelitian
5.2.2        Bagi Lahan Peneliti
Diharapkan petugas kesehatan dapat memberikan pelayanan yang berkualitas khususnya pada pemberian oksitosin drip pada persalinan.


5.2.3        Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi masukan dan kajian dalam menyusun kebijaksanaan untuk proses penelitian yang lebih lanjut agar peneliti di tingkat akademik jauh lebih baik.
5.2.4        Bagi Pasien
Diharapkan pasien mematuhi program kesehatan yang telah di rencanakan oleh pemerintah atau instansi kesehatan sehingga terwujudnya upaya peningkatan kesehatan






0 komentar:

Poskan Komentar

 

Friends

Blog List